Wednesday, October 3, 2018

Renungan: Hati-Hati Terhadap Simpulan Musibah

Sudah selayaknya kita introspeksi diri atas musibah yang terjadi beberapa bulan terakhir ini. Mulai dari gempa bumi Lombok hingga yang terbaru gempa bumi dan gelombang tsunami yang telah menyebabkan Kota Palu dan Donggala menderita. Introspeksi diri saja tidak cukup, yang harus kita lakukan tentu juga berhati-hati dalam menyimpulkan maksud Allah SWT memberikan takdir seperti ini di negeri tercinta kita, Indonesia.

Habib Haidar Bagir telah memberikan sebuah nasehat, begini kira-kira ringkasannya. Jangan berani-berani bilang bahwa musibah atas orang adalah hukuman-Nya. Hanya Allah SWT yang tahu dan jangan anggap kebebasan kita dari musibah itu adalah bukti bahwa kita orang baik. Mungkin itu istidraj (penidakacuhan oleh Allah). Boleh jadi, seperti sabda Nabi, yang dapat musibah adalah orang-orang yang dicintai-Nya. Hati-hati.

Bunyi sabda Nabi yang dimaksud tersebut adalah berikut ini:

Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji (HR. Ath-Thabrani).

Pada dasarnya jangan pernah terlena dengan kondisi kita yang hari ini sedang tidak terkena musibah. Jangan merasa diri lebih baik dibanding orang/kelompok/kaum yang sedang diberikan musibah seperti masyarakat Kota Palu misalnya. Ndak perlu kita suudzon kepada Allah SWT bahwa itu adalah hukuman karena di Kota Palu dianggap tumbuh pesat komunitas LGBT, terdapat desain pelabuhan yang dituduh mirip seperti mata Dajjal misal, dan seterusnya yang hanya asumsi manusia semata. Padahal hanya Allah SWT yang tahu apa rahasia di balik ini semua. Semoga dalam hal ini kita selalu wawas diri.

Sebisa mungkin kita menghindari share suatu konten yang berisi simpulan yang notabene diasumsikan oleh manusia bahwa musibah tersebut terjadi karena di Kota Palu banyak LGBT, banyak kemaksiatan, dan yang lebay adalah katanya akibat Gus Nur Sugi ditersangkakan, dan seterusnya dan seterusnya. Manusia ndak bisa menjudgement seperti itu. Itu ranah kekuasaan Allah SWT. Menyimpulkan sebuah takdir Allah SWT adalah hal yang tidak bisa dilakukan oleh manusia, apapun alasannya.

Provinsi Aceh dulu terkena musibah maha dahsyat berupa bencana gelombang tsunami pada tahun 2004. Padahal kita tidak menutup mata bahwa Provinsi Aceh dikenal sebagai serambi makkahnya Indonesia, syariat Islam dijalankan melalui perda-perdanya di sana. Apakah musibah ini lantas juga akan kita tuduh sebagai bagian dari azab? Ini yang Saya maksud kita manusia hamba yang kecil ini ndak boleh menyimpulkan takdir Allah SWT.

Bahkan, fakta sejarah dunia mencatat bahwa baitullah ka'bah atau makkah al mukarromah pernah juga dilanda musibah banjir yang tidak bisa dikategorikan sebagai banjir kecil. Apakah tempat yang suci dan kita umat Islam sakralkan ini kemudian boleh kita sebut sedang terkena azab? Waallahu a'lam. Sekali lagi hanya Allah SWT yang tahu dan maha mengetahui.

Sepindah malih, pangapunten ingkang katah. Kita sebagai hamba yang kecil ini ndak boleh dan memang ndak akan pernah bisa menyimpulkan bahwa musibah selalu identik dengan azab. Alangkah baiknya kita wawas diri dengan terus berdoa agar selalu dalam kebaikan dan lindungan-Nya tanpa harus menuduh orang/kelompok/kaum yang terkena musibah itu adalah akibat kemaksiatan yang dilakukannya. Iya kalau tuduhan kita benar, kalau salah? Bagaimana? Mengerikan sekali bukan?

Robi Cahyadi
Tambun, 3 Oktober 2018


No comments:

Post a Comment