Monday, September 17, 2018

Refleksi Diri: Belajar Dari Siti Badriah

Siapa sangka Music Video Lagi Syantiknya Siti Badriah ini akan menjadi Video Indonesia paling banyak ditonton (pecah rekor)? Yappp, sampai malam ini sudah tertonton sebanyak 351-an juta kali. Tentu ini prestasi yang sangat mengesankan bagi pedangdut asal Bekasi ini.

Dalam beberapa momen kita banyak saksiksan di social media betapa banyak dari orang kita sangat meremehkan Siti Badriah baik sebagai pedangdut atau sebagai personal. Yang katanya nihil prestasi lah, hanya lulusan SD lah, dan sebagainya. Faktanya hari ini milyaran rupiah mengalir deras ke dia dan tentu dapur rekamnya (Nagaswara).

Yang paling terkini, kabar yang sangat baik datang dari pihak dapur rekamannya yaitu Nagaswara yang memberikan hadiah berupa mobil mewah Toyota Alphard ke Siti Badriah atas capaiannya ini. Bukankah ini sangat keren? Sabar, terus asah kemampuan, berjuang, dan dapatkan hasilnya.

Jika kalian mau melihat kolom komentar di Video Music Lagi Syantiknya Siti Badriah ini di Youtube maka kalian akan lihat betapa banyak viewers yang sangat menikmatinya dan memberi apresiasi tinggi atas Video Music ini. Banyak viewers dari negara tetangga, misalnya Malaysia, Thailand, Kamboja, Laos, dan lain-lain yang mengatakan sangat menikmati dan terkesan sekali.

Dari kejadian fenomenal ini tentu kita bisa dapatkan beberapa nilai positif diantaranya bahwa: jangan pernah remehkan orang lain, mari lebih belajar mengapresiasi orang lain, dan tentu hargai kegigihan. Toughness!!!

Salam dangdut, goyang serrrrr!

Renungan; Merawat Indonesia Raya

Sekelumit Ingatan

Ingat buku ini? Tentu ingat dong. Salah satu buku diktat Bahasa Indonesia berseri terbitan Depdikbud ini dulu merupakan buku wajib yang harus dijadikan pegangan ajar oleh guru sekolah dasar. Sekolah negeri di seluruh pelosok Indonesia Raya pasti memilikinya minimal dalam jumlah terbatas yang dimiliki dan dikelola oleh perpustakaan sekolah dan selalu dipinjamkan kepada siswanya saat memasuki tahun ajaran baru sekolah.

Dari cerita-cerita di buku ini lah pertama kali aku menerawang dan berimajinasi bahwa jauh di luar tempat tinggalku ada sebuah daerah berbukit-bukit, sawah berundak (terasiring), dan keindahan Indonesia lainnya. Maklum aku lahir di desa yang secara geografis dan topografi bukanlah pegunungan, bukan pula perbukitan, melainkan hanyalah dataran sedang. Tentu bagiku saat itu bukit, sawah terasiring, sistem irigasi persawahan berundak (subak), pegunungan dengan pohon cemara, dan seterusnya merupakan hal yang sangat membuat penasaran. Pikiran bergerilya dan rasa ingin tahu begitu dalam tentang semua ini.

Dari buku diktat ini pula aku membaca banyak cerita yang menceritakan kehidupan masyarakat Indonesia yang digambarkan sangat ijo royo-royo, gemah ripah loh jinawi, tentrem kerto raharjo. Sangat rukun, penuh kedamaian, penuh toleransi, berbudaya gotong royong dan berkontur alam menawan tentunya. Setelah dewasa aku baru sadar bahwa latar (setting) yang banyak dipakai pada cerita-cerita di buku diktat ini merupakan bumi Pasundan (Jawa Barat) yang memang mempesona itu. Terlihat dari misalnya nama-nama desa yang disebutkan seperti Suka Makmur, Suka Maju, dan sejenisnya. Kita tahu di Jawa Tengah ataupun Timur jarang didapati nama-nama desa berpola seperti itu.

Kini setelah mendewasa aku sudah tidak lagi penasaran karena aku telah membuktikan sendiri secara langsung tentang bagaimana indahnya alam dan kultur masyarakat Indonesia yang digambarkan di cerita-cerita pada diktat Bahasa Indonesia sekolah dasar ini. Minimal secara khusus mengunjungi tempat-tempat di sisi Pulau Jawa. Aku sudah kunjungi Jawa Timur (tentunya karena memang asalku dari sana), Jawa Tengah, Jawa Barat bahkan hingga Banten. Pergi ke pelosok daerahnya satu persatu misalnya ke pedesaan di Lumajang, Pasuruan, Malang, Wonosobo, Purbalingga, Cilacap, Semarang, Sragen, Klaten, Subang, Sumedang, Karawang, Garut, Cianjur, Bandung, Bogor, Rangkasbitung, Pandeglang.

Apa hasilnya? Be unity in diversity! Alias yuk bersatu dalam perbedaan. Kemajemukan itu indah, keheterogenan itu menawan, Indonesia yang penuh rona bahagia dan cuilan surga ini harus dirawat terus menerus, jangan pernah bosan dengan upaya kontinyu menahan gempuran pengaruh paham luar yang ingin menggerogoti persatuan negara Dan bangsa ini. Agar apa? Cerita-cerita indah seperti yang terkisah di diktat Bahasa Indonesia jaman SD itu bukan hanya bisa kita ingat dan nikmati, tapi dalam kehidupan nyata bisa juga dirasakan oleh generasi berikutnya setelah kita nanti mati. Itu poin utama yang ingin ku sampaikan. Betul bukan?

Terakhir; Siapa kita? Generasi muda! Mau apa kita? Merawat Indonesia! Aplause buat kita semua.

Tambun Selatan
17-09-2018
RC28~


Tuesday, September 4, 2018

Kisah Hidup: Henry Ford

Kisah hidup Henry Ford (1863-1947)
Kegagalan adalah kesempatan untuk memulai lagi!

Alih-alih menggarap ladang pertanian milik keluarga, Henry Ford malah lebih suka memperbaiki jam tangan para tetangga! Itu semua karena ia memiliki minat dan ketertarikan yang tinggi pada bidang teknik.

Karena minatnya itu, ia terobsesi membuat "kereta tanpa kuda", wow! Obsesi yang luar biasa di jamannya. Obsesi itu terwujud ketika Henry Ford berhasil membuat kendaraan roda empat bernama Ford Quadricycle pada tahun 1896 yang digerakkan dengan mesin kecil.

Saat itu ia bekerja sebagai insinyur kepala di perusahaan milik Thomas Alpha Edison: Edison Illuminating Company. Keberhasilan membuat mobil itu menarik minat beberapa pengusaha untuk bekerja sama mendirikan perusahaan pembuat mobil.

Perusahaan pertamanya gagal. Perusahaan keduanya juga gagal. Singkat kata, perusahaannya tak pernah sukses menghasilkan satu mobil pun sehingga para investornya marah dan "mengusir" Henry Ford dari perkongsian (kerja sama). Namun ia tetap yakin, bahwa suatu ketika nanti pasti akan bisa menghasilkan mobil yang bagus dan laku di pasaran.
 
Setidaknya lima kali sudah Henry Ford mengalami kegagalan berbisnis sebelum akhirnya mendirikan Ford Motor Company yang ternama dan legendaris itu. Menyikapi kegagalannya itu Henry Ford berujar, "Kegagalan adalah kesempatan untuk memulai lagi, dengan lebih pintar."

Teman-temanku semuanya, Henry Ford tak pernah menyerah dalam usahanya membangun perusahaan dan membuat mobil. Sekarang semua orang di belahan dunia tahu Henry Ford adalah salah satu tokoh otomotif dunia yang cukup berpengaruh.

Lantas, bagaimana dengan kita ini? Sampai sejauh mana upaya dan kegigihan itu kita lakukan? Sudahkah kita berupaya secara kontinyu dan tahan terhadap keletihan? Mari berkaca dan merenungi perjalanan hidup ini. Untuk sekali lagi.

Saturday, September 1, 2018

What Is Heat Treatment Processes?

   What Is Heat Treatment?

• Written by: Johnsinit
• Edited by: Lamar Stonecypher
• Updated: 1/8/2011

   Engineering properties are modified by heat treatment processes so that structural components are able withstand specified operating conditions and have desired useful life.

    Heat treatment is the heating and cooling of metals to change their physical and mechanical properties, without letting it change its Heat Treatment shape. Heat treatment could be said to be a method for strengthening materials but could also be used to alter some mechanical properties such as improving formability, machining, etc.

   The most common application is metallurgical but heat treatment can also be used in manufacture of glass, aluminum, steel and many more materials. The process of heat treatment involves the use of heating or cooling, usually to extreme temperatures to achieve the wanted result. It is very important manufacturing processes that can not only help manufacturing process but can also improve product, its performance, and its characteristics in many ways.

    Heat Treatment Processes

    Hardening
    Hardening involves heating of steel, keeping it at an appropriate temperature until all pearlite is transformed into austenite, and then quenching it rapidly in water or oil. The temperature at which austentizing rapidly takes place depends upon the carbon content in the steel used. The heating time should be increased ensuring that the core will also be fully transformed into austenite. The microstructure of a hardened steel part is ferrite, martensite, or cementite.

    Tempering
    Tempering involves heating steel that has been quenched and hardened for an adequate period of time so that the metal can be equilibrated. The hardness and strength obtained depend upon the temperature at which tempering is carried out. Higher temperatures will result into high ductility, but low strength and hardness. Low tempering temperatures will produce low ductility, but high strength and hardness. In practice, appropriate tempering temperatures are selected that will produce the desired level of hardness and strength. This operation is performed on all carbon steels that have been hardened, in order to reduce their brittleness, so that they can be used effectively in desired applications.

    Annealing
    Annealing involves treating steel up to a high temperature, and then cooling it very slowly to room temperature, so that the resulting microstructure will possess high ductility and toughness, but low hardness. Annealing is performed by heating a component to the appropriate temperature, soaking it at that temperature, and then shutting off the furnace while the piece is in it. Steel is annealed before being processed by cold forming, to reduce the requirements of load and energy, and to enable the metal to undergo large strains without failure.

     Normalizing
     Normalizing involves heating steel, and then keeping it at that temperature for a period of time, and then cooling it in air. The resulting microstructure is a mixture of ferrite and cementite which has a higher strength and hardness, but lower ductility. Normalizing is performed on structures and structural components that will be subjected to machining, because it improves the machinability of carbon steels.

   Carburization
   It is a heat treatment process in which steel or iron is heated to a temperature, below the melting point, in the presence of a liquid, Surface Hardening solid, or gaseous material which decomposes so as to release carbon when heated to the temperature used. The outer case or surface will have higher carbon content than the primary material. When the steel or iron is rapidly cooled by quenching, the higher carbon content on the outer surface becomes hard, while the core remains tough and soft.

   Surface Hardening
   In many engineering applications, it is necessary to have the surface of the component hard enough to resist wear and erosion, while maintaining ductility and toughness, to withstand impact and shock loading. This can be achieved by local austentitizing and quenching, and diffusion of hardening elements like carbon or nitrogen into the surface. Processes involved for this purpose are known as flame hardening, induction hardening, nitriding and carbonitriding.