Saturday, December 21, 2019

Feminis: Sejarah Terciptanya Paperbag

Charles F. Annan punya keinginan menjadi seorang penemu. Di abad ke 19, ia hendak mematenkan produk mesin pembuat paper bag; tas atau kantong kemasan yang terbuat dari bahan kertas. Masalahnya, Annan ingin mematenkan mesin yang tidak ia ciptakan sendiri. Pencipta mesin kayu pembuat paper bag adalah Margaret Knight.

Various of Paperbag
Melihat kelakuan Annan, Margaret melapor ke polisi. Penyelesaian kasus terjadi di pengadilan. Di sana Annan berkata bahwa seorang perempuan tidak sanggup jadi penemu yang kredibel. Pria ini meragukan kemampuan Knight dalam memahami kompleksitas mesin.

Para penegak hukum pada akhirnya berpihak pada Knight. Mereka melihat bukti gambar dan catatan Knight tentang pembuatan mesin. Sedangkan Annan kelimpungan dan tak bisa menyediakan bukti serupa. Hal itu membuat hakim yakin bahwa Knight ialah penemu mesin paper bag. Kisah Knight ini tertulis dalam makalah "The Evolution of the Grocery Bag".

Eksperimen Knight berawal saat ia bekerja di Columbia Paper Bag Company, Massachusetts. Saat itu ia merasa ada peluang inovasi dalam produk paper bag. Knight kemudian melakukan uji coba dengan membuat mesin yang bisa memotong dan melipat kertas persegi panjang untuk dilipat menjadi sebuah kantung kemasan. Knight menyatakan uji coba itu berhasil ketika ia sukses mencetak ribuan kantung kemasan.

Hal ini membuat Knight tersohor. Pada zaman tersebut sebenarnya ada beberapa wanita yang jadi penemu, tetapi tak banyak yang mendapatkan paten atas karyanya. Penyebabnya, antara lain, perkara, "budaya yang merendahkan para perempuan." Namun Knight berbeda. Ia berjuang untuk mendapatkan paten. Ia menjadi salah satu perempuan Amerika Serikat pertama yang berhasil mematenkan produk ciptaannya.

Kemudian Knight bertemu dengan seorang pebisnis yang bersedia bekerjasama dengannya. Mereka mendirikan perusahaan Eastern Paper Bag Company di Connecticut. Bisnis ini membuat Knight mendapat keuntungan sekitar 2.500 dolar, royalti, dan saham perusahaan. Ketika Knight akhirnya berhasil mendapat royalti sebesar 25.000 dolar, ia memutuskan menutup perusahaannya dan menciptakan penemuan lain.

Inovasi Knight diteruskan oleh penemu-penemu lain, salah satunya Luther Corwell. Inovasi-inovasi dibuat agar paper bag kian nyaman digenggam. Di Amerika, kepopuleran paper bag mulai menurun pada tahun 199-0an. Ini terjadi lantaran terciptanya kantung plastik. Meski demikian produksi paper bag terus berlanjut.

The Green Book melaporkan hasil penelitian tahun 2017 yang menyebutkan bahwa 86% orang memilih kertas sebagai material dalam katung kemasan. Sekitar 93% orang menganggap material kertas harus lebih banyak digunakan sebagai bahan pembuatan kantung kemasan. Penelitian ini juga menyebut bahwa paper bag menciptakan hubungan emosional antara penjual dan konsumer lantaran kantung bisa digunakan kembali untuk membawa benda-benda personal dari konsumer. Sekira 80% konsumer berpikir bahwa nama merek yang dicetak di permukaan kertas menarik dan membuat tas nyaman digunakan.

Di ranah mode, paper bag tidak hanya digunakan sebagai katung belanja. Di tangan desainer fesyen, kantung kemasan berubah menjadi barang dagangan. Pada 2009, label busana Chanel pernah menciptakan tas serupa kantung kemasan dalam koleksi musim panas. Tas itu dibuat dari bahan kulit, terdiri dari tiga ukuran dan tiga warna. Benda ini diberi nama Esential Chanel Handbag.

Pada permukaan tas tertulis Chanel 31 Rue Chambon, lokasi yang dipilih Coco untuk membuka toko. Tas diciptakan lantaran dianggap mampu membangkitkan nostalgia masa-masa awal berdirinya toko Chanel. Bryan Boy, fesyen blogger dan juri ajang America’s Next Top Model menulis di blog-nya bahwa ia harus segera membeli benda tersebut.

Dua tahun setelah kantung kemasan Chanel dipasarkan, desainer Jil Sander menciptakan tas berbentuk paper bag karya Knight. Tas terbuat dari material coated paper dan dijual dengan harga 261 dolar. Produk yang dinamakan Vasari ini pertama kali diperlihatkan ke publik dalam peragaan busana pria karya Jil. Vasari terjual habis dalam waktu tiga minggu sejak dipasarkan. Permintaan dari konsumen terus berdatangan. Jil merespons permintaan itu dengan menciptakan varian Vasari yang terbuat dari kulit dan dijual dengan harga 706 dolar.

“Benda ini ialah fashion statement," kata Mildred Fabian, direktur regional Jil Sander.

Demna Gvasalia, direktur kreatif rumah mode Balenciaga menciptakan tas serupa kantung belanja pada umumnya dengan harga 1.100 dolar. Tas itu berwarna putih, dilengkapi tali genggaman hitam, dan bertuliskan Balenciaga. Time melaporkan tas tersebut dibuat dari paduan material kulit dan perak serta dilengkapi dengan sejumlah kantung untuk menaruh benda penting. Demna menciptakan produk dengan tujuan menarik perhatian konsumen muda.

Sumber: tirto.id

Sunday, December 15, 2019

MECHANCIAL: MENGENAL PRODUCTIVITY


A. Pengertian Productivity

Pengertian Produktivitas (Productivity) dan Faktor-faktor yang mempengaruhi Produktivitas – Di dalam Manajemen Produksi dan Operasi, kita sering mendengar istilah “Produktivitas” untuk mengukur efisiensi seseorang, mesin, pabrik ataupun sistem dalam mengubah Input (masukan) menjadi Output (Keluaran) yang diinginkan. Yang dimaksud dengan INPUT dalam Produktivitas ini dapat berupa sumber daya yang digunakan seperti Modal, Tenaga Kerja, Bahan (Material) dan Energi sedangkan OUTPUT dapat berupa Jumlah Unit Produk ataupun Pendapatan yang dihasilkan. Ukuran Produktivitas biasanya dinyatakan dengan ratio yang membandingkan antara OUTPUT terhadap INPUT yang digunakan dalam proses produksi atau OUTPUT per INPUT unit.

Dapat dikatakan bahwa Produktivitas yang tinggi adalah melakukan pekerjaan dalam waktu sesingkat mungkin dengan penggunaan sumber daya yang sesedikit mungkin tanpa mengorbankan kualitas yang ditentukan. Misalnya, Pekerja A dapat menghasilkan 100 unit produk dalam 1 Jam sedangkan Pekerja B dapat menghasilkan 120 unit produk dalam 1 jam juga dengan menggunakan bahan dan teknologi yang sama, maka dapat dikatakan bahwa Pekerja B lebih produktif daripada Pekerja A atau Produktivitas Pekerja B lebih tinggi dari Pekerja A. Produktivitas tidak hanya digunakan untuk mengukur efisiensi kerja karyawan, namun juga sering digunakan untuk menilai perkembangan negara, Ekonomi, Industri, bisnis, Industri bahkan pada individu kita sendiri.

B. Pengertian Productivity Menurut Ahli

Produktivitas yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Productivity ini pada dasarnya terdiri dari dua kata yaitu “Product” dan “Activity” yang artinya adalah Kegiatan untuk menghasilkan sesuatu, baik itu berupa Produk ataupun Jasa/Layanan.

Pengertian Produktivitas menurut Daryanto (2012:41), Produktivitas adalah sebuah konsep yang menggambarkan hubungan antara hasil (jumlah barang dan atau jasa yang diproduksi) dengan sumber (jumlah tenaga kerja, modal, tanah, energi, dan sebagainya) untuk menghasilkan hasil tersebut.

Pengertian Produktivitas menurut Handoko (2011:210), Produktivitas adalah hubungan antara masukan-masukan dan keluaran-keluaran suatu sistem produktif. Dalam teori, sering mudah untuk mengukur hubungan ini sebagai rasio keluaran dibagi masukan. Bila lebih banyak keluaran diproduksi dengan jumlah masukan sama, produktivitas naik. Begitu juga, bila lebih sedikit masukan digunakan untuk sejumlah keluaran sama, produktivitas juga naik.

Pengertian Produktivitas menurut Smith dan Wekeley (1995), produktivitas adalah produksi atau output yang dihasilkan dalam satu kesatuan waktu untuk input.

Pengertian Produktivitas menurut Revianto (1985), Produktivitas adalah suatu konsep yang menunjukan adanya kaitan antara hasil kerja dengan satuan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk seorang tenaga kerja.

Pengertian Produktivitas menurut Sinungan (2000), produktivitas sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik (barang-barang atau jasa) dengan masukan yang sebenarnya.
Persamaan atau Rumus Produktivitas

C. Cara Sederana Menghitung Productivity

Berdasarkan definisi-definsi yang disebut diatas, berikut ini adalah rumus sederhana dari Produktivitas yang dinyatakan dengan perbandingan rasio antara Output terhadap Input.

Produktivitas = Output / Input

Contoh kasus perhitungan Produktivitas

Sebuah perusahaan menggunakan 150kg bahan baku plastik untuk menghasilkan produk jadi sebanyak 100kg pada bulan pertama. Pada bulan kedua, perusahaan tersebut mengkonsumsi jumlah bahan baku yang sama yaitu 150kg namun produk jadi yang dapat dihasilkannya lebih banyak yaitu sebanyak 145kg. Hitunglah Produktivitas bulan pertama dan bulan kedua perusahaan tersebut.

Bulan Pertama :

Produktivitas = Output / Input
Produktivitas = 120 / 150
Produktivitas = 0,8 atau 80%

Bulan kedua

Produktivitas = Output / Input
Produktivitas = 145 / 150
Produktivitas = 0,96 atau 96,67%

Dari contoh sederhana tentang perhitungan produktivitas tersebut, kita dapat melihat bahwa produktivitas perusahaan tersebut meningkat dari 80% menjadi 96,67%. Menggunakan sumber daya yang sama (INPUT) untuk menghasilkan jumlah produk jadi yang lebih banyak (OUTPUT).

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi Produktivitas

Berikut ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi produktivitas sebuah organisasi.

1. Faktor Teknis

Faktor Teknis adalah faktor yang meliputi penentuan lokasi, tata letak dan ukuran pabrik atau mesin produksi yang tepat, penggunaan mesin dan peralatan yang benar, teknis penelitian dan pengembangan serta penerapan komputerisasi dan otomatisasi pada produksi yang bersangkutan. Jika perusahaan menggunakan teknologi terbaru dengan tepat, maka produktivitas akan semakin tinggi.

2. Faktor Produksi

Faktor Produksi adalah faktor yang meliputi perencanaan, pengkordinasian dan pengendalian produksi, penggunaan bahan baku yang berkualitas baik serta penyederhanaan dan standarisasi proses produksi. Jika semua faktor produksi dapat berjalan dengan baik maka akan meningkatkan produktivitas.

3. Faktor Organisasi

Faktor Organisasi adalah faktor berkaitan dengan jenis organisasi yang digunakan, pendefinisian dengan jelas otoritas dan tanggung jawab setiap individu dan departemen serta pembagian kerja dan spesialitas terhadap pekerjaan yang dilakukan.

4. Faktor Personil

Faktor Personil merupakan faktor yang secara langsung mempengaruhi Produktivitas sebuah organisasi. Individu atau tenaga kerja yang tepat harus ditempatkan di posisi yang tepat pula. Tenaga kerja yang lulus seleksi harus diberi pelatihan dan pengembangan yang tepat serta memberikan kondisi dan lingkungan kerja yang baik. Individu yang telah menjadi karyawan ini harus termotivasi dengan baik, baik secara finansial maupun motivasi non-finansial. Keamanan pekerjaan, kesempatan memberikan saran atau pendapat dan kesempatan untuk dipromosi juga secara langsung mempengaruhi produktivitas kerja suatu organisasi.

5. Faktor Finansial (Keuangan)

Keuangan merupakan darah dari sebuah bisnis, oleh karena itu harus terdapat perencanaan dan pengendalian keuangan yang baik terhadap keuangan atau modal kerja. Penggunaan modal atau pemborosan keuangan harus dihindari. Manajemen harus memperhitungkan dengan baik pengembalian atas modal yang mereka investasikan. Keuangan yang yang dikelola dengan baik akan meningkatkan produktivitas suatu perusahaan atau organisasi.

6. Faktor Manajemen

Suatu manajemen yang bersifat ilmiah, profesional, berorientasi masa depan, tulus dan kompeten akan secara positif mempengaruhi produktivitas organisasinya. Manajemen yang dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang tersedia untuk mendapatkan hasil yang maksimal dengan biaya terendah, menggunakan teknik produksi terbaru, memberikan lingkungan kerja yang baik dan selalu memotivasi karyawannya akan secara signifikan meningkatkan produktivitas organisasinya.

7. Faktor Pemerintah

Peraturan dan Kebijakan pemerintah seperti peraturan ketenagakerjaan, kebijakan fiskal yang meliputi suku bunga dan perpajakan akan sangat berpengaruh pada produktivitas suatu organisasi. Manajemen organisasi yang memiliki pengetahuan tentang peraturan dan kebijakan pemerintah serta menjaga hubungan yang baik dengan pemerintah akan dapat meningkatkan produktivitas organisasinya.

8. Faktor Lokasi

Produktivitas kerja suatu organisasi juga sangat tergantung pada lokasi dimana organisasi tersebut berada. Faktor lokasi tersebut diantaranya seperti fasilitas infrastruktur, kedekatan dengan pasar, kedekatan dengan sumber bahan baku, tenaga kerja yang terampil dan lain-lainnya.

Monday, November 25, 2019

MECHANICAL; TANTANGAN INDUSTRI MANUFAKTUR


Beberapa minggu lalu saya berkesempatan mengunjungi salah satu perusahaan manufaktur yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Jakarta, dengan produksi utama glasses (berbagai produk kaca) yang terletak di Tegalgede, Cikarang yaitu PT. Mulia Industrindo Tbk.

Siapa sangka kemudian berjumpa dengan senior saya yang selama ini sering menjadi teman untuk sharing ilmu dan wawasan seputar dunia manufaktur. Kami berdiskusi banyak soal masa depan dunia manufaktur yang lambat laun pasti tertuntut untuk melalukan otomasi.

Eranya sudah berubah, ke depan tenaga manusia tidak akan banyak terlibat dalam proses produksi di pabrik-pabrik dan kantong-kantong manufaktur. Eranya adalah robotic, supercomputer, automation, dll. Prinsip utamanya adalah efesiensi dalam segala hal yang berkaitan dengan upaya peningkatan productivity.

Satu yang tercatat menarik dari diskusi kami berdua. Sangat dimungkinkan tidak butuh waktu lama lagi motor bakar konvensional (bbm) akan ditinggalkan, tergantikan oleh motor listrik (EV=Electrical Vehicle). Muaranya tentu terjadi perubahan model dan orientasi bisnis manufaktur, khususnya sektor otomotif.

Jika kita merujuk pada apa yang tersampaikan dalam pidatonya beberapa minggu sebelum pilpres, presiden Joko Widodo menjelaskan, ke depan ada tiga tantangan yang harus diwaspadai industri otomotif. Pertama, semakin meluasnya fenomena mobil listrik, yang diawali oleh Tesla. Mobil listrik besutan Elon Musk ini semula tergolong langka, namun kini banyak diadopsi beberapa negara dan menjadi tren dunia. “Dunia jelas makin mengarah ke mobil listrik. (Berita Satu, 2019).

Mulai tahun 2040, Prancis dan Inggris bahkan melarang mobil lain selain kendaraan listrik. Tiongkok juga mengumumkan akan menjadi yang terdepan dalam mengembangkan mobil listrik dan menjadi pasar terbesar dunia untuk mobil listrik,” papar Joko Widodo kala itu.

Tantangan kedua, menurut Jokowi, adalah disrupsi teknologi, yang ditandai maraknya kendaraan otonom atau transportasi online. Berkembangnya kendaraan otonom bisa membuat pemerintah dan industri melakukan redefinisi pengertian mobil. Kendaraan otonom bisa mengendarai dirinya sendiri. Awalnya digunakan untuk alat angkutan jasa atau kargo, seperti di Silicon Valley dan Los Angeles, AS. “Apakah kendaraan ini bisa diistilahkan mobil? Industri otomotif harus memperluas definisinya supaya bisa mencakup inovasi ini,” uicap presiden RI dua periode ini..

Tantangan ketiga, kata Presiden, yaitu risiko jangka pendek berupa siklus otomotif yang mulai memuncak, terutama di pasar besar, seperti AS dan Tiongkok. Industri otomotif pun memiliki siklus yang peka terhadap perkembangan ekonomi. Jokowi mengungkapkan, penjualan mobil di AS sudah sangat tinggi dan ada kemungkinan ke depan mulai turun. “Di Tiongkok, ekonomi sedang mengalami perlambatan dan dihantui perang dagang. Jadi, kita harus siap menghadapi siklus penurunan ekonomi dunia pada tahun-tahun mendatang. Tapi kita harus optimistis,” tandas Jokowi.

Presiden menekankan bahwa industri otomotif domestik juga harus meningkatkan pasar ekspor guna memberikan nilai tambah lebih besar dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karenanya wajib bagi setiap profesional khususnya yang terjun di dunia manufaktur untuk terus adaptif. Selamat belajar good people!

RENUNGAN; MINDSET UMUM MASYARAKAT DESA


Tidak jarang masyarakat di kampung di desa-desa lebih memilih menyewakan atau bahkan menjual ladangnya demi menyekolahkan anak-anaknya hingga level tertinggi. Atau sering juga kita temui beberapa kasus orang tua menjual ladangnya untuk membayar bidikan agar anaknya diterima di Universitas ternama, bisa menjadi tentara, polisi, atau PNS misalnya. Atau bahkan untuk sekedar bisa menerbangkan anak-anaknya ke Korea atau Jepang sebagai expatriat Indonesia (baca: TKI)!

Fenomena ini umum terjadi di masyarakat Indonesia khususnya Jawa yang dihuni jutaan manusia dan menjadi wilayah dengan tingkat kompetisi hidup paling menegangkan. Itulah jawaban sederhana kenapa orang Jawa menyebar di seluruh penjuru pelosok negeri. Ekosistem telah membawa kepada situasi di mana benar-benar menjadi kelas pekerja adalah gol bagi masyarakat Indonesia. Orang tua lebih bangga melihat anaknya menjadi seseorang dengan menyandang status pekerja. Martabatnya seolah berada di sini.

Ini fakta dan paradigma yang sangat sulit diubah, bagi masyarakat menengah ke bawah yang dipenuhi keraguan akan masa depan akan memilih jalan tersebut sebagai golnya dalam kehidupan. Harapannya tentu di kemudian hari saat sudah berada di level sukses sebagai pekerja, maka akan ada upaya untuk kembali membeli ladang yang telah terjualnya. Orang tua diam dalam cemas, berharap dalam doa anaknya akan mampu berbuat demikian. Tapi memang tidak banyak yang bersedia mengungkapkan secara terang.

Memang betul pendidikan adalah salah satu upaya untuk mentas dari zona kemiskinan. Itu adalah formula yang sangat umum dan dilegitimasi oleh para sarjana dan ilmuwan. Dengan pendidikan diharapkan manusia dapat berkompetisi di tengah lapangan besar bernama peperangan memperjuangkan status duniawi. Manusia berlomba-lomba untuk berhasil lepas dan memenangkan pertarungan itu. Tidak jarang banyak yang putus asa berguguran di tengah jalan.

Berabad-abad yang lalu saat ekosistemnya belum demikian, manusia cukup bertarung dengan alam. Pergi ke hutan mencari buruan atau bercocok tanam ke ladang untuk memenuhi kebutuhan hidup terdasar yaitu makan. Lain dulu lain sekarang, siap atau tidak memang demikian ini keadaan manusia zaman sekarang. Tidak ada yang salah dan tidak perlu menyalahkan siapapun, jika ingin bertahan di ekosistem sudah sepatutnya mengupayakannya. Jika tidak bersedia berkompetisi di ekosistem, mungkin sudah saatnya pindah ke lain ekosistem, yaitu alam akhirat.

Semoga menjadi renungan bagi yang membaca dan menjadi pelecut semangat di kemudian hari, bahwa seyoganya ikhtiar dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih baik dan pasrah pada hasil adalah tugas kita sebagai manusia sekaligus hamba-Nya. Wallahua’lam bishowab.

Robi Cahyadi

Tuesday, November 12, 2019

MAULID NABI; SEBUAH PERENUNGAN PERJUANGAN IMPROVEMENT RASULULLAH


Hari kelahiran nabi Muhammad SAW atau orang lebih sering menyebutnya dengan istilah maulid nabi, merupakan fenomena yang sangat sakral bagi sebagian besar mayoritas umat islam di muka bumi ini. Ada semacam rasa iman dan kegembiraan saat datang hari lahir nabi Muhammad SAW ini. Semata-mata sebagian besar umat islam tersebut gembira dan memperingatinya karena kecintaannya pada nabi Muhammad SAW.

Terlepas dari pro dan kontra dalam bentuk perbedaan pendapat di kalangan ulama juga umat islam sendiri terkait boleh tidak memperingati hari lahir nabi Muhammad SAW, melalui tulisan singkat ini saya mengajak pembaca untuk merenungi betapa dahsyat dan nikmatnya karunia Allah SWT di muka bumi ini atas lahirnya sang kekasih yaitu nabi Muhammad SAW selaku rijalul islah (pembawa perubahan) untuk membawa manusia dari zaman kegelapan menunu zaman yang terang benderang dan umat terbaik ini (khoiru ummah).

Para ulama di kalangan umat islam berselisih pendapat tentang kapan hari tepatnya nabi Muhammad SAW lahir, tetapi mayoritas dalam banyak kitab tarikh (sejarah) menyepakati bahwa nabi lahir pada tanggal 12 bulan maulud bertepatan dengan hari senin tahun Gajah. Disebut tahun gajah karena konon pada saat itu Abrahah raja Yaman vassal kerajaan katolik Ethiopia dengan armada pasukannya yang menaiki Gajah sedang dalam misi penyerangan ke kota Makkah.

Nabi Muhammad SAW lahir dari rahim seorang wanita yang berasal dari kalangan terpandang bani Quraisy yaitu Siti Aminah. Ayahnya bernama Abdullah yang kala itu wafat saat nabi masih berada di dalam kandungan, ayahanda nabi tercatat wafat karena harus pergi berperang membela kaum Quraisy melawan ekspansi Abrahah. Sepanjang di kandungan hingga lahirnya nabi tercatat tidak pernah menyusahkan dan bahkan mayortias ulama sepakat berpendapat bahwa nabi lahir dalam keadaan telah suci.

Terlalu panjang jika penulis membahas sejarah demi sejarah perjalanan nabi Muhammad SAW dari lahir hingga sepanjang hidupnya. Teramat banyak mukjizat dan keistimewaan yang diberikan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW. Dari rentetan biografi nabi tersebut penulis ingin menggarisbawahi dan menitikberatkan pada bagaimana nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT di muka bumi ini dapat mengubah kaum Quraisy atau lebih luas lagi yaitu mengubah dunia hanya dalam kurun waktu 23 tahun saja.

Banyak ilmuwan dan akademisi baik dari kalangan islam sendiri atau barat bahkan menominasikan nabi Muhammad SAW sebagai manusia paling progresif revolusioner dalam mengubah peta kehidupan sosial, ilmu, politik, akidah manusia di muka bumi ini. Nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah mula-mula dari Allah SWT adalah untuk mengajarkan akhlakul karim (good attitude) kepada manusia. Karena perilaku yang baik itulah awal mula sebab manusia bisa menjadi beradab dan kemudian endingnyadunia dipenuhi cahaya gilang gemintang.

Semangat yang dilakukan nabi Muhammad SAW dalam mengajarkan kebaikan demi kebaikan kepada umat manusia dalam kurun waktu 23 tahun masa kenabian tersebut adalah apa yang kini disebut sebagai semangat perbaikan terus menerus dan berkelanjutan, sarjana barat dan Jepang menyebutnya sebagai Continuos Improvement atau Kaizen. Dalam istilah alquran hal ini disebut dengan kaidah fastabikul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Nabi Muhammad adalah role model terbaik bagi umat islam dan seluruh manusia di muka bumi ini yang mengimaninya.

Sebagai umat yang mencintainya tentu sudah sepatutnya kita berbangga hati dan penuh suka cita menyambut hari lahir nabi Muhammad SAW. Tidak sampai sebatas itu kita tentu harus mengupayakan diri agar senantiasa bisa meneladani semangat nabi Muhammad SAW dalam menuju perbaikan dan kebaikan. Kita tidak boleh menyerah dan tertunduk diam pada keadaan, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk terus melakukan peningkatan kualitas diri baik dari segi ruhaniah ataupun jasmaniah. Sedapat mungkin agar seimbang dalam melalukan upaya menuju umat islam yang unggul dari ke dua sisi, dunia dan akhirat.

Apa yang bisa dilakukan dalam kaitannya meneladani sejarah nabi Muhammad SAW di era moderen ini? Yang pasti adalah menjalankan perintah kebaikan yang telah disampaikan oleh beliau baik dari yang terwahyukan di dalam alquran atau yang disabdakan dalam kumpulan hadist-hadistnya. Di samping semua itu tentu kita juga harus berkomitmen menanamkan semangat gigih kemandirian dalam setiap usaha menuju kondisi lebih baik, atau sarjana barat menyebutnya sebagai autonomous adapun ilmuwan Jepang mengatakannya dengan istilah Jishu Hozen.

Terakhir, penulis mengajak pembaca untuk sekali lagi bangga, penuh suka cita, merenungi dan mensyukuri betapa hadir dan lahirnya nabi Muhammad SAW di muka bumi ini telah terbukti mampu mengubah dunia dan segala isinya yang dahulu kala sangat pekat gelap gulita penuh kebodohan menjadi terang benderang penuh cahaya ilmu dan peradaban. Muaranya adalah berhasil menjadi masyarakat muslim terbaik (khoiru ummah) di muka bumi ini.

Tidak berhenti di situ saja, tentu sebagai umatnya haruslah kita terus menjaga agar cahaya terang yang dibawa oleh nabi tersebut dapat tetap menyala benderang hingga datangnya hari kiamat nanti dengan berupaya menjadikan diri kita sebagai manusia yang berakhlakul karim (good attitude) dan selalu mengupayakan perbaikan dalam fastabikhul khoirot (continous improvement) di setiap langkah kehidupan kita. Semoga bisa konsisten mengupayakannya. Aamiin.

Wallahu’alam bisshowab.

Robi Cahyadi
Aktif menulis dan menyuarakan kebaikan di www.robicahyadi28.blogspot.com

Sunday, November 3, 2019

Mechanical: Evaluasi Job Pekerjaan Operator G1, Perlukah?

Operator G1 Proses Sebagai
Leader of Autonomous Maintenance
G1 proses merupakan bagian paling vital dalam proses produksi bearing secara utuh, dari hasil G1 proseslah dimensi akhir dari produk yaitu bearing dihasilkan. Tingkat presisi tertinggi dalam measuring atau pengukuran dimensi terluar berada di proses ini. G1 berarti First Grinding yang memproses penggerindaan dimensi terluar dari bearing, yaitu outside diameter dan width sideface. Proses ini sangat mempengaruhi kualitas di proses selanjutnya, baik penggerindaan bore ataupun raceway hingga berpengaruh pada kualitas noise dari sebuah bearing.

Tulisan ini berangkat dari analisis penulis atas apa yang terjadi di G1 proses selama ini. Khususnya berkenaan dengan job deskripsi operator G1 yang menurut penulis sudah menyalahi prosedur yang dikehendaki oleh perusahaan. Atau jika tidak ingin dikatakan menyalahi prosedur setidaknya ada perumusan masalah yang dapat direview. Kenapa bisa begitu? Mari kita bedah sedikit agar tercipta sebuah paradigma baru yang harapannya lebih baik dan obyektif.

Begini penjelasan ringkasnya. Hari ini perusahaan sangat komitmen dan sedang dalam keinginan kuat menerapkan salah satu metode dalam TQM (Total Quality Maintenance) yaitu berupa SPT (Stop Panggil Tunggu). Metode SPT ini adalah sebuah metode di mana saat operator menemukan kondisi abnormal dalam proses atau produk haruslah stop pekerjaan dan melapor ke atasan, tentu bertujuan akhir agar tidak terjadi abnormal produk lolos ke next process ataupun abnormal proses yang tidak teridentifikasi lebih dini. Muara dari penerapan SPT adalah kepuasan pelanggan (Customer Satisfy).

Lalu bagaimana yang terjadi di G1 proses khususnya job deskripsi operator? G1 proses boleh dikatakan belum sepenuhnya bisa menerapkan metode SPT tersebut. Hal ini lebih disebabkan oleh biasnya ranah atau tanggung jawab operator G1 itu sendiri sejauh apa. Jika di section atau bagian proses yang lain operator hanya bertugas inti sebagai quality man dan cenderung hanya fokus pada inspection dan penanganan abnormal produk, maka tidak demikian di G1 proses. Diakui atau tidak ada perbedaan yang sangat mendasar dalam ruang kerja operator di G1 proses.

Operator G1 bahkan bisa dalam waktu bersamaan menjalankan dobel pekerjaan sekaligus, pertama sebagai quality man yang fokus pada inspection serta penanganan produk, kedua sebagai orang yang selama ini juga melakukan adjust atau troubleshooting ringan pada mesin saat terjadi abnormal produk. Bahkan lebih jauh dari itu semua, untuk pekerjaan yang sifatnya high-skills seperti change over dan setting, dari awal proses hingga sampai produk dijudgement/dinyatakan OK dan layak running pun operator G1 sangat terampil dan sudah melakukannya sehari-hari.

Titik bias yang ingin disampaikan oleh penulis adalah terletak pada sejauh mana sebenarnya ranah atau tanggung jawab operator G1 itu dalam bekerja? Apakah seharusnya hanya di level quality man atau lebih dari itu? Jika selama ini untuk level operator saja sudah sejauh itu job deskripsinya, tidak berlebihan jika kemudian kita mengatakan bahwa semua operator G1 itu pada dasarnya standar dua dalam tanggung jawab pekerjaan, operator sekaligus setter juga. Keren sekali bukan?

Jika semua operator G1 benar-benar kaku tanpa mengenal fleksibilitas dalam bekerja, dan setiap menemukan abnormal baik produk ataupun proses tidak bersedia adjust atau troubleshooting ringan dan lalu menerapkan SPT secara total frontal, agar kemudian setter atau leadernya yang mengambil tindakan, bukankah akan auto-ambyar dan tidak ada output produksi yang maksimal dari G1 proses? Lalu artinya apa bisa kita sebut operator G1 selama ini tidak menjalankan SPT dengan baik? Silakan simpulkan sendiri. Akan terasa rumit bukan?

Jadi sekali lagi penulis ingin memberikan wawasan dan paradigma baru kepada seluruh pembaca, sudah tepatkah job deskripsi untuk operator di G1 proses selama ini? Adakah yang bisa diperbaiki atau minimal diperjelas dalam kasus yang disajikan ini? Atau setidaknya bisakah dibuat sebuah sistem yang lebih baik lagi? Penulis pikir tidak ada yang tidak mungkin, celah perbaikan itu selalu dan akan tetap ada.

Bisa diibaratkan dalam salah satu pilar TPM (Total Productive Maintenance) yang selama ini diterapkan di perusahaan yaitu Autonomous Maintenance (Jishu Hozen), operator G1-lah role model sesungguhnya. Dedengkot sesungguhnya. Bukan sekedar peka dan peduli terhadap kondisi-kondisi kecil setiap abnormal, tapi sekaligus sebagai eksekutor troubleshooting terdepan saat menemukan kondisi abnormal tersebut. Begitulah realitanya. Lalu, mana apresiasinya?

Saturday, October 26, 2019

MECHANICAL: MENGENAL TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM)

A. Pengertian Total Productive Maintenance 

(TPM) – Total Productive Maintenance atau disingkat dengan TPM adalah suatu sistem yang digunakan untuk memelihara dan meningkatkan kualitas produksi melalui perawatan perlengkapan dan peralatan kerja seperti Mesin, Equipment dan alat-alat kerja. Fokus utama Total Productive Maintanance atau TPM ini adalah untuk memastikan semua perlengkapan dan peralatan Produksi beroperasi dalam kondisi terbaik sehingga menghindari terjadinya kerusakan ataupun keterlambatan dalam proses produksi.

Total Productive Maintenance (TPM) merupakan konsep inovatif Jepang yang berawal dari penerapan Preventive Maintanance pada tahun 1951. Konsep Preventive Maintenance ini sendiri merupakan konsep yang diadopsi dari Amerika Serikat. Nippondenso yang merupakan pemasok Toyota adalah perusahaan pertama yang memperkenalkan konsep TPM pada tahun 1960 dengan slogan “Productivity Maintenance with total Employee Participation”. Seiichi Nakajima yang saat itu menjabat sebagai Vice Chairman JIOPM (Japan Institute of Plant Maintenance) kemudian dikenal sebagai bapak TPM.

8 PILAR TPM

B. 8 Pilar TPM (Eight Pillar of TPM) diantaranya adalah;
  1. Autonomous Maintenance /Jishu Hozen (Perawatan Otonomus) 
  2. Planned Maintenance (Perawatan Terencana) 
  3. Quality Maintenance 
  4. Focused Improvement / Kobetsu Kaizen 
  5. Early Equipment Management 
  6. Training dan Education 
  7. Safety, Health and Environment 
  8. TPM in Administration 
C. Tujuan Penerapan Total Productive Maintenance (TPM)

Tujuan daripada TPM (Total Productive Maintenance) adalah untuk meningkatkan produktivitas pada perlengkapan dan peralatan produksi dengan Investasi perawatan yang seperlunya sehingga mencegah terjadi 6 kerugian besar (Six Big Losses) yaitu:

1. Breakdown
Kerugian akibat Rusaknya Mesin (Peralatan dan Perlengkapan Kerja)

2. Setup and Adjustments
Kerugian yang diakibatkan perlunya Persiapan ulang peralatan dan perlengkapan kerja

3. Small Stops
Kerugian akibat terjadinya gangguan yang menyebabkan mesin tidak dapat beroperasi secara optimal

4. Slow Running
Kerugian yang terjadi karena mesin berjalan lambat tidak sesuai dengan kecepatan yang diinginkan.

5. Startup Defect
Kerugian yang diakibatkan terjadi cacat produk saat Startup (saat awal mesin beroperasi)

6. Production Defect
Kerugian yang terjadi karena banyaknya produk yang cacat dalam proses produksi.

Selain keenam kerugian yang disebutkan diatas, keuntungan lain penerapan Total Productive Maintenance (TPM) adalah dapat menghindari terjadinya kecelakaan kerja dan menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi karyawannya.

D. Tahapan penerapan Total Productive Maintenance (TPM)

Tahapan-tahapan yang diperlukan untuk menerapkan TPM dalam sebuah perusahaan diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Melakukan Evaluasi awal terhadap tingkat TPM saat ini.
  2. Memperkenal konsep TPM dan mempromosikannya.
  3. Membentuk Komite TPM.
  4. Menetapkan Kebijakan, Tujuan dan sasaran TPM.
  5. Merumuskan Master Plan untuk pengembangan TPM.
  6. Menyelenggarakan pelatihan (training) terhadap semua karyawan dan pihak yang berkepentingan (stakeholder) terutama yang berkaitan dengan 8 pilar TPM.
  7. Menerapkan proses-proses persiapan.
  8. Menjalankan semua program dan kebijakan TPM guna untuk mencapai Tujuan dan Sasaran TPM yang telah ditetapkan.
Manajemen Perusahaan memegang peranan yang sangat penting dalam menerapkan Konsep TPM dalam perusahaannya. Tanpa dukungan dan Komitmen yang kuat dari Manajemen dan juga kerjasama semua karyawan perusahaan, Tujuan dan Sasaran program TPM ini akan sulit tercapai.

E. Pengukuran Keberhasilan TPM

Dalam mengevaluasi dan mengukur sejauh mana keberhasilan penerapan TPM (Total Productive Maintanance), alat pengukuran utama yang digunakan adalah “Overall Equipment Effectiveness” atau disingkat dengan “OEE”. Secara Matematis, rumus Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah sebagai berikut :

OEE = Availability x Performance Rate x Quality 

Keterangan :

Availability = Kesiapan ataupun kesediaan Mesin dalam beroperasi

Performance = Jumlah unit produk yang dihasilkan oleh mesin dalam waktu yang tersedia

Quality = Perbandingan jumlah unit yang baik dengan jumlah unit yang diproduksi

F. Persaamaan dan Perbedaaan TPM dan TQM

Pada dasarnya, Program TPM dan TQM memiliki banyak kemiripan jika dilihat dari pemberdayaan sumber daya manusia dan segi dokumentasinya.

Berikut ini beberapa persamaan TPM dan TQM :
  1. Kedua-duanya memerlukan komitmen dan dukungan penuh dari Top Manajemen
  2. Perlu memberdayakan seluruh sumber daya manusia mulai dari level terendah sampai level tertinggi
  3. Penerapannya memerlukan jangka waktu yang panjang (satu tahun atau lebih) untuk dapat melihat hasilnya
  4. Merubah Mind-set atau pemikiran Karyawan terhadap Tanggung Jawab pekerjaannya (Job Responsibilities)
Sedangkan Perbedaan TPM dan TQM diantaranya adalah sebagai berikut:

Kategori Objek
  1. TQM: Kualitas (Output dan Efek/Akibat)
  2. TPM: Equipment/Peralatan (Input dan Penyebab)
Kategori Pencapaian Tujuan
  1. TQM: Manajemen yang sistematik, lebih berorientasi pada perangkat lunak perusahaan
  2. TPM: Partisipasi Karyawan, lebih berorientasi pada perangkat keras perusahaan
Kategori Target
  1. TQM: Kualitas dalam bentuk PPM
  2. TPM: Eliminasi Kerugian dan Pemborosan

MECHANICAL: MENGENAL 5S (5R)

5S/5R
Semangat pagi great people!

Mari kembali kita mereview salah satu pilar penting dalam menunjang proses produksi di industri manufaktur atau industri lainnya yang setara. Salah satu fondasi dalam pilar TPM (Total Productive Maintenance) yang sangat familiar dan kita semua sering dengar adalah 5S/5R. Apa sajakah itu?

5S/5R tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

1. Seiri/Ringkas
Prinsipnya adalah semua orang yang terlibat dalam proses produksi harus berupaya menyortir apa yang dianggap tidak penting dan menggunakan perlengkapan kerja yang paling efektif. Kata kuncinya adalah sortir yang tidak perlu.

2. Seiton/Rapi
Prinsip dasarnya adalah semua orang yang terlibat dalam proses produksi harus memiliki kepedulian untuk membuat lingkungan kerjanya rapi, tertata dengan baik, terkoordinasi dengan baik. Kata kuncinya adalah set in order atau menyusun segala hal secara berurutan.

3. Seisou/Resik
Yang dimaksud di sini adalah semua orang yang terlibat dalam proses produksi harus memiliki kepekaan untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan kerjanya. Kata kuncinya adalah bersih.

4. Seiketsu/Rawat
Semua orang yang terlibat dalam proses produksi harus senantiasa merawat kondisi yang sudah baik dari penerapan ke tiga poin di atasnya, kata kuncinya adalah penstandaran, semua hal yang sudah baik harus dijaga dan dibuat standarnya.

5. Shitsuke/Rajin
Terakhir yang harus dilakukan dalam menjaga ke lima hal ini tentu adalah rajin, semua orang harus menjaga dan kontinyu melakukan semua aktifitas kebaikan ini. Kata kuncinya adalah sustain atau berkelanjutan.

Demikian sedikit ulasan ulang dan singkat tentang 5S/5R. Dalam dunia industri motivasi tulisan mungkin ini juga bagian dari salah satunya, yaitu Shitsuke (Rajin). Ya minimal rajin nulis buat kontinyu saling mengingatkan dan mencegah laju kepikunan pada diri penulis.

Semoga menjadi hari yang menyenangkan. Ganbatte Kudasai!

Robi Cahyadi
Mechancial Engineer

Sunday, October 13, 2019

MECHANICAL: MENGENAL AUTONOMOUS MAINTENANCE

5 Langkah Autonomous Maintenance

Mengenal Autonomous Maintenance

Autonomous Maintenance adalah pilar kedua dari delapan pilar TPM (Total Productive Maintenance), yang diterapkan dalam proses manufaktur. Prinsipnya adalah pemeliharaan dan perbaikan yang dilakukan secara mandiri oleh operator mesin, yang diharapkan untuk memiliki pengetahuan khusus mengenai mesin (equipment). 

Tujuan dari autonomous maintenance adalah mendorong operator untuk berlaku cepat tanggap dan proaktif dalam pemeliharaan mesin, agar mesin selalu berada dalam performa terbaiknya. Operator diharapkan mampu melakukan perbaikan atas kerusakan kecil atau pemeliharaan sederhana atas mesin.

Implementasinya dilakukan dengan pendekatan terstruktur untuk meningkatkan level keterampilan karyawan, hingga mereka mampu memahami, mengelola, dan memperbaiki proses dan mesin yang berada di area tanggung jawab mereka.

Dengan demikian, tenaga maintenance dapat lebih fokus untuk kasus kerusakan yang lebih serius. Dengan terpeliharanya mesin, maka kondisi optimal dan sense of ownership akan dapat tercipta. Tentu saja, pendekatan ini juga akan membantu mengurangi potensi cacat dan breakdown mesin.

Tahapan Penerapan Autonomous Maintenance

Implementasi pilar autonomous maintenance terbagi menjadi tiga fase, dan dilakukan oleh tim yang dalam kesehariannya menggunakan mesin yang menjadi objek autonomous maintenance.

Fase pertama: Pada fase ini tim akan melakukan pemeliharaan terhadap mesin dan menjaga kondisinya tetap prima dengan melakukan restorasi dan menghilangkan penyebab-penyebab kerusakan/mesin mati dan sumber-sumber kontaminasi mesin. Pada tahap ini, tim harus diperkenalkan dengan standar-standar yang mengatur aktifitas pembersihan, inspeksi, pengencangan dan lubrikasi untuk memastikan kondisi mesin selalu baik.

Fase kedua: Pada fase ini tim akan mendapatkan pelatihan mendetil mengenai prinsip operasional sehingga pengetahuan dan keterampilan mereka mengenai perbaikan mesin akan bertambah. Setelah melewati fase ini, tim diharapkan sudah memahami bagaimana cara memperbaiki kondisi mesin untuk menjaganya tetap pada performa standar.

Fase ketiga: Pada fase ini, operator mengambil ownership atas mesin mereka masing-masing, dan secara berkelanjutan terus menjaga atau meningkatkan kondisi serta performa mesin, untuk mengurangi losses selama proses.

Keuntungan Penerapan Autonomous Maintenance

Penerapan autonomous maintenance akan meningkatkan nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) dengan mengurangi performance loss dan meningkatkan ketersediaan mesin (availability). Selain itu, akan ada perbaikan yang dapat diukur, berkaitan dengan employee engangement dan capability level.

Kesimpulan

Autonomous Maintenance adalah konsep perawatan mesin yang melibatkan operator produksi sebagai pengguna untuk melakukan perawatan dasar. Implementasi pilar ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan tanggung jawab operator produksi terkait mesin, sehingga produktifitas akan meningkat secara keseluruhan. Autonomous Maintenance menggunakan sistem yang terstruktur dan terdokumentasi sehingga program ini dapat berjalan dengan konsisten.

Sumber: dikutip dari berbagai informasi di google

Friday, October 4, 2019

MECHANICAL: 6 LANGKAH SEDERHANA KAIZEN


6 Langkah Sederhana dalam Kaizen
Kaizen (Continuos Improvement)

Sebuah metode perbaikan yang berkesinambungan atau terus menerus. Kuncinya adalah terus menerus tanpa ada celah untuk berhenti melakukan perbaikan, tidak ada istilah sempurna, selalu ada potensi masalah dan perbaikan!

Setidaknya ada 6 langkah dalam melakukan Kaizen, apa saja?

1. Identifikasi (menemukan) suatu masalah
2. Menganalisis metode yang digunakan saat ini
3. Mencari ide baru yang bersifat original ataupun pengembangan
4. Countermeasure dengan merencanakan penerapan ide tersebut
5. Doing (eksekusi) ide yang sudah terencana tersebut
6. Evaluasi dan follow-up (ekspansi) jika ide baru tersebut dinilai lebih baik

Contoh sederhana dalam dunia industri manufaktur misalnya sebagai berikut:

1. Identifikasi masalah
Hasil proses welding tidak rata, tidak menghasilkan profil hasil welding yang bagus.

2. Analisis metode saat ini
Proses welding (pengelasan) yang sedang eksis ternyata masih dilakukan secara manual menggunakan tangan manusia.

3. Mencari ide baru
Proses welding agar hasilnya rata lebih baik menggunakan alat bantu (jig). Akan tercipta alur welding yang teratur dan merata.

4. Countermeasure
Merencanakan desain jig, dan membuat prototype atau langsung membuat barangnya.

5. Doing atau eksekusi
Menginstal alat bantu berupa jig tersebut untuk proses weldingnya.

6. Evalusi dan monitoring
Jika hasilnya bagus, teruskan dan ekspansi, jika kurang bagus maka kembali ke langkah awal.

Demikian secara singkat dan sederhana gambaran proses Kaizen! Rohnya adalah perbaikan yang dilakukan berkesinambungan tanpa henti.

#sharing #knowledge #kaizen

Thursday, October 3, 2019

EVALUASI: BENARKAH MENCARI KERJA ITU SULIT?

Pernahkah anda selalu kesulitan mencari pekerjaan? Apakah anda bahkan seringkali gagal mendapatkan pekerjaan yang anda inginkan? Mari kita ulas bersama apa saja penyebab semua itu dan kira-kira apa solusi terbaik untuk mengatasinya. Tulisan ini saya sajikan berdasarkan pengalaman pribadi juga dari sharing beberapa teman yang mengeluhkan hal serupa.

Baik jadi begini, kalau kita semua bersama-sama bersedia membuka situs atau layanan pencari kerja seperti jobstreet, jobsdb, indeed dan sejenisnya, coba ketikkan saja lowongan pekerjaan yang sekiranya anda inginkan. Saya berani katakan dengan pasti bahwa kita semua selalu terkejut dengan banyaknya jumlah lowongan pekerjaan yang sedang dibuka oleh banyak perusahaan.

Ilustrasi Sebuah Fenomena "Orang Dalam"
Lantas masalahnya di mana? Kita seringkali berasumsi bahwa lowongan pekerjaan sedikit tidak sebanding dengan jumlah para pencari kerjanya. Apakah benar demikian? Saya bisa katakan tidak demikian kebenarannya. Yang paling tepat adalah lowongan pekerjaan itu banyak sekali, atau jika tidak mau menyebutnya banyak masih tetap bisa disebut cukup banyak. Buktinya apa? Ya itu tadi konkritnya, berbagai macam platform atau situs pencarian kerja masih terus memposting kebutuhan tenaga kerja. Benar bukan? Coba perhatikan kalau masih ragu.

Tetapi kenapa kita tetap merasa kesulitan mencari pekerjaan? Coba tanyakan pada diri sendiri, mulailah berintrospeksi. Maka akan ditemukan sebuah jawaban yang sebenarnya kita semua menyadarinya tapi tidak cukup mampu mengakuinya. Apakah itu? Ya, ketidakcocokan kualifikasi dan kompetensi kita sebagai pencari kerja (job seeker) denganekspektasi dan permintaan pemberi kerja, dalam hal ini human resource yang bertindak sebagai tim rekrutmen dan juga user selaku pihak yang akan mempekerjakan kita.

Jadi kalau kita mau mengakuinya memang demikian adanya bukan? Lowongan pekerjaan itu banyak, selalu ada, problemnya adalan pencari kerja seringkali dianggap tidak memenuhi kualifikasi oleh pemberi kerja. Sehingga inilah yang menjadikan kita berasumsi tanpa sadar seolah-olah lowongan pekerjaan sedikti. Ini kesalahan seluruh elemen dari mulai penyelenggara pendidikan, industri, dan tentu yang paling salah adalah kita sendiri sebagai pencari kerja yang tidak pernah bekerja keras untuk memahami dan mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh pemberi kerja. Nah!

Ada sebuah anekdot yang banyak berseliweran di dunia maya misalnya kalimat demikian, “Pemberi kerja seringnya minta yang berpengalaman, giliran datang yang berpengalaman dibilangnya sudah tidak muda lagi dan dianggap tidak produktif, maunya yang muda, enerjik, giliran datang yang muda lalu bilangnya kami butuh yang berpengalaman!”. Ruwet kan? Ya begitulah realita yang sering terjadi dalam dunia tarik ulur antara pemberi dan pencari kerja.

Dari rentetan penjelasan dan rumusan masalah di atas setidaknya saya ingin memberikan beberapa kiat dalam rangka mematchingkan dua insan yang sebenarnya saling mencintai tetapi selalu terbentur oleh gengsi keduanya, yaitu antara HRD dan kandidat karyawan (jobseeker). Berikut kiat-kiat yang dapat dipelajari oleh para pencari kerja.
  1. Pahami diri anda sendiri, mahir, menguasai, dan berkompetensi di bidang apa? Identifikasi diri.
  2. Pahami apa yang diminta oleh perusahaan yang sedang mencari kandidat sesuai kualifikasi anda, lalu sesuaikan dan upgrade diri anda di level requirements itu.
  3. Indentifikasi maunya pemberi kerja apa. Setelah anda dapat mengenalinya lalu letakkan prioritas dan sempitkan pilihan pada bidang atau posisi apa anda ingin apply/melamar pekerjaan. Lakukan itu.
  4. Buka dan daftar lalu log-in pada platform pencarian pekerjaan seperti jobstreet, jobsdb, indeed, dll. Di sana banyak sekali informasi seputar dunia pencarian kerja. Pantau terus jangan kasih kendor.
  5. Selalu perbarui CV anda, sebaik-baiknya CV yang terbaru dan menarik adalah bertambahnya kompetensi diri, skills, keahlian. Bukan semata eye catching saja, yang penting isinya!
  6. Terakhir, kuncinya adalah be ur self! Jadilah diri anda sendiri dalam menjual mempromosikan diri anda di dunia pencarian kerja. Jangan berpura-pura jadi orang lain.

Jadi sekali lagi saya ingin tegas mengatakan bahwa andaikan benar asumsi selama ini lowongan pekerjaan tidak lebih banyak dibanding dengan jumlah pencari kerja, maka solusi terbaiknya adalah jadilah pencari kerja yang dipantau dan menjadi sorotan terbaik oleh radar pemberi kerja. Apakah caranya? Baca lagi poin di atas paragraf ini berulang kali. Nanti anda akan memahaminya setelah membaca minimal berulang tiga kali. Toh sekali lagi, andaikan benar asumsi selama ini, bisa jadi kurang benar bukan?

Selamat berkompetisi secara sehat dan trengginas. Mari positif thinking bahwa pekerjaan akan selalu ada bagi orang yang selalu memperbaiki diri. Jangan pernah takut dan putus asa! Selalulah menjadi muda yang enerjik bersemangat dan tetaplah mengakui sebagai orang yang sudah tua jika memang demikian adanya. 😁👌🏽

Sunday, September 22, 2019

TIPS UNTUK PARA JOB SEEKERS MILLENNIAL


Minggu sore yang sangat cerah sekali, sangat pas untuk sharing sebuah pengalaman yang terangkum dalam sebuah catatan ringan. Silakan disimak ya bro, boleh usul atau berdiskusi lho ya, silakan berkomentar secara santun dan manusiawi.

Upgrade Ur Self
Tips ini terkhusus untuk para pejuang pencari kerja dan pejuang masa depan yang harapannya tentu adalah better than present condition, ciyeileh! 😅👌🏽

Apa saja tips dari gue? Yuk simak!

1. CV/resume dengan design menarik (eye cathcing) itu memang bagus, tapi isi dari CV/resume tersebut jauh lebih penting, maka buatlah CV/resume yang informatif dan menarik, ndak perlu tabrak warna biar kontras dan norak, biasa saja deh natural saja.
2. Kalo sedang apply, ikutilah prosedur yang tertera dan isilah body email dengan rapi dan jelas! Detail! Ini perihal etika dan kejelian seorang kandidat.

3. Kalau misalkan tidak bisa menghadiri interview, coba untuk informasikan selambatnya satu hari kerja sebelum hari H interview, terlepas alasan apapun, ini perihal kualitas diri kita sendiri dan etika tentunya!

4. Istirahat yang cukup juga sangat penting. Untuk menyiapkan fisik dan mental saat menghadiri sebuah sesi tes (baik psikotes atau interview). Olahraga juga bagus untuk meningkatkan rasa percaya diri! Coba saja kalau gak percaya.

5. Be your self. Ini poin paling utamanya! Karena dari pembicaraan saat interview, HRD bisa lihat bagaimana karakter aslimu, apakah kamu orang yang bisa diajak kerja sama atau tidak. HRD memang dididik dan terskenario demikian. Kalo mulai terindikasi (hal-hal yang tertera di CV tidak sesuai dengan fakta), maka penilaian terhadapmu akan menjadi negatif.

Silakan terus semangat dan tetap berjuang bagi yang menginginkan sebuah perubahan. Stuck di tempat yang tidak nyaman hanyalah buang-buang waktu dan akan semakin menuakan diri untuk kemudian menjadi terlihat “kurang menarik” atau bahkan bisa saja malah “ndak laku” di pasaran. 😁👌🏽

Robi Cahyadi
Deputi Bidang Mental PSJ-45
Aktif menulis di www.robicahyadi28.blogspot.com

Saturday, September 21, 2019

MECHANICAL: 3 DASAR UTAMA PREVENTIVE MAINTENANCE


PREVENTIVE MAINTENANCE
1. Membersihkan (Cleaning)

Pekerjaan pertama yang paling mendasar dalam maintenance adalah membersihkan (cleaning) peralatan/mesin dari debu maupun kotoran-kotoran lain yang mengganggu. Pekerjaan ini sering diabaikan orang karena dianggap tidak penting, dan hanya dianggap sebagai kotoran yang mengganggu tampak luarnya saja. Padahal sebenarnya debu yang menempel pada permukaan mesin merupakan inti bermulanya proses kondensasi dari uap air yang berada di udara sebagai awal terjadinya korosi.

Dalam melaksanakan pekerjaan cleaning perlu ada petunjuk tentang :

  • Bagaimana cara melakukan pekerjaan tersebut
  • Kapan pekerjaan tersebut harus dilakukan
  • Alat bantu apa saja yang diperlukan
  • Hal-hal apa saja yang harus dihindari dalam melakukan pekerjaan tersebut.

Cleaning meliputi peralatan/mesin utama dalam industri, peralatan bantu serta fasilitas pendukung lainnya termasuk lingkungan sekitar peralatan dan lingkungan pabrik.

Cleaning sangat baik dilakukan secara berkala dan disiplin, dengan menyesuaikan waktu operasi peralatan/mesin yang bersangkutan.

Cleaning dilakukan dengan menyesuaikan kondisi lapangan dan jenis kotoran yang timbul. Apabila kotoran berupa debu cukup di lap atau dengan menggunakan vacuum cleaner. Tapi apabila kotoran banyak mengandung serbuk metal atau sejenisnya, cukup dilap saja dan jangan menggunakan semprotan angin.

Dengan kebersihan lingkungan yang terjaga, akan menumbuhkan semangat kerja operator dan menjaga kondisi peralatan/mesin, yang secara tidak langsung akan meningkatkan produktivitas dan menumbuhkan rasa memiliki.

2. Memeriksa (Inspection) 

Pemeriksaan terhadap bagian unit instalasi peralatan/mesin perlu dilakukan secara teratur mengikuti pola jadwal yang sudah diatur. Jadwal dibuat atas dasar pertimbangan-pertimbangan antara lain :

  • Berdasarkan pengalaman yang lalu dalam suatu jenis pekerjaan yang sama, diperoleh informasi mengenai selang waktu/frekuensi untuk melaksanakan pemeriksaan seminimal mungkin dan seekonomis mungkin tanpa menimbulkan resiko kerusakan unit instalasi yang bersangkutan.
  • Berdasarkan sifat operasinya yang dapat menimbulkan kerusakan setelah unit instalasi peralatan produksi beroperasi dalam selang waktu tertentu.
  • Berdasarkan rekomendasi dari pabrik pembuat mesin produksi (manual book).

3. Memperbaiki (Repair) 

Apabila terdapat kerusakan pada bagian unit instalasi peralatan produksi hingga kinerjanya tidak mencapai standar yang dapat diterima, maka perlu dilakukan perbaikan (repair). Repair bertujuan untuk mengembalikan fungsi peralatan kembali pada kondisi standar semula, dengan usaha dan biaya yang wajar.

Thursday, September 19, 2019

RENUNGAN; UNTUK APA KITA MENJADI PEKERJA

Selamat malam sahabat juangku, apa kabar? Sehat kan?

Baiklah, mari sejenak kita tundukkan kepala dan renungkan sebuah hal yang mungkin saja kita tidak atau belum menyadarinya. Apakah itu?

Job Seeker

Ya, sebuah pertanyaan. Kita ini bekerja dan menjadi pekerja formal untuk apa?

Untuk mengisi waktu? Terlalu bodoh.
Untuk uang? Tidak tepat.
Untuk kaya? Tidak semudah itu.
Untuk bahagia? Tidak sesederhana itu.
Untuk bekal hari tua? Terlalu filosofis, teoritis dan njlimet.

Lalu untuk apa? Untuk apa kita berstatus sebagai pekerja formal?

Jawabannya adalah untuk memiliki status.

Legitimasi makhluk dikatakan “hidup” dalam kerangka sosiologi masyarakat kita memang demikian adanya, boleh saja anda tidak percaya, tapi ini realita yang sangat sulit disanggah dan dihindari.

Apa manfaat dari status tersebut?
Status sebagai pekerja?
Dan juga bekerja tentunya?

Dari status itulah mungkin saja anda yang dulu tidak terlalu tampan dan kaya ini belum memiliki pacar kemudian ada wanita yang percaya bahwa anda adalah pria pilihannya. Atau bahkan tanpa anda sadari, bisa jadi mertua anda saat ini diam-diam bersedia menerima anda karena status tersebut. Bagaimana jika anda kala itu melamar istri anda dalam status sebagai pengangguran? Apakah anda yakin diterima saat dalam situasi demikian? Cobalah flashback.

Barangkali juga, motor yang anda miliki, rumah yang saat ini anda tempati bersama anak istri adalah hasil dari status anda sebagai pekerja, dalam hal ini perbankan percaya, memberi legitimasi, dan kemudian memberi kemudahan dalam kucuran kreditnya kepada anda. Lantas, apakah hal demikian berlaku pada saat berstatus sebagai pengangguran? Tentu akan tidak mudah bukan? Jawab saja sejujurnya menggunakan relung terdalam yang ada pada hati sanubari anda.

Apakah kultur masyarakat ketimuran, terlebih generasi kita yang kian moderen seperti saat ini cukup memiliki trust dan legitimasi terhadap mereka yang tidak berstatus sebagai pekerja? Ada, kemungkinan itu selalu ada meskipun sudah mulai jarang. Setidaknya ada syarat yang harus dipenuhi jika anda tidak berstatus sebagai pekerja formal.

Setidaknya anda adalah seorang pengusaha (businessman). Anda dapat menghasilkan uang dalam jumlah “ideal” tanpa harus berstatus sebagai pekerja formal. Apakah itu mudah? Sama sekali bukan hal yang mudah. Saya melihat sendiri betapa orang tua saya bangkrut-bangkit dalam mengelola usahanya berkali-kali. Renungkan dan jalani saja kalau tidak percaya!

Lantas dari rentetan penjelasan yang nalar dan logis ini saya ingin mengatakan apa?

Sederhana saja, syukuri status pekerjaan anda, apapun itu pekerjaannya, tentunya tanpa sedikitpun ada perasaan akan berhenti pada fase tesebut. Kenapa demikian? Karena bukan berarti kita atau anda kuffur nikmat saat kita atau anda sedang menghendaki rizki yang lainnya.

Kenap bisa begitu? Bukankah Tuhan memberikan jaminan kepada setiap makhluknya jika ada kesungguhan ingin mengubah dirinya dari zona existing menuju zona harapan? Anda tidak percaya dengan firman-Nya? Silakan, sah-sah saja.

Prinsipnya adalah sudut pandang kita berbeda-beda dalam menilai sekaligus menghargai sebuah status pekerja, tidak ada yang mutlak benar dan tidak pula ada yang mutlak salah. Tergantung dari sisi mana anda merasakannya.

Mau jadi pekerja formal atau pengusaha? Terserah kowe-kowe pada! Mbuh pikiren dewek. Silakan bertafakkur, alis mikir.

Selamat malam sahabat-sahabatku. Semoga dengan perbanyak bersyukur (Alhamdulillah) Tuhan senantiasa menambahkan limpahan karunia-Nya kepada kita. Aamiin.

Robi Cahyadi
Dewan Penasihat Diri Sendiri
Aktif sebagai penulis di www.robicahyadi28.blogspot.com

Tuesday, September 3, 2019

MENGENAL PROBLEM SOLVING (PEMECAHAN MASALAH)

Kita sering kali mendengar tentang apa itu problem solving (pemecahan masalah), meskipun  sering kali kita mendengarnya tidak jarang dari kita yang belum memahami apa yang dimaksud dengan pemecahan masalah, apa saja yang harus kita lakukan dalam menyelesaikan masalah, dan segala hal piranti pendukung dalam menyelesaikan masalah. Melalui tulisan ini sayan ingin mengajak para pembaca untuk mengulas secara ringkas apakah yang dimaksud dengan penyelesaian masalah dan  bagaimana cara melakukannya.


Problem soving adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat (Hamalik, 1994:151). Problem solving yaitu suatu pendekatan dengan cara problem identifikation untuk ketahap syntesis kemudian dianalisis yaitu pemilahan seluruh masalah sehingga mencapai tahap application selajutnya komprehension untuk mendapatkan solution dalam penyelesaian masalah tersebut. (Qruztyan. Blogs. Friendster.com). Kapan persoalan timbul? Saat seseorang sebagai individu atau kelompok menemukan situasi tertentu dan mempunyai tujuan, di situlah timbul persoalan. (NSK.Ltd.)

Mengapa ada problem solving? Karena ada masalah! Sebagai contoh saya mengambil sebuah kasus nyata yang sering kali terjadi dalam dunia industri,  misalkan adanya produk yang tidak bagus lolos hingga ke pelanggan, pasti akan menimbulkan komplain dari pelanggan (customer claim), maka akan ada kemungkinan pelanggan pergi, pelanggan ingin membeli kualitas yang lebih baik, ini berkaitan erat dengan konsep quality, cost, delivery, safety. lalu perusahaan akan merugi karena ditinggal pelanggan karena adanya kompetitor yang lebih unggul. Dari contoh itulah problem solving kemudian dibutuhkan. Solusi atas masalah tersebut harus segera dicari dan ditemukan.

Ada berbagai cara dalam merumuskan penyelesaian masalah, empat pola pikir pemecahan masalah antara lain adalah:
1. ANALISA SITUASI. Apa yang sedang terjadi di dalam diri atau kelompok kerja saya?
2. ANALISA PERSOALAN. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
3. ANALISA KEPUTUSAN. Tindakan apa saja yang seharusanya saya ambil?
4. ANALISA PERSOALAN POTENSIAL. Apa saja yang mungkin menjadi hambatan rencana atau tindakan saya?

Berikut ini saya sajikan sebuah contoh pendekatan masalah melalui proses kuantitatif dengan diagram pareto.

Contoh Diagram Pareto
A. ANALISA SITUASI

Alurnya selalu sama dalam menganalisa situasi, yaitu: Masalah - Apa Masalahnya? - Kemudian lakukan hal berikut: Pisahkan jenis dan bentuk masalah, Tentukan prioritas, Tempatkan masalah.
Contoh analisa situasinya sebagai berikut:
Terjadinya defect galon bocor pada Line Produksi 3 pada perusahaan XYZABC, Plant Sukorejo, pada periode Juni-Juli 2019, sebanyak 125 pcs (dengan rata-rata 63 kasus per bulan). Mengakibatkan potensi kerugian sebesar 63 pcs x 12.000 = Rp. 765.000,- per bulan.
Pernyataan targetnya adalah sebagai berikut:
Menurunkan defect galon bocor dari 63 pcs per bulan menjadi 20 pcs per bulan pada Desember 2019.
Jadi harus jelas berapa target yang akan dicapai dan kapan batasan waktunya.

B. ANALISA PERSOALAN

Alurnya selalu sama dalam menganalisa persoalan, yaitu: Ide perbaikan (Improvement/Kaizen).
Dengan ide perbaikan kita dapat mengurangi potensi masalah, meningkatkan kinerja, menciptakan ide baru, bahkan hingga level menghapuskan suatu potensi masalah. Pendekatan menggunakan diagram tulang ikan juga merupakan satu cara untuk menganalisa persoalan.

C. ANALISA KEPUTUSAN

Bahwa pada dasarnya prinsip analisa keputusan adalah "Keputusann terbaik adalah keputusan yang strategis dan yang operasional". Artinya adalah keputusan yang tepat dan mudah dilakukan.
Ada tiga hal yang dapat dilakukan dalam menganalisa keputusan, antar lain:
  • Divergent Techniques yaitu kemampuan menghasilkan pilihan ide atau solusi baru.
  • Convergent Techniques yaitu penyelesaian maslaah yang menyatukan ide atau bidang yang berbeda untuk menemukan suatu solusi.
  • Impelementation Techniques yaitu desain aktivitas secara mendetail untuk kemudian diterapkan dlam menganalisa sebuah keputusan.
Prinsip Dasar Analisa Keputusan
D. ANALISA PERSOALAN POTENSIAL

Bahwa pada dasarnya prisip analisa persoalan potensial adalah "Resiko tidak bisa dihilangkan, yang mungkin adalah hanya dikendaikan". Artinya sebuah masalah yang timbul hanya dapat dikelola dan dikendalikan agar selalu berada pada titik paling minim resiko.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam menganalisa persoalan potensial, antara lain:
  • Menentukan daerah kritis
  • Menentukan persoalan-persoalan yang dianggap potensial
  • Meramalkan atau prediksi sebab masalah
  • Memilih tindakan apa yang akan diambil dalam mencegah potensi masalah
  • Sistem informasi yang jelas

Demikian sedikit ulasan tentang apa dan bagaimana saat kita menemukan masalah, melalui berfikir yang terstruktur dengan menggunakan metode problem solving di atas saya kira kita dapat lebih mudah menyelesaikan setiap masalah yang hadir di tengah hidup atau pekerjaan kita. Semoga bermanfaat.