Sunday, September 6, 2026

RELIGI: CATATAN MUKTAMAR NU KE-35

Oleh: Robi Cahyadi (Fan Nahdlatul Ulama)

Saya bukan muktamirin, karena bagimana pun pemahaman saya tentang muktamirin adalah orang yang benar-benar hadir sebagai pelaku muktamar. Saya sekedar romli alias rombongan liar yang bahkan sebenarnya tidak berombongan alias soliter visitor, pengunjung sendirian di arena muktamar tersebut. Kenapa saya hadir ya karena alasan cinta saja pada Nahdlatul Ulama. Cinta yang ditanamkan orang tua saya khususnya ayah yang nahdliyin sejati. Saya ingin membagikan sedikit catatan yang bisa saya sampaikan melalui tulisan di status facebook saya pribadi, barangkali dibaca oleh para peminat.

Ada beberapa babak cerita yang bisa dibaca dan didengar barangkali, sebelum akhirnya ceritanya utuh yaitu tentang terpilihnya Rais Aam yaitu KH. Miftahul Akhyar dan Ketua Umum yaitu Gus Kikin. Bicara peran, sederhananya rais aam di level syuriyah itu adalah ketua dewan ulama (peran director, supervisi and advisory, penentu arah, kontrol dan penasihat). Sementara ketua umum di tanfidziyah itu adalah pelaksana harian dari keputusan syuriyah. Kata Gus Mus (Kyai Mustofa Bisri), kalau di pondok pesantren itu ibaratnya syuriyah adalah kyai pondok lalu tanfidziyah adalah lurah pondok. Ndak mungkin kyai mlaku turut kantor pos, kantor polisi dan seterusnya, yang ada kyai berstrategi dan kemudian menyuruh lurah pondok untuk semua urusan lapangan itu. Semoga bisa membedakannya dengan mudah.

Akan saya awali terlebih dahulu dengan rangkaian singkat perjalan muktamar NU ke-35 di PP Tambak Beras, Jombang kali ini. Saya hadir di Jombang berangkat dari Lawang, Malang pada sabtu sore hari tanggal 29 Agustus dan mengakhirinya pada Minggu sore 30 Agustus 2026. Tentunya budhal menggunakan mobil pribadi dan sangu pribadi dari istri penulis alias tanpa sponsor mana pun. Lagi-lagi karena simple reason di atas tadi, cinta pada nahdlatul ulama. Memang saya tidak mengikutinya secara utuh 5 hari sesuai timeline resmi muktamar yang telah ditentukan oleh organization committee yaitu 27-31 Agustus 2026. Setidaknya sehari semalam di arena muktamar tersebut berjumpa banyak ‘alimin yang memberikan pengalaman dan cerita yang menarik. Barangkali bermanfaat.

Muktamar NU ke-35 dibuka oleh Presiden Prabowo Subianto selaku muassis MBG dan KDMP nasional dan berlangsung selama 5 hari. Seraya memukul bedug, muktamar dimulai. Start. Agenda awal difokuskan pada pembahasan tata tertib dan pemilihan 9 anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) sebagai lembaga pemilih tertinggi. Ingat bacanya ‘akdi’ ya. Eh. Salah satu keputusan penting di awal adalah perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum: tidak lagi menggunakan metode voting langsung seperti edisi sebelumnya, melainkan melalui AHWA untuk mengembalikan supremasi Syuriyah. Supremasi adalah semacam kedudukan tertinggi dan kekuasaan utama dan paling utama. Core of the core-nya kedudukan lah intinya.

Inti dari pada muktamar kali ini adalah penjaringan dan penetapan pimpinan PBNU periode 2026-2031. Peserta melakukan pemungutan suara untuk menyaring 5 calon Ketua Umum. Hasilnya KH. Abdul Hakim Mahfudz alias akrab dengan panggilan “Gus Kikin" memimpin dengan 472 suara, diikuti KH. Zulfa Mustofa, KH. Abdussalam Shohib, KH. Yahya Cholil Staquf, dan KH. Abdul Ghofar Rozin. Sementara untuk Rais Aam, AHWA menggelar musyawarah tertutup dan secara mufakat menetapkan KH Miftachul Akhyar untuk periode kedua. Waini. Penulis no comment soal ini.

Muktamar resmi menetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026-2031 dan KH. Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU 2026-2031. Penetapan Gus Kikin dilakukan secara mufakat oleh 9 anggota AHWA setelah musyawarah sekitar 40-50 menit kabarnya. Kepengurusan Gus Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebelumnya juga dinyatakan demisioner setelah LPJ diterima. LPJ adalah laporan pertanggungjawaban setelah mengemban tugas memimpin organisasi selama 5 tahun lamanya. Tak seorang pun rupanya tampil kritis soal LPJ ini, mungkin ndak patek penting dibahas karena umumnya soal formalitas report belaka. Maybe.

Selain struktur, muktamar juga menghasilkan keputusan organisasi. Posisi Syuriyah diperkuat sebagai pemimpin tertinggi organisasi. Ada syarat "iddah politik" 1 tahun dari parpol bagi calon pimpinan. Di bidang fikih, Bahtsul Masail salah satunya memutuskan bahwa bitcoin sah sebagai harta dan alat tukar, namun haram dijadikan mata uang di Indonesia. Waini sebenarnya penting banget bagi umat, soal hasil dari bahtsul masail sebagai lembaga yang menaungi fikih kontemporer untuk kepentingan umat secara riil di kehidupan sehari-hari. Sayangnya juga ndak patek nampak disorot oleh media secara tenanan, massif dan informativeable. Padahal barangkali umat itu butuh banget bimbingan tentang apakah MBG halal atau haram, bayar pajak ke negara harus atau tidak, bagaimana hukuman koruptor dan seterusnya.

Dalam ringkasan yang dapat penulis saring sebagai romli, yang selama sehari semalam hanya ngopa-ngopi bareng para romli yang lain. Slurrpp, sruput kopinya monggo. Setidaknya ada dua hal yang hendak disampaikan oleh penulis bahwa ternyata, faktanya adalah berikut ini. Pertama, umumnya grass roots alias akar rumput nahdliyin tidak terlalu peduli-peduli amat dengan siapa yang akan memimpin PBNU untuk 5 tahun mendatang. Ini bukan karena grass roots tidak mencintai NU, tapi lebih kepada adanya hal yang jauh lebih prioritas dipikirkan yaitu soal sosial-ekonomi, ini tentu perlu mendapat perhatian serius bagi grass roots. Kedua, perang kubu di dalam tubuh PBNU sebagai organisasi besar adalah hal wajar yang sudah berlangsung lama bahkan sejak NU itu sendiri didirikan.

Perbedaan pemahaman dan kepentingan di antara para alim ulama bagi grass roots adalah berkah, sama halnya seperti apa yang sudah KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur jelaskan perihal ini. Bahwa dalilnya berbunyi "Ikhtilafu ummati rahmah", singkatnya perbedaan di kalangan umatku adalah rahmat atau berkah. Juga prinsip dalam ilmu fikih: "La yunkaru taghoyyurul ahkam bi taghoyyuril azminah wal amkinah” yang diartikan sebagai “hukum bisa berubah karena perubahan zaman dan tempat”. Karena kondisi berbeda-beda, maka ijtihad ulama juga bisa beda. Hal itu wajar serta norma, tidak perlu dibesar-besarkan. Wallahualam bhissowab.

Akhirul kalam, muktamar NU ke-35 ditutup secara resmi oleh Presiden Prabowo “gemoy” Subianto pada 31 Agustus 2026 dengan memukul sebuah kentongan. Finish. Beliau mengapresiasi muktamar yang berjalan sukses, guyub, dan rukun. Meski pun dalam realitanya ada juga sedikit kericuhan yang karena tidak sampai adu jotos, oleh sebab itu harus diklaim sebagai sukses, guyun, dan rukun. Bukankah begitu seharusnya. Heuheu. Panitia pun menegaskan seluruh hasil muktamar adalah sah, transparan, dan bebas intervensi. Dengan ini, tongkat kepemimpinan NU resmi berpindah ke KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin untuk membawa arah NU 5 tahun mendatang. Semoga sesuai harapan semua muktamirin dan nahdliyin. Aamiin.