Monday, July 13, 2026

OPINION: SEKOLAH DASAR ANAKKU

Tak terasa anak sulungku sudah memasuki sekolah dasar, semoga dia senantiasa sehat selalu dan semangat belajar di bangku sekolah dasar ini. Sebagai ayah saya selalu berkomitmen untuk mendampingi tumbuh kembang anak-anakku.

Banyak tetangga, kerabat, teman yang bertanya kenapa kok masuk sekolah dasar negeri. Bukan dimasukkan ke sekolah dasar swasta islam terpadu yang kekinian itu. Yang katanya hari ini pendidikan terbaik berada di sekolah dasar swasta yang IT-IT-an itu. Yang Cambridge curriculum dan Montessory itu? Mbuh ndak paham saya dengan paradigma manusia hari ini.

Jadi begini ceritanya, saya dan istri memang sempat silang pendapat soal sekolah anak. Istri sudah sempat ambil slot kursi di sekolah dasar swasta islam terpadu yang cukup bagus dan mahal di wilayah Lawang. Tapi saya berikan opini lain yang membuka jalan pemikiran kami berdua.

Betul saya sepakat pendidikan anak sebaik-baiknya adalah dicarikan yang terbaik. Betul saya ndak menyangkal itu. Tapi baik yang dimaksud itu yang bagaimana? Pada akhirnya baik dan tidak baik itu soal sudut pandang bukan? Peran orang tua di rumah tetaplah menjadi core-nya saya kira. Ini yang paling relevan.

Saya berasumsi bahwa sekolah dasar negeri yang berkurikulum standard nasional ini ya sudah cukup baik dan basic sekali untuk pemenuhan pendidikan anak. Basic-nya terpenuhi kok, bukan yang jelek-jelek amat seperti stigma manusia hari ini yang pada dasarnya haus validasi. Soal ingin mendapatkan pembiasaan belajar yang lebih kompetitif, masih ada les-lesan yang support.

Saya juga berikan gambaran bahwa pendidikan anak tidak terhenti di sekolah dasar saja, bahkan tentunya saya punya cita-cita luhur bahwa anak-anakku harus dapat menempuh pendidikan setinggi mungkin melebihi ayah dan ibunya.

Jika ayahnya hanya sarjana dan ibunya pasca-sarjana, maka anakku ku harapkan melampaui itu. Boleh kan bermimpi sedini mungkin? Kenapa tidak. Saya ingin sekali dia mendapatkan previllege di masa remajanya nanti dengan sekolah setinggi dan sebaik mungkin. Bukan jor-joran di masa sekolah dasarnya tapi saat kuliah mulai tertatih, seperti ayahnya.

Pada akhirnya, kami sepakat untuk menyekolahkan anak sulungku di sekolah dasar negeri dekat dengan rumah. Ndak perlu abumen antar jemput, cukup jalan kaki saja. Poinnya dia dapat merasakan whole society di mana sekolah dasar negeri tentunya punya variasi yang lebih luas dibanding sekolah dasar swasta yang IT-IT-an itu.

Saya berharap kepekaannya tumbuh sedari dini bahwa ternyata dari lingkungan sekolahnya dia akan belajar banyak tentang keberagaman. Sekolah negeri lebih menjamin luasnya variasi kelas ekonomi, ada yang ayahnya swasta seperti saya ini, ada yang pegawai negeri sipil, ada yang pedagang, ada yang barangkali buruh tani dan mungkin pegojek online.

Saya ingin anak sulungku mempunyai kepekaan dan knowledge seluas itu sehingga kemudian menjadi pribadi yang berkarakter kuat. Pribadi yang mampu membumi juga sanggup melangit. Pribadi yang ndak minder dekat dengan orang kaya dan ndak ragu dekat dengan orang miskin. Kira-kira begitu harapannya.

Terakhir, semoga ini menjadi pilihan yang tepat lagi baik untuk anakku. Semoga dia bahagia dengan pilihan ayah ibunya ini. Juga tentunya semoga dia dapat belajar sebaik mungkin sehingga mendapatkan esensi dari belajar yaitu menjadi pribadi yang baik. Rocky Gerung menyampaikan bahwa sekolah bukanlah bukti bahwa manusia berpikir.

Selamat pagi. Salam dari Lawang, kota kecil di sudut utara Kab. Malang.

☕️

Sunday, January 18, 2026

RENUNGAN: BELAJAR KERJA KERAS DARI NENEK SAYA

Aku ingin meriwayatkan sebuah cerita kecil tentang mbah Siti Rukoyah, nenek kami dari jalur bapak. Beliau lahir di Batokan, Ngantru, Tulungagung, Jawa Timur. Beliau anak ke tiga dari tiga bersaudara.

Dulu, sewaktu pak Gufron ayah saya sakit lama berkepanjangan dan operasi lalu mengharuskan menginap berminggu-minggu di Karangmenjangan, Surabaya.

Mbah Siti pernah suatu ketika datang ke rumah saya, seingatku di rumah hanya ada aku dan mas Galih, karena mbak Onik mondok, Idot adik terkecil kami diajak ibu untuk jaga bapak di Karangmenjangan.

Di rumah aku dan mas Galih dibaturi Yuk Mah (neneknya Basuki) yang berasal dari Branggahan, Ngadiluwih, Kediri selama ditinggal oleh ibu dan adik terkecil kami merawat bapak yang sakit di Surabaya.

Mbah Siti nenek saya tersebut datang ke rumah untuk membersihkan kebonan belakang. Nyapu-nyapu halaman, membakar sampah dan memberesken segala hal yang tidak rapi sampai akhirnya bersih kinclong.

Yang paling teringat jelas di memoriku adalah saat aku kebelet pup dan ingin eek ke WC di belakang rumah kami, mbah Siti sedang ngoseki alias menyapu bersih WC, membersihkan pakai sapu lidi semua lumut yg membandel di lantai dan tembok WC.

Begitulah naluri seorang ibu, anaknya yang sudah bukan anak kecil lagi, bahkan sudah mulai menua dan sakit-sakitan, tetaplah dianggap sebagai anak kecil dengan bentuh kasih sayangnya “ngrumat ngramut” rumah anaknya, agar cucu-cucunya nyaman dengan semua itu.

Setelah ayah saya sembuh dan sedikit bisa beraktifitas, justru kemudian mbah Siti Rukoyah lah yang jatuh sakit terkena serangan liver (empedunya membengkak besar), lalu dipanggil kehadirat Allah SWT lebih dahulu.

Alfatihah untuk Mbah Siti yang pernah membersihkan kebonan seluas itu seorang diri di usianya yang senja, pesan pentingnya: obah gerak itu seharusnya memang gak pandang usia, tidak kenal lelah.