Monday, December 20, 2021

OPINI: OBSTACLE Y-GENERATION

Jika orang yang lahir di rentang tahun 1946-1964 disebut sebagai generasi baby boomer, maka untuk yang lahir pada rentang 1965-1980 disebut sebagai generasi X. Kemudian siapa generasi Y? Tentunya mereka yang lahir di rentang tahun 1981-1995, ini yang sering disebut sebagai generasi millennial. Adik-adiknya yang lahir setelah 1996 disebut sebagai generasi Z yang saat ini jumlahnya sedang mendominasi ruang pendidikan.

Ilustrasi: Generasi Z
Source: google

Obstacle yang sering ditemui oleh generasi millennial dalam dunia kerja adalah mencari titik temu antara dirinya dengan generasi sebelumnya yaitu generasi baby boomer dan mungkin sebagian generasi X. Generasi Y atau millennial sudah lebih mengenal digitalisasi atau komputerisasi saat di ruang pendidikan sementara kakak-kakaknya tersebut mungkin tidak semuanya berwawasan digital atau komputerisasi.

Ini menjadikan tantangan tersendiri bagi generasi millennial dalam mentransformasikan era lama industri 3.0 (teknologi otomasi berbasis komputer) menuju era baru industri 4.0 (segalanya berbasis digital dan internet/cloud computing) karena bagaimana pun pasti masih banyak karyawan yang saat ini bekerja dan kebetulan usianya sudah mendekati 50-an atau dalam kata lain mereka generasi X tadi.

Jika mereka para generasi X atau sebagian generasi baby boomer (barangkali masih ada yang bekerja ya, tapi seharusnya baby boomer sudah pensiun sih) bersedia mengikuti perkembangan teknologi digital tentu hal ini bagus, tapi problemnya cukup banyak yang justru denial pada transformasi ini. Sebagai contoh sederhana begini, dulu perizinan cuti karyawan melalui form kertas secara manual dan kemudian diubah melalui online berbasis web dan mobile. Untuk sekedar sosialisasi dan sampai bisa terimplementasi saja butuh effort yang tidak biasa.

Dari realita ini tentu ada skill lain yang harus juga dikuasi oleh generasi millennial selain wawasan dan kemampuan teknis pada ruang digitalisasi, apakah itu? Tentu komunikasi yang baik. Untuk menuju era industri 4.0 butuh pendekatan komunikasi persuasif kepada generasi X. Karena sebaik dan secanggih apapun sistem itu diciptakan, jika cara menjelaskannya rumit apalagi agresif dan kemudian justru sulit diterima generasi X sehingga ending-nya tidak terimplementasi dengan baik, saya kira buat apa?

Mungkin ada contoh-contoh lainnya? Boleh di-sharing-kan

Saturday, December 18, 2021

OPINI: ADA TANGIS DI DESEMBER 2021

Desember ini kita dikejutkan dengan dua berita yang sama-sama mengundang sedih derai air mata, berita duka pertama tentu soal bagaimana hari ini gunung Semeru terjadi erupsi lumayan dahsyat dengan mengeluarkan semburan abu vulkanik dan lahar dingin yang membuat mencekam makhluk hidup di sekitaran Pronojiwo, Lumajang. Kita semua layak berduka atas musibah ini.

Ilustrasi: source from google


Berita kedua tentu adalah kabar duka yang datang dari dunia perempuan, di mana hari ini ada seorang mahasiswi tingkat akhir yang bernama Novia Widyasari asal Mojokerto ditemukan meninggal di pusara ayahnya. Sebab meninggalnya adalah bunuh diri menenggak cairan beracun yang konon diduga dikarenakan depresi berat akibat perkosaan yang ia alami.

Dari sejumlah thread yang beredar di digital media, terpantau banyak sekali publik figur dan pengguna media sosial yang berempati atas kejadian yang menimpa Novia Widyasari, mahasiswi Universitas Brawijaya jurusan pendidikan bahasa Inggris berusia 23 tahun yang malang ini. Saya pribadi membaca sepatah demi patah cerita yang dinarasikan begitu menyayat hati.

Bagaimana tidak menyayat hati, seorang gadis baik yang memiliki impian luhur menjadi seorang guru karena ingin mengabdi pada pendidikan kemudian justru teruji dengan ujian seberat ini? Dari cerita yang beredar, beberapa bulan yang lalu ayahnya meninggalkannya. Di tengah krisis mental karena kepergian ayahnya, justru dia disetubuhi secara paksa dengan ditenggaki pil tidur terlebih dahulu oleh pacarnya sendiri yang oknum polisi.

Kemudian di saat Novia Widyasari ini menyadari bahwa dirinya telah hamil akibat kelakuan setan jahanam yang menjelma pada diri pacarnya tersebut, justru keluarganya sendiri banyak yang tidak mendukung saat Novia berharap mendapatkan keteduhan. Sebaliknya banyak yang mencemooh karena dianggap mencoreng nama baik keluarga, padahal jelas sekali dalam narasi yang ada Novia ini adalah korban.

Saya hanya ingin mewartakan kepada semua pembaca bahwa tidak lagi bisa kita ini sebagai makhluk hidup yang konon berbudi pekerti luhur, dengan tega menempatkan korban pelecehan seksual bahkan pemerkosaan berada dalam posisi yang layak dikucilkan. Paradigma mayoritas keluarga di Indonesia yang masih takut akan rusaknya reputasi harkat martabat akibat adanya salah satu anggota keluarganya yang terkena aib harus segera dikikis habis. Tidak bisa keterusan menormalisasi hal hina semacam ini.

Novia Widyasari layak dibela mati-matian oleh segenap perempuan waras di mana pun berada. Jika ada perempuan yang masih mencap dan menyalahkan posisi Novia akibat tidak bisa menjaga diri atau apalah itu sumpah serapah sok syar'i dan taat beragama misalnya, saya mendoakan agar perempuan yang demikian ini benar-benar empati dan terbuka hatinya. Demikian halnya dengan pria yang berpikir bahwa dirinya adalah sosok superior atas keberadaan perempuan, saya doakan semoga engkau sadar bahwa engkau terlahir dari rahim ibumu yang juga perempuan!

Terakhir, semoga kasus-kasus menyayat hati demikian ini tidak lagi terjadi. Cukup menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kriminalitas dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, bahkan oleh dan dari orang terdekatmu sendiri. Semoga almarhumah Novia Widyasari ditempatkan di surga-Nya Allah SWT dan pelaku kejahatan atasnya diberi ganjaran yang setimpal baik di dunia atau kelak di akhirat, aamiin.

Tuesday, November 30, 2021

OPINI: CARA MEMANGGIL ORANG TUA

Ilustrasi Mom & Dad
Source: google.com

Pada era modern ini panggilan untuk orang tua sangat beragam. Ini tentu dipengaruhi oleh banyak hal antara lain adat istiadat suatu daerah, budaya keluarga, strata sosial, pengaruh urbanisasi dan lain sebagainya.

Anak-anak Betawi mungkin terbiasa dengan panggilan nyak-babeh ke orang tua mereka. Anak-anak suku Sunda mungkin lebih banyak yang pakai istilah abah-ambu. Anak-anak suku Batak umumnya lebih jamak memakai istilah amang-mamak atau barangkali ada yang lainnya?

Saat saya masih kecil dulu, saya diajarkan secara alamiah bahwa cara memanggil untuk kedua orang tua adalah bapak dan ibu. Karena kebetulan saya orang Jawa jadinya lebih banyak menyebutnya hanya dengan pak atau buk saja.

Sebagai contohnya dalam penggunaan komunikasi sehari-hari misalnya, “pak njaluk sangune” yang berarti “pak minta uang sakunya”. Atau “buk, wis wayah mbayar SPP” yang berarti “bu sudah waktunya bayar SPP”.

Di tengah pergaulan saya dengan teman sebaya di kampung halaman, panggilan pak dan buk terkategori lumayan jamak. Tetapi ada lagi yang lebih jamak dipakai oleh teman-teman masa kecil saya, misalnya memanggil orang tua dengan panggilan pak (berasal dari kata bapak) dan mak (berasal dari kata emak).

Ada juga teman masa kecil di kampung halaman yang kebetulan dari kalangan agak agamis dan lebih dekat tradisi pesantren, memanggil orang tuanya dengan panggilan bah (dari kata abah) dan umi. Tapi jumlahnya minoritas tidak sejamak yang menggunakan panggilan pak dan mak.

Hari ini, sepertinya panggilan pak dan mak atau pak dan buk sudah cukup jarang kita dengar pada generasi anak kita dalam memanggil kita. Ya memang kitanya sendiri yang terbawa arus dengan penggunaan istilah lainnya yang mungkin terdengar lebih modern sehingga mengajarkannya ke anak kita pun demikian.

Anak-anak kita dan banyak dari anak-anak di generasi saat ini sudah banyak sekali yang menggunakan panggilan ayah-bunda untuk yang cenderung memilih sensasi nasionalis, abi-umi atau abah-umi untuk yang ingin memperlihatkan sisi islami, dan barangkali papi-mami, papa-mama, daddy-mama untuk menampakkan sisi strata sosial yang tinggi.

Saya pribadi sebagai orang tua yang saat ini sedang memiliki anak kecil, tak pernah mengajarkan anak memanggil saya dengan panggilan aneh-aneh. Saya selalu mengupayakan untuk menuntun anak mengeja bapak atau paling banter ayah. Sementara istri saya lebih nyaman jika anaknya memanggil dia mama.

Yang pasti tiap generasi ke generasi memiliki perbedaan cara penyebutan atau panggilan terhadap orang tua mereka. Saya sendiri ingat saat kecil, bapak saya memanggil orang tuanya (yang artinya kakek nenek saya) dengan sebutan pak-mak. Sementara ibu saya memanggil orang tuanya dengan panggilan pak-mbok.

Tidak hanya soal cara memanggil terhadap orang tua yang berbeda antar generasi satu dengan lainnya. Ada banyak perbedaan yang seharusnya diakui dan tidak dipaksakan untuk bisa selalu sama. Yang artinya kita tidak bisa lagi memaksa anak kita harus menjadi seperti kita atau sebaliknya orang tua kita meminta kita harus persis seperti mereka. Sudah ndak usum lagi yang demikian ini.

Ngomong-ngomong, bagaimana kalian memanggil orang tuamu? Dan bagaimana kalian dipanggil anak-anakmu?

Monday, November 29, 2021

INDUSTRI: MENGENAL CHOIOKI DALAM PABRIK JEPANG

Dalam gemba (shopfloor) alias pabrik, budaya Jepang sangat menekankan pentingnya 5S. Tentu kita sudah tidak asing dengan budaya 5S ini karena sering kali kita dengar dan lakukan dalam pekerjaan operasional sehari-hari di pabrik.


Ada satu hal lagi istilah yang sangat familiar bagi saya dan pertama kali saya mengenalnya saat bekerja untuk NSK Bearings Indonesia, sebuah korporasi komponen otomotif asal Jepang. Istilah yang saya maksud adalah CHOIOKI.


Apakah yang dimaksud CHOIOKI? Menurut penjelasan traineer saya dulu, yang dimaksud choioki adalah segala hal utamanya produk yang tanpa identitas. Lebih detailnya adalah adanya barang khususnya produk yang berada di suatu tempat tapi tanpa identitas yang jelas.


Contoh kondisi choioki:
Ada parts yang tidak memiliki identitas yang jelas dan tergeletak di lantai pabrik begitu saja


Kenapa choikoi menjadi sangat penting untuk diperhatikan dan cukup menjadi concern bagi manajemen perusahaan Jepang dalam mengelola operasional di pabrik? Karena faktanya choikoi ini menjadi salah satu sebab hadirnya berbagai masalah utamanya masalah yang berkaitan dengan kualitas produk.


Semua dari kita paham bahwa manajemen Jepang sangat komitmen dalam hal kepuasan pelanggan, hal ini hanya bisa didapat dengan menghasilkan produk yang berkualitas. Lalu bagaimana contoh choioki di gemba? Berikut ini beberapa contoh yang bisa kita ambil.


1. Di sebuah pabrik sepatu, ditemukan adanya sol setengah jadi yang tergeletak dilantai tanpa ada identitas yang jelas.

2. Di sebuah pabrik handphone, ada sebuah IC power yang jatuh di lantai dan tidak ada yang peduli terhadapnya, kemudian kondisi ini pun juga tanpa identitas yang jelas.

3. Di sebuah pabrik bearing, ada satu outer ring yang tergeletak di bawah conveyor proses assembling yang kondisinya terbiarkan tanpa identitas.


Itu hanya beberapa contoh choioki yang bisa kita temui atau bayangkan di gemba (shopfloor). Mungkin ada banyak sekali hal lain yang bisa kita temui dan jadikan contoh. Lalu apa sih bahaya choikoi ini? Bahaya choikoi antara lain  adalah sebagai berikut:


1. Dapat menjadikan sebab awal mix product antara yang OK dengan yang Not OK

2. Menjadikan lingkungan pabrik terkesan tidak rapi, 5S yang buruk

3. Menurunkan kepuasan pelanggan akibat kondisi 5S yang buruk


Bagaimana cara kita mengendalikan choikoi ini? Pastikan aktifitas 5S di shopfloor berjalan dengan baik dan dikontrol secara ketat secara periodik untuk menjaganya dalam kondisi konsisten. Mari kita hindari choioki dalam pabrik kita. Salam improvement!

Friday, October 29, 2021

INDUSTRI: MENGENAL MIERUKA (VISUALISASI) PADA PABRIK

Kontrol visual adalah teknik manajemen bisnis yang digunakan di banyak tempat di mana informasi dikomunikasikan dengan menggunakan sinyal visual, bukan teks atau instruksi tertulis lainnya. Desain sengaja memungkinkan pengenalan cepat dari informasi yang dikomunikasikan, untuk meningkatkan efisiensi dan kejelasan.

Sinyal ini bisa dalam berbagai bentuk, mulai dari pakaian berwarna berbeda untuk tim yang berbeda, hingga ukuran fokus pada ukuran masalah dan bukan ukuran aktivitas, hingga kotak kanban, patuha dan heijunka dan banyak contoh beragam lainnya. Dalam The Toyota Way, itu juga dikenal sebagai mieruka.

Picture: source google

Metode kontrol visual bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas suatu proses dengan membuat langkah-langkah dalam proses itu lebih terlihat. Teori di balik kontrol visual adalah bahwa jika sesuatu terlihat jelas atau terlihat jelas, mudah diingat dan disimpan di garis depan pikiran. Aspek lain dari kontrol visual adalah bahwa setiap orang diberi isyarat visual yang sama dan kemungkinan besar memiliki sudut pandang yang sama.

Ada banyak teknik berbeda yang digunakan untuk menerapkan kontrol visual di tempat kerja. Beberapa perusahaan menggunakan kontrol visual sebagai alat organisasi untuk bahan. Papan penyimpanan yang diberi label dengan jelas memungkinkan karyawan mengetahui dengan tepat di mana letak alat dan alat apa yang hilang dari papan pajangan.

Contoh sederhana lain dari kontrol visual yang umum adalah memiliki pengingat yang dipasang di dinding bilik sehingga tetap terlihat jelas. Tanda dan sinyal visual mengkomunikasikan informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang efektif. Keputusan ini mungkin berorientasi pada keselamatan atau mereka mungkin mengingatkan tentang langkah apa yang harus diambil untuk menyelesaikan masalah.

Sebagian besar perusahaan menggunakan kontrol visual dalam satu atau lain derajat, banyak dari mereka bahkan tidak menyadari bahwa kontrol visual yang mereka buat memiliki nama dan fungsi di tempat kerja. Apakah dikenali dengan nama "kontrol visual" atau tidak, faktanya mengganti teks atau angka dengan grafik membuat sekumpulan informasi lebih mudah dipahami hanya dengan pandangan sekilas, menjadikannya cara yang lebih efisien untuk mengkomunikasikan pesan. Ini juga biasa digunakan untuk komunikasi tim internal.

Kontrol visual dirancang untuk membuat kontrol dan manajemen perusahaan sesederhana mungkin. Ini berarti membuat masalah, kelainan, atau penyimpangan dari standar terlihat oleh semua orang. Ketika penyimpangan ini terlihat dan terlihat oleh semua orang, tindakan korektif dapat diambil untuk segera memperbaiki masalah ini.

Kontrol visual dimaksudkan untuk menampilkan status operasi atau kemajuan dari operasi yang diberikan dalam format yang mudah dilihat dan juga untuk memberikan instruksi dan menyampaikan informasi. Sistem kontrol visual harus memiliki komponen tindakan yang terkait dengannya jika prosedur yang direpresentasikan secara visual tidak diikuti dalam proses produksi yang sebenarnya. Oleh karena itu, kontrol visual juga harus memiliki komponen di mana umpan balik langsung diberikan kepada pekerja.

Ada dua kelompok dan tujuh jenis aplikasi dalam kontrol visual. Menampilkan grup dan grup kontrol.

1. Grup tampilan visual menghubungkan informasi dan data kepada karyawan di area tersebut. Misalnya, grafik yang menunjukkan pendapatan bulanan perusahaan atau grafik yang menggambarkan jenis masalah kualitas tertentu yang harus diperhatikan oleh anggota kelompok. Skala besar, (biasanya 2 x 4 meter) contoh ini dikenal sebagai papan komunikasi. Papan komunikasi cukup besar untuk memuat beberapa tampilan dan memungkinkan tim orang untuk melihat sekaligus. Ini mendukung pengambilan keputusan tim dan mempromosikan "visi bersama".

2. Sebuah kelompok kontrol visual dimaksudkan untuk benar-benar mengontrol atau memandu tindakan anggota kelompok. Contoh pengendalian yang mudah terlihat di masyarakat: rambu berhenti, rambu parkir untuk orang cacat, rambu dilarang merokok, dll.

Sunday, September 19, 2021

TEBU, KOMODITAS YANG MEMPERKAYA RAKYAT JAWA TIMUR?

Ilustrasi: Buruh Penebas Tebu

Jika mendengar tanaman tebu apa yang terlintas di benak anda? Tentu kita akan langsung terbayang segelas es tebu yang rasanya manis dan sanggup melegakan tenggorokan yang haus di bawah teriknya panas siang hari. Atau jangan-jangan kita terbayang betapa lahan tebu terkesan menyeramkan karena sering dijadikan latar pada berita kriminal baik pembunuhan atau pemerkosaan.

Sejarah mencatat tanaman tebu mulai dikenal luas di Indonesia berkat hadirnya kolonialisme Belanda. Indonesia yang kalah itu masih berstatus sebagai Hindia Belanda di awal tahun 1800-an mulai menerapkan tanam paksa khususnya di Jawa yang diprakarsai oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), sebuah holding company yang sangat super kaya saat itu.

Sistem tanam paksa di Jawa menjadikan masyarakat Jawa yang saat itu lebih mengenal padi sebagai tanaman yang biasa ditanam, menjadi sedikit perlahan bergeser sebagian menanam tebu. Diakui atau tidak memang tebu yang habitat aslinya berasal dari Papua New Guinea ini ternyata sangat cocok ditanam di dataran rendah Jawa. VOC tentu melihat ini sebagai sebuah peluang besar dalam memproduksi gula yang oleh bangsa Eropa kebetulan sangat dibutuhkan.

Harga gula yang relatif baik saat itu membuat VOC sangat berambisi mengubah banyak lahan produktif untuk ditanami tebu dan membangun puluhan pabrik gula di nusantara. Baru setelah tahun 1859 terjadi pembangunan besar-besaran pabrik dalam mengolah hasil tebu terealisasi. Infrastruktur dibangun sangat canggih di jaman itu, rel kereta hingga ke pelosok lahan tebu terkoneksi dengan baik sampai ke pabrik-pabrik.

Dewasa ini ternyata tebu tetap menjadi salah satu andalan PTPN (PT. Perkebunan Nusantara) dalam menghasilkan keuntungan bisnis. Tercatat menurut rilis resmi PTPN X selaku salah satu anak perusahaan PTPN yang membidangi bisnis pengolahan produk olahan tebu, bahwa produksi gula kristal hasil dari tanaman tebu di tahun 2020 ternyata mampu menembus angka produksi 350 ton gula kristal yang berasal dari 4 juta ton tebu, dengan hasil keuntungan mencapai 100 milyar rupiah per tahun.

Bicara tanaman tebu tentu kita tidak bisa mengesampingkan peran Jawa Timur sebagai lumbung tebu dan produksi gula kristal nasional. Data resmi PTPN menyebutkan untuk saat ini provinsi dengan kepemilikan lahan tebu paling luas di Indonesia adalah Jawa Timur dengan mencapai 65% dari seluruh lahan tebu yang ada di Indonesia atau setara dengan 200 ribu hektar lahan. Ini tentu aset yang sangat berharga untuk Indonesia dalam memenuhi kebutuhan gula kristal nasional.

Dalam ruang lingkup PTPN X saja ada setidaknya sembilan pabrik gula aktif di Jawa Timur, mulai dari PG Krembung di Sidoarjo di sebelah utara hingga ke ujung selatan di Tulungagung yaitu PG Mojopanggung. Belum lagi PG milik PTPN XI yang jumlahnya juga mencapai sembilan pabrik yang tersebar di sekitar Malang hingga PG Semboro di Jember, timur jauh Jawa Timur. Ini merupakan aset nasional yang harus dikelola dengan baik untuk generasi mendatang.

Bicara Kediri sebagai lumbung tebu di Jawa Timur tentu tidak lepas dari keberadaan Kediri sebagai kabupaten dengan peringkat nomor dua kepemilikan luas lahan tebu di Jawa Timur, setelah Malang tentunya. Saat ini tercatat Kediri memiliki serapan produksi gula kristal dari tanaman tebu sebesar 150 ribu ton atau setara 13% produksi tebu di Jawa Timur. Ini yang membuat kita tidak heran jika berkunjung ke pelosok Kediri betapa banyak ditemukan ribuan hektar lahan tebu.

Sebagai anak daerah yang lahir dari orang tua yang terkena imbas positif keberadaan lahan tebu, tentu penulis pribadi sangat bersyukur pernah berada di tengah keluarga yang di awal 90-an cukup kaya raya berkat tanaman tebu. Kebetulan dulu orang tua penulis selain sebagai petani tebu juga merupakan tengkulak tebu yang memiliki kontrak tahunan sebagai vendor di PTPN X yaitu PG Ngadirejo, Kras, Kediri. Meski hari ini sudah tidak lagi menikmati keberadaan positif tanaman tebu tapi setidaknya bagi penulis pengalaman hidup yang manis ini layak disyukuri.

Di wilayah Kediri sendiri tempat lahir penulis yaitu Kecamatan Kras, tercatat di data PTPN X menduduki peringkat tiga kecamatan dengan lahan tebu teluas di Kediri setelah Kecamatan Wates disusul Kecamatan Kandat. Kecamatan Kras saat ini memiliki luas lahan tebu sebesar 1800-an hektar dengan total produksi gula kristal dari serapannya sebesar 211 ribu ton per tahun. Ini angka yang tentu tidak sedikit jika kita konversikan ke dalam uang.

Anggap saja jika harga gula kristal saat ini per kilogram adalah 18 ribu rupiah, maka dengan produksi 211 ribu ton gula yang dihasilkan oleh Kecamatan Kras saja berarti sama dengan rupiah 3.798.000.000.000 alias 3 triliun lebih. Bayangkan perputaran uang sebesar itu untuk sebuah siklus bisnis dan ekonomi di tengah masyarakat, tentu bukan nilai yang kecil. Mestinya ada proses stream yang bisa dipelajari, dipertahankan, dan ditingkatan oleh insinyur ahli pertanian untuk mencapai produksi tebu lebih baik.

Belum lagi produksi gula rumahan atau gilingan tebu untuk menghasilkan gula merah skala kecil, di Desa Karangtalun tempat lahir penulis saat ini tercatat ada gilingan tebu tradisional aktif sebanyak 4 buah. Ini tentu mampu menggerakkan perekonomian desa yang lagi-lagi menurut pendapat penulis harus dipertahankan eksistensinya. Mengingat saat masa kecil penulis dulu tercatat lebih dari 10 buah keberadaan gilingan tebu tradisional termasuk salah satunya adalah milik kakek penulis sendiri yang akhirnya tutup karena gagal mempertahankan eksistensi.

Penulis mengamati betapa problematika petani tebu saat ini adalah soal regenerasi SDM, yang sebenarnya ini adalah problem turunan nasional. Yaitu enggannya anak muda berkecimpung di dalam sektor pertanian karena dianggap tidak menjanjikan faedah finansial di masa mendatang. Tidak cukup banyak anak muda saat ini yang bersedia meniti karir sebagai petani tebu, padahal jelas sekali potensi positif yang sudah disebutkan oleh penulis di paragraf-paragraf awal.

Dari pada bersusah payah menanam tebu yang pengelolaannya sulit dan panennya per 10 bulan atau bahkan setahun sekali, menjadi karyawan swasta atau syukur-syukur bisa menjadi PNS tentu adalah gol utama anak muda saat ini, tidak terkecuali di tanah kelahiran penulis. Adapun jika saat ini masih ada sedikit anak muda yang menekuni bertani tebu, tidak lain karena terpaksa dan tidak ada pilihan, bukan karena benar-benar ingin menyelamatkan komoditas paling membanggakan di wilayah Kediri atau lebih luas lagi Jawa Timur bahkan nasional ini.

Terakhir yang ingin disampaikan penulis adalah bahwa seiring bertambanya tahun, tercatat di data resmi PTPN bahwa produksi tebu PTPN X secara linier terus menurun. Dari tahun 2016 yang mampu memproduksi tebu sebanyak 5,9 juta ton per tahun, menurun landai hingga tahun 2020 hanya mampu memproduksi tebu sebanyak 3.8 juta ton per tahun dan ini akan diprediksi semakin menurun di tahun-tahun mendatang. Miris sekali kan?

Lagi-lagi tren ini juga merupakan turunan dari tren problem nasional di mana produksi hasil pertanian apapun itu mulai dari tembakau, padi, jagung dan lain-lain secara gradual linier menurun tahun demi tahun. Maka jika kemudian impor dilakukan oleh pemerintah demi mencukupi demand dari masyarakat kita sendiri ya ndak usah kaget-kaget amat. Fakta menariknya semakin hari kita memang tidak lagi menjadi negara agraris (pertanian) kok, kita sedang bertransformasi ke negara industri. Lihat saja 10-20 tahun mendatang apa profesi yang paling diinginkan oleh anak-anak kita (mohon yang ini dicatat sungguh-sungguh).

Mengingat ini bukan karya ilmiah, penulis tidak cukup waktu untuk menganalisa dengan baik secara sungguh-sungguh apakah tren ini memang berjalan karena dampak semakin tumbuhnya penduduk (ledakan populasi) yang otomatis membuat minimnya lahan bercocok tanam, atau karena SDM yang semakin hari memang tidak cukup komitmen terhadap keberadaan sektor pertanian nasional. Lihat saja di sekeliling kita, kampus mana yang fakultas pertaniannya terbaik dan ke mana saja kiprah karir lulusannya? Betul bukan?

Semoga menjadi renungan, salam hangat dari Malang.

Robi Cahyadi
Menulis aktif untuk berdongeng ke anak cucu
Malang, 19 September 2021

Saturday, September 11, 2021

INDUSRTY: MENGENAL A3 REPORT

MENGENAL A3 REPORT

Dalam aktivitas continuous improvement (Kaizen), ada berbagai bentuk jenis model report/laporan. Di banyak perusahaan Jepang, umumnya jenis A3 report dijadikan sebagai standar dalam pelaporan aktivitas Kaizen karena dianggap sederhana tapi padat dan langsung ke poin substansi. (FYI; orang Jepang anti bertele-tele). A3 report ini mula-mula dikenalkan tentunya oleh TPS (Toyota Production System).

Di bawah ini ada sebuah contoh A3 report (yang sudah saya modifikasi ulang) dari yang dulu pernah saya pelajari dan gunakan saat masih bekerja untuk NSK Bearings. Tidak ada acuan baku bagaimana A3 report disusun, prinsipnya harus dapat menjelaskan hal inti dari aktivitas Kaizen. Yang terpenting ada 3 unsur pokok yaitu: Kondisi sebelum improvement - Kondisi sesudah improvement - Efesiensi yang dihasilkan.

Ilustrasi: A3 Kaizen Report

Jika ingin lebih lengkap dengan mendetailkannya menggunakan penjabaran konsep rinci siklus PDCA atau DMAIC, ditambah grafik, data-data, dan foto-foto yang menjelaskan kondisi after-before di dalam Kaizen A3 report tentu akan semakin lebih baik. Kembali ke selera saja, kalau saya pribadi kebetulan menyukai yang sederhana, padat, dan langsung menuju substansinya.

Di contoh yang saya berikan ini memiliki keuntungan yang sangat baik dari sisi penyampaian substansi laporan. Dibaca berurutan dari poin-1 sampai poin-4 dan biasanya saat melaporkan dalam presentasi hanya butuh short time (flash presentation) kurang dari 10 menit. Orang Jepang sangat menyukai laporan yang langsung ke kesimpulan, untuk proses detailnya biasanya mereka gak terlalu ingin kepo kejauhan.

Jika kalian bekerja untuk sebuah perusahaan Jepang, tentu sudah tidak asing lagi dengan A3 Report. Jika kebetuan anda tidak bekerja di perusahaan Jepang dan ingin mencoba mengenalkannya dengan menggunakannya pada project report kalian, tentu ini juga sangat menarik. Ingin belajar lebih dalam soal A3 Report? Boleh kok japri dan kita diskusi bareng soal ini. Selamat bermalam minggu bruh!

Malang, 11 Sept 21
Ditemani hujan syahdu di balkon Villa Mewah Kalianyar

Saturday, August 28, 2021

INDUSTRY: MENGENAL KAKOTORA SEBAGAI CARA PENINGKATAN QUALITY

Dulu saat saya masih bekerja untuk NSK Bearings Manufacturing Indonesia, pernah diajarkan salah satu metode budaya kerja Jepang untuk meningkatkan kualitas produk. Budaya tersebut dikenal dengan istilah 'kakotora', yang berasal dari gabungan dua kata yang dipersingkat. Kata pertama adalah kako yang berarti masa lalu, kemudian tora dari serapan trouble atau masalah. Sehingga dalam istilah industri kemudian kakotora dikenal sebagai masalah, trouble, kegagalan yang terjadi di masa lalu.


Dalam bahasa inggris mungkin dikenal dengan istilah lesson learned, atau kita akrab mengenalnya dengan one point lesson. Satu titik pembelajaran. Kakotora dalam penerapannya adalah menggunakan metode pengumpulan database setiap kejadian masalah atau trouble yang mengakibatkan kegagalan produk atau cacat produk (defect). Hasil dari pengumpulan data ini bisa berupa beberapa hal antara lain; waktu kejadian, jenis produk, dari mesin mana produk di proses, jenis trouble, jenis deffect, jenis penanganan.


Kakotra; Lesson Learned
Source: Google


Kemudian database ini dikumpulkan untuk menjadi album rujukan di kemudian hari, sebaiknya ini tersosialisasi dengan baik di kalangan terkait agar menjadi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan skill operator dalam menghasilkan settingan mesin yang baik sehingga mesin benar-benar dalam kondisi perform dan hanya menghasilkan produk OK saja tanpa ada deffect atau NG produk. Dalam penerapannya, kakotora umumnya dikontrol dan dimonitoring oleh bagian QA sebagai penjamin kualitas.


Apakah sulit menerapkan kakotora? Sebenarnya tidak cukup sulit, sama seperti halnya metode-metode lainnya dalam peningkatan kualitas produk, yang dibutuhkan dalam penerapan kakotora adalah keajegan atau konsistensi dari seluruh pihak terkait. Ada metodenya, ada sistemnya, ada penanggung jawab pelaksana, kontrol, dan monitoringnya. Terdapat sebuah pepatah yang mengatakan begini, "experience is the best teacher, and the worst experiences teach the best lessons”


Peribahasa di atas menekankan pentingnya pengalaman. Dapat dikatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, baik itu pengalaman baik maupun yang buruk. Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari pengalaman, dan dari pengalaman itu dapat kita belajar. Begitu halnya dengan pengalaman trouble masa lalu yang sudah pernah dialami dan diketahui sumber masalahnya, operasi produksi bisa belajar darinya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama atau bahkan bisa meningkatkan (improve) kualitas dengan belajar dari kejadian trouble masa lalu.


Siapkah ber-kakotora di operasi produksi pabrik kita? Mari terus berimprovement untuk menjadi manusia yang lebih baik. Di lain kesempatan akan saya coba jelaskan lebih detail tentang bagaimana menerapkan kakotora sebagai cara meningkatkan kualitas produk di operasi produksi pabrik.

Wednesday, August 11, 2021

INDUSRTY: MENGENAL DANTOTSU LINE SECARA SEDERHANA

Apakah anda pernah mendengar sebelumnya apakah itu dantotsu line? Jika belum dan anda sedang menekuni bidang pekerjaan di sektor industri manufaktur mungkin sangat layak mengetahuinya. Dantosu line dalam budaya kerja pada Toyota Production System diartikan sebagai lini produksi yang terbaik, menjadi rujukan bagi lini produksi yang lain.

Bagaimana pengertian yang terbaik itu? Dantosu dalam terminologi bahasa Jepang diartikan sebagai unrivaled (tidak tertandingi), best of the best (terbaik dari yang terbaik), dan juga dapat diartikan sebagai perfect (sempurna). Sementara line merupakan bahasa Inggris jika kita terjemahkan bisa saja berarti garis atau pun dalam sektor industri manufaktur lebih tepat diartikan sebagai lini.

Jadi dantotsu line merupakan lini produksi dalam shop floor (lantai pabrik) yang terdiri dari satu atau beberapa equipments (peralatan/mesin) yang dijadikan sebagai proyek percontohan karena lini produksi dantotsu ini telah mencapai dan memenuhi pra-syarat tertentu. Pra-syarat di sini diartikan sebagai 3 hal pokok yang harus dicapai dalam proses produksi.

Source picture: Google.com

Ketiga syarat tersebut antara lain adalah sebagai berikut ini;

1. Lini produksi bebas dari deffect (cacat produk), ini berarti rangkaian equipments yang ada pada dantotsu line harus menghasilkan produk yang bebas dari cacat. Selalu 100% hanya menghasilkan produk OK. Tentu ini sangat sulit dicapai, maka peran total quality improvement menjadi sangat penting pada step ini.

2. Lini produksi bebas dari breakdown (kerusakan equipments), ini diartikan sebagai lini produksi dantotsu wajib bebas terhadap situasi kerusakan yang mendadak di tengah proses. Syarat untuk bisa mencapai ini adalah performa mesin harus berada di titik maksimal, untuk meraihnya pada umumnya para insinyur di manufaktur menggunakan metode Maintenance.

3. Lini produksi berada dalam posisi sempurna atas kondisi 5R-nya. Ringkas, rapi, resik, rawat, rajin adalah hal yang mutlak dicerminkan dari dantotsu line ini. Ini tentu sangat sulit dicapai mengingat kombinasi antara man power (tenaga manusia) dengan machines (mesin-mesin) adalah kombinasi yang sulit dikendalikan. Budaya 5R/5S sebagai fondasi lean manufacturing wajib diterapkan pada dantotsu line ini.

Keuntungan dari memiliki dantotsu line adalah terdapatnya lini produksi yang benar-benar dapat dijadikan rujukan untuk line yang lain bisa mencapai level standar yang ditentukan. Ini tentu juga termasuk salah satu bagian dari 5S itu sendiri yaitu standardize, ada rangkaian equipments yang diciptakan dan dikontrol secara ketat untuk menjadi ideal performa. Jika ada audit datang ke pabrik anda pun dantotsu line bisa menjadi obyek untuk di tampilkan. Sangat menguntungkan.

Apakah kita bisa mencapai level seperti ini? Tentu ini adalah tantangan yang sangat sulit bagi semua pelaku atau penekun bidang industri manufaktur khususnya orang-orang shop floor. Jika di pabrik anda belum memiliki dantotsu line untuk bisa dijadikan sebagai proyek percontohan bagi line lainnya, tentu menciptakan dantotsu line adalah sebuah langkah yang sangat bagus untuk memulai sebuah upaya menuju kebaikan dan perbaikan.

Jika kita mempelajari lebih dalam tentang dantotsu line tentu tidak hanya sebatas sejauh penjelasan di atas. Lebih luas lagi dan sangat mustahil penulis menuangkannya dalam summary sederhana seperti ini. Harapan penulis setidaknya ini dapat menjadi wawasan ringkas dan menjadi langkah awal untuk berani memulai menciptakan dantotsu line di pabrik para pembaca. Mari semangat berimprovement!

Robi Cahyadi
Production Group Head
PT. Aneka Tuna Indonesia

Friday, July 30, 2021

MANUFAKTUR: WAWASAN INDUSTRI, PENTING KAH?

Setiap orang yang bekerja dan menekuni dunia manufaktur pasti tidak asing dengan berbagai langkah strategi efisiensi produksi. Seringkali hal ini menjadi topik hangat dalam perbincangan di komunitas yang menekuni bidang ini. Bisa dikatakan seorang engineer tanpa wawasan strategi efisiensi produksi ibarat seorang pedagang yang tidak punya barang untuk dijual. Omong kosong.

Ilustrasi Pentingnya Wawasan Industri
Sumber: Google

Dalam praktiknya di industri manufaktur, strategi efisiensi produksi dapat ditempuh dengan berbagai banyak cara. Ada puluhan metode yang ditawarkan oleh para insinyur yang menekuni bidang rekayasa seperti ini. Salah satu cara paling terkenal dan sangat digaungkan di kalangan penekun bidang ini adalah TPM System. Ya, Sistem Total Productivity Maintenance. 

Secara teori Sistem TPM ini dapat dijadikan sebagai cara sistematis-metodik untuk menekan bahkan menghindari kerugian alias ketidakefisienan pada tiga isu penting proses manufaktur. Isu tersebut antara lain dalam bentuk capaian target baik kualitatif atau kuantitatif yaitu zero breakdowns (nol kerusakan), zero defect (nol cacat produk) dan zero accident (nol kecelakaan). 

Saya merasakan dengan sepenuh hati bahwa sepanjang belajar di bangku kuliah, sangat minim sekali materi tentang Sistem TPM ini diajarkan. Padahal mayoritas industri sektor manufaktur (apapun bidangnya) menerapkannya dan tentu pemahaman yang baik tentang ini sangat dibutuhkan jika para calon sarjana yang akan lulus ingin terjun ke industri manufaktur. 

Bangku kuliah banyak mengajarkan wawasan yang muara akhirnya adalah peningkatan daya analisis, misalkan belajar problem solving dengan soal-soal eksakta seperti calculus, kinematika dan dinamika, mekanika fluida dan seterusnya. Mata kuliah dasar hingga spesifik sesuai bidang memang penting dan wajib terus diberikan. Ini bermanfaat dalam membekali calon sarjana sebuah skill problem solving.

Tapi juga sebaiknya lembaga pendidikan mulai berbenah bahwa wawasan yang terimplementasi di dunia kerja harus segera diberikan dengan serius. Karena fakta hari ini yang saya rasakan sebagai seorang user lulusan sarja, saya merasakan kurangnya sekali wawasan fresh graduate pada dasar-dasar efisiensi produksi dalam proses manufaktur. Padahal jelas sekali ini sangat penting diketahui dan dikuasi.

TPM system pada perumpamaan di paragraf awal-awal di atas hanyalah sebatas contoh. Betapa ternyata sangat banyak sekali hal yang akan digunakan dan dibutuhkan oleh industri tetapi bangku kuliah kurang mengakomodirnya. Ini akan menjadi bom waktu yang akan sewaktu-waktu meledak jika dibiarkan. Ledakannya dalam wujud ketidaksiapan SDM dalam kebutuhan serapan profesi.

Merekrut dosen-dosen yang juga praktisi di industri manufaktur merupakan salah satu strategi approach dalam mengenalkan lebih dalam wawasan industri. Mengkombinasikan kuliah berbasis teori dan perbanyak praktik lapangan adalah juga merupakan sekian cara yang selama ini dilakukan. Ini tentu baik dan layak digiatkan lebih serius.

Penulis ingin memberikan penekanan bahwa seorang mahasiswa atau calon sarjana tidak bisa lagi hanya berharap dari kampus saja untuk mendapatkan infus wawasan industri. Calon sarjana harus benar-benar agresif belajar mandiri baik otodidak atau bermentor pada orang yang tepat. Jika tidak ingin ketinggalan kereta, sebaiknya datang ke stasiun lebih awal. Begitu kira-kira kiasannya.

Tuesday, July 20, 2021

HIKMAH: YANG PENTING DIBATIN SAJA DULU

Saya, Istri, dan Val

Dibatin Dalam Hati Saja Dulu

Dulu, dulu sekali saya tidak pernah tahu dan tidak pernah bisa menyangka bagaimana caranya agar bisa hidup di sebuah desa yang dekat dengan panorama lanskap indah ciptaan Tuhan. Yang bisa saya lakukan ya cuma berdoa dalam batin, Ya Allah semoga suatu saat nanti saya bisa hidup kembali di desa dengan segala kearifan lokalnya. Maklum saya orang desa, mungkin tidak sepenuhnya mampu beradaptasi di tengah hingar bingar perkotaan.

Kehidupan terus berjalan mengalir apa adanya, usia terproduktif dan masa muda saya terpakai untuk hidup di tengah pengapnya udara berpolusi (kalau tidak mau disebut beracun) yaitu Bekasi. Sebuah kota industri di timur Jakarta yang memiliki pertumbuhan ekonomi terbaik nasional. Tapi saya tetap yakin bahwa suatu saat harus bisa hidup di desa betapa pun pekerjaan mapan sudah saya miliki kala di Bekasi dulu. Ya naluri bilangnya harus back to nature, back to village, intinya begitu.

Setiap saya pulang kampung baik dalam rangka menghabiskan jatah cuti atau pun sekedar ingin refresh kuliner cita rasa kampung halaman, saya tidak lupa menyempatkan ziarah ke pusara ayah ibu saya. Sebagai bentuk bakti kepada orang tua yang telah membesarkan dan mendidik tentunya. Di samping itu juga sering saya sempatkan ziarah ke makam para waliyullah, semisal ke makam Mbah Sulaiman Wasil atau pun makam Yai Chamim Jazuli (Gus Miek) di Kediri.

Sekira awal tahun 2019 saat masih berstatus kerja di Bekasi suatu waktu saya menyempatkan pulang kampung lagi ke Kediri, saat itu saya mendapatkan sebuah nasehat saran dari orang yang saya anggap alim. Saya tidak akan menyebut nama beliau karena saya yakin beliau mungkin tidak pernah membaca tulisan ini. Beliau menyarankan ke saya agar berkunjung ziarah ke makam Mbah Sunan Ampel di Surabaya, untuk bertawasul dan bermunajat doa pada Allah SWT.

Perlu diketahui bahwa dalam akidah kami umat nahdiyin, bertawasul adalah bagian dari ikhtiar karena bagaimana pun kekasih Allah SWT (walliyullah) adalah insan yang lebih dekat dengan-Nya dibanding kami hamba yang hina dan dipenuhi dosa ini. Sehingga berdoa dan berharap barokah (tabarukan) di makam para auliya' adalah baik dan juga sebuah kebaikan. Insyaallah.

Doa saya kala itu adalah agar dalam waktu dekat saya harus bisa move to East Java, pindah ke Jawa Timur, ini adalah sebuah prioritas utama. Niatnya adalah mendekati keluarga khususnya istri dan calon buah hati yang sedang berada di dalam kandungan istri saya. Saya masih buta akan pekerjaan apa yang nantinya akan saya tekuni untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga baru kami. Beruntungnya istri sangat mendukung setiap langkah yang saya tempuh, benar apa kata orang sepuh bahwa doa istri itu makbul.

Batin tentu sangat bergejolak dilematis, melepas sebuah pekerjaan yang sudah mapan tentu bukan lah perkara mudah. Tapi jauh dari keluarga juga bukan lah perkara gampang. Keduanya berada dalam posisi sulit untuk dipilih dalam waktu bersamaan. Dari sini lah pentingnya perjalanan spiritual dalam manifestasinya berupa keyakinan. Saya beruntung punya banyak orang-orang baik yang selalu memberikan nasehat. Dipenuhi orang-orang baik tentunya adalah sebuah kenikmatan.

Menjelang akhir 2019 saya kembali menyempatkan berkunjung ke Surabaya, saya bermalam dan bermunajat kembali di Makam Mbah Sunan Ampel. Saya ulangi kembali doa-doa saya di kunjungan sebelumnya. Pada intinya memohon yang terbaik untuk saya pribadi dan keluarga. Specifically, saya berharap sesegera mungkin move to East Java. Mendapatkan secercah jalan dan kelangsungan hidup di Jawa Timur, itulah pintaku.

Akhir 2019 doa itu terjawab, doa itu diijabah oleh Allah SWT, saya benar-benar bisa pindah ke Jawa Timur mendekati istri dan tepat satu bulan sebelum anak saya lahir. Yang paling saya syukuri adalah proses kepindahan saya dari Bekasi menuju Malang tepat sebelum kasus Covid-19 mbledos di Indonesia dan mengakibatkan pembatasan gerak skala nasional. Andaikan akhir 2019 belum memutuskan diri untuk pindah, mungkin sampai hari ini masih terjebak problematika Covid-19 di Bekasi.

Kini, saya dan istri serta anak pertama kami yaitu Malika Val Elail dapat bersama-sama menjalani kehidupan layaknya keluarga pada umumnya. Hidup berkeluarga di pinggiran Kabupatan Malang dengan dikelilingi banyak deretan pegunungan beriklim relatif sejuk tentunya adalah sebuah kenikmatan tiada tara yang layak disyukuri. Alhamdulillah wa syukrulillah. Soal rezeki ekonomi bagaimana? Ya dicari, sejauh pedoman hidup yaitu asal obah yo mamah kita jalankan secara serius, jalan rezeki itu selalu ada.

Berawal dari mbatin. Ya hanya dibatin dalam doa. Jika kita punya hajat, jangan ragu untuk mbatin saja dulu, kemudian baru diiringi ikhtiar dan dilanjutkan dengan serius kontinyu bermunajat tentunya. Insyaallah ada jalan yang tak disangka-sangka. Begitulah kalau Gusti Allah sudah kun fayakun. Di hari Idul Adha ini saya juga ingin mbatin lagi, “Ya Allah, mugi taun ngajeng saget qurban, aamiin”.

Malang, Idul Adha 1442H
Bertepatan dengan pagi yang cerah bertanggalkan 20 Juli 2021
Robi Cahyadi

Saturday, June 19, 2021

INDUSTRY: SEJAUH MANA IDE ORISINIL ITU PERLU?

Jika anda ditanya oleh calon user soal apa yang bisa anda berikan ke perusahaan atas berbagai persoalan yang sedang dihadapi. Apa jawaban yang tepat? Mari simak.

Ilustrasi: Interview
Sumber: Google

Faktanya dalam dunia improvement di sektor industri tidaklah ada ide yang benar-benar original (asli), sehingga jika datang ke sebuah perusahaan yang mengundang anda untuk interview kerja dan ditanya apa solusi yang anda berikan terhadap masalah seperti ini (dijelaskan bla-bla-bla) misalnya. Jangan pernah menawarkan ide yang aneh atau tidak masuk akal.

Berikan saja solusi dengan menggunakan pakem-pakem yang memang sudah ada, jika soal efesiensi misalnya, banyak cara yang bisa ditawarkan misalnya TPM, Lean Manufacturing, Six Sigma dan segudang cara lainnya yang bisa ditawarkan dan terapkan. Kuncinya bukan terletak pada ide yang aneh dan seolah-olah harus original itu. Ndak penting blasss kalau cara mikirnya begini.

Yang terpenting yang harus anda tawarkan dan bisa berikan ke calon user adalah kemampuan dalam mengaplikasikan segala bentuk cara improvement seperti yang saya jelaskan di atas atau disesuaikan dengan menggunakan cara apa yang anda kuasai. Tentunya yang specifics, measurable, achievable, relevant, timebound.

Begitu juga dari sisi calon user, berharap ada ide dari kandidat anda yang really out of the box it's good, but not must! Realitanya dalam menyelesaikan berbagai persoalan di dunia industri bukanlah ide yang aneh-aneh kok yang dibutuhin, tapi lebih ke bagaimana sistem atau metode improvement yang diterpakan itu konsisten dijalankan.

Jadi sebaiknya sebagai user jangan latah kebiasaan bertanya ke kandidat ide "aneh" apa yang bisa anda berikan? Tapi tanyakanlah sejauh apa cara anda menerapkan solusi yang ingin anda tawarkan? Sebagai kandidat juga begitu, jangan latah gampang ngeluarin statements ide yang gak realistis, pakai saja segudang pakem-pakem yang sudah ada, tinggal pilih.

Selamat berakhir pekan bromates!

Thursday, June 17, 2021

WAWASAN: BAHASA INGGRIS PENTING KAH?


Menurut ilmu psikologi, kecerdasan manusia itu setidaknya dikelompokkan menjadi 8 jenis. Antara lain sebagai berikut ini:

1. Kecerdasan linguistik (berkenaan dengan bahasa)
2. Kecerdasan logical-mathematic (perhitungan angka-angka)
3. Kecerdasan visual-spatial (berkenaan dengan gambar-gambar)
4. Kecerdasan musical (berkenaan dengan musik)
5. Kecerdasan naturalis (berkenaan dengan alam sekitar)
6. Kecerdasan bodily-kinesthetic (berkenaan dengan olahraga)
7. Kecerdasan intrapersonal (memahami diri sendiri)
8. Kecerdasan interpersonal (memahami orang lain/lingkungan)

Kemudian dewasa ini ada suatu kondisi di mana ternyata cukup banyak orang berasumsi bahwa seseorang yang menguasai bahasa asing tertentu (Inggris misalnya), dianggap cerdas. Ini merupakan situasi pemahaman yang salah kaprah dan harus diluruskan. Kenapa begitu? Begini ceritanya.

Di dunia yang sedang dan akan terus menuju era globalisasi ini sangat mustahil kita hidup menghiraukan akan pentingnya bahasa asing, khususnya bahasa Inggris (misal). Faktanya bahasa Inggris sudah dijadikan mata pelajaran di dalam kurikulum pendidikan kita sedari awal belajar (bangku SD). Ini artinya sangat sulit kita denial (menyangkal) urgensi dari penguasaan bahasa Inggris.

Untuk lulus dari jenjang sekolah, pendidikan, masuk sekolah, atau universitas, bahkan masuk dunia kerja di era sekarang ini sangat jarang yang tidak mensyaratkan bahasa Inggris. Ini merupakan realita yang harus ditanggapi dengan legowo (terbuka hati) bahwa ternyata bahasa Inggris memang dominan di dunia ini (melebihi dominasi bahasa Asing lainnya, misa Arab, Mandarin, dan lain sebagainya).

Dari rentetan kondisi ini kemudian di tengah masyarakat khususnya akademisi dan praktisi muncul sebuah paradigma sesat, yang menganggap seseorang yang menguasai suatu bahasa asing tertentu (misalnya bahasa Inggris) bisa dikatakan merupakan seorang yang cerdas. Padahal jelas sekali kecerdasan itu luas, bahkan ada 8 kategori jenis kecerdasan.

Yang ingin saya katakan adalah bahwa mungkin memang ada benarnya saat seseorang menguasai banyak bahasa (bahkan polyglot misalnya), itu merupakan indikator kecerdasan. Tapi yang harus digarisbawahi dan dicetak tebal serta dimiringkan (mode italic) mungkin adalah bahwa kecerdasan yang dimaksud adalah dalam hal linguistik. Bukan kecerdasan secara jamak.

Sehingga sangat tidak arif tentunya ketika menilai seseorang cerdas, mumpuni, atau tidak hanya dengan menggunakan parameter kecerdasan berbahasa semata. Naif. Padahal dalam diri setiap orang sangat dimungkinkan memiliki kecerdasan lain yang jauh lebih dibutuhkan dalam situasi yang disyaratkan atau dikehendaki.

Seharusnya kita semua berwawasan luas dengan berprinsip pada kaidah bahwa bahasa asing tertentu just a language (hanya sekadar bahasa), not a parameter for measuring your intelligence or skills. Meskipun begitu tentunya kita juga harus berdewasa diri bahwa tidak bisa dipungkiri penguasaan bahasa asing adalah sebuah keharusan di era ini, karena sudah tuntutan jaman.

Meminjam petuah dari ahli bahasa Indonesia yang sangat terkenal di dunia Twitteriyan, yaitu Ivan Lanin. Begini bunyinya: "Utamakan bahasa Indonesia. Peliharalah bahasa daerah. Kuasai bahasa asing". Jadi, buat generasi yang akan datang dan generasi yang kebetulan belum telat, silakan terus belajar berbahasa secara baik. Apapun bahasa yang kalian sukai dan perlukan.

By the way, jika boleh tahu, andaikan angka 6 mewakili paling sulit ditelaah dan angka 10 mewakili sangat mudah ditelaah. Berapa angka yang menurut kalian tepat disematkan untuk tulisan ini? Mohon kesediannya memberikan rating dan ulasan (jika perlu). Selamat berlibur, selamat Waisak bagi yang merayakan! Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta. Semoga semua mahkluk berbahagia.

Robi C
Malang, 26 Mei 2021

Wednesday, May 12, 2021

WAWASAN: LEBARAN DI TANAH RANTAU?

Lebaran di tanah rantau adalah sebuah keniscayaan yang sulit disanggah sebagai seorang perantau. Karena saat kita memutuskan hengkang dari kampung halaman atau tanah kelahiran untuk kehidupan lebih baik pastinya akan ada dua opsi antara mudik atau tidak.

Ilustrasi Mudik, sumber: google.com

Dua kali lebaran beruntun terakhir ini kita semua dihadapkan pada situasi pandemi Covid-19 yang menyebabkan pemerintah cukup ketat melakukan pembatasan gerak rakyatnya. Mudik dilarang, atau lebih tepatnya dihimbau agar jangan dulu demi alasan kesehatan.

Tentunya ada hati yang tersayat saat biasanya selalu lekat dengan tradisi mudik, berbagi cinta dengan orang tua dan sanak saudara di kampung halaman. Kemudian menjadi harus tertuntut untuk adaptasi dengan menahan ghiroh bermudik ria.

Tak perlu saling menyalahkan atau bahkan suudzon dengan langkah pemerintah yang memutuskan pembatasan gerak mobilitas warganya. Semua dalam posisi sulit dikarenakan jika mengacu pada kaidah ilmu pengetahuan (science) terbukti bahwa salah satu pemicu cepat rambatnya penularan virus adalah tingginya gerak atau mobilitas manusia.

Di luar itu bagi yang frustasi pada keadaan memang ada banyak banding di kepala bahwa semua ini adalah propaganda bualan, jika mengacu pada sudut pandang agama sebagai dogma bahwa tradisi mudik dan bersilaturahmi adalah sebuah keharusan dan mestinya akan meningkatkan kekuatan sosial di segala bidang.

Memilih untuk tenang dan berekonsiliasi (berdamai pada perbedaan sudut pandang) memang tidak mudah. Butuh suatu sikap dewasa dan wise (bijak) yang membumi dan melangit. Seperti jargon yang sudah-sudah selalu saya katakan, dalam peperangan melawan ghiroh (gairah/nafsu) yang sabar adalah pemenangnya.

Semoga di suasana Idul Fitri 1442 H yang masih dihantui pandemi Covid-19 ini kita tetap menempatkan husnudzon (sangka baik) kepada siapapun, bukan sekadar kepada pemerintah atau manusia. Tapi juga seyogyanya menjadi kewajiban bahwa sangka baik harus dibiasakan, terlebih kepada Allah SWT.

Selamat Idul Fitri 1442 H, mohon maaf lahir dan batin. Tabik!
Taqoballahu minna waminkum wataqobal ya karim


Robi Cahyadi
Malang, Malam 1 Syawal 1442 H

Friday, May 7, 2021

KISAH: JANGAN NGGUMUNAN (NORAK)

Saya ingin berbagi cerita sedikit saja tentang sebuah kejadian, yang mana dari kejadian ini kita bisa mengambil sebuah hikmah pembelajaran yang tentunya baik. Ini sebuah kisah nyata yang terjadi kalau saya tidak salah ingat kira-kira awal tahun lalu.

Waktu itu saya sedang duduk di ruang tunggu bandara Abdul Rachman Saleh, Malang untuk keperluan pergi ke Jakarta. Saya memilih duduk di bangku deretan nomor dua dengan harapan tidak terlalu dekat dengan televisi yang ada di ruang tunggu tersebut.

Kemudian ada bapak-bapak dengan pakaian sangat profesional, berjas safari, berkemeja rapi dan bersepatu pantofel kinclong berkiwi datang duduk tepat di bangku depan saya. Saya menduga bapak ini mungkin pejabat pemerintahan, atau bisa jadi pengusaha. Yang pasti bukan buruh pas-pasan seperti saya.

Kemudian tak lama berselang datanglah sepasang kekasih duduk di bangku berlawanan arah dengan bangku saya dan bapak yang ada di depan saya, si pria tersebut bertampang bule (saya menduga sih awalnya bule Australia tapi diketahui kemudian dia bule London).

Kemudian untuk si ceweknya ini tidak terlihat dengan jelas raut mukanya karena berkerudung cadar. Tertutup rapat. Saya tidak bisa menduga apakah dia bule juga atau warga lokal. Pasangan ini saling berpegangan tangan mesra, mungkin selesai berbulan madu di Bromo, Lumajang batinku.

Melihat sepasang kekasih yang unik ini, saya juga sempat memperhatikan cukup lama. Karena bagaimana pun jiwa saya yang produk lokalan ini sama saja dengan kebanyakan orang Indonesia, suka terperangah dengan sosok asing/bule. Pun juga dengan bapak berjas profesional di depan saya. Bahkan beliau tak kuasa menahan gairah gatel jemarinya.

Beliau mengeluarkan posel dari celana safarinya, lalu terlihat dengan jelas sekali beliau memotret pasangan kekasih pria bule dan wanita bercadar itu. Saya yang berada di belakang bapak itu tentu menyadari dengan sehat jiwa raga bahwa beliau ini benar-benar secara sengaja mengambil potret pasangan itu. Ini lah masalahnya.

                                              

Pria bule itu tak disangka menyadari bahwa dirinya dan kekasihnya sedang dijepret oleh orang dari depannya. Pria bule ini langsung berdiri dan nyamperi bapak berjas profesional ini. Saya masih ingat dia katakan, “Why you shoot me, please remove my picture from your phone!” Tentu dengan nada yang cukup tegas setengah geram.

Bapak berjas profesional ini masih ngeles, dia membela diri dengan mengatakan, “I don’t take your picture! I just take a plane on the track!” Kericuhan kecil terjadi. Pria bule itu tetap tidak terima karena dia sadar betul dirinya dijepret orang tak dikenalnya.

Security bandara (Avsec) pun datang menghampiri kericuhah di depan saya ini. Sebuah pertunjukan yang bagi saya merupakan infotainment gratis. Menarik! Yang jadi semakin lucu ternyata ndilalah security bandaranya ini kok ya ndak bisa bahasa Inggris. Gak bisa nengahi. Cuma kenapa, kenapa dan kenapa diulang berkali-kali.

Pria bule ini tetap ngotot, minta bapak berjas profesional itu mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dan bapak ini tetap ngotot juga gak mau ngaku pokok. Intinya dia denial (menyanggah) tuduhan itu. Saya sebagai orang yang berada tepat di belakangnya, akhirnya unjuk gigi. Nyoba nengahi.

Saya berdiri dan katakan ke security bandara begini, “jadi bapak ini (pria bule) merasa dirinya dipotret oleh bapak ini (bapak berjas profesional), itulah kenapa ada cekcok di sini”. Begitu singkatnya penjelasan saya.

Gak lama kemudian datang security bandara perempuan, dia kebetulan bisa berbahasa Inggris. Dia saya jelaskan lagi duduk permasalahannya, kemudian menjadi penengah yang baik. Dia katakan ke pria bule itu, “please be patient, we will clear this problem”. Kemudian mbak aviation security ini berkata dengan sopan ke bapak berjas profesional.

Sebaiknya bapak menunjukkan isi galery foto di ponsel bapak, agar terbukti memang bapak tidak berniat memotret bapak ini (sambil menunjuk pria bule). Dengan wajah yang sedikit manyun akhirnya bapak berjas profesional ini bersedia mengeluarkan ponsel dari kantongnya.

Dan tarrrraaaam, betul ada foto sepasang kekasih ini dengan latar belakang pesawat yang terlihat dari kaca ruang tunggu bandara sedang parkir. Bapak ini masih mengulangi kalimat pembelaan, “Mister, I don’t take your picture but I just take a plane”. Hehe! Lucu ya.

Kemudian pria bule meminta mbak avsec untuk menghapus foto itu dari galery ponsel bapak berjas profesional. Disaksikan bersama akhirnya dihapuslah foto itu. Kemudian mbak avsec ini minta ke dua belah pihak untuk saling memaafkan. “Please, you and you take a peace. I am sorry for this case”. Pria bule dan bapak ini saling salaman. Lalu duduk di bangkunya masing-masing.

Pesan dan hikmah apa yang bisa diambil dari kejadian ini? Silakan direnungkan saja. Kalau saya cuma mau bilang begini, “jadi orang jangan norak deh, jangan nggumunan (gampang kagum) sama hal asing”. Sudah gitu saja. Sekian cerita ini semoga bermanfaat untuk mengurangi wasting time anda!

RC28
Malang, 2021/05/07
Ramadhan Kareem




Friday, April 16, 2021

INDUSTRY: MENGENAL SMED (SINGLE MINUTES EXCHANGE DIES)

SMED adalah salah satu metode improvement dari Lean Manufacturing yang digunakan untuk mempercepat waktu yang dibutuhkan untuk melakukan set-up pergantian dari memproduksi satu jenis produk ke model produk lainnya.

Konsep SMED di munculkan di tahun 1960an oleh Shigeo Shingo sebagai salah satu founder dari Toyota Production System. Tujuan yang ingin dicapai adalah berusaha untuk mempercepat waktu set-up diproses moulding body mobil.

Dari data Shigeo Shingo selama melaksanakan metode SMED untuk mempercepat waktu setup changeover, hasil improvement yang dicapai adalah mengurangi waktu set-up changeover sampai di angka 97%, sebuah angka yang drastis dan fantastis!

Dampak positif dari hasil improvement SMED ini bukan hanya tentang cepatnya waktu changeover, tapi juga dampak luar biasa lainnya seperti menurunkan lot size yang artinya juga menurunkan jumlah inventory produksi, yang juga berarti pula menurunkan jumlah working capital dan memperbaiki cash cycle.

Empat langkah utama dalam SMED adalah sebagai berikut:

1. Observasi dan dokumentasi langkah-langkah setup yang sekarang.
2. Memisahkan set up internal (uchi dandori) dan external setup (soto dandori).
3. Memindahkan set up internal menjadi set up external.
4. Menjadikan set up internal lebih cepat.
5. Hilangkan adjustment internal pada setup.

Apakah kalian terbiasa dengan metode ini? Mari diskusi.

Saturday, April 10, 2021

INDUSTRY: MENGENAL SCW (STOP CALL WAIT)

Sudahkah kita familiar dengan metode SCW/SPT?

SCW yang berarti Stop-Call-Wait atau dalam terminologi bahasa Indonesia dikenal dengan SPT (Stop-Panggil-Tunggu) merupakan sebuah metode sederhana turunan dari penggunaan sistem Jidoka (otomatisasi) dalam TPS (Toyota Production System). Seperti apa sih kinerja dari metode sederhana ini?

Jadi dalam konsep penerapan Jidoka, hubungan antara manusia dan mesin sangat erat kaitannya. Sehebat apapun otomatisasi mustahil sebuah peralatan/mesin sanggup lepas dari peran manusia (man power). Dari sini maka dibutuhkan sebuah ketrampilan operator dalam mendeteksi sebuah ketidaknormalan (abnormal).

Metode SCW/SPT membantu kombinasi antara manusia dan peralatan/mesin bekerja sesuai standar yang ada. Tujuannya tentu sangat lah penting, yaitu agar jangan sampai terjadi kesalahan yang fatal baik produk atau prosesnya. Terlebih lagi jangan sampai terdapat potensi yang membahayakan manusia/operatornya. Mari ber-SCW/SPT! 

Dalam TPS (Toyota Production System) kita mengenal dua pilar pokok yaitu Just In Time dan Jidoka, dalam bahasa Indonesia Jidoka berarti otomatisasi. Dalam ruang lingkup proses manufaktur, proses otomatisasi akan memunculkan beberapa turunan metode/alat misalnya saja Pokayoke (Proofing Mistake), Andon (Sinyal Informasi), dan kemudian dari situ muncul sebuah metode yang sangat familiar yaitu SCW atau kita kenal dengan STOP-CALL-WAIT, atau dalam bahasa Indonesia yaitu SPT (STOP-PANGGIL-TUNGGU). Bagaimana kinerja dari metode SCW ini? Mari kita pelajari bersama.

Abnormal adalah kondisi di mana proses kerja atau produk tidak sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, ketetapan ini misalnya dalam bentuk SOP, Work Instruction, SOM, dll. SCW (SPT) digunakan saat operator bekerja dan menemui kondisi abnormal baik pada proses kerja atau produk. Kenapa harus dilakukan SCW (SPT)? Tentu tujuannya untuk meminimalisir jumlah defect, mencegah kerusakan mesin, dan mencegah kecelakaan kerja. Metodenya cukup sederhana. Seperti apa?

Gambar: SCW in Poster
  1. Hentikan mesin atau proses kerja saat menemukan kondisi abnormal, baik berupa abnormal proses atau pun produk. Ini sangat penting segera dilakukan agar skala abnormal tidak meluas.
  2. Memanggil pimpinan atau atasan dalam regu/grup kerja di bagiannya untuk bersedia datang ke lokasi terjadinya abnormal. Dengan cara memanggil langsung atau menggunakan tombol andon, tergantung situasi yang ada.
  3. Menunggu dan tidak melakukan apapun sampai ada keputusan selanjutnya setelah pimpinan/atasan melakukan cek/perbaikan pada kondisi abnormal tersebut. Tunggu instruksi selanjutnya.

Thursday, March 11, 2021

BUDAYA: BAHASA JAKARTA JADI PENGUASA?

Akulturasi Bahasa Sangat Dipengaruhi Urbanisasi

Di awal tahun 90-an sebelum kriris moneter tahun 1999 datang, negeri ini sedang dalam pembangunan yang sangat masif, ekonomi menguat khususnya di sekitar wilayah Jabodetabek. Maka jangan heran jika sebut saja Bekasi misalnya yang di tahun segituan konon masih berupa rawa-rawa dan empang, kemudian bimsalabim dengan The Power of Kapital disulap oleh para investor menjadi kawasan industri terbesar di Indonesia. Tercatat Kawasan Industri MM2100 misalnya dibangun pertama di tahun 1990, kemudian Jababeka yang lebih dulu yaitu tahun 1989, dan juga kawasan industri lainnya seperti EJIP, Delta Silicon, dll.

Kondisi ini tentunya sangat baik bagi peluang serapan tenaga kerja di Indonesia. Kemudian dengan terbukanya lapangan kerja yang sangat luas menjadikan anak-anak muda dari daerah tertantang untuk berangkat menuju kota (terjadilah arus urbanisasi besar-besaran) dalam rangka mendapatkan pekerjaan yang "dianggap" lebih layak dibanding sekedar berkebun atau angon wedhus di desa. Maka jangan heran jika saya dapat memastikan jika anda saat ini berusia 30-an dan sedang kerja di Jabodetabek, sudah barang tentu senior-senior anda yang saat ini menduduki posisi top level di perusahaan pastilah generasi yang lulus SMA/SMK-nya di tahun 90-an, yang saat ini usianya kira-kira mendekati 50-an.

Jika anda sedang kerja di Jabodetabek, coba perhatikan saja siapa senior atau atasan anda yang saat ini duduk di top manajemen di pekerjaan, mereka mayoritas pasti orang-orang yang datang dari segala penjuru Nusantara. Ada yang dari Toba, Sibolga, Pekanbaru, ada pula yang dari Jember, Surabaya, Sragen, Kebumen, Banyumas, Bandung, Padang, dan kota-kota daerah lain sebagainya di penjuru nusantara. Semua tumplek blek di Jabodetabek, ada tukar budaya yang sangat keren di situ. Ini adalah situasi yang tentunya sangat jamak kita temui hari ini.

Setelah mereka generasi urbanisasi 90-an ini mapan dan sukses dalam perantauannya di Jabodetabek, kemudian siklus yang paling umum adalah mereka beranak-pinak dan sayangnya tidak cukup yakin dengan pendidikan di kota. Kemudian tidak sedikit anak-anaknya yang disekolahkan, dikuliahkan di daerah asalnya. Ada yang anaknya kuliah di Jogja, Malang, Semarang, Bandung, dan lain sebagainya yang mayoritas adalah di Pulau Jawa. Yang terjadi kemudian adalah situasi yang bernama akulturasi budaya. Sesuai dengan prediksi para pakar bahasa yang menyatakan bahwa bahasa Indonesia khas Jabodetabek (betawi) akan menjadi pemenangnya.

Katakanlah meski terlahir dari orang tua yang ke duanya (bapak-ibu) Jawa tulen, tapi karena sudah terlahir dan cukup lama besar di Jabodetabek maka identitas kejawaannya ini menjadi tidak ketara. Meski anak-anak masyarakat urban ini mengaku kalau dia adalah orang Jawa, orang Batak, orang Padang (sesuai etnis asal orang tuanya), kebanyakan mereka ini sudah tidak bisa lagi menuturkan bahasa daerah asal orang tuanya, dikon ngomong jowo yo ra iso. Karena bahasa ibu yang digunakan oleh para anak-anaknya generasi urban 90-an ini tentunya adalah bahasa Indonesia (dialek melayu/betawi) ala Jabodetabek.

Di Malang pun nuansa itu sangat terasa, saat saya nongkrong di cafe-cafe dan bertemu dengan banyak mahasiswa, yang saya dengar obrolan mereka dalam tutur kata pembicarannya sangat elo-gue banget khas Jakartans. Btw usut diusut jumlah mahasiswa di Malang yang berasal dari Jabodetabek mungkin saat ini adalah mayoritas ke dua setelah mahasiswa yang berasal dari Jatim sendiri. Tapi uniknya mayoritas mahasiswa yang berasal dari Jabodetabek ini berorangtuakan orang tua yang berasal dari daerah-daerah yang sudah saya jelaskan di atas. Akulturasi budaya yang sangat unik bukan?

Ditambah pengaruh media sosial yang circle utamanya adalah netizen Jabodetabek tentu semakin mengukuhkan budaya Jakartans adalah penguasa lini kehidupan generasi millenial saat ini. Pokok kalau bahasa tutur katanya belum elo-gue dan belum bercampur-baur dengan bahasa semi Inggris ala Jaksel belum bisa dikatakan anak gaul, begitu kira-kira. Situasi itu memaksa content creator alias kalau saya menyebutnya sebagai karyawan (orang penghasil karya) kemudian mencipta banyak propaganda yang bertemakan lestarikan budaya (bahasa) daerah. Nguri-uri budoyo jarene. Wkwk!

Sebagai contoh saja banyak musisi muda kemudian mengenalkan lagu-lagu berbahasa Jawa misalnya, dan juga lagu-lagu pop berbahasa daerah lainnya, ada Pop Minang, Pop Batak, Pop Sunda dan lain-lain. Kemudian menguploadnya di YouTube dengan harapan terakses oleh generasi millenial sehingga budaya (bahasa) daerah mereka sendiri tidak terkikis oleh pengaruh kuat Jabodetabek circle. Tapi penulis pikir itu akan menjadi sia-sia, yang terjadi adalah karya-karya bertema pelestarian budaya itu akan menjadi sekedar dinikmati saja. Tapi soal kuat-kuatan pengaruh budaya (bahasa), Jakartans tetap akan menjadi pemenangnya.

Wallahu'alam bishhowab.

Malang, 11 Maret 2021
Ditemani hujan sepanjang hari dengan suasana yang sejuk

Tuesday, March 2, 2021

MANUFAKTUR: MENGENAL SIKLUS DMAIC




Apa itu DMAIC?

DMAIC adalah pendekatan penyelesaian masalah berbasis data yang membantu membuat perbaikan-perbaikan bertahap dan optimalisasi pada produk, desain, dan proses bisnis. Pendekatan ini dibuat di tahun 1980-an sebagai bagian dari metodologi Six Sigma oleh seorang insinyur Motorola, Bill Smith. Pendekatan Six Sigma dirancang untuk mendorong perbaikan berkelanjutan dalam proses manufakturing menggunakan data dan statistik.

Apa saja langkah-langkah yang berbeda dalam metode DMAIC?

DMAIC memiliki 5 langkah yang saling terkoneksi: Define (Definisikan), Measure (Ukur), Analyze (Analisis), Improve (Tingkatkan), dan Control (Kendali). Setiap fase dirancang untuk memiliki efek kumulatif: untuk membangun informasi dan data yang dihasilkan dari tahapan sebelumnya dan akan diulangi dalam beberapa kali eksekusi.

Define: Fase Definisikan menetapkan apa masalahnya dan apa yang diperlukan untuk memperoleh solusi. Dalam bagian proses ini, Anda menetapkan dengan jelas masalah Anda, sasaran akhirnya, dan cakupan yang diperlukan untuk mencapainya. Fase ini membantu Anda memahami proses secara keseluruhan dan menentukan unsur-unsur apa saja yang sangat penting bagi kualitas (critical to quality), atau sering disebut sebagai "CTQ". Input dan output biasanya diuraikan dengan diagram SIPOC, yaitu singkatan dari supplier (pemasok), input (masukan), process (proses), output (keluaran), dan customer (pelanggan). Informasi ini biasanya ditarik dari dokumen piagam proyek (project charter), yang menetapkan bentuk proses DMAIC Anda.

Measure: Setelah Anda memahami masalah proses yang dihadapi, Anda harus menguraikan cara Anda akan memantau perubahan yang Anda buat pada proses itu. Tentu, dengan pendekatan berbasis data, memiliki data sangat penting bagi proses DMAIC. Oleh karena itu, tunuan dari fas Measure (Mengukur) ini adalah menetapkan performa proses Anda saat ini dan data apa yang akan Anda analisis. Dari situ, Anda dapat menggunakan rencana pengambilan data untuk memantau performa saat Anda membuat perubahan dan membandingkannya di akhir proyek.

Analyze: Sekarang Anda memiliki dasar patokan data yang dapat Anda gunakan untuk mulai mengambil keputusan tentang proses Anda. Seperti yang Anda harapkan, fase analisis adalah waktu yang tepat untuk melihat keseluruhan data itu. Di sini, Anda dan anggota tim akan membangun sebuah peta proses saat ini dengan memanfaatkan data Anda menemukan awal terjadinya masalah dalam proses. Meskipun beberapa proyek Six Sigma menggunakan alat bantu yang rumit untuk hal ini, diagram tulang ikan dan bagan Pareto sudah lebih dari cukup dan merupakan metode yang umum digunakan untuk menganalisis akar penyebab masalah. Setelah Anda mengetahui beberapa akar penyebab masalahnya, Anda dapat mulai melibatkan tim. Minta mereka untuk memilih arah fokus proses DMAIC Anda ke depannya.

Improve: Akhirnya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai melakukan peningkatan yang nyata pada proses Anda. Dalam fase Improve, bekerja samalah dengan tim untuk menemukan solusi kreatif yang dapat dilaksanakan dan diukur di dalam proses DMAIC. Di titik ini, mencurahkan gagasan dan mengadakan rapat yang efektif sangat penting bagi tim Anda. Setelah Anda memikirkan solusinya, Anda harus melakukan percobaan, menguji, serta menerapkannya. Plan-Do-Check-Act atau siklus “PDCA” adalah metode umum untuk melakukan hal ini, bersama dengan Analisis Mode dan Efek Kegagalan (Failure Mode and Effects Analysis), atau “FMEA,” untuk mengantisipasi masalah yang mungkin terjadi. Informasi ini harus disusun dalam sebuah rencana implementasi terperinci, yang selanjutnya dapat Anda gunakan untuk memandu penerapan solusi di dalam proses Anda.

Control: Langkah terakhir dalam metodologi DMAIC ini dapat membantu Anda memverifikasi dan mempertahankan kesuksesan solusi Anda untuk masa mendatang. Dalam fase Kontrol, tim Anda harus membuat rencana pemantauan dan kontrol agar terus menilai kembali dampak dari setiap perubahan proses yang diimplementasikan. Pada waktu yang sama, Anda harus membuat rencana tanggapan untuk ditindaklanjuti jika performa mulai turun kembali, dan sebuah masalah baru muncul. Kemampuan melihat ke belakang tentang bagaimana perbaikan ini dilaksanakan dan solusi yang dibuat, bisa jadi merupakan sebuah aset yang berharga. Di saat-saat seperti ini, memiliki dokumentasi yang baik dan kontrol versi pada proses perbaikan itu sangat penting.

Saturday, February 20, 2021

SEBUAH OPINI: 2021 JAKARTA BANJIR LAGI?

Sabtu 20 februari 2021 hari ini banyak media televisi nasional menghiasi dirinya dengan berita ibukota negara tercinta ini yaitu DKI Jakarta dan juga tentu wilayah sekitarnya sedang menderita banjir di banyak titik, entah yang ke berapa kalinya banjir Jakarta terjadi. Jika ditilik dari sejarahnya tentu kita semua sadar betul bahwa posisi Jakarta yang diapit oleh sungai besar yaitu Ciliwung di tengah, Cisadane di barat, dan Citarum di timur tentu menjadikannya sebagai lahan besar bergeografis rendah yang tidak menguntungkan.

Ilustrasi: DKI banjir 2021

Sejarah mencatat bahkan jauh sebelum negeri ini merdeka Jakarta sudah diterpa banjir berkali-kali, tercatat tahun 1918 sebagai sejarah banjir terparah karena Batavia (Jakarta kala itu) benar-benar tenggelam mendekati seluruhnya. Hindia Belanda yang kala itu mengendalikan pemerintahan tentu sudah tak kurang akal mencari solusi untuk mengatasi problem tahunan ini. Kenapa harus dikatakan sebagai problem tahunan? Karena faktanya hampir setiap tahun di puncak musim penghujan selalu banjir, dan selama itu pula sejarah juga mencatat masalah ini tak kunjung terselesaikan.

Menyelesaikan banjir di Jakarta tidak hanya cukup dengan jargon omong kosong dalam rangkaian agenda kampanye seorang calon pimpinan daerah. Seribu kali ganti pimpindan daerah (baca: gubernur) dan kita ketahui bersama selalu saja mengumbar janji dalam kampanyenya akan berusaha mengatasi problem rutin banjir ini pun penulis pikir mustahil dianggap sebagai angin segar penyelesaian masalah. Alih-alih angin segar, yang ada justru masyarakat urban Jakarta masuk angin karena banjir ini. Sedap!

Yang teranyar gubernur DKI Jakarta penuh aksi brilian dengan kata-kata mutiaranya yang saat ini sedang menjabat yaitu Anies Baswedan bahkan baru-baru ini terpilih sebagai salah satu tokoh berpengaruh di dunia, meski banyak pihak bingung entah apa dasarnya. Tapi kenyataannya bukan otomatis dengan prestasi yang konon dianggap cemerlang itu lantas banjir tiba-tiba menghilang. Faktanya malah rilis klaimnya di media baru-baru ini yang menyatakan bahwa banjir Jakarta 2021 aman terkendali justru terlihat nampak omong sekosong-kosongnya omong.

Melalui tulisan ini penulis mengajak kepada pembaca untuk merenungi kembali setidaknya pada dua hal penting. Pertama masih relevan kah percaya pada ucapan pimpinan daerah Jakarta soal akan teratasinya problem rutin banjir tahunan ini dengan berbagai programnya? Penulis pikir tidak. Kedua yakinilah bahwa keadaan banjir Jakarta ini disebabkan oleh perilaku manusianya sendiri yang tidak sadar akan rusaknya alam, sehingga seyogyanya jangan berharap lagi pada pemerintah untuk mengatasi banjir. Tapi berjanjilah pada diri sendiri untuk ikut andil mencegah laju kerusakan lingkungan, khususnya warga Jabodetabek.

Semoga banjir Jakarta dan sekitarnya segera surut dan warga dapat beraktivitas normal kembali. Sebagai informasi tambahan bahwa kondisi saat ini menurut rilis resmi Badan Geologi Kementerian ESDM menyebutkan bahwa permukaan laut di Jakarta (khususnya Jakarta Utara) sudah berada 1.5 meter di atas permukaan tanah. Yang logika orang pandir (baca; goblok) adalah mustahil jika terus bertahan dengan program penanggulangan banjir seperti yang ada saat ini. Mompa genangan, membersihkan drainase, keruk sedimentasi muara, tanam pohon, hal-hal normal seperti itu sudah lagi bukan solusi berharga. Butuh solusi nyata mega besar (extra ordinary). Benar bukan?

Robi Cahyadi
Malang, 20 Februari 2021
Dipenuhi rerintikan hujan berselimut pekatnya mendung