Monday, July 13, 2026

OPINION: SEKOLAH DASAR ANAKKU

Tak terasa anak sulungku sudah memasuki sekolah dasar, semoga dia senantiasa sehat selalu dan semangat belajar di bangku sekolah dasar ini. Sebagai ayah saya selalu berkomitmen untuk mendampingi tumbuh kembang anak-anakku.

Banyak tetangga, kerabat, teman yang bertanya kenapa kok masuk sekolah dasar negeri. Bukan dimasukkan ke sekolah dasar swasta islam terpadu yang kekinian itu. Yang katanya hari ini pendidikan terbaik berada di sekolah dasar swasta yang IT-IT-an itu. Yang Cambridge curriculum dan Montessory itu? Mbuh ndak paham saya dengan paradigma manusia hari ini.

Jadi begini ceritanya, saya dan istri memang sempat silang pendapat soal sekolah anak. Istri sudah sempat ambil slot kursi di sekolah dasar swasta islam terpadu yang cukup bagus dan mahal di wilayah Lawang. Tapi saya berikan opini lain yang membuka jalan pemikiran kami berdua.

Betul saya sepakat pendidikan anak sebaik-baiknya adalah dicarikan yang terbaik. Betul saya ndak menyangkal itu. Tapi baik yang dimaksud itu yang bagaimana? Pada akhirnya baik dan tidak baik itu soal sudut pandang bukan? Peran orang tua di rumah tetaplah menjadi core-nya saya kira. Ini yang paling relevan.

Saya berasumsi bahwa sekolah dasar negeri yang berkurikulum standard nasional ini ya sudah cukup baik dan basic sekali untuk pemenuhan pendidikan anak. Basic-nya terpenuhi kok, bukan yang jelek-jelek amat seperti stigma manusia hari ini yang pada dasarnya haus validasi. Soal ingin mendapatkan pembiasaan belajar yang lebih kompetitif, masih ada les-lesan yang support.

Saya juga berikan gambaran bahwa pendidikan anak tidak terhenti di sekolah dasar saja, bahkan tentunya saya punya cita-cita luhur bahwa anak-anakku harus dapat menempuh pendidikan setinggi mungkin melebihi ayah dan ibunya.

Jika ayahnya hanya sarjana dan ibunya pasca-sarjana, maka anakku ku harapkan melampaui itu. Boleh kan bermimpi sedini mungkin? Kenapa tidak. Saya ingin sekali dia mendapatkan previllege di masa remajanya nanti dengan sekolah setinggi dan sebaik mungkin. Bukan jor-joran di masa sekolah dasarnya tapi saat kuliah mulai tertatih, seperti ayahnya.

Pada akhirnya, kami sepakat untuk menyekolahkan anak sulungku di sekolah dasar negeri dekat dengan rumah. Ndak perlu abumen antar jemput, cukup jalan kaki saja. Poinnya dia dapat merasakan whole society di mana sekolah dasar negeri tentunya punya variasi yang lebih luas dibanding sekolah dasar swasta yang IT-IT-an itu.

Saya berharap kepekaannya tumbuh sedari dini bahwa ternyata dari lingkungan sekolahnya dia akan belajar banyak tentang keberagaman. Sekolah negeri lebih menjamin luasnya variasi kelas ekonomi, ada yang ayahnya swasta seperti saya ini, ada yang pegawai negeri sipil, ada yang pedagang, ada yang barangkali buruh tani dan mungkin pegojek online.

Saya ingin anak sulungku mempunyai kepekaan dan knowledge seluas itu sehingga kemudian menjadi pribadi yang berkarakter kuat. Pribadi yang mampu membumi juga sanggup melangit. Pribadi yang ndak minder dekat dengan orang kaya dan ndak ragu dekat dengan orang miskin. Kira-kira begitu harapannya.

Terakhir, semoga ini menjadi pilihan yang tepat lagi baik untuk anakku. Semoga dia bahagia dengan pilihan ayah ibunya ini. Juga tentunya semoga dia dapat belajar sebaik mungkin sehingga mendapatkan esensi dari belajar yaitu menjadi pribadi yang baik. Rocky Gerung menyampaikan bahwa sekolah bukanlah bukti bahwa manusia berpikir.

Selamat pagi. Salam dari Lawang, kota kecil di sudut utara Kab. Malang.

☕️

Sunday, January 18, 2026

RENUNGAN: BELAJAR KERJA KERAS DARI NENEK SAYA

Aku ingin meriwayatkan sebuah cerita kecil tentang mbah Siti Rukoyah, nenek kami dari jalur bapak. Beliau lahir di Batokan, Ngantru, Tulungagung, Jawa Timur. Beliau anak ke tiga dari tiga bersaudara.

Dulu, sewaktu pak Gufron ayah saya sakit lama berkepanjangan dan operasi lalu mengharuskan menginap berminggu-minggu di Karangmenjangan, Surabaya.

Mbah Siti pernah suatu ketika datang ke rumah saya, seingatku di rumah hanya ada aku dan mas Galih, karena mbak Onik mondok, Idot adik terkecil kami diajak ibu untuk jaga bapak di Karangmenjangan.

Di rumah aku dan mas Galih dibaturi Yuk Mah (neneknya Basuki) yang berasal dari Branggahan, Ngadiluwih, Kediri selama ditinggal oleh ibu dan adik terkecil kami merawat bapak yang sakit di Surabaya.

Mbah Siti nenek saya tersebut datang ke rumah untuk membersihkan kebonan belakang. Nyapu-nyapu halaman, membakar sampah dan memberesken segala hal yang tidak rapi sampai akhirnya bersih kinclong.

Yang paling teringat jelas di memoriku adalah saat aku kebelet pup dan ingin eek ke WC di belakang rumah kami, mbah Siti sedang ngoseki alias menyapu bersih WC, membersihkan pakai sapu lidi semua lumut yg membandel di lantai dan tembok WC.

Begitulah naluri seorang ibu, anaknya yang sudah bukan anak kecil lagi, bahkan sudah mulai menua dan sakit-sakitan, tetaplah dianggap sebagai anak kecil dengan bentuh kasih sayangnya “ngrumat ngramut” rumah anaknya, agar cucu-cucunya nyaman dengan semua itu.

Setelah ayah saya sembuh dan sedikit bisa beraktifitas, justru kemudian mbah Siti Rukoyah lah yang jatuh sakit terkena serangan liver (empedunya membengkak besar), lalu dipanggil kehadirat Allah SWT lebih dahulu.

Alfatihah untuk Mbah Siti yang pernah membersihkan kebonan seluas itu seorang diri di usianya yang senja, pesan pentingnya: obah gerak itu seharusnya memang gak pandang usia, tidak kenal lelah.

Wednesday, December 24, 2025

Renungan: Belajarlah Menghargai Setiap Potensi Orang

Alkisah sebuah cerita dahulu kala ada seorang guru sekolah yang mengajar mata pelajaran fisika untuk SMA di sebuah sekolahan menengah negeri yang tidak terlalu favorite di kota kecil di ujung pulau Jawa, guru tersebut memiliki murid bernama Taufik.

Setiap masuk kelas pasti perawakan Taufik ini tampak dekil, jauh dari kata bersih dan rapi. Sela-sela jari kuku tangannya seringkali hitam kotor nampak sisa-sisa gemuk oli. Bajunya pun tidak jarang compang-camping lusuh berantakan tanpa seterikaan.

Saat ujian ulangan harian pun dia tidak pernah mendapatkan nilai yang bagus, mentok nilainya hanya di kisaran 40-50 saja. Di mana di saat bersamaan teman-teman yang lainnya mendapatkan nilai 90 bahkan 100. Ini ironi yang nyata dan memilukan waktu itu.

Lalu saat ada momen berdua dengan Taufik, guru tersebut bertanya apa yang membuat prestasi belajarnya jeblok. Bahkan saat diminta menjelaskan ulang apa itu hukum ohm, bagaimana korelasinya antara hambatan, tegangan, dan kuat arus. Taufik sama sekali tidak mengerti, tidak paham.

Taufik lalu menjelaskan bahwa selama ini dia lusuh compang-camping dan belepotan oli gemuk karena dia memang bantu-bantu saudaranya di bengkel untuk tambahan uang sakunya. Pernah suatu ketika saat sepeda motor temannya rusak, Taufik lah yang diandalkan untuk memperbaikinya.

Puncaknya, saat acara pelepasan kelulusan sekolah. Genset sumber listrik untuk acara puncak kepala sekolah berpidato di panggung utama tanpa sebab rusak, mati pet prepet gak nyala. Taufik lah anak yang sigap dengan jerih payahnya memperbaiki. Genset hidup kembali dan acara yang berada diujung kekacauan dapat terkendali lagi.

Taufik memang gagal secara akademik, nilainya buruk secara teori, tapi dia berhasil dan sukses dalam realita kehidupan. Dia dapat diandalkan, manfaatnya sebagai manusia bahkan melampaui teman-teman sepantarannya. Taufik lulus sekolah dengan nilai akademik yang tidak cukup memuaskan, tapi dia punya “core value”.

Suatu ketiku pula setelah beberapa tahun kelulusan itu, saat mobil guru tersebut mogok di jalanan tengah kota dan membuat kemacetan panjang. Munculah mobil bak double kabin dengan driver ganteng bersepatu safety turun menyapanya, lalu menolongnya, memperbaiki mobil itu dan menyelesaikannya.

Siapa yang keluar dari mobil bak double kabin tersebut? Dia adalah Taufik, yang dulu saat sekolah nilai akademiknya buruk. Tapi kini ia adalah pemilik “workshop mobile” bernama “TEBE JAYA” - yang artinya Taufik Eko Bahrudin Engineering JAYA”. “Bengkel berjalan” yang membantu banyak orang dan solusi atas segala permasalahan otomotif di kota itu.

Begitulah realita kehidupan, anda boleh bangga dengan nilai akademik yang anda koleksi dalam masa-masa belajar di bangku sekolah, tapi anda belum tentu mampu menjadi manusia yang memberikan manfaat bagi sesama. Bahkan tidak jarang, anda dengan kesombongan nilai-nilai di atas kertas tadi, hanya menjadi sampah masyarakat di kemudian hari.

Mulai sekarang. Belajarlah menghargai potensi orang, tenang saja dan yakinlah bukan anda satu-satunya manusia yang “berdaya” itu.

Selamat pagi, selamat beraktifitas, semoga kita semua bahagia. Aamiin.

☕️

Saturday, October 18, 2025

Opini: Sebuah Cerita Dari Negeri Sakura

Cerita ini pasti sangat menyenangkan bagi pecinta narasi kebaikan, cerita tentang konsisten dan komitmennya orang Japan (nihonjin) terhadap aturan main atau rules. Tentang komitmennya pada nilai yang bernama tanggung jawab, responsibility.

Beberapa waktu lalu ada sebuah insiden di mana sistem dan jaringan otomatis pintu tol berbasis internet di Japan terjadi error, trouble yang terjadi secara masif di hampir sekitar 106 gerbang tol secara bersamaan.

Pemerintah Japan memutuskan agar gerbang tol dibuka terus untuk melancarlan traffic dan distribusi barang selama proses perbaikan oleh para insinyur mereka, waktu yang diperlukan tidak tanggung-tanggung, 38 jam perbaikan.

Sehari setengah downtime sistem gerbang tol ini terjadi. Semua pengguna jalan tol di rentang perbaikan itu dinyatakan free charge, gratis demi tidak terjadinya kendala stuck atau macet di jalanan utama mereka. Agar juga roda supply chain dan ekonomi mereka terus berputar.

Lalu apa yang terjadi? Sehari setelah insiden besar ini sebanyak tidak kurang dari 24.000 pengguna jalan tol yang melalui gate secara free tersebut tetap melakukan transaksi pembayaran melalui cara transfer. Sungguh di luar nalar. Digratiskan kok tidak mau ya?

Ini soal mentalitas, bangsa Jepang sudah berdiri setegak sekomitmen itu dengan rules. Rules yang mereka yakini sangat sederhana, kami melaluinya (highway express alias tol), kami wajib membayarnya. For all nihonjin, comply to the rules is must!

Apakah bangsa kita atau kita secara individu bisa bersikap komitmen demikian? Sulit rasanya. Kita senang dan selalu bahagia jika digratiskan, jika mendapat gratisan. Betul bukan?

Di Japan dan bagi nihonjin istilah untuk mendefinisikan nilai komitmen ini disebut sebagai “giri” yang artinya tanggung jawab, atau biasanya juga disebut sebagai “seijitsu” yang berarti ketulusan berbuat benar. Mereka sadar itu.

Mungkinkah kita bisa memiliki dan menerapkan sikap “giri” dan “seijitsu”? Rupa-rupanya sulit, sangat sulit. Bahkan barangkali super sulit, karena kita adalah? Kita adalah bangsa yang besar. Besar problemnya. Bye!

Selamat berakhir pekan ☕️

Saturday, July 12, 2025

BELAJAR: TERMAL PROSES

Hari ini saya sedang berada di Kota Bogor dalam rangka belajar dan menjalin erat linkage antara kampus dengan industri manufaktur, khususnya para pelaku industri pengolahan pangan dengan SEAFAST (South-East Asia Food and Agriculture Science and Technology Center) IPB University di kampus Baranangsiang.

Kami belajar dengan para profesor di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University, salah satunya adalah Prof. Purwiyatno Hariyadi yang juga anggota Codex Alimentarius Commision. Di momen ini tentunya kami diskusi banyak perihal thermal process untuk industri pangan. Khususnya seputar sterilisasi komersil dan sedikit soal pasteurization.

Concern pembelajaran kami di kesempatan ini adalah seputar bagaimana cara menghasilkan produk pangan yang aman bagi milyaran manusia di bumi ini dengan cara proses termal. Proses termal dikenal sebagai cara yang sangat ampuh untuk merekayasa pangan sehingga aman, sehat, dan baik untuk dikonsumsi manusia.

Belajar apapun itu ternyata sangat menyenangkan, syaratnya bersedia membuka diri terhadap ilmu baru dan terus memposisikan diri sebagai gelas kosong yang dapat diisi. Jika penuh, segera lakukan pengosongan gelas tersebut sehingga ready to refill. Belajar tidak mengenal batas usia.

FYI, thermal process merupakan ilmu rekayasa pangan yang berasal dari sayembara Napoleon Bonaparte di abad 17 untuk menghasilkan pangan yang aman bagi prajuritnya. Kini, dunia yang sumber pangannya semakin menipis sementara milyaran manusia hidup di bumi, menjadikannya hal yang sangat menarik untuk dipelajari.

Friday, May 2, 2025

Pekerjaan Tetap atau Tetap Bekerja?

Ini tulisan singkat yang ditulis menurut opini pribadi dalam rangka memperingati mayday alias hari buruh 1 Mei 2025 dan diharapkan mampu memecah kebuntuan cara pandang dan kesempitan bernalar. Harapannya tentu pembaca akan tercerahkan dan memiliki harapan yang positif yang pada endingnya akan mampu hidup disertai juga dengan tingkah laku positif.

Dalam satu bahkan hampir mendekati dua dekade terakhir ini, kita paham betul iklim investasi yang konon tidak bagus di negeri ini membuat para kapitalis (pegusaha) dan pemerintah yang pro dengannya, dengan sekuat tenaga membuat regulasi bahwa model hubungan kerja terbaik adalah berbasis kontrak. Syukur-syukur alih daya. Begitu.

Kondisi ini tentu membuat banyak buruh bahkan di semua level mulai dari worker atau pelaksana hingga level managerial mengalami fase bekerja berbasis kontrak. Ada beberapa perusahaan yang secara internal cukup bagus financialnya sehingga kontrak mungkin dijadikan sebagai opsi masa penilaian awal, yang waktunya sebentar dan lalu dipermanenkan.

Tapi tidak sedikit perusahaan yang umumnya lebih senang mengklaim financialnya tidak bagus sehingga opsi hubungan kerja berbasis kontrak adalah sedapat mungkin selamanya. Sepanjang hayat si pekerja. Begitulah kira-kira teori dasarnya, maka beruntunglah generasi yang saat ini bisa berleha-leha tanpa banyak kontribusi yang dulunya dengan mudah langsung dipermanenkan. Benarkah yang demikian ini ada? Ya ndak tahu coba diamati.

Kembali lagi ke konsep judul tulisan ini. Banyak motivator yang memberikan nasihat positif berlagak romantis bahwa di zaman sekarang ini yang terpenting adalah tetap berpenghasilan, bukan berpenghasilan tetap. Katanya yang terpenting itu bukan menjadi pegawai tetap akan tetapi tetap berpenghasilan. Benarkah demikian yang realistis? Mari kita simak.

Konsep di atas ini tidak sepenuhnya salah, bahkan secara teoritis terlihat sangat benar. Tapi ada problem lain yang jarang diakui meskipun sebenarnya sangat mudah dirasakan. Konsep kapitalis memberlakukan regulasi hubungan industrial antara pengusaha dan pekerja berbasis kontrak ini menyisakan PR yang tak kunjung ada jeluntrungnya.

Dari sisi pengusaha memang benar, kontrak adalah bentuk perwujudan dari cara agar SDM selalu kompetifif sepanjang waktu. Tapi dari sisi pekerja, model kerja berbasis kontrak ini memunculkan isu modern hari ini bernama mental health issue. Kompetisi di tengah pekerja tidak jarang menjadikan nurani kemanusiaan menjadi pekat hitam gulita sehingga seringkali halal darah teman atau saudaranya sendiri. Terasa kan?

Mulai bisa dipahami kah arah opini ini? Ya benar, secara teori model kerja berbasis kontrak akan fully menguntungkan bagi kapitalis. Tapi fakta terpendamnya iklim kerja akibat dari regulasi itu memunculkan problem bernama high turn over dan toxic environment, yang sesungguhnya jika dipahami betul hal ini lah yang menjadi penghambat laju pertumbuhan dan perkembangan SDM. Muaranya rendahnya produktifitas.

Tapi sayang seribu sayang, realita yang tidak ketara ini seringkali diabaikan. Karena muara dari bisnis adalah cuan, uang. Maka regulasi terbaru yang dirancang di lima tahun terakhir ini justru semakin lebih parah dari sekedar itu. Sederhana saja, kalau bisa level managerial dikontrak by lembaga outsource, why not? Kira-kira begitu redaksional usulannya, dan ini akan terus diproduce oleh pihak yang berkepentingan. Yakin deh.

Lalu bagaimana menyikapi ini semua. Perbanyak piknik dan hiduplah sesantai mungkin, dalam segala aspek kehidupan. Bekerjalah untuk tetap hidup, sederhana saja. Jangan hidup untuk bekerja, nanti kalau menderita tipes atau TBC ya kalian akan diafkir dan digantikan tenaga baru. Lho berarti ini menggembosi loyalitas dong?

Ya terserah opinimu, wong opini dan sudut pandang itu sejatinya bersifat bebas merdeka. Kalau pun harus ada limitasi, ya limitasinya kan perasaan orang lain yang harus dijaga. Palingan begitu. Pesan terakhirnya, ayo jangan berhenti untuk tetap investasi leher ke atas. Kepalanya diisi dengan hal-hal baik agar laku kehidupan juga semakin mendewasa dan vibes auramu positif.

Salam dari Situbondo. Selamat hari buruh.

Robi Cahyadi (Aktif menulis dan menyuarakan opini di laman pribadi (ciyeilah) agar menghasilkan uang).

Saturday, April 26, 2025

OPINION: MALANG SHOULD BE SPLIT

In my mind and opinion, I still hope that one day Kab. Malang was expanded again into at least two new districts.

1. District South Malang (center city in Kepanjen)

2. District North Malang (center city in Singosari)

This is about accelerating of development resources, about the great potential for administrative and bureaucratic efficiency. District Malang is currently too big to be handled by one central government in Kepanjen.

3 sub-districts separated on the west side of Batu City, namely Pujon, Ngantang, and Kasembon should join the administrative area of ​​Batu City. To make it simple.

Meanwhile Dau, Karangploso, Singosari, Lawang, Jabung, Pakis, Wagir, Tumpang, Poncokusumo join North Malang Regency as new district.

The remaining dozens of sub-districts in the south of this area join South Malang Regency. Such as Ampelgading, Dampit, Turen, Tirtoyudo in the east side and Kalipare, Pagak, Donomulyo and Sumberpucung in the west side. Interesting, isn't it?

At most, the grassroots (lower class) only question, if there are two Malang districts, then which district does AREMA FC belong to? That's the most social problem. Well, it can still be mitigated from the start.

Eh, there is a suggestion from the Malang elder, my senior Mr. Yudi Widianto, that the east side also be made into its own district centered in Turen. Look okay?

Fun fact:

The largest sub-district in Malang Regency is Sumbermanjing Wetan (Sumawe) sub-district.

So does Sumawe have an opponent? Sumalon (Sumbermanjing Kulon) for example? Apparently there is, but it is not at the sub-district level. Sumalon is only at the village level in Pagak District.

Someone asked, the South Malang area is so far away from the manufacturing industry so that the poverty rate is quite high. If it is expanded, what will the southern region hope for?

Lho, lho, lho don’t worry. Where does this country's foreign exchange (TKI/TKW) come from if not South Malang? Not to mention the potential of the coastline, not to mention the sound horeg. Be optimistic about tourism, yo pora?

Saturday, March 8, 2025

EXPERIENCE: Belanja di Pasar Lawang

Seminggu sekali saya dan istri ke pasar Lawang untuk membeli pisang kesukaan Fiyo dan Val. Saya punya langganan, mbah tua yang berada di pojok ujung pertigaan selatan pasar sering menjadi tujuanku.

Pisangnya fresh dan tentunya murah meriah, satu cengkeh alias satu sisir hanya 15 ribu saja. Terkhusus buat ndulang gendukku bisa bertahan semingguan. Hemat dan tentu menyehatkan bukan?

Selain pisang, mbah tua ini juga jualan buah lainnya seperti nanas, pepaya, dan sejenisnya. Saya salut dengan usianya yang tidak muda, mbah ini konsisten berjualan sepanjang waktu di pagi hari di saat ramainya pasar.

Saya membayangkan, di era yang anak-anak muda saat ini ndak gelem buka lapak dan bakulan di pasar. Kira-kira siapa ya generasi 10 tahun mendatang yang akan jualan di pasar? Pasar isinya pedagang sepuh-sepuh semua saat ini.

Padahal sudah banyak cerita manusia-manusia sukses di seantero negeri ini, kesuksesannya berkat hasil jerih payah orang tuanya yang bakulan di pasar. Pasar tradisional adalah urat nadi rakyat jelata, seyogyanya mendapatkan tempat perhatian extra.

Lawang, 9 Februari 2025

Wednesday, January 15, 2025

EXPERIENCE: KALI UMPRIK DI DESAKU

Dahulu musim hujan dan musim banjir kali umprik seperti ini, di sepanjang Karangdoro dusun tempat kelahiran saya, ada beberapa orang yang mendadak punya profesi baru yaitu bikin anjungan di pingir kali dan melek semalaman untuk ngayap ikan. Mencari penghasilan tambahan dari menangkap ikan sungai.

Ada almarhum mbah Kadis

Ada almarhum mbah Atim

Ada makde Tamar

Ada mbah Kandut

Ada yang muda seperti pak Suroso dan Kambali

Dan masih banyak yang lainnya

Mereka semua mendapatkan ikan ontentik dari kali sepanjang dusun Karangdoro itu yang konon diduga kuat ikan-ikan ini adalah hasil migrasi dari kali Brantas yang sedang meluap, banyak sekali jenis ikan yang didapatkan seperti; bethem, wader, tawes, garingan, kutuk, dll.

Almarhumah ibu saya suka beli ikan-ikan tersebut, kemudian memasaknya menjadi lauk yang nikmat dan bergizi bagi anak-anaknya, ikan yang kebetulan ada telurnya, telurnya sangat enak saat digoreng garing, ini kesukaan saya. Inilah barangkali salah satu sebab kenapa saya bermental sebaik ini, ciye.

Sayangnya itu semua hanya kenangan manis di zaman saya kecil, saat ini kita semua tidak bisa memberikan kenangan serupa kepada anak-anak kita. Alam saat ini sudah berbeda. Betul?

Karena kalinya angok atau asat ndak ada iwaknya, sumber daya iwak kali tak lagi populer seperti zaman 15-25 tahun yang lalu. Bahkan saat kita ingin mangan iwak kali, mungkin saat ini hanya bisa ditemukan di warung-warung wader dan uceng yang bercecer di beberapa jalan utama Kediri-Tulungagung-Blitar.

Ini bentuk nyata dari degradasi sumber daya alam, alam tidak lagi ramah dan memberikan dampak positif pada manusia. Kali menyempit akibat sedimentasi sampah, dan hal-hal buruk lainnya. Siapa aktor utama dari buruknya alam ini? Ya manusia, siapa lagi. Masa mau nyalahin dhemit.

Salam dari Malang untuk dulur-dulurku semua semoga senantiasa sehat selalu. Aamiin ☕️

Sunday, December 15, 2024

Opini: Pentingnya Self Reward

Sudah sejak 2011 saya menjadi bagian dari Fan FC Bayern München Indonesia. Setiap tahun saya tidak pernah melewatkan untuk memperbarui status membership saya. Saya mencintai Bayern dengan mendedikasikan sedikit uang dalam setahun untuk perkembangan komunitas fan di Indonesia.

Mungkin bagi sebagian orang yang tidak memahami pentingnya berkontribusi nyata dan resmi pada klub kesayangannya, menjadi member rutin tahunan seperti saya ini adalah hal sia-sia. Tapi tidak bagi saya, ini adalah hal bermanfaat yang terbukti memiliki dampak positif bagi kehidupan pribadi saya.

Anda mengenal self reward? Penghargaan pada diri sendiri, itulah target saya saat memutuskan untuk senantiasa menjadi member resmi FCBFI di setiap tahunnya. Saya mencoba menyayangi diri sendiri sebelum mengandalkan orang lain yang menyayangi saya. Begitu kira-kira dasar berpikirnya.

Lalu apa manfaat terbesar dari menjadi bagian resmi Fan FC Bayern Munchen Indonesia? Pertama tentu soal circle, saya menjadi memiliki circle yang satu visi dan misi yaitu mendukung Bayern berprestasi tiap tahunnya. Kedua, saya punya banyak teman di luar anda semua pembaca status ini. Teman-teman yang mayoritas cerdas dari kalangan menengah ke atas Jabodetabek, begitu pada umumnya.

Sampai kapan saya berhenti menjadi member fan Bayern Munchen? Sampai akhir hayat saya rencananya. Apakah ini berlebihan? Tentu saja tidak. Karena sesuai dengan prinsip kami yang teguh di dalam hati sepanjang waktu, bahwa kami adalah kami. Mia San Mia, berarti Gue ya Gue. Suka-suka gue. Sesederhana itu.

Malang, December 15th, 2024
Fan Bayern Munchen Indonesia

Tuesday, November 12, 2024

INDUSTRY: HACCP FOOD MANUFACTURING

HACCP adalah sebuah metode sistematis berbasis sains yang mengidentifikasi risiko bahaya tertentu dan tindakan pengendaliannya untuk memastikan keamanan dari produk pangan yang diproduksi. Berfokus pada pencegahan, HACCP dapat membantu perubahan termasuk merancang peralatan dan prosedur pengolahan.

Bahaya yang pada dasarnya ingin dikendalikan oleh sistem HACCP meliputi bahaya biologi atau mikrobiologis, bahaya kimia dan bahaya fisik, serta kadang-kadang ditambahkan bahaya histamin. Hal ini biasanya disebut “peluang bahaya” akan terjadi. Tim HACCP perlu mempertimbangkan segala kemungkinan (peluang) untuk setiap bahaya yang telah diidentifikasi.

Tujuan penerapan sistem HACCP adalah mencegah atau meminimalisir terjadinya kerusakkan produksi atau ketidakamanan pangan, yang tidak mudah bila hanya dilakukan pada sistem pengujian akhir produk saja. Dengan berkembangnya HACCP menjadi standar internasional dan persyaratan wajib pemerintah, memberikan produk memiliki nilai kompetitif di pasar global. Kira-kira begitu.

Bahaya fisik yang pada umumnya ingin dikendalikan dalam sistem HACCP adalah bahaya kontaminasi benda asing (foreign objects) khususnya metal. Salah satu alat terakhir yang diinstall dan diyakini mampu untuk mendukung proses produksi yang dapat mencegah kontaminasi metal adalah metal detector. Tapi sayangnya para user seringkali tidak memahami bahwa ada satu kaidah bahwa tidak semua metal dapat dideteksi.

Dalam ilustrasi di bawah dijelaskan bahwa ada tingkat kesulitan tertentu dalam mendeteksi object metal dengan metal detector. Secara teoritis non-magnetic metals seperti stainless steel (SUS) justru yang paling sulit dideteksi oleh metal detector. Padahal justru material SUS ini yang diyakini pula paling aman dari potensi karatan (rust) sehingga dipilih sebagai material nomor wahid yang umum digunakan untuk berbagai peralatan pendukung produksi pangan. Ironically. Menarik bukan?

Monday, October 7, 2024

RELIGI: MASJID JAWA TIMUR LAWAS

Tidak ada kubah dan memang sebenarnya ndak masalah walau tidak ada, saking masyarakat kita ini mudah minder sehingga di kemudian hari dan kini masjid selalu dipasang kubah dengan reason agar seperti masjid-masjid di timur tengah dan beberapa menganggap itu bagian dari bentuk mengikuti sunnah. Entah.

Dalam foto ini, tampak masjid tua yang berada di wilayah desa Temenggungan, kecamatan Udanawu, kabupaten Blitar. Sebuah wilayah yang nyaris sejengkal dengan desa Pelas, kecamatan Kras, kabupaten Kediri. Masjid ini bernama Baiturrokhman yang berarti rumah sang pengasih. Kira-kira masjid ini berdiri sekitar tahun 50-an.

Bentukan masjid tempo dulu selalu berciri khas demikian, bentuk atapnya adalah berupa limas bertingkat atau bersusun yang menampakkan kesan tinggi dan gagah. Tidak diperlukan kubah dalam konsep pembangunan masjid di Jawa tempo dulu. Atap limasan atau tajug ini sudah menjadi ciri khas yang sebenarnya menawan lagi istimewa jika diperhatikan.

Pun begitu dengan serambinya, bagian luar yang integral dengan bangunan tengah utama masjid. Bentukannya pun berupa selasar memanjang dengan atap limasan yang kadangkala bersusun dan berkonsep joglo (tajug loro). Menambah keindahan masjid secara utuh. Ini adalah wujud mahakarya arsitekur nusantara.

Pada dasarnya, konsep umum masjid Jawa tempo dulu adalah menjadikan ruang utama masjid terbagi dua, sebelah kiri untuk jamaah laki dan kanan untuk jamaah perempuan. Adapun serambi masjid Jawa tempo dulu pada umumnya dipergunakan untuk berbagai aktifitas seperti halnya mengaji, rapat takmir dan atau acara-acara keagamaan lainnya.

Kemudian dengan kamar mandi sekaligus tempat wudhlu di sebelah kiri untuk jamaah laki, pun begitu dengan sebelah kanan yaitu kamar mandi dan tempat wudhlu untuk jamaah perempuan. Kentongan besar dan bedug yang khas dari kulit sapi pada umumnya diinstal di pojok serambi masjid, bisa di kiri atau di kanan. Sangat indah.

Halaman masjid di kampung-kampung pedesaan Jawa yang mayoritas cukup luas tentunya dapat dijadikan berbagai fungsi positif bagi jamaahnya. Mulai dari fungsi lahan parkir, lahan pengajian umum tahunan, lahan untuk agenda rutin tahunan seperti saat merayakan malam takbiran atau sebagai lokasi penyembelihan hewan qurban saat Idul Adha datang. Begitu kira-kira gambaran umumnya.

Namun dewasa ini, akibat pengaruh pemahaman beragama yang semakin luas dan global. Pembangunan masjid baru-baru ini sudah tidak lagi menggunakan konsep limasan berserambi seperti nampak pada foto ini. Kini masyarakat umumnya lebih menyukai desain ketimur-tengahan, desain kotak dengan atap berkubah besar adalah impian masyarakat hampir di banyak wilayah.

Begitu kira-kira sekelumit wajah baru perubahan sosial budaya masyarakat Jawa pada umumnya. Diakui atau tidak, perlahan pola sosial dan budaya masyarakat selalu berubah seiring dengan perkembangan zaman. Tentunya penulis berharap masjid klasik nan indah seperti masjid Baiturrokhman di foto ini, masih terus eksis di tengah gempuran arsitektur timur tengah yang katanya lebih modern itu.

Pelas, Kras, Kediri, September 2024

Sunday, September 8, 2024

FAMILY: AKU ADALAH CUCU PROLETARIAN

Kakekku dari garis ibu bernama Mustad, beliau adalah anak dari Mbah Sonorejo yang asal usulnya dari daerah Kedungwaru, Tulungagung. Aku tidak pernah tahu secara detail tentang Mbah Sonorejo, yang aku tahu dari cerita ibu, beliau adalah kakek ibuku yang artinya beliau adalah mbah buyutku.

Meski begitu, yang cukup banyak ku ketahui adalah tentang kakekku dari jalur ibu, beliau bernama Mbah Mustad. Aku masih cukup ingat betul tentang masa tua beliau mengingat beliau dipanggil menghadap Tuhan YME saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar di mana di usia itu ingatan dan kesadaranku sudah cukup baik karena mendekati aqil baligh.

Mbah Mustad adalah piyantun alit sosok yang sangat bersahaja dan pekerja keras, sebagai seorang generasi yang lahir sebelum negeri ini merdeka tentu Mbah Mustad telah banyak mengalami liku kehidupan yang sangat getir juga pahit. Beliau menikahi nenekku Mbah Yupiatun dan setidaknya saat ini tercatat sudah memiliki puluhan cucu termasuk aku, sarjana teknik mesin yang kini menjadi kelas pekerja.

Menurut keterangan ibuku, Mbah Mustad sedari muda sangatlah tampan untuk ukuran orang zaman itu. Perawakannya tinggi dan hidungnya sangat mancung. Mbah Mustad bekerja sangat keras layaknya orang Jawa pada umumnya, beliau bekerja menggarap ladangnya sendiri dan tentunya juga menjadi buruh bagi majikan atau para tuan tanah di desa masa kecilku. Menggarap sawah sendiri sekaligus menjadi buruh ini lumrah dilakukan oleh orang yang sawahnya memang sepetak saja, kira-kira begitu kiasannya.

Pada suatu sore saat aku hendak berangkat mengaji di TPQ yang ada di desaku, tepatnya di rumahnya H. Jamil Mustofa. Aku tidak sengaja bertemu dengan Mbah Mustad, mbahku yang sedang ku narasikan dalam tulisan pendek ini. Saat melalui sebuah jalan kecil yang biasa kami sebut dengan “dalan etan” di desaku, menuju TPQ tepatnya di kebun nanas samping selatan rumahnya Pak H. Wahid juragan kecap, Mbah Mustad bekerja di sore hari yang rindang di sana.

Apa yang dikerjakan oleh beliau? Beliau bekerja mendongkel oyot barongan (akar pohon bambu). Ini tentu adalah pekerjaan super berat, heavy duty work. Mustahil hari ini anak muda yang gagah berotot sekalipun berani mengambil job membongkar oyot barongan. Ada banyak resiko dalam pekerjaan ini, resiko terburuk adalah tidak pernah tahu apakah ada ular berbisa yang sewaktu-waktu menyerang atau barangkali jin penghuni barongan marah dan menyurupinya.

Di usianya yang tidak lagi muda, Mbah Mustad melakukan pekerjaan ini dengan riang dan gembira. Keriangan dan kegembiraan itu tampak melalui lintingan tembakau yang mengepul asap di mulutnya. Tanpa mengenakan pakaian atasan, bermodalkan sebuah cangkul, bedog dan prekul beliau melakukan pekerjaan kasar penuh tantangan ini. Saya mengamatinya langsung, bukan diceritai.

Membekas di hati terdalamku sebagai cucu beliau, bahwa jangan-jangan itulah hakikat dari tanggung jawab seorang laki-laki. Yaitu secara sungguh-sungguh bekerja dalam rangka memperjuangkan kebahagiaan keluarga. Sewaktu kecil itu, aku tak sepenuhnya sadar bahwa itu adalah wujud kemurnian perjuangan. Menginjak dewasa dan hari ini aku semakin sadar bahwa itu adalah teladan tak ternilai yang pernah ku dapati.

Mbah Mustad memberikan teladan yang epik dalam hidupku, meski tidak sampai dewasa aku bersama dan menjumpainya tapi ingatanku cukup bagus untuk mengenang dan dengan jujur merawikan sedikit kisah heroiknya. Kalau dipikir-pikir, saat itu barangkali usia beliau di kisaran 70-an, tapi masih bersedia bekerja sekeras itu. Demi apa dan siapa? Silakan direnungkan.

Lalu, jika cucu-cucunya khususnya diriku kebanyakan mendahulukan sambat dan mengeluh atas keadaan saat ini. Sungguh betapa malu seharusnya diri ini. Dari Mbah Mustad, kakekku di jalur ibu aku mentasbihkan diri bahwa aku adalah seorang cucu proletariat (baca: worker class). Orang-orang pejuang kebahagiaan hidup yang tak kenal lelah sampai akhir hayatnya. Semoga ini adalah jalan menuju surga-Nya.

Alfatihah untuk Mbah Mustad, juga Ibuku. Aamiin 🤲🏽

Sunday, August 18, 2024

INDUSTRY: MENTAL SILO PENGHAMBAT BISNIS

Adakah rekan kerjamu yang cenderung enggan berbagi informasi seputar pekerjaan atau urusan kantor? Atau, apakah malah kamu yang cenderung bersikap seperti itu? Hati-hati, ini adalah pertanda dari silo mentality.


Mental seperti ini biasanya muncul dari rasa kompetitif di antara rekan kerja. Sayangnya, memiliki mental seperti ini dapat memberi dampak buruk bagi pekerjaan. Bahkan lebih luas lagi bagi bisnis perusahaan secara umum.


Lebih buruknya lagi, mental ini juga dapat memberi efek negatif pada budaya kerja di perusahaan, lho. Percaya atau tidak budaya mental silo ini sangat destruktif bagi pelakunya dan banyak pihak di lingkungannya.


Apa saja ciri-cirinya dan bagaimana cara menghindarinya? Yuk, cari tahu selengkapnya dalam artikel berikut!


Definisi Silo Mentality


Menurut Investopedia, silo mentality adalah keengganan untuk berbagi informasi dengan karyawan dari divisi yang berbeda di dalam perusahaan yang sama.


Kata silo awalnya mengacu pada wadah penyimpanan hasil pertanian. Namun, istilah ini sekarang digunakan sebagai metafora untuk entitas terpisah yang menyimpan informasi tertentu.


Dalam bisnis, silo mengacu pada divisi yang beroperasi secara independen dan menghindari berbagi informasi.


Ini juga mengacu pada bisnis yang departemennya memiliki aplikasi sistem silo, di mana informasi tidak dapat dibagikan karena keterbatasan sistem.


Umumnya, mental silo ini terjadi akibat kompetisi antar manajer yang kemudian menyeret anggota timnya. Akibatnya, lingkungan dan budaya kerja dapat berubah menjadi toxic.


Mental seperti ini juga memberi dampak negatif pada politik kantor.


Dampak silo mentality


Dikutip dari Indeed, jika tidak segera diatasi, berikut adalah beberapa dampak dari silo mentality di tempat kerja.


1. Mengurangi produktivitas

Salah satu dampak dari tumbuhnya mental silo dalam budaya kerja adalah adanya perbedaan kepentingan individu dan perusahaan.


Adanya perbedaan cara pikir dan kepentingan inilah yang mengakibatkan berkuranganya produktivitas kerja.


Jika setiap divisi hanya berfokus kepada kepentingannya masing-masing, akan sangat sulit bagi perusahaan untuk mencapai tujuan bersama.


2. Menurunnya moral

Pekerja dengan mental silo akan merasa frustasi karena kurangnya komunikasi dan terjadinya persaingan tidak sehat antar divisi serta manajemen.


Penurunan moral ini juga berdampak pada berkurangnya kinerja serta meningkatnya kemungkinan resign.


3. Berkurangnya kepuasan pelanggan

Cara berpikir silo atau silo thinking bukan hanya berdampak pada internal perusahaan melainkan juga eksternal atau pihak klien/pelanggan.


Kurangnya kolaborasi antar tim produk dan layanan yang tidak maksimal, sehingga konsumen jadi tidak puas.

Sunday, August 4, 2024

RELIGI: FENOMENA JILBAB DI KALANGAN PELAJAR

Oleh: Robi Cahyadi

Tulisan singkat ini penulis dedikasikan untuk diri sendiri yang sedang resah dan berkecamuk dalam pikiran tentang fenomena masifnya pengenaan jilbab di kalangan pelajar. Tidak ada tendensi apapun dalam tulisan ini selain otokritik atas pemahaman penulis terkait jilbab di kalangan pelajar dewasa ini.

Dalam konsistensi pemahaman penulis, jilbab adalah uniform yang seharusnya tidak wajib dikenakan oleh pelajar level sekolah dasar, menengah pertama hingga menengah atas. Penulis tidak mengharapkan sanggahan atas pemahaman ini karena hemat penulis ini adalah fundamental dalam kaidah kemerdekaan berpikir.

Penulis mencoba flashback sekitar lima belas tahun lalu di era sekolah menengah penulis. Di waktu itu penulis mengalami dengan sendiri bahwa secara faktual penggunaan jilbab di kalangan pelajar adalah minoritas. Mayoritasnya pelajar di era itu tidak mengenalan jilbab. Barangkali hanya pelajar Madrasah Tsanawiyah atau Aliyah yang mengenakannya karena tuntutan regulasinya.

Akan tetapi untuk pelajar sekolah negeri atau pun swasta yang sekolahnya tidak terafiliasi pada Depag (Departemen Agama) dan Islam tidak diatur tentang pengenaan jilbab. Pelajar waktu itu bebas memilih uniform yang ia kenakan tentunya tetap dengan requirements yang sekolah tetapkan.

Dewasa ini, saat penulis amati dengan seksama ternyata budaya lima belas tahun yang lalu itu sudah bergeser. Culture saat ini adalah manjadikan jilbab sebagai uniform normal di semua jenjang sekolah. Bahkan jika boleh claim, saat ini justru sebaliknya yaitu yang berjilbab menjadi mayoritas dan yang non jilbab menjadi minoritas.

Apakah ini pertanda baik? Dari mana justifikasi bahwa ini adalah pertanda baik? Dua pertanyaan dasar ini akan sangat sulit dijawab seketika karena memerlukan perdebatan argumen dan perselisihan pemahaman yang tentunya tidak mudah diadili siapa yang berada dalam posisi benar.

Pada faktanya, hari ini sudah berbeda dengan lima belas atau bahkan dua puluh tahun lalu. Yang ingin penulis tekankan adalah bahwa perubahan culture dalam masyarakat itu nyata adanya dan kita dituntut untuk agile atas kondisi itu. Penulis lebih memilih kata agile dibanding adaptif, karena adaptif lebih permisif dibanding agile.

Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang membuat fenomena perubahan culture ini terjadi di tengah masyarakat? Tentu tidak lain tidak bukan adalah pemahaman atau firkah (pemikiran) akan suatu value dalam kehidupan beragama. Barangkali masyarakat atau umat saat ini semakin sadar bahwa jilbab adalah kewajiban? Ini pun menurut penulis sangat debatable.

Kembali ke soal sejarah perubahan budaya dalam uniform pelajar. Kita coba runut ke belakang lebih jauh. Kita mahfum di era pra-kemerdekaan yaitu eranya Kartini, bagaimana uniform pelajar pribumi waktu itu? Pakai kebaya yang dibarengi masih memperlihatkan kemolekan tubuh waktu itu barangkali sudah sangat sopan dan penuh value. Betul?

Kemudian setelah era post-kemerdekaan yaitu era orde lama dan order baru, jika kita amati foto-foto orang tua khususnya ibu kita (barangkali) saat jadi pelajar. Mereka mayoritas mengenakan uniform rok pendek dan tanpa jilbab. Sekali lagi, sampai berakhirnya orde baru style-nya masih demikian dan ini menjadi uniform mayoritas.

Pergeseran mulai merangkak terjadi di era reformasi, setelah tumbangnya rezim orde baru. Berbagai arus informasi yang keluar masuk di negeri ini menjadikan masyarakat kita kaya akan firkah (pemikiran atau pandangan). Salah satunya yang giat menginfiltrasi umat adalah pandangan agamawan bahwa jilbab adalah suatu kewajiban.

Di titik inilah mula dari perubuhan culture yang penulis jelaskan di awal-awal tulisan ini. Kekuatan giringan pandangan ini lah yang menjadikan pelajar hari ini baik di sekolah negeri atau swasta yang tidak terafiliasi pada islam sekalipun ikut terbawa arus deras yang penulis sebut sebagai “fenomena perubahan”. Ya, hari ini jilbab dipakai hampir di segala jenjang sekolah.

Bahkan tidak sedikit juga pelajar yang sebenarnya non-muslim dan tidak ingin mengenakan jilbab atau pelajar islam sekalipun yang ekspektasinya adalah merdeka dalam pemilihan uniform, menjadi terpaksa mengikuti gerakan perubahan culture yang dikomandoi oleh mayoritas. Yaitu berjilbab di sekolah dan akan tetapi menanggalkannya saat di kehidupan luar sekolah.

Sekali lagi, seperti yang penulis jelaskan di awal bahwa ini adalah otokritik atas pemikiran penulisan pribadi. Bahwa ternyata the power of majority movement itu benar nyata adanya. Yang minoritas seringnya akan kalah terseret arus oleh yang mayoritas. Terlepas itu hanya trend dan masifnya pengenaan jilbab oleh pelajar di semua jenjang sekolah tidak selalu linier dengan kebaikan akhlaknya.

Apakah pernah diukur secara kuantitatif dan kualitatif untuk obyektif menyimpulkan bahwa kalimat terakhir tepat di paragraf atas barusan terbukti? Boleh untuk direnungkan. Yang pasti, penulis tidak cukup mampu berlogika dan bernalar jika ada sekolah negeri milik pemerintah yang tidak terafiliasi pada ajaran agama tertentu, yang seharusnya netral dari pewajiban berjilbab lantas membuat regulasi mewajibkan. Semoga tidak ada yang demikian.

Waallahualam bhissowab.

Malang, 25 Juni 2024

Tuesday, June 11, 2024

MANUFACTURING: LEARN ABOUT HOW AVOID MISTAKES

Tips to reduce the likelihood of making mistakes at work

Here are some tips you can use to reduce the chances of making more errors at work:

1. Give your work full attention at optimal times. Depending on your personal energy levels, structure your day so you're working on your highest-priority tasks when you feel most energized. Another strategy is to work on these projects during the time in your day when others are least likely to disturb you.

2. ⁠Double-check all communications and presentations. The more you get in the habit of checking for errors before clicking the "Send" button in chat or email, or printing documents for others to read in a meeting, the more assurance you can have that your communications are error-free.

3. ⁠Create checklists. A checklist can help you avoid making mistakes, especially for more repetitive tasks. Once you have a process in place, follow the specific steps on your list each time you complete that task.

4. ⁠Review your work. Each time you're done with a task or process, especially high-priority work, review it for mistakes. If possible, take a break from the project before reviewing it for the final time so you can more successfully identify errors later.

5. ⁠Take breaks. Take a break from work every 90 minutes to two hours to increase the likelihood of error-free work. Try to take a break away from your workspace to fully disengage from your responsibilities.

6. ⁠Eliminate distractions. When you're working on high-priority tasks, put your phone away, close your email and unnecessary browsers and put any work-related messenger apps on "do not disturb" mode. Keep a pen and notepad available to write down any unrelated thoughts to help you stay on task.

7. ⁠Ask questions. When you start a new job or begin a new project, ask questions so you can fully understand your role. Learning more about your duties and the steps you're planning to take can help you eliminate the possibility of making errors.

8. ⁠Create a detailed schedule. To ensure you meet deadlines, use a calendar that outlines everything you plan to do in a day, week and month. You can even schedule your hours so you spend the right amount of time on each task.

Sunday, May 5, 2024

RELIGI: MENYOAL KERAMAIAN ANAK DI MASJID

Anak adalah salah satu anugerah yang sangat spesial bagi para orang tua, is it right? Tentu sudah sangat benar sekali jika setiap orang tua punya himmah (gegayuh atau cita-cita), menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan mengenal Tuhannya.

Bahkan dalam sebuah hadist nabi juga dijelaskan bahwa salah satu dari ke tiga amal jariyah, yaitu amal yang pahalanya tidak akan terputus sepanjang waktu adalah anak-anak yang sholeh sholehah. Do you understand well with this rule?

Lalu sebagian kecil dari pada banyak upaya yang dilakukan orang tua dalam berharap kesholeh-sholehahan anak-anaknya adalah mengajaknya dalam ritual peribadatan. Sederhananya diajak dan dikenalkan beribadah sholat di masjid atau langgar (mushola).

Tapi sayang seribu sayang, niat baik para orang tua tersebut tidak selalu selaras dengan pemikiran atau harapan orang tua yang lainnya. Saat anak-anak yang belum aqil baligh tersebut kemudian bercanda dan banyak tingkah saat ritual ibadah berlangsung, di sini letak persoalannya.

Tidak sedikit orang tua lain justru terganggu dengan adanya anak-anak yang riang gembira bercengkerama secara naluriah fitrah bersama teman seusianya. Mereka yang ingin mendapatkan kekhusyukan dalam beribadah tentu akan sangat murka hatinya, tidak jarang sampai harus mengeluarkan umpatab dan hardik kepada anak-anak kecil itu.

Lalu bagaimana islam yang ajarannya diwakili oleh para alim ulama’ saat ini memandang dan menjawab persoalan ini? Bukan alim ulama’ jika tidak bisa memberikan solusi atas persoalan sederhana ini. Mari kita renungkan bagaimana persoalan ini mendapatkan solusinya.

Jika merujuk pada sejarah yang ada, anak kecil di masjid sudah lazim sejak zaman Rasulullah SAW. Perilaku anak pada zaman itu juga tidak berbeda jauh dengan zaman ini, sama-sama suka bermain. Tidak ada kondisi dan penjelasan khusus bahwa anak-anak di zaman nabi lebih pendiam dan anteng. Namun, bagaimanakah baginda Nabi Muhammad SAW menyikapi mereka di masjid?

Terkait hal ini, Abu Qatadah RA menuturkan, “Aku melihat Rasulullah SAW mengimami shalat sambil menggendong cucunya, Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya” (HR Bukhari dan Muslim).

Berangkat dari satu hadist ini para ulama’ kita menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW pun ternyata membawa anak kecil ke masjid. Namun, beliau bertanggung jawab dan tidak lepas tangan. Beliau pegangi cucunya, bahkan beliau gendong agar tidak mengganggu jamaah yang lainnya. Ini!

Pun begitu dalam riwayat yang lain, Syaddad RA mengisahkan, di suatu shalat Isya, Rasulullah SAW datang sambil membawa cucu beliau, Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad RA mengangkat kepalanya untuk mencari tahu.

Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul SAW saat beliau sujud. Syaddad RA pun kembali bersujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, "Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu".

Rasulullah SAW menjawab, “Bukan itu yang terjadi, tapi tadi cucuku (antara Hasan atau Husain) menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas” (HR Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim).

Walhasil, kesimpulannya adalah bagi orang tua yang membawa serta anaknya ke masjid harus bertanggung jawab atas tingkah polah mereka. Bertugas untuk mengondisikan dan memberikan pengertian kepada anak. Namun, proses pendidikan itu harus dilakukan dengan penuh kelembutan dan kesabaran hati.

Dengan demikian, diharapkan anak-anak tidak kapok untuk berangkat ke masjid atau majelis taklim. Pada waktu yang sama, keberadaan mereka juga tidak membuat jamaah lainnya terganggu kekhusyukannya dalam beribadah.

Segamblang itu masih sulit dipahami kah? Jika sulit, tidak lain tidak bukan barangkali sujudmu kurang lama sehingga menyebabkan kebaikan hatimu tidak turun ke isi kepalamu (logikamu). Semoga tulisan ini menjadi sebab dibukakannya pemahaman yang luas sehingga mengarifkan hati kita semua para orang tua. Aamiin.

Wallahualam bhissowab.

Malang, 9 April 2024
Robi Cahyadi

FAMILY: BABAK AWAL USIA PERNIKAHANKU

Tidak terasa pernikahan kami sudah lebih dari lima tahun lamanya. Katakanlah usia hidup kami mampu menembus 70 tahun, artinya usia pernikahan kami baru setara sekitar 18 menit babak pertama sebuah pertandingan sepak bola full time.

Artinya masih sangat jauh untuk menuntaskan peluit panjang babak kedua berakhir yaitu di menit 90. Belum lagi jika masih harus dapat injury time yang dewasa ini dalam pertandingan sepakbola seringnya melebihi 5 menit per babak. Atau jika ternyata berlanjut ke babak adu pinalti, akan semakin panjang jalan menuju kemenangan itu.

Lima tahun lebih menuju ulang tahun ke enam pernikahan yang tentunya penuh drama dan lika-liku. Mulai dari bagaimana memahami apa yang seringkali dia inginkan atau pun dia memahami keinginan saya untuk tidak mengajak bicara sedikit pun saat saya baru sampai rumah dari bepergian.

Perjalanan masih akan sangat panjang, mustahil dengan komitmen yang kecil sebuah pernikahan dapat langgeng sampai ke duanya dijemput ajal. Pernikahan memang butuh komitmen yang sangat luar biasa, tidak boleh kita meremehkan perihal ini.

Pernikahan adalah ibadah yang barangkali menjadi ibadah terpanjang dalam hidup manusia khususnya penganut islam. Dijelaskan dalam islam bahwa “barang siapa menikah maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah kepada Allah swt pada separuh yang kedua”.

Dalam bahtera pernikahan pasti selalu ada masalah dalam rumah tangga bahkan seringnya yang bersifat unpredictable dan itu membutuhkan manajemen konflik yang berkesinambungan. Jika berhasil menghadapinya dengan baik maka itulah ibadah. Itulah esensi kenapa pernikahan dikatakan sebagai ibadah terlama.

Tindak tanduk dalam rumah tangga mengandung dua konsekuensi logis yaitu pahala dan dosa. Sebut saja istri dengan riang menyiapkan makanan tapi suami enggan menyantapnya, jika istri kecewa itu tentu akan menjadi kutukan bagi suami. Pun begitu jika suami ingin dibuatkan segelas kopi tapi istri ngersula tidak ikhlas, Allah SWT niscaya murka.

Semoga kami diberikan kekuatan lahir dan batin untuk terus berkomitmen, untuk selalu siap mitigasi dan mengelola konflik di dalam ikatan pernikahan ini. Semoga keberkahan-keberkahan dan ridhlo Allah SWT senantiasa menyertai. Aamiin. 🤲🏽

Saturday, March 9, 2024

RELIGI: MENATA HATI MENYAMBUT RAMADHAN

Ramadhan merupakan salah satu momentum untuk mengeliminasi keruwetan dalam hidup kita. Keruwetan yang dimaksud di antaranya adalah kesumpekan hati, kecupetan pikiran, bahkan hingga sempitnya rezeki yang sangat kita nantikan terpecahkan hari demi hari.

Ramadhan sebentar lagi datang dan menemani hari-hari kita dalam kurun waktu sebulan mendatang, apa yang harus dipersiapkan dalam rangka menyambut bulan suci ini? Sirup, kurma, jajanan, atau stok bahan makanan kah?

Bukan, bukan itu yang harus dipersiapkan. Badokan dan cekekan semacam itu hanya kebutuhan printilan saja di bulan ramadhan yang mulia nanti. Persiapan terpenting adalah hati dan keseriusan dalam menatap bulan suci itu sendiri.

Kenapa hati harus dipersiapkan? Ini berkaitan erat dengan niat, segala ibadah seyogyanya dilandasi niat dan niat itu adanya di dalam hati sanubari. Dari niat yang tulus dalam hati berharap lahirlah keseriusan dalam beribadah di bulan suci nanti.

Itulah kenapa mbah-mbah kita dulu mengajarkan ritual bernama “tidur” sehari menjelang ramadhan. Membersihkan mushola atau langgar yang akan dijadikan sentra pencarian maghfirah, menabuh bedug sepanjang hari dengan niat tulus dan bahagia menyambut ramadhan.

Apakah budaya “tidur” menabuh bedug dengan pukulan rancak yang indah didengar khas islam mataram ini sudah punah di tengah gempuran masyarakat yang semakin modern dan cinta duniawi? Entahlah. Patut kita simak nasih selanjutnya.

Yang pasti banyak di antara kita yang hanya melewatkan kemuliaan-kemuliaan bulan ramadhan begitu saja tanpa mendapatkan benefitnya. Senang dan riuh dengan segala romantisasi bulan ramadhan, tapi sebenarnya hati dan pikiran kosong tidak terisi kebaikan apapun.

Padahal kita tahu, bulan ramadhan dikenal dalam islam sebagai bulan penuh maghfirah (ampunan Allah SWT). Jika kita para pendosa ini menyeriusi datangnya bulan ramadhan dengan niat, bukankah semakin besar peluang mendapatkan maghfirah yang endingnya adalah kelancaran hidup kita?

Wallahualam bhissowab…

Malang, 9 Maret 2024
Bapaknya Val

Saturday, February 10, 2024

FAMILY: PENDIDIKAN ANAKKU PENDIDIKANKU

Pernikahan itu melahirkan diskusi tiada henti antara suami dan istri. Salah satu diskusi yang tidak bisa dilewatkan adalah ngobrolin soal pendidikan anak. Meski anakku masih kecil, tidak jarang aku dan ibunya Val sudah ngomong basa-basi soal nanti Val sekolah di mana hingga saat besar harus kuliah apa dan di mana. Mungkin terlalu dini ya ngomonginnya, tapi ini realita yang tidak bisa dicegah.

Membersamai tumbuh kembang anak merupakan idaman setiap orang tua tidak terkecuali seorang ayah termasuk diriku. Jika masa kecilku dulu tidak terlalu banyak dibersamai oleh ayah karena beliau saking sibuknya bekerja, maka aku saat ini sebagai ayah tidak ingin mengulang masa lalu itu terjadi pada anakku.

Seorang ayah, pada umumnya gak patek ngreken perihal pendidikan anak, pendidikan anak lebih dibebankan pada sisi ibu. Kalau dipikir mendalam, mungkin itu sudah tidak relevan lagi di era yang seharusnya generasi seusia kami punya cara pandang berbeda dengan orang tua terdahulu. Sebagai ayah tidak perlu malu dan canggung untuk sekedar join dengan ibu-ibu lain nungguin anaknya sekolah.

Waktu akan terbang begitu singkat, itu adalah kepastian yang tidak dapat dihindari oleh manusia. Prinsip itu yang menjadikanku sadar betul bahwa membersamai tumbuh kembang dan pendidikan anak adalah bagian dari rencana hidup dan daily basis yang tidak bisa diwakilkan. Bagiku ayah memiliki peran yang sama dengan ibu dalam memplaning dan mengontrol pendidikan anak.

Terlepas ada dogma yang menyatakan bahwa madrasah diniyah seorang anak adalah ibunya sendiri, tentu tidak akan salah jika ayah juga turut andil lebih jauh dan ‘kepo’ soal hari-hari belajar anaknya. Kuncinya adalah tetap kompromi dengan ibunya yang besar kemungkinan lebih tahu apa bakat terpendam anaknya. Semoga gendukku mendapatkan jaminan pendidikan tertinggi melebihi ayah ibunya, aamiin.