Saturday, October 26, 2019

MECHANICAL: MENGENAL TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM)

A. Pengertian Total Productive Maintenance 

(TPM) – Total Productive Maintenance atau disingkat dengan TPM adalah suatu sistem yang digunakan untuk memelihara dan meningkatkan kualitas produksi melalui perawatan perlengkapan dan peralatan kerja seperti Mesin, Equipment dan alat-alat kerja. Fokus utama Total Productive Maintanance atau TPM ini adalah untuk memastikan semua perlengkapan dan peralatan Produksi beroperasi dalam kondisi terbaik sehingga menghindari terjadinya kerusakan ataupun keterlambatan dalam proses produksi.

Total Productive Maintenance (TPM) merupakan konsep inovatif Jepang yang berawal dari penerapan Preventive Maintanance pada tahun 1951. Konsep Preventive Maintenance ini sendiri merupakan konsep yang diadopsi dari Amerika Serikat. Nippondenso yang merupakan pemasok Toyota adalah perusahaan pertama yang memperkenalkan konsep TPM pada tahun 1960 dengan slogan “Productivity Maintenance with total Employee Participation”. Seiichi Nakajima yang saat itu menjabat sebagai Vice Chairman JIOPM (Japan Institute of Plant Maintenance) kemudian dikenal sebagai bapak TPM.

8 PILAR TPM

B. 8 Pilar TPM (Eight Pillar of TPM) diantaranya adalah;
  1. Autonomous Maintenance /Jishu Hozen (Perawatan Otonomus) 
  2. Planned Maintenance (Perawatan Terencana) 
  3. Quality Maintenance 
  4. Focused Improvement / Kobetsu Kaizen 
  5. Early Equipment Management 
  6. Training dan Education 
  7. Safety, Health and Environment 
  8. TPM in Administration 
C. Tujuan Penerapan Total Productive Maintenance (TPM)

Tujuan daripada TPM (Total Productive Maintenance) adalah untuk meningkatkan produktivitas pada perlengkapan dan peralatan produksi dengan Investasi perawatan yang seperlunya sehingga mencegah terjadi 6 kerugian besar (Six Big Losses) yaitu:

1. Breakdown
Kerugian akibat Rusaknya Mesin (Peralatan dan Perlengkapan Kerja)

2. Setup and Adjustments
Kerugian yang diakibatkan perlunya Persiapan ulang peralatan dan perlengkapan kerja

3. Small Stops
Kerugian akibat terjadinya gangguan yang menyebabkan mesin tidak dapat beroperasi secara optimal

4. Slow Running
Kerugian yang terjadi karena mesin berjalan lambat tidak sesuai dengan kecepatan yang diinginkan.

5. Startup Defect
Kerugian yang diakibatkan terjadi cacat produk saat Startup (saat awal mesin beroperasi)

6. Production Defect
Kerugian yang terjadi karena banyaknya produk yang cacat dalam proses produksi.

Selain keenam kerugian yang disebutkan diatas, keuntungan lain penerapan Total Productive Maintenance (TPM) adalah dapat menghindari terjadinya kecelakaan kerja dan menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi karyawannya.

D. Tahapan penerapan Total Productive Maintenance (TPM)

Tahapan-tahapan yang diperlukan untuk menerapkan TPM dalam sebuah perusahaan diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Melakukan Evaluasi awal terhadap tingkat TPM saat ini.
  2. Memperkenal konsep TPM dan mempromosikannya.
  3. Membentuk Komite TPM.
  4. Menetapkan Kebijakan, Tujuan dan sasaran TPM.
  5. Merumuskan Master Plan untuk pengembangan TPM.
  6. Menyelenggarakan pelatihan (training) terhadap semua karyawan dan pihak yang berkepentingan (stakeholder) terutama yang berkaitan dengan 8 pilar TPM.
  7. Menerapkan proses-proses persiapan.
  8. Menjalankan semua program dan kebijakan TPM guna untuk mencapai Tujuan dan Sasaran TPM yang telah ditetapkan.
Manajemen Perusahaan memegang peranan yang sangat penting dalam menerapkan Konsep TPM dalam perusahaannya. Tanpa dukungan dan Komitmen yang kuat dari Manajemen dan juga kerjasama semua karyawan perusahaan, Tujuan dan Sasaran program TPM ini akan sulit tercapai.

E. Pengukuran Keberhasilan TPM

Dalam mengevaluasi dan mengukur sejauh mana keberhasilan penerapan TPM (Total Productive Maintanance), alat pengukuran utama yang digunakan adalah “Overall Equipment Effectiveness” atau disingkat dengan “OEE”. Secara Matematis, rumus Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah sebagai berikut :

OEE = Availability x Performance Rate x Quality 

Keterangan :

Availability = Kesiapan ataupun kesediaan Mesin dalam beroperasi

Performance = Jumlah unit produk yang dihasilkan oleh mesin dalam waktu yang tersedia

Quality = Perbandingan jumlah unit yang baik dengan jumlah unit yang diproduksi

F. Persaamaan dan Perbedaaan TPM dan TQM

Pada dasarnya, Program TPM dan TQM memiliki banyak kemiripan jika dilihat dari pemberdayaan sumber daya manusia dan segi dokumentasinya.

Berikut ini beberapa persamaan TPM dan TQM :
  1. Kedua-duanya memerlukan komitmen dan dukungan penuh dari Top Manajemen
  2. Perlu memberdayakan seluruh sumber daya manusia mulai dari level terendah sampai level tertinggi
  3. Penerapannya memerlukan jangka waktu yang panjang (satu tahun atau lebih) untuk dapat melihat hasilnya
  4. Merubah Mind-set atau pemikiran Karyawan terhadap Tanggung Jawab pekerjaannya (Job Responsibilities)
Sedangkan Perbedaan TPM dan TQM diantaranya adalah sebagai berikut:

Kategori Objek
  1. TQM: Kualitas (Output dan Efek/Akibat)
  2. TPM: Equipment/Peralatan (Input dan Penyebab)
Kategori Pencapaian Tujuan
  1. TQM: Manajemen yang sistematik, lebih berorientasi pada perangkat lunak perusahaan
  2. TPM: Partisipasi Karyawan, lebih berorientasi pada perangkat keras perusahaan
Kategori Target
  1. TQM: Kualitas dalam bentuk PPM
  2. TPM: Eliminasi Kerugian dan Pemborosan

MECHANICAL: MENGENAL 5S (5R)

5S/5R
Semangat pagi great people!

Mari kembali kita mereview salah satu pilar penting dalam menunjang proses produksi di industri manufaktur atau industri lainnya yang setara. Salah satu fondasi dalam pilar TPM (Total Productive Maintenance) yang sangat familiar dan kita semua sering dengar adalah 5S/5R. Apa sajakah itu?

5S/5R tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

1. Seiri/Ringkas
Prinsipnya adalah semua orang yang terlibat dalam proses produksi harus berupaya menyortir apa yang dianggap tidak penting dan menggunakan perlengkapan kerja yang paling efektif. Kata kuncinya adalah sortir yang tidak perlu.

2. Seiton/Rapi
Prinsip dasarnya adalah semua orang yang terlibat dalam proses produksi harus memiliki kepedulian untuk membuat lingkungan kerjanya rapi, tertata dengan baik, terkoordinasi dengan baik. Kata kuncinya adalah set in order atau menyusun segala hal secara berurutan.

3. Seisou/Resik
Yang dimaksud di sini adalah semua orang yang terlibat dalam proses produksi harus memiliki kepekaan untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan kerjanya. Kata kuncinya adalah bersih.

4. Seiketsu/Rawat
Semua orang yang terlibat dalam proses produksi harus senantiasa merawat kondisi yang sudah baik dari penerapan ke tiga poin di atasnya, kata kuncinya adalah penstandaran, semua hal yang sudah baik harus dijaga dan dibuat standarnya.

5. Shitsuke/Rajin
Terakhir yang harus dilakukan dalam menjaga ke lima hal ini tentu adalah rajin, semua orang harus menjaga dan kontinyu melakukan semua aktifitas kebaikan ini. Kata kuncinya adalah sustain atau berkelanjutan.

Demikian sedikit ulasan ulang dan singkat tentang 5S/5R. Dalam dunia industri motivasi tulisan mungkin ini juga bagian dari salah satunya, yaitu Shitsuke (Rajin). Ya minimal rajin nulis buat kontinyu saling mengingatkan dan mencegah laju kepikunan pada diri penulis.

Semoga menjadi hari yang menyenangkan. Ganbatte Kudasai!

Robi Cahyadi
Mechancial Engineer

Sunday, October 13, 2019

MECHANICAL: MENGENAL AUTONOMOUS MAINTENANCE

5 Langkah Autonomous Maintenance

Mengenal Autonomous Maintenance

Autonomous Maintenance adalah pilar kedua dari delapan pilar TPM (Total Productive Maintenance), yang diterapkan dalam proses manufaktur. Prinsipnya adalah pemeliharaan dan perbaikan yang dilakukan secara mandiri oleh operator mesin, yang diharapkan untuk memiliki pengetahuan khusus mengenai mesin (equipment). 

Tujuan dari autonomous maintenance adalah mendorong operator untuk berlaku cepat tanggap dan proaktif dalam pemeliharaan mesin, agar mesin selalu berada dalam performa terbaiknya. Operator diharapkan mampu melakukan perbaikan atas kerusakan kecil atau pemeliharaan sederhana atas mesin.

Implementasinya dilakukan dengan pendekatan terstruktur untuk meningkatkan level keterampilan karyawan, hingga mereka mampu memahami, mengelola, dan memperbaiki proses dan mesin yang berada di area tanggung jawab mereka.

Dengan demikian, tenaga maintenance dapat lebih fokus untuk kasus kerusakan yang lebih serius. Dengan terpeliharanya mesin, maka kondisi optimal dan sense of ownership akan dapat tercipta. Tentu saja, pendekatan ini juga akan membantu mengurangi potensi cacat dan breakdown mesin.

Tahapan Penerapan Autonomous Maintenance

Implementasi pilar autonomous maintenance terbagi menjadi tiga fase, dan dilakukan oleh tim yang dalam kesehariannya menggunakan mesin yang menjadi objek autonomous maintenance.

Fase pertama: Pada fase ini tim akan melakukan pemeliharaan terhadap mesin dan menjaga kondisinya tetap prima dengan melakukan restorasi dan menghilangkan penyebab-penyebab kerusakan/mesin mati dan sumber-sumber kontaminasi mesin. Pada tahap ini, tim harus diperkenalkan dengan standar-standar yang mengatur aktifitas pembersihan, inspeksi, pengencangan dan lubrikasi untuk memastikan kondisi mesin selalu baik.

Fase kedua: Pada fase ini tim akan mendapatkan pelatihan mendetil mengenai prinsip operasional sehingga pengetahuan dan keterampilan mereka mengenai perbaikan mesin akan bertambah. Setelah melewati fase ini, tim diharapkan sudah memahami bagaimana cara memperbaiki kondisi mesin untuk menjaganya tetap pada performa standar.

Fase ketiga: Pada fase ini, operator mengambil ownership atas mesin mereka masing-masing, dan secara berkelanjutan terus menjaga atau meningkatkan kondisi serta performa mesin, untuk mengurangi losses selama proses.

Keuntungan Penerapan Autonomous Maintenance

Penerapan autonomous maintenance akan meningkatkan nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) dengan mengurangi performance loss dan meningkatkan ketersediaan mesin (availability). Selain itu, akan ada perbaikan yang dapat diukur, berkaitan dengan employee engangement dan capability level.

Kesimpulan

Autonomous Maintenance adalah konsep perawatan mesin yang melibatkan operator produksi sebagai pengguna untuk melakukan perawatan dasar. Implementasi pilar ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan tanggung jawab operator produksi terkait mesin, sehingga produktifitas akan meningkat secara keseluruhan. Autonomous Maintenance menggunakan sistem yang terstruktur dan terdokumentasi sehingga program ini dapat berjalan dengan konsisten.

Sumber: dikutip dari berbagai informasi di google

Friday, October 4, 2019

MECHANICAL: 6 LANGKAH SEDERHANA KAIZEN


6 Langkah Sederhana dalam Kaizen
Kaizen (Continuos Improvement)

Sebuah metode perbaikan yang berkesinambungan atau terus menerus. Kuncinya adalah terus menerus tanpa ada celah untuk berhenti melakukan perbaikan, tidak ada istilah sempurna, selalu ada potensi masalah dan perbaikan!

Setidaknya ada 6 langkah dalam melakukan Kaizen, apa saja?

1. Identifikasi (menemukan) suatu masalah
2. Menganalisis metode yang digunakan saat ini
3. Mencari ide baru yang bersifat original ataupun pengembangan
4. Countermeasure dengan merencanakan penerapan ide tersebut
5. Doing (eksekusi) ide yang sudah terencana tersebut
6. Evaluasi dan follow-up (ekspansi) jika ide baru tersebut dinilai lebih baik

Contoh sederhana dalam dunia industri manufaktur misalnya sebagai berikut:

1. Identifikasi masalah
Hasil proses welding tidak rata, tidak menghasilkan profil hasil welding yang bagus.

2. Analisis metode saat ini
Proses welding (pengelasan) yang sedang eksis ternyata masih dilakukan secara manual menggunakan tangan manusia.

3. Mencari ide baru
Proses welding agar hasilnya rata lebih baik menggunakan alat bantu (jig). Akan tercipta alur welding yang teratur dan merata.

4. Countermeasure
Merencanakan desain jig, dan membuat prototype atau langsung membuat barangnya.

5. Doing atau eksekusi
Menginstal alat bantu berupa jig tersebut untuk proses weldingnya.

6. Evalusi dan monitoring
Jika hasilnya bagus, teruskan dan ekspansi, jika kurang bagus maka kembali ke langkah awal.

Demikian secara singkat dan sederhana gambaran proses Kaizen! Rohnya adalah perbaikan yang dilakukan berkesinambungan tanpa henti.

#sharing #knowledge #kaizen

Thursday, October 3, 2019

EVALUASI: BENARKAH MENCARI KERJA ITU SULIT?

Pernahkah anda selalu kesulitan mencari pekerjaan? Apakah anda bahkan seringkali gagal mendapatkan pekerjaan yang anda inginkan? Mari kita ulas bersama apa saja penyebab semua itu dan kira-kira apa solusi terbaik untuk mengatasinya. Tulisan ini saya sajikan berdasarkan pengalaman pribadi juga dari sharing beberapa teman yang mengeluhkan hal serupa.

Baik jadi begini, kalau kita semua bersama-sama bersedia membuka situs atau layanan pencari kerja seperti jobstreet, jobsdb, indeed dan sejenisnya, coba ketikkan saja lowongan pekerjaan yang sekiranya anda inginkan. Saya berani katakan dengan pasti bahwa kita semua selalu terkejut dengan banyaknya jumlah lowongan pekerjaan yang sedang dibuka oleh banyak perusahaan.

Ilustrasi Sebuah Fenomena "Orang Dalam"
Lantas masalahnya di mana? Kita seringkali berasumsi bahwa lowongan pekerjaan sedikit tidak sebanding dengan jumlah para pencari kerjanya. Apakah benar demikian? Saya bisa katakan tidak demikian kebenarannya. Yang paling tepat adalah lowongan pekerjaan itu banyak sekali, atau jika tidak mau menyebutnya banyak masih tetap bisa disebut cukup banyak. Buktinya apa? Ya itu tadi konkritnya, berbagai macam platform atau situs pencarian kerja masih terus memposting kebutuhan tenaga kerja. Benar bukan? Coba perhatikan kalau masih ragu.

Tetapi kenapa kita tetap merasa kesulitan mencari pekerjaan? Coba tanyakan pada diri sendiri, mulailah berintrospeksi. Maka akan ditemukan sebuah jawaban yang sebenarnya kita semua menyadarinya tapi tidak cukup mampu mengakuinya. Apakah itu? Ya, ketidakcocokan kualifikasi dan kompetensi kita sebagai pencari kerja (job seeker) denganekspektasi dan permintaan pemberi kerja, dalam hal ini human resource yang bertindak sebagai tim rekrutmen dan juga user selaku pihak yang akan mempekerjakan kita.

Jadi kalau kita mau mengakuinya memang demikian adanya bukan? Lowongan pekerjaan itu banyak, selalu ada, problemnya adalan pencari kerja seringkali dianggap tidak memenuhi kualifikasi oleh pemberi kerja. Sehingga inilah yang menjadikan kita berasumsi tanpa sadar seolah-olah lowongan pekerjaan sedikti. Ini kesalahan seluruh elemen dari mulai penyelenggara pendidikan, industri, dan tentu yang paling salah adalah kita sendiri sebagai pencari kerja yang tidak pernah bekerja keras untuk memahami dan mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh pemberi kerja. Nah!

Ada sebuah anekdot yang banyak berseliweran di dunia maya misalnya kalimat demikian, “Pemberi kerja seringnya minta yang berpengalaman, giliran datang yang berpengalaman dibilangnya sudah tidak muda lagi dan dianggap tidak produktif, maunya yang muda, enerjik, giliran datang yang muda lalu bilangnya kami butuh yang berpengalaman!”. Ruwet kan? Ya begitulah realita yang sering terjadi dalam dunia tarik ulur antara pemberi dan pencari kerja.

Dari rentetan penjelasan dan rumusan masalah di atas setidaknya saya ingin memberikan beberapa kiat dalam rangka mematchingkan dua insan yang sebenarnya saling mencintai tetapi selalu terbentur oleh gengsi keduanya, yaitu antara HRD dan kandidat karyawan (jobseeker). Berikut kiat-kiat yang dapat dipelajari oleh para pencari kerja.
  1. Pahami diri anda sendiri, mahir, menguasai, dan berkompetensi di bidang apa? Identifikasi diri.
  2. Pahami apa yang diminta oleh perusahaan yang sedang mencari kandidat sesuai kualifikasi anda, lalu sesuaikan dan upgrade diri anda di level requirements itu.
  3. Indentifikasi maunya pemberi kerja apa. Setelah anda dapat mengenalinya lalu letakkan prioritas dan sempitkan pilihan pada bidang atau posisi apa anda ingin apply/melamar pekerjaan. Lakukan itu.
  4. Buka dan daftar lalu log-in pada platform pencarian pekerjaan seperti jobstreet, jobsdb, indeed, dll. Di sana banyak sekali informasi seputar dunia pencarian kerja. Pantau terus jangan kasih kendor.
  5. Selalu perbarui CV anda, sebaik-baiknya CV yang terbaru dan menarik adalah bertambahnya kompetensi diri, skills, keahlian. Bukan semata eye catching saja, yang penting isinya!
  6. Terakhir, kuncinya adalah be ur self! Jadilah diri anda sendiri dalam menjual mempromosikan diri anda di dunia pencarian kerja. Jangan berpura-pura jadi orang lain.

Jadi sekali lagi saya ingin tegas mengatakan bahwa andaikan benar asumsi selama ini lowongan pekerjaan tidak lebih banyak dibanding dengan jumlah pencari kerja, maka solusi terbaiknya adalah jadilah pencari kerja yang dipantau dan menjadi sorotan terbaik oleh radar pemberi kerja. Apakah caranya? Baca lagi poin di atas paragraf ini berulang kali. Nanti anda akan memahaminya setelah membaca minimal berulang tiga kali. Toh sekali lagi, andaikan benar asumsi selama ini, bisa jadi kurang benar bukan?

Selamat berkompetisi secara sehat dan trengginas. Mari positif thinking bahwa pekerjaan akan selalu ada bagi orang yang selalu memperbaiki diri. Jangan pernah takut dan putus asa! Selalulah menjadi muda yang enerjik bersemangat dan tetaplah mengakui sebagai orang yang sudah tua jika memang demikian adanya. 😁👌🏽