Wednesday, July 22, 2020

IMAJINASI: JIKA SAYA MENDAPATKAN UANG SATU MILYAR

"Seandainya saya memenangkan undian uang 1 milyar maka apa yang akan saya lakukan?"

Itulah sebuah pertanyaan yang diberikan saat saya mendapatkan panggilan tes kerja di salah satu perusahaan besar di Jawa Timur. Apa jawaban saya dalam sebuah esai yang mensyaratkan minimal 1000 huruf?

Uang Bukanlah Segalanya, Teman Yang Baik Juga Rezeki 

Pada dasarnya saya orang yang tidak mudah begitu saja percaya pada sebuah undian, apalagi jika ini merupakan undian yang bernilai sangat besar dan terlihat seperti tidak masuk akal. Hal yang akan saya lakukan jika mendapati situasi ini adalah sebagai berikut:

Pertama, saya akan menanyakan pihak pemberi undian untuk mengkonfirmasi apakah ini benar atau hanya modus penipuan. Karena saat ini banyak sekali modus penipuan yang bermotif seperti ini. Sudah banyak di media online bukti laporan pihak-pihak yang dirugikan dengan penipuan bermodus seperti ini. Maka hati-hati dan waspada adalah suatu keharusan.

Kedua, jika hasil konfirmasi ini tekesan mencurigakan dan tidak benar maka saya akan laporkan pemberi undian ke pihak berwajib agar dicari kebenarannya dan jika ini merupakan modus penipuan agar pelaku tindak kejahatan seperti ini dapat diringkus, akan tetapi jika ini ternyata benar maka saya akan tetap meminta pendampingan orang terdekat saya untuk memproses atau mengambil dan menerima undian ini dengan tetap melibatkan pihak berwajib untuk mendampingi agar keamanan saya tetap terjamin.

Ketiga, dengan uang sebanyak itu sebagai rasa syukur saya akan menyisihkan 2.5 % dari total yang saya terima untuk saya sumbangkan ke pihak yang membutuhkan misalnya fakir miskin, yatim piatu, atau tempat beribadah. Ini bagian dari keimanan saya terhadap agama yang saya anut karena mengajarkan dan mengatur demikian terhadap pemeluknya. Lembaga yang akan saya jadikan rujukan untuk menerima sumbangan ini tentunya juga Lembaga yang sah dan resmi baik dari institusi pemerintah atau lembaga sosial keagamaan. Di samping itu juga saya akan menyisihkan untuk saya sumbangkan ke lingkungan RT tempat saya tinggal untuk keperluan membangun jalan perumahan yang saat ini kondisinya rusak parah.

Keempat, saya akan memprioritaskan uang tersebut untuk keperluan membayar semua hutang saya pribadi dan juga hutang keluarga. Secara pribadi saya masih menanggung beberapa cicilan (hutang), begitu juga dengan keluarga besar saya yang masih memiliki beberapa cicilan (hutang). Bagi saya ini penting karena untuk meringankan beban pikiran dan menyehatkan roda ekonomi keluarga.

Kelima, saya pribadi masih memiliki cita-cita antara lain melanjutkan studi S2, saya akan mengalokasikan uang tersebut untuk kebutuhan menempuh studi S2 sesuai jurusan yang saya inginkan. Saya yakin pendidikan merupakan investasi terbaik untuk kehidupan masa depan yang lebih baik pula. Saya juga akan menambah beberapa ketrampilan dengan mengikuti sertifikasi pelatihan misalnya pelatihan AK3 Umum, pelatihan Six Sigma, pelatihan Bahasa Inggris, dan pelatihan lainnya yang menunjang karir saya di pekerjaan.

Keenam, saya akan mengajak keluarga saya untuk ibadah umroh. Di samping itu merupakan anjuran agama yang saya anut, itu juga bagian dari refreshing (rekreasi) untuk mendapatkan semangat baru dalam hidup dan motivasi untuk lebih tekun dalam bekerja dan beribadah.

Terakhir, sisa uang yang ada akan saya alokasikan untuk investasi dalam bentuk harta aktif dan harta pasif. Harta aktif misalnya akan saya belikan mobil untuk keperluan mobilitas keluarga, kemudian harta pasif misalnya tanah atau rumah yang saya meyakini tahun demi tahun nilai harta pasif ini akan terus bertambah. Ini penting sebagai investasi jangka panjang nantinya

Demikianlah kira-kira tindakan yang akan saya lakukan jika mendapati undian senilai 1 milyar rupiah. Meskipun ini hanya sebuah permisalan setidaknya ini dapat menjadi cara yang baik untuk merangsang ide menulis yang tersimpan di dalam pikiran.

Penulis: Robi Cahyadi

Tuesday, July 7, 2020

SANG FUHRER; MANAJEMEN LEADERSHIP ADOLF HITLER

Sepenggal Kisah Sang Fuhrer

Adolf Hitler and His Nazi Generals
Sepanjang saya sakit dan pasca dirawat banyak waktu yang terhabiskan untuk membaca literatur yang mengulas tentang perang dunia dua dan utamanya menyoal tentara Nazi yang begitu bersemangat dan ambisius ingin menguasai daratan Eropa di bawah kepemimpinan Sang Fuhrer, Adolf Hitler. Secara umum dunia memang mengecam keputusan Nazi yang membuat langkah perang terhadap dunia dan menjadi kejadian yang paling mengerikan dan merugikan dunia di abad 19 tersebut. Bayangkan saja, sejarah mencatat sebelum pecah perang dunia dua tidak ada satupun kejadian yang semengerikan itu. Ribuan nyawa melayang dan peradaban Eropa runtuh sejadi-jadinya.

Ada pertanyaan yang paling mendasar bagi kita semua tentunya, bagaimana bisa seorang Adolf Hitler seorang mantan veteran perang dunia satu yang lahir dari pedalaman Austria tersebut meyakinkan dan membuat semua orang setia pada perintahnya? Apa rahasianya? Kenapa jenderal-jenderal Nazi yang begitu cerdas dan jenius itu bisa menjadi loyalis setia terhadap Adolf Hitler? Apa menariknya Si Fuhrer ini sampai-sampai mereka semua begitu takut padanya dan berjuang mati-matian untuknya? Bahkan Gobbels si menteri propaganda Nazi yang sangat terkenal dengan pidato propagandanya itu rela mati bunuh diri bersama keluarganya dan menemani Hitler saat-saat terakhir di fuhrerbunker-nya?

Joseph Gobbels, Heinrich Himmler, Erwin Rommels, Martin Bormann, Karl Donitz, dan banyak jenderal hebat lainnya semua pasang badan demi Hitler, apa yang bisa membuatnya demikian? Ini sangat menarik diulas oleh para sejarawan dan menjadi topik paling hangat sepanjang beberapa dekade setelah perang dunia dua berakhir. Semua orang bahkan sampai hari ini masih bingung kenapa semua itu bisa terjadi, apa rahasia sebenarnya. Beberapa teori mengemuka dan dengan metodologi ilmiahnya bersaing ingin meyakinkan publik tentang rahasia apa yang membuat Hitler bisa sedemikian ditakuti dan diikuti.

Salah satu teori yang paling diyakini oleh sejarawan adalah itu semua terjadi dikarenakan Hitler memiliki apa yang pemimpin besar lain di dunia ini tidak memiliki. Apakah gerangan? Manajeman adu domba. Ya, itulah yang tidak banyak orang sadari tentang apa yang menjadi khas dan strategi Sang Fuhrer dalam memimpin Nazi Jerman dan mengendalikan semua orang jenius di sampingnya. Dia memiliki apa yang oleh ilmuwan disebut sebagai manajemen adu domba. Peoples manajemen yang sangat berhasil di jamannya. Menarik bukan?

Hitler tidak pernah benar-benar menyayangi satu orang pun jenderalnya, saat dia mengatakan kepada Bormann bahwa Bormann adalah yang paling dibanggakan dan dikaguminya karena sanggup membuatkan Hitler sebuah Eagle Nest sebagai benteng perlindungan, di satu sisi dia juga menyalahkan Bormann di hadapan jenderal yang lain. Dan tak jarang membuatnya malu di depan umum dan sering menarik ulur apa yang pernah dikatakannya. Manajemen adu domba berulang seperti ini yang kemudian membuat seluruh jenderal-jenderal jeniusnya terus bersaing dan menunjukkan kinerja serta citra terbaiknya di hadapan Sang Fuhrer. Mereka bekerja maksimal dan loyal terhadap pemimpinnya, tak satu pun dari mereka yang berpikir untuk membelot dari setiap perintah dan rencananya. Semua saling berkompetisi untuk menjadi yang terbaik di hadapan Hitler. Jenius.

Dari sepenggal kisah ini kita semua bisa belajar sisi positif Hitler sebagai pemimpin Nazi Jerman yang sangat terkenal itu. Dia punya strategi bahwa tidak semua bawahannya harus disayang atau sebaliknya dibenci, tarik ulur tentang apa yang dia katakan kepada loyalisnya adalah kunci agar mereka bekerja berkompetisi maksimal padanya. Apakah gaya leadership seperti ini bisa diterapkan di dunia moderen saat ini? Di dunia organisasi dan kerja hari ini misalnya? Tentu saja bisa dan sangat mungkin diterapkan. Tergantung keberanian dan siapa pemainnya. Apakah anda sebagai pemimpin tertarik memakai gaya Adolf Hitler dalam mengelola manajemen people di lingkungan anda? Jika tidak, anda patut sesekali bereksperimen mencobanya. Semoga berhasil.

Salam,
RC28~
Malang, 7 Juli 2020