Tuesday, December 29, 2020

POLITIK: ADA APA DENGAN RISMA?

Tri Rismaharini dalam sebuah pidato

Penunjukan oleh Presiden Joko Widodo kepada mantan Walikota Surabaya yang lahir di Kediri yaitu Tri Rismaharini alias Bu Risma untuk mengisi posisi Menteri Sosial Republik Indonesia, menggantikan Juliari Batubara yang tersandung kasus korupsi tentu menjadi pertanda angin segar bagi kebanyakan netizen milleniel yang pro pemerintahan. Bagaimana tidak, selama ini kita sebagai netizen millenial tahu betul Bu Risma tercitrakan sebagai sosok yang cas cus gesit trengginas membereskan problematika Surabaya. Opini publik mengatakan Surabaya hari ini lebih rapi dibanding DKI Jakarta (sumber: republika.co.id).

Modal dasar yang fenomenal itu tentu membuat netizen millenial secara umum sangat senang dan berharap Bu Risma mampu tangani problem sosial yang ada di Indonesia secara tuntas. Hari ini kabar berita di media sosial berseliweran tentang Bu Risma yang langsung tancap gas dengan blusukan di bantaran kali Ciliwung dan mengajak para gelandangan yang tidur di bawah jembatan-jembatan sepanjang kali Ciliwung untuk bersedia direlokasi ke rumah rehabilitasi di Bekasi. Sungguh gerakan yang membuat sebagian pihak merasa dag-dig-der khawatir.

Pihak mana sih yang khawatir ini? Tentu adalah pihak yang berada di barisan pendukung Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta. Mereka banyak yang nyinyir kok Mensos rasa Gubernur, maksudnya apa ini? Kira-kira begitu yang terpantau nampak di banyak kolom komentar di twitter hari ini. Seakan merasa kehadiran Bu Risma ini akan mengurangi pamor Pak Anies Baswedan yang terkenal dengan rangkaian kalimat indahnya dalam menyelesaikan berbagai problematika DKI Jakarta itu.

Saya yang merasa diri sebagai bagian dari masyarakat internet (netizen) millenial pun merasa geli dengan adanya respon dua kutub yang berbeda dalam menyikapi langkah cas-cus blusukan Bu Risma ini. Sebagian sisi mendukung dan salut, sebagian yang lain nyinyir dan resah. Sebagai orang yang berada di gerbong pendukung pemerintahan yang sah hari ini, saya mendukung penuh langkah sigap dan nyata Bu Risma dalam menyelesaikan problematika sosial Indonesia ini, tentu ndak ada salahnya jika Bu Risma mengawalinya dari DKI Jakarta dulu bukan?

Kenapa harus diawali dari DKI Jakarta dulu? Pertama, tentu DKI Jakarta adalah barometer ekonomi, budaya, kemajuan untuk daerah lain di bentangan luas Indonesia ini. Kedua, fakta membuktikan bahwa DKI Jakarta hari ini berada dalam peringkat teratas soal banyaknya jumlah gepeng (gelandangan dan pengemis) di deretan kota besar di Indonesia (sumber: kompas.com). Ketiga, tentu gerak cepat bu Risma ini juga bagian dari agenda politik PDI Perjuangan dalam rangka mengambil hati netizen millenial potensial DKI Jakarta agar tidak salah gerbong dan kemudian lebih banyak yang bersedia berada di deretan gerbong pemerintahan. Cadas!

Lalu sejauh apa kira-kira kiprah Mensos baru kita ini? Mari terus kita kawal dan nantikan episode cas-cus yang membuat deg-degan selanjutnya. Sebagai penulis dan pengamat politik amatiran, pesan dan harapan saya kepada bu Risma cukup sederhana. Jangan baper sama warga DKI Jakarta kalau kemudian nanti bakal bodo amatan ya bu, jangan samakan dengan warga Surabaya yang jika dibentak dan dimarah-marahin akan cenderung diam santun dan nurutin kata Ibu. Mungkin warga DKI Jakarta akan lebih cenderung cuek dan gak nggubris ibu, tapi tetap santuy dan on the track saja bu.

Terakhir, jangan kaget jika Ibu kesulitan nyari rujak cingur di DKI Jakarta karena bagi warga DKI adalah hal yang sangat aneh ketika hidung sapi dijadikan sebuah makanan. Juga jangan kaget kalau ternyata pecel ayam atau lele di DKI Jakarta itu sebenarnya adalah lalapan jika di Wiyung dekat rumah ibu di Surabaya sana. Terus juga jangan gupuh ya bu jika ternyata pas pagi-pagi nyidam lontong kupang tapi ibu ndak menemukannya di Jakarta dan adanya cuma ketoprak dan nasi uduk, cari alternatif makanan lain dan biasakan saja dengan makanan yang ada di sana. Semoga ibu sukses mengemban amanah menjadi Mensos. Semangat!

Sunday, December 27, 2020

OPINI: SATU TAHUN USIA VAL ELAIL ANAKKU

Ceremonial Ulang Tahun Val Elail ke-1

Hari ini minggu tepat tanggal 27 Desember 2020 adalah hari ulang satu tahun kelahiran Malika Val Elail anak biologis pertamaku dengan istri sahku, bukan dengan yang lainnya karena memang betulan ndak ada yang lainnya. Di tengah pandemi Covid-19 kami bermaksud merayakan momen bahagia ini secara sederhana dengan membeli kue kecil untuk Val disertai lilin berbentuk angka 1 sebagai penanda bahwa ini adalah ulang tahun kelahirannya yang pertama.

Kemudian karena sudah dicoba berkali-kali agar Val bersedia meniup lilin tersebut dan hasilnya gagal, akhirnya ujung-ujungnya mamanya yang niup, puffffhhh nyala api di lilin itu mati. Entah apa filosofinya seremonial mainstream demikian itu, saya beranggapan ini hanya momen normal seperti kebanyakan manusia pada umumnya. Meniup api pada lilin dalam seremonial ini, saya pribadi lebih senang mengartikannya sebagai simbol membunuh segala bentuk keburukan dalam hidup yang berulang tahun.

Beberapa hari terakhir ini mamanya Val kena flu berat sehingga tidak banyak menyentuh Val karena takut flunya menular. Val lebih banyak sama saya ayahnya, baik saat mandi, tidur atau pun bermain sehari-hari. Saya bersyukur diberikan anugerah berupa anak cantik yang aktif dan menggemaskan, meski saya sadar betul momong, memandikannya, membersihkan pantatnya dari kotoran, megganti popoknya, membuatkan susu di tengah malam bukanlah pekerjaan yang menyenangkan. Setidaknya ini adalah latihan secara alamiah naluriah untuk menjadi ayah yang telaten dan ikhlas.

Untuk mamamya yang sudah dengan penuh kasih sayang mencurahkan segala bentuk pendampingan terhadap Val saya juga mengucapkan banyak terima kasih. Sudah sejauh ini menerima “kahanan” dan bersama-sama dalam suka dan duka, sangat emosional sekali tentunya hati ini saat menuliskan tepat di kalimat ini. Seperti halnya momen saat Rhoma Irama menyatakan curahan hatinya kepada Ani. Seakan saya tak pernah menyangka bisa senormal ini menjalani kehidupan dalam biduk rumah tangga sebagai manusia pada umumnya.

Di lingkungan perumahaan tempat kami tinggal, saya beruntung Val cukup punya teman seusia pantaran dengannya. Jadi saya dan istri cukup merasa nyaman sekaligus tenang bahwa mungkin Val nantinya tidak akan terasa kesepian. Karenanya dalam konteks bersosial dan menjalin ukhuwah dengan teman-temannya Val, istriku hari ini masak nasi kuning dan ayam serundeng untuk dibagikan ke teman-temannya Val.

Seremonial kecil ini tentu niatnya bukan pamer atau berfoya-foya, apa sih yang dipamerkan dari hal sesederhana ini, kalau toh ditulis dan diceritakan itu tujuannya semata-mata hanya berbagi kebahagiaan, benar bukan? Niat murni semua ini tentu bersyukur dan berbahagia atas ulang tahun kelahiran Val, selain itu juga tentu berharap doa-doa kebaikan dari teman-teman sepantarannya dan semua pembaca tulisan ini.

Terakhir, di hari yang memorable ini saya berharap semoga Val anakku terus tumbuh sehat baik secara jasmani dan atau rohani. Begitu juga dengan saya dan mamanya semoga selalu disehatkan oleh Allah SWT dan dimudahkan segala rezekinya tentu agar bisa mendampingi Val tumbuh sampai menjadi remaja berprestasi yang baik hati, berbudi luhur, dan pancasilais. Kemudian melihatnya saat dewasa duduk di pelaminan dan kami berdua berpegangan tangan bersiap menjadi kakek nenek yang terus bersatu dalam harmoni kasih sayang. Indah bukan? Semoga semua doa ini diijabah oleh Allah SWT. Aamiin.

Petang yang tenang dengan suara tarhim dari langgar dan masjid perumahan
Malang, 27 Desember 2020

CAPAIAN: WHITE BELT PERATAMAKU DALAM HIDUP

Dalam dunia persilatan kita mengenal sistem grade (tingkatan) capaian kompetensi silatnya, rata-rata seorang pesilat akan berupaya keras mendapatkan sabuk hitam karena ada nilai prestisius di sana, menjadi pesilat dengan sabuk hitam adalah bukti kemahiran sekaligus kehormatan. Dalam dunia industri manufaktur khususnya yang menekuni dan menjadi praktisi continuous improvement juga ada grade (tingkatan) capaian sepertinya halnya dalam dunia persilatan.

Certified LSS White Belt By Prodemy ID

Dimulai dari sabuk putih (white belt), kuning (yellow belt), hijau (green belt), hitam (black belt), dan master sabuk hitam (biasanya puncak tertinggi ini disebut dengan master black belt), hanya orang tertentu yang bisa capai ini, di Indonesia jumlahnya relatif tidak banyak. Setelah belajar secara konsisten hampir satu bulan dan lulus ujian, saya dengan rasa bangga mendapatkan sabuk putih (white belt) sebagai permulaan untuk menuju ke tingkatan selanjutnya.

Scope (cakupan) setiap tingkatan tentu berbeda-beda, dalam piramida grade tersebut white belt memang baru di fase dasar (terbawah) yaitu sebagai praktisi yang memahami pengertian, tujuan, dan penerapan secara umum Lean Six Sigma sebagai alat continuous improvement (CI). Tahap selanjutnya tentu adalah yellow belt yang cakupannya lebih mendalam, yaitu sebagai partisipan aktif sekaligus reviewer atas aktifiitas yang dilakukan oleh team project dalam CI.

Untuk bisa menuju puncak tertinggi, setiap grade harus dilalui. Setelah mencapai yellow belt biasanya partisipan akan berusaha menggapai grade selanjutnya yaitu green belt. Green belt memiliki cakupan yang lebih luas dan mendalam lagi yaitu berkisar di area memimpin suatu project CI dengan analisa data yang super kompleks. Umumnya mereka yang sudah mendapatkan level green belt adalah seorang yang diberi tanggung jawab sebagai pilot project dalam aktifitas CI.

Lalu bagaimana dengan black belt? Seorang dengan level capaian black belt adalah pemimpin project untuk level di bawahnya, menjadi mentor, berfungsi sebagai trigger project dan sebagai creator problem solver dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ditemukan dalam rangkaian aktifitas CI. Kemudian master black belt adalah pucuk tertinggi dalam piramida kasta ini, namanya juga master umumnya mereka yang berada di sini adalah sebagai pengampu, pelatih, penasihat, coach, traineer dari mereka yang berada di level black dan green belt.

Monday, December 14, 2020

OPINI: APA TUJUAN PSIKOTES DALAM REKRUTMEN?

Kita pernah mendengar dan mungkin justru sering menjalaninya, tapi kita jarang tahu apa fungsi dan tujuan dari psikotes. Dalam hal ini psikotes yang di maksud penulis tentu berkaitan dengan proses seleksi rekrutmen karyawan di suatu perusahaan. Bukankah begitu seringnya? Lalu apa sih fungsi dan tujuan dari psikotes tersebut? Mari kita simak secara singkat dan lugas melalui tulisan di bawah ini.

Permainan Logika adalah Kunci Utama Psikotes

Saat kita melamar pekerjaan, kita sebagai kandidat atau pelamar hampir seringkali dihadapkan pada satu tahapan umum sebelum masuk ke tahap interview yaitu tahapan tes tulis dalam bentuk rangkaian psikotes. Bagi sebagian kandidat, psikotes ini bahkan menjadi momok menakutkan lantaran mereka seringkali gagal masuk seleksi di sebuah perusahaan, dan bahkan seringkali pula kegagalan ini sebelum sampai ke tahapan interview.

Saking seringnya dengar dan mengalami baik kegagalan atau keberhasilan dalam psikotes, kita menjadi akrab dengan agenda wajib rangkaian proses rekrutmen yang satu ini. Sehingga kemudian sangat dengan mudah kita menemukan buku-buku latihan psikotes yang dijual di pasaran. Tes psikotes sendiri seringkali dikaitkan dengan tes kepribadian, tes IQ, hingga nalar berpikir. Herannya, masih saja ada yang membeli buku latihan ini. Untuk apa?

Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah apakah psikotes itu sendiri bisa dipelajari? Bisa dihafalkan? Saya kira bukan itu cara dan tujuannya. Psikotes adalah sebuah metode tes untuk mengukur seberapa cerdas kita sebagai kandidat, seberapa jauh kepribadian kita cocok dengan posisi pekerjaan yang kita lamar, dan mungkin seberapa pas kita dengan kultur perusahaan yang kita inginkan.

Fungsi dan tujuan psikotes secara umum adalah untuk mengenali serta mengidentifikasi potensi yang terdapat dalam diri kandidat karyawan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap perusahaan yang merekrut karyawan akan berharap diisi oleh sumber daya manusia yang handal, tangguh, cerdas, berwawasan luas dan cocok untuk posisi yang akan ditempati oleh kandiadat yang bersangkutan. Tentu kita pun sadar tidak ada satu pun kandidat yang benar-benar sempurna memenuhi semua kualifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan, setidaknya mendekati. Itulah yang diupayakan oleh HRD.

Oleh sebab itu, potensi dari masing-masing kandidat yang terukur dan dapat diidentifikasi dari hasil menjalani serangkaian proses psikotes tersebut tentu dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh HRD untuk memutuskan apakah kandidat ini layak berlanjut atau terhenti. Yang kemudian jika berlanjut tentu akan disodorkan oleh HRD untuk interview ke End User atau beberapa perusahaan bahkan bisa interview hingga ke Top Level Management dan atau Owner.

Tugas HRD adalah memilah dan memilih potensi para pelamar yang sekiranya paling dekat dengan kualifikasi posisi yang dibutuhkan. Sehingga yang perlu kita garis bawahi bersama adalah ingat bahwa belum tentu seseorang dengan IPK kelulusan akademiknya paling baik sekali pun bisa otomatis dengan mudah lolos tahap psikotes. Semuanya tergantung juga pada penilaian potensi yang dilakukan HRD. Singkat cerita umumnya demikian.

Lalu apa sebenarnya yang harus disiapkan saat akan menjalani atau melangsungkan psikotes? Menurut penulis karena psikotes ini bukanlah sebuah ujian tulis yang sulit seperti halnya ujian akhir semester dalam bidang subyek mata kuliah tertentu, maka tidak perlu ada hal istimewa yang harus disiapkan oleh seorang kandidat saat akan menghadapi psikotes. Hemat penulis yang perlu disiapkan TIDAK BANYAK, hanya BEBERAPA HAL di bawah ini:

1. Kesehatan, artinya kondisi tubuh baik secara psikis dan fisik dalam keadaan yang prima (tidak lelah,tidak sedang sakit, tidak depresi, dst.)

2. Kejujuran, artinya saat mengerjakan psikotes semua jawaban harus berasal dari hati dan pikiran pengerjanya, bukan rentetan jawaban manipulatif dan hafalan

3. Wawasan umum, artinya pengerja psikotes harus punya minimal wawasan umum (operasional perhitungan sederhana, penalaran bahasa, logika, dll.) yang kita semua tahu wawasan umum ini bisa diraih dengan memperbanyak membaca.

Penulis pikir jika tiga hal itu sudah disiapkan dan dimiliki oleh seorang kandidat yang ingin masuk ke suatu perusahaan yang dalam proses rekrutmennya mengharuskan melalui tahap psikotes, tidak ada yang mustahil psikotes ini menjadi serangkaian proses yang terasa ringan dan sangat mudah untuk dilalui. Sehingga kemudian kandidat bisa lolos dan diantarkan oleh HRD menuju tahap umum selanjutnya yaitu interview dengan User atau bahkan Owner.

Wednesday, December 2, 2020

OPINI: SEBERAPA PENTING MENGUASAI BAHASA INGGRIS?

Ada pertanyaan yang cukup menarik bagi kita semua warganet. Di Indonesia, siswa mempelajari bahasa Inggris mulai dari bangku Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, sebenarnya itu semua untuk apa? Untuk berkomunikasi? Dengan siapa? Untuk ke luar negeri? Apa semua punya akses ke luar negeri? Atau hanya sebatas untuk nilai akademik?


Apapun jenis fungsi dan tujuan mempelajari bahasa Inggris, percayalah bahwa itu sangat penting di masa yang akan datang. Apalagi era globalisasi seperti sekarang ini, bahasa Inggris adalah sebuah kemampuan yang bersifat wajib dimiliki oleh setiap lulusan perguruan tinggi. Saya merasakan sendiri bagaimana dulu ketika tidak tekun mempelajarinya sehingga sekarang saat dibutuhkan menjadi lebih berat untuk mengejarnya.

Di dunia kerja profesional meski tidak secara mayoritas seluruh perusahaan mensyaratkan pada karyawannya harus piawai berbahasa Inggris, setidaknya jika anda mampu menuturkannya minimal secara pasif (merespon jika ditanya), itu adalah nilai plus yang akan diapresiasi. Jangan pernah sepelekan pentingnya bahasa Inggris meski ini bukan bahasa nasional kita.

Jadi menurut saya pribadi, jika di penghujung 2020 ini masih ada lulusan sebuah perguruan tinggi akan tetapi tidak memiliki wawasan dan bekal berbahasa Inggris yang baik (minimal pasif - bisa merespon dengan ringkas dan baik saat ditanya), saya kira akan menjadi sulit berkompetisi di dunia kerja dan lapangan pekerjaan nantinya.

Untuk itu saya menghimbau kepada seluruh orang, khususnya mereka yang sedang di tengah studi atau mereka yang baru saja terjun ke dunia kerja secara profesional agar benar-benar serius menguasai bahasa Inggris secara baik dan benar. Harus diakui fakta bahwa meski kenyataan dalam dunia kerja tidak sepenuhnya bahasa Inggris akan terpakai, tapi syarat untuk menuju ke sana selalu demikian dan itu menuntut kita untuk terus mempelajarinya.

Tuesday, December 1, 2020

OPINI: SEBERAPA PENTING LEARNING BY DOING BAGI MAHASISWA?

Setiap mahasiswa yang bercita-cita terjun bekerja dan menekuni dunia manufaktur harusnya tidak asing dengan berbagai langkah strategi efisiensi produksi. Seringkali hal ini menjadi topik hangat dalam perbincangan di komunitas yang menekuni bidang ini. Bisa dikatakan seorang engineer tanpa wawasan strategi efisiensi produksi ibarat seorang pedagang yang tidak punya barang untuk dijual alias omong kosong. Wawasan mendalam tentang ilmu realita di dunia kerja industri manufaktur seperti ini harus diperoleh.

Ilustrasi gambar: 4 siklus Learning by Doing

Dalam praktiknya di dunia kerja industri manufaktur, strategi efisiensi produksi dapat ditempuh dengan berbagai banyak cara. Ada yang namanya Lean, Six Sigma, Toyota Manufacturing System, Kaizen, dan lain sebagainya. Salah satu cara paling terkenal dan sangat digaungkan di kalangan penekun bidang ini adalah TPM System. Ya, Sistem Total Productivity Maintenance. Cara ini sangat umum digunakan oleh industri manufaktur dalam mencapai produktifitas secara optimum.

Secara teori Sistem TPM ini dapat dijadikan sebagai cara sistematis untuk menekan bahkan menghindari kerugian alias ketidakefisienan pada tiga isu penting proses manufaktur. Isu tersebut antara lain dalam bentuk target yaitu zero breakdowns (nol kerusakan), zero defect (nol cacat produk) dan zero accident (nol kecelakaan). Lalu apakah mahasiswa teknik khususnya mesin dan indsutri sudah cukup dikenalkan dengan sistem TPM ini oleh kurikulum pendidikannya?

Sebagai contoh secara umum misal sistem pendidikan dan kurikulum yang berlaku di Sekolah Menengah Kejuruan yang ada di Indonesia adalah mengedepankan praktik langsung pada lapangan, untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan yang lebih sesuai dengan kondisi nyata dunia kerja bagi para siswa. Ini adalah contoh yang dapat kita ambil dari sebuah penerapan learning by doing. Lalu bagaimana dengan bangku kuliah (perguruan tinggi) yang seharusnya lebih dalam lagi fokus pada bidang keahliannya?

Penjelasan di beberapa paragraf di atas adalah kasus betapa pentingnya learning by doing. Apa sih pengertian learning by doing? Secara singkat adalah jika merujuk kepada arti secarah harafiah, learning by doing memiliki arti belajar sambil melakukan serta mempelajari sesuatu bukan hanya lewat teori, melainkan langsung mempraktikannya. Bagaimana caranya? Tentu banyak sekali cara yang ditempuh misalnya berupa simulasi penerapa fondasi sistem TPM yaitu 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) dalam workshop lingkungan kampus. Mahasiswa berperan langsung melakukan dan memonitoringnya.

Untuk mahasiswa dengan jurusan atau kompetensi teknik mesin, mereka akan diarahkan untuk melakukan praktek kerja lapangan di workshop atau in the job training di perusahaan manufaktur selama beberapa waktu. Hal ini tentu dilakukan agar memberikan pengalaman nyata dan edukasi yang lebih sesuai dengan kondisi dunia kerja. Ini kritikal poinnya, sejauh mana dunia pendidikan khususnya kampus benar-benar serius menerapkan dan memonitoring metode pembelajaran kerja praktik mahasiswanya selama ini? Penulis pikir sangat penting sekali menerapkan realita keilmuan di dunia kerja ke dalam praktik pembelajaran mahasiswa di kampus.

Saya pribadi merasakan dengan sepenuh hati bahwa sepanjang belajar di bangku kuliah, sangat minim sekali materi tentang realita di dunia manufaktur seperti ini diajarkan, misalnya tentang Sistem TPM ini dengan segala materi rinci di dalamnya, mulai dari fondasi dan 8 pilarnya beserta turunan alat-alatnya. Padahal mayoritas industri sektor manufaktur menerapkannya dan pemahaman yang baik tentang materi ini sangat dibutuhkan jika kemudian mahasiswa hendak bercita-cita terjun ke industri manufaktur. 

Bangku kuliah teknik memang mengajarkan banyak wawasan yang muara akhirnya adalah peningkatan dan penguatan daya analisis, misalkan belajar problem solving dengan soal-soal calculus, elemen hingga, wawasan proses manufaktur dan seterusnya. Dari mata kuliah dasar hingga spesifik sesuai bidang  jurusan tersebut memang penting dan wajib terus diberikan. Tapi sebaiknya lembaga pendidikan mulai berbenah bahwa wawasan yang terimplementasi nyata di dunia kerja adalah hal wajib yang harus diberikan. Tentunya agar lebih mengena dengan cara learning by doing!

Friday, November 6, 2020

MANUFAKTUR: MENGENAL PROSES COATING SEBAGAI PROSES FINISHING DALAM PERCETAKAN

Kali ini kita akan membahas teknik finishing dalam dunia percetakan yaitu Coating. Coating merupakan suatu proses pelapisan yang diterapkan pada suatu benda, dalam hal percetakan pada umumnya berupa media kertas. Tujuan dari coating sendiri adalah untuk dapat meningkatkan sifat permukaan dari benda yang dilapisi. Sifat permukaan tersebut diharapkan dapat melindungi hasil cetakan terhadap sidik jari, goresan, noda, juga dampak-dampak kelembaban udara dan suhu udara.

Contoh Hasil Akhir Proses Coating (UV)

Hasil Coating akan terlihat optimal bila diaplikasikan pada kertas coated (berlapis) karena permukaannya tak keras dan tidak mudah menyerap air. Pada umumnya setiap jenis coating dapat menimbulkan efek glossy (mengkilap), satin (tidak mengkilap) dan doff (redup)

Terdapat beberapa jenis coating, antara lain:

1. Varnish

Varnish adalah coating berupa cairan yang dituangkan pada permukaan kertas lewat tempat penintaan secara inline (langsung pada mesin cetak ) ataupun offline. Varnish memiliki beberapa efek diantaranya gloss dan doff. Varnish cenderung menimbulkan kertas menjadi kuning

2. Laminating

Laminating merupakan proses pelapisan permukaan hasil cetak menggunakan lapisan plastik yang transparan melalui mesin laminating. Efek dari laminating adalah efek glossy dan doft. Fungsi dan kelebihan laminating adalah untuk melindungi hasil cetak terhadap goresan, dan anti air, juga hasil cetak menjadi lebih awet dan membuat hasil cetak menjadi lebih indah

3. Aqueos Coating (Water Based)

Aqueos coating adalah lapisan coating yang bersifat water based dan mudah kering, yang bertujuan melapisi permukaan agar tidak mudah tergores. Jenis coating ini juga lebih ramah lingkungan disbanding dengan jenis coating lainnya. Aquros Coating sebaiknya diaplikasikan pada kertas yang tidak terlalu tipis agar tidak melengkung saat basah dan tidak berubah warna menjadi kuning untuk jangka waktu yang lama.

4. UV Coating

UV Coating merupakan cairan bening yang dapat bereaksi langsung dengan sinar ultra violet, UV Coating juga dapat memberi efek glossy, doff dan satin. Karena UV coating bereaksi dengan sinar UV bukan dengan panas, proses aplikasi tersebut tidak mengeluarkan solvent ke udara.

Sunday, September 27, 2020

OPINI: INDONESIA DALAM PUSARAN COVID-19

Sudah lebih dari delapan bulan sejak ditetapkannya Covid-19 sebagai pandemi oleh WHO, sampai hari ini belum ada tanda signifikan menurunnya kasus di Indonesia. Dari situasi itu bahkan beberapa minggu lalu Presiden Joko Widodo secara khusus memerintahkan Luhut Binsar Panjaitan selaku menteri koordinator untuk melakukan percepatan pecegahan dan penanganan Covid-19. Target waktu yang diberikan kepada Luhut pun sangat singkat hanya sekitar 2 minggu saja. Kita semua wajib dukung percepatan penanganan ini.

Ilustrasi: Bermasker Untuk Cegah Covid-19
Sumber: Google

Sementara itu di lain sisi Menteri Kesehatan Indonesia dr. Terawan pun digadang-gadang oleh netizen sebagai menteri yang gagal menangani kasus ini meskipun ironisnya Presiden Jokowi tak kunjung mengambil sikap terhadap posisinya. Banyak warganet akhirnya berasumsi liar itu semua terjadi karena dr. Terawan yang berlatar belakang militer menjadikannya sulit disudahkan oleh Jokowi. Singkat cerita Jokowi dianggap tersandera oleh “militer”. Ini merupakan penyakit lama pemerintahan Indonesia peninggalan jaman Orde Baru.

Faktanya memang kita dalam pusaran Covid-19 yang sangat mengkhawatirkan, data statistik rilisan website resmi Satgas Covid-19 Nasional menyatakan per hari ini tanggal 27 September 2020 Indonesia masih berkutat di angka kasus sebanyak 271 ribu dengan jumlah angka kematian sebanyak 10 ribuan dan jumlah sembuh dinyatakan sebanyak 199 ribu. Tentu ini angka yang sangat mengkhawatirkan terlepas dari kontroversial di dalam valid tidaknya pengambilan data tersebut.

Ditambah realita terkini yang paling hangat dan sengaja diblowing-up oleh banyak kalangan adalah di saat semua unsur pemerintah dan masyarakat sedang berjibaku menghentikan laju penyebaran Covid-19, justru Jokowi menyatakan Pilkada tetap akan digelar sesuai rencana dengan protokol pencegahan Covid-19 secara ketat. Ini tentu memancing dua ormas keagamaan paling berpengaruh di negeri ini yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Reaksi keras disampaikan secara resmi oleh kedua ormas tersebut tapi pemerintah sepertinya bergeming. Mudah-mudahan masih tetap baik-baik saja, meski banyak diketahui jika dua ormas tersebut sudah bersuara itu adalah tanda negeri ini tidak baik-baik saja.

Dari rentetan problem demi problem dan kegagapan dalam rangka pencegahan dan penanganan Covid-19 tersebut terjadilah apa yang oleh penulis disebut sebagai paralelogram gaya pemikiran di tengah masyarakat. Maksud dari paralelogram di sini adalah betapa banyaknya asumsi liar yang bersifat bebas sembarang di tengah masyarakat luas yang sulit dikendalikan. Akibatnya tentu adalah terjadinya pertentangan opini di tengah masyarakat. Sebagai contoh riilnya akan coba dijelaskan penulis pada paragraf berikut ini.

WHO sebagai lembaga resmi dunia yang membidangi kesehatan menyebutkan bahwa cara terbaik menangani penyebaran Covid-19 adalah setidaknya dengan 3 cara yaitu: Bermasker, cuci tangan, jaga jarak. Ketiganya dianggap sebagai cara paling efektif sampai sejauh ini dan mungkin sampai vaksinnya benar-benar ditemukan. WHO yang dihuni oleh banyak intelektual (alim) di bidang kesehatan tentu tidak sekedar omong kosong belaka saat mengatakan bahwa ketiga cara itulah yang paling rasional untuk mencegah laju penularan Covid-19.

Akan tetapi tidak semua kelompok di negeri ini mampu menelaah dan memahami anjuran baik tersebut. Masyarakat dibuat bingung oleh adanya paralogram gaya pemikiran yang disebutkan oleh penulis tadi. Dalam kajian penulis setidaknya terdapat dua kelompok jenis panutan umat yang terpecah pemikirannya dalam menyikapi Covid-19 ini. Ada yang hati-hati sekali dan ada pula yang justru bersikukuh protokol kesehatan adalah omong kosong, begitu kira-kira dalam frustasinya.

Misalnya yaitu ada sekelompok alim (orang berilmu) seperti sebut saja KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dan juga menantunya yaitu Gus Ulil Abshar Abdalla yang sangat pro terhadap himbauan WHO ini tentang pencegahan Covid-19. Bahkan secara spesifik Gus Ulil mengampanyekan agar “jangan sowan kyai dulu, mari ikhtiar cegah Covid-19”. Begitu ajakannya kepada umat/netizen/warganet melalui akun media sosialnya. Pemikiran seperti ini oleh penulis disebut sebagai ijtihad-ikhtiar centris.

Di lain sisi ada banyak pula ulama’ yang oleh penulis tidak bisa disebutkan satu persatu yang justru sebaliknya, memilih pandangan lain yang berbeda. Oleh penulis disebut sebagai ijtihad-tawakal centris. Singkatnya lebih banyak pasrah. Kelompok ini misalnya bersikukuh bahwa tidak selayaknya proses ibadah sebagai kebutuhan dasar hidup manusia/hamba dihambat dengan protokol-protokol pencegahan pandemi yang menyulitkan seperti himbauan WHO itu.

Seperti halnya di kampung-kampung dan pelosok pedesaan, kegiatan ritual peribadatan tetap berlangsung seperti biasa dan sangat ramai sekali misalnya pengajian-pengajian rutin dan seterusnya dengan mengabaikan protokol ketat pencegahan Covid-19. Seringnya berdalih bahwa takdir baik rezeki, kesehatan, kematian, sudah diatur oleh Allah SWT sehingga tak seharusnya Covid-19 menghambat ritual peribadatan. Ironis memang, tapi ini realita yang harus disampaikan agar semuanya menjadi terbelalak.

Dalam ilmu fisika kita semua mengenal bahwa setiap adanya dua atau lebih garis gaya yang berbeda arah (paralelgoram) tetap akan menghasilkan apa yang disebut dengan resultan (hasil) dari gaya-gaya yang berbeda gerak dan arah tersebut. Jadi meskipun di tengah masyarakat terdapat banyak sekali pandangan bebas sembarang, penulis tetap meyakini bahwa pada akhirnya nanti akan ada resultan atau konklusi dari semua itu. Setidaknya jika kita semua masih bersedia berpikir dan merenungi setiap kejadian.

Terakhir, kita semua tidak tahu sampai kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Jadi sebagai warga biasa yang tidak memiliki daya apapun selain menyuarakan opini, penulis tetap mengajak kepada seluruh pembaca untuk mematuhi dengan benar prosedur pencegahan Covid-19 dengan seraya terus memohon doa dan ampunan kepada pemilik segala rencana yaitu Allah SWT. Semoga pandemi segera berakhir dan kita bisa menjalani hidup penuh kebahagiaan di masa mendatang. Aamiin. Wallahualam bisshowab.

Pagi cerah dengan langit indah
Malang, 27 September 2020
Robi Cahyadi

Saturday, September 19, 2020

CURHAT: ANAKKU HYPERACTIVE?

Apakah anakku Hyperactive?

Malika Val Elail, Puteri Kecilku

Jujur saja tentunya sangat senang memilki anak yang sehat dan aktif begerak dan tidak pernah berhenti bermain. Saya meyakini bahwa tingkat aktif yang tinggi merupakan wujud dari kecerdasan. Anak sehat dan cerdas otaknya selalu terstimulus untuk melakukan banyak gerakan, begitu kata para ahli di berbagai artikel yang saya baca. Bayi yang banyak gerak justru memungkinkan dia untuk cepat tanggap terhadap lingkungan sekitarnya.

Tapi di satu sisi lainnya saya khawatir, takut, dan cemas karena banyaknya gerakan tersebut sangat berpotensi mengakibatkan cedera jika si kecil jatuh dan tersungkur saat bermain. Beberapa kali kepalanya sempat kejedot, saya melihat sendiri betapa ibunya menjadi panik dan kemudian ikut menangis saat si kecil jejeritan menahan sakitnya terbentur.

Saya berusaha mencari tahu dan konsultasi dengan berbagai orang, juga tentunya bu bidan yang mestinya beliaulah orang yang ahli dalam perbayian. Semuanya berkata dan memberi referensi bahwa anak yang aktif itu justru anugrah yang harus disyukuri. Jika bayi banyak diam dan murung justru itu tanda bahwa anak tidak bahagia. Begitu kira-kira. Jadi sejauh ini masih merasa lega dengan berbagai penjelasan tentang positifnya bayi aktif ini.

Mengawasinya selama 24 jam secara ekstra adalah tugas ibunya sehari-hari setelah pulang mengajar dari sekolah. Saya tentu disibukkan dengan aktifitas bekerja untuk memberinya jaminan belanja bulanan sehingga tidak banyak waktu yang saya curahkan untuk si kecil. Jika hari libur tentu saya berusaha untuk membantu meringankan beban istri saya dengan momong si kecil, saya berikan kesempatan kepada istri untuk hangout dengan teman-temannya, seringnya dia memilih basket sebagai hobinya sejai kecil.

Harus diakui, momong bayi itu tidak semudah dan semenyenangkan yang banyak orang bayangkan. Jika kebetulan yang dimomong itu aktifnya naudzubillah seperti ini ya bisa-bisa tipes ayahnya kambuh lagi. Di tengah situasi yang serba campur aduk itu saya tetap berusaha melembutkan hati agar bisa menerima kenyataan bahwa ini semua adalah kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT. Semoga si kecil terus tumbuh sehat, aktif dan tentu lembut hatinya. Aamiin.

Malang, 19 September 2020
Ayahnya Val

Keterangan foto: Si kecil girang saat dimasukkan ke mesin cuci sama bapaknya, mumpung ibunya sedang basket

Monday, September 7, 2020

SUDUT PANDANG: MENYOAL IMIGRAN DI JERMAN

Saya membaca-baca berita DW Indonesia, salah satu portal paling terkenal di Jerman. Ada satu berita yang mengulas bagaimana saat ini pemerintah Jerman sedang galau. Apa yang digalaukan? Otoritas pemerintah di Jerman sana terpecah menjadi dua kubu dalam menyikapi gelombang arus imigran yang masuk ke Jerman. Ada persoalan serius yang menghambat akan tetapi ada juga hikmah kebaikan yang hadir dari kasus imigran ini.

Ilustrasi: Bendera Jerman dan Turki terpampang jejer di jalanan Kota Berlin
Sumber: google

Satu kubu mengatakan bahwa hadirnya imigran adalah berkah karena di tengah-tengah banyaknya jumlah imigran tersebut diyakini ada banyak tenaga terampil yang bisa diberdayakan untuk menggerakkan ekonomi, sosial budaya dan muaranya adalah kekuatan Jerman. Sebagai contoh saja, bagaimana Timnas sepakbola Jerman sukses berprestasi di kancah internasional berkat hadirnya para pemain keturunan imigran, Ozil dari Turki dan Boateng dari Ghana misalnya. Atau misalnya tumbuhnya sektor manufaktur otomotif karena marketnya semakin luas berkat hadirnya imigran.

Kubu yang lain menyebutkan sebaliknya, bahwa hadirnya imigran di Jerman hanya akan menghabiskan anggaran pemerintah dan ini tentu akan berdampak buruk pada roda ekonomi makro di negara tersebut.  Menurut CNN tercatat pada Juli 2020 ini pemerintah Jerman menggelontorkan anggaran senilai 3 milyar euro untuk menstimulus dan memberi tunjangan kepada imigran yang mayoritas berasal dari Timur Tengah tersebut. Selain itu ada sisa masalah misalnya kriminalitas yang tinggi dan ekonomi yang stagnan di perbatasan dan wilayah yang dihuni oleh banyak imigran, seperti kawasan Jerman Timur.

Dua kubu ini saling "baku hantam" perang pengaruh dan pendapat di meja senat (sekelas legislatif/DPR kalau di Indonesia). Jerman memang sejak 2009 membuka deras kran untuk imigran yang masuk ke negara mereka. Meski begitu sampai detik ini Jerman terus tumbuh berkembang dalam harmonis keragaman. Keanekaragaman sosial budaya mereka kemudian menjadi kaya dan meningkat drastis dari sisi varian. Tercatat pula tetap terjadi pertumbuhan ekonomi, di 2019 kemarin angkanya 0.6 % meski ini tercatat sebagai pertumbuhan paling lambat dalam sejarah ekonomi Jerman.

Saya kemudian membayangkan jika itu terjadi di Indonesia, apakah mungkin terjadi? Akan menjadi sebuah petaka pastinya karena memang negeri ini tidak cukup terbuka pada kelompok lain. Boro-boro membuka kran atau ruang untuk imigran, untuk sekedar menampung dalam waktu sementara pengungsi Rohingya saja misalnya terjadi kegaduhan sangat luar biasa di elit politik dan juga masyarakat. Ini semua tentu karena ketidaksiapan negeri ini mengakomodirnya jika benar-benar  sampai terjadi.

Begitu juga dengan sentimen keras mayoritas penduduk negeri ini yang paranoid sekali terhadap hadirnya kelompok liyan, misalnya dalam menyikapi hadirnya tenaga kerja asing, contohnya dari China yang baru-baru ini memanas di daerah Sulawesi Utara atau daerah lainnya di Indonesia. Kelompok demi kelompok mengaku mengatasnamakan nasionalisme kemudian mentah-mentah menolak semua skema itu. Dalam kasus terdekat adalah menyoal RUU Omnibus Law yang dianggap berpotensi menjadi masalah baru di Indonesia khususnya bagi kelas pekerja.

Kemudian kita semua akhirnya bisa menyimpulkan, memang kita ini tidak setara jika dibandingkan Jerman dalam segalanya dan banyak hal apapun. Utamanya cara berpikir yang terbuka dan sekuler yang menurut hemat penulis sebenarnya bisa dijadikan aset berharga di masa mendatang. Memang kenyataannya masih sulit mengembangkan cara pandang tersebut di masyarakat negeri yang dari dulu hingga sekarang masih berstatus berkembang ini.

Sunday, September 6, 2020

SUDUT PANDANG: FILM TILIK 2020

Awal Agustus 2020 di tengah pandemi Covid-19 dunia perfilman dan masyarakat Indonesia dikejutkan dengan viralnya sebuah film pendek yang sedang booming yaitu film berudul Tilik. Film ini cukup suskes memikat hari penonton karena dialog-dialog yang digunakannya sangat natural dan njowo. Bahkan sesaat setelah film itu booming melalui YouTube langsung netizen membuat banyak sticker dan poster yang menggambarkan potongan-potongan dialog dari tokoh utama film tersebut yaitu Bu Tejo berseliweran.

Salah satu poster yang dibuat oleh Netizen
Sumber: Google

Penulis ingin membahas apa sebenarnya "tilik" itu dalam sudut pandang bahasa dan istilah. Kebetulan penulis merupakan warga asli Jawa Timur, sehingga kemudian menjadi terbesit pemikiran bahwa memang kenyataannya kalau di Jawa Timur istilah “tilik” itu tidak familiar untuk menyebut "menjenguk", warga Jatim secara luas lebih suka memakai istilah “sambang” untuk mengganti istilah jengukan baik terhadap orang sakit atau bayi baru terlahir misalnya.

Saya berikan contoh penggunaan sehari-hari misalnya seperti ini, “Mbak, ayuk nyambangi bayine bulik Juwariyah yuh” yang berarti mbak, ayo menjenguk bayinya tante Juwariyah. Atau dalam contoh lain dengan logat Suroboyoan mungkin begini, “Bro, kapan kate nyambangi Dul Kamid? Areke dirawat ndek rumah sakit jiwa lho” yang berarti Bro, kapan akan menjengeuk Dul Kamid? Dia dirawat di rumah sakit jiwa lho.

Penulis sebelumnya sudah mengenal istilah “tilik” saat masih kerja di Bekasi, Jawa Barat. Karena banyak circle penulis yang kebetulan berasal dari Jawa Tengah dan khususnya Yogyakarta. Memang di Jateng secara umum memakai istilah “tilik” sebagai kata ganti jenguk.

Saya akan berikan contoh penggunaan istilah "tilik" ini di Jateng atau Yogyakarta, misalnya begini dalam dialek Banyumasan, "Kang rika wis tilik mbah lurah apa urung? Mbah lurah dirawat aring rumah sakit lho kang" yang berarti Mas kamu sudah jenguk mbah lurah apa belum? Mbah lurah dirawat di rumah sakit lho mas. Atau dalam dialek Yogyakartaan misalnya "Dek, kapan tilik mbak yu, wis dirawat telung dino mosok awakdewe urung tilik" yang berarti Dek, kapan menjenguk kakak, sudah dirawat tiga hari masa kita belum jenguk.

Padahal sekali lagi istilah "tilik" di Jawa Timur itu akan identik dengan mencicipi. Misalnya begini, “sik njajal tak tilikane rasane wis pas opo urung”. Yang kurang lebih berarti, “sebentar coba saya cicipi rasanya sudah pas apa belum”. Begitu kira-kira. Bisa dan mudah membedakannya kan?

Media sosial itu memang sangat luar biasa bisa mengubah dunia, dari yang sebelumnya orang tidak paham kultur daerah liyan menjadi paham dan sedikit mengerti sehingga kemudian akan menambah wawasan. Sekat-sekat antar daerah dan wilayah dapat teratasi oleh hadirnya media sosial. Sudah berapa banyak kemudian pertukaran sosial budaya di negeri Indonesia yang beragam ini terjadi akibat dari hadirnya media sosial? Mari gunakan media sosial untuk hal yang positif dalam kehidupan kita.

Thursday, August 27, 2020

INDUSTRY: MAKE TO ORDER VS MAKE TO STOCK

Di dalam proses manufaktur kita mengenal ada dua sistem kerja yaitu make to order dan make to stock. Umumnya make to order ini dipilih oleh perusahaan berbasis automotive dan metal yang nilai produknya mahal, semebtara make to stock ini rata-rata dipakai oleh perusahaan yang memproduksi barang bernilai murah dan konsumtif.

Ilustrasi MTS vs MTO, sumber: Google

Sebagai contoh dari ejawantah dua sistem ini adalah sebagai berikut ini:

1. Toyota

Toyota manufacturing system sangat kuat menerapkan proses produksi berbasis JIT (Just In Time), karena memang dalam praktiknya Toyota akan memproduksi berdasarkan jumlah dan item produk yang telah diorder oleh konsumen. Polanya adalah sales marketing menerima fixed order dari dealer-dealernya yang tersebar di seluruh kota. Itulah kenapa jika anda hendak membeli mobil Toyota misalnya, anda akan dihadapkan pada situasi di mana anda diharuskan indent (pesan dan tunggu). Baru setelah sales marketing menerima fixed order tersebut kemudian terbitlah SPK (Surat Perintah Kerja) untuk diturunkan ke produksi yang digawangi oleh PPIC dan seluruh divisi penunjang. Kemudian diproduksi lah semua bill of material dan semua kelengkapannya hingga jadi produk sesuai permintaan konsumen. Sehingga pola sistem ini lebih terlihat seperti sistem tarik, yaitu menarik produk dari ruang produksi berdasarkan fixed order. Kira-kira seperti itu.

2. Unilever

Unilever merupkan perusahaan dengan basis produksi berupa FMCG (Fast Moving Consumer Goods) dan tentu karena memakai basis produksi seperti itu menjadikan sistem JIS (Just In Case) yang dipilih sebagai prosedur manufakturnya, yaitu singkatnya adalah industri barang kebutuhan sehari-hari yang cepat habis dan sirkulasinya deras. Dalam praktik manufakturnya, Unilever tidak menunggu fixed order layaknya Toyota. Unilever menggunakan cara forecast order yang berarti ramalan pemesanan yang sudah diprediksi oleh sales marketing. Jadi mereka tidak perlu menunggu anda dan kita semua pesan hand body lotion, pasta gigi dan lain-lain produknya Unilever, mereka akan membuat berdasarkan metode Make to Stock, memproduksi untuk nyetok permintan pasar. Sistem seperti ini lebih terlihat seperti sistem dorong, yang artinya sales marketing menuntut PPIC dan divisi produksi untuk menggenjot produksi sebanyak mungkin sesuai dengan forecast order sehingga kebutuhan pasar terpenuhi. Kira-kira begitu.

Memang dua sistem manufaktur tersebut ada plus dan minusnya. Anda, bekerja atau tertarik dengan sistem manufaktur seperti apa? Mari berdiskusi.

Sunday, August 16, 2020

RENUNGAN: MEMAKNAI 75 TAHUN INDONESIA MERDEKA

Tepat esok hari Senin, 17 Agustus 2020 bangsa Indonesia akan merayakan hari lahirnya yang ke 75 tahun. Ada hal yang harus kita renungi bersama dalam kaitannya mengingat dan memaknai merdekanya bangsa ini dari era penjajahan baik Belanda atau Jepang. Penulis mengajak pembaca untuk kembali mengingat saat-saat Indonesia akan menjalani hari penting bagi seluruh elemen bangsa ini yaitu proklamasi kemerdekaan.

Sejarah mencatat, pada 6 agustus 1945 sebuah bom atom meledak di Kota Hiroshima Jepang yang saat itu sedang menjajah Indonesia. Kemudian dengan segala upaya terbentuklah BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau dalam bahasa Jepang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai yang didirikan Pemerintah Jepang di Indonesia pada 29 April 1945.

Kemudian berganti pada 7 agustus 1945 menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau dalam Bahasa Jepang disebut Dokuritsu Junbi Inkai. Pada 9 Agustus bom atom kembali dijatuhkan di kota Nagasaki yang membuat Jepang menyerah kepada Amerika Serikat. Pada 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir mendengar lewat radio bahwa Jepang telah menyerah pada Amerika Serikat dan Sekutu. Hal ini lah yang memicu para pahlawan serta founding father bangsa ini bergegas ingin segara mendeklarasikan diri sebagai sebuah bangsa yang merdeka bernama negara Indonesia.

Ilustrasi Soekarno-Hatta saat Proklamasi
Sumber: google.com

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh dua matahari kembar putera terbaik bangsa ini yaitu Soekarno dan didampingi oleh Moh. Hatta bertempat di sebuah rumah hibah di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Proklamasi ini menandai dimulainya perang diplomatik antara Indonesia dengan Belanda dan juga warga sipil yang pro-Belanda. Hingga pada titik tertentu kemudian akhirnya Belanda bersedia mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia pada tahun 1949.

75 tahun setelah para founding father bangsa ini melepaskan jeratan dari era penjajahan baik Belanda ataupun Jepang, apakah hari ini kita sudah mengisi hari-hari kita dengan nilai positif untuk benar-benar mewujudkan Indonesia merdeka yang sesungguhnya? Jika para pahlawan kita sudah berjuang mati-matian mengangkat senjata dan berdiplomasi di kancah internasional untuk memerdekakan Indonesa, kemudian apa yang kira-kira kita bisa berikan?

Penulis bermaksud mengkritisi diri sendiri (auto kritik) dan juga ingin menyuarakan pentingnya generasi muda khususnya generasi milenial untuk mengisi kemerdekaan bangsa ini. Sudah seyogyanya kita semua berjibaku mengisi apa yang oleh founding father bangsa ini berikan, yaitu kemerdekaan. Kira-kira apa yang bisa kita lakukan? Mari renungkan bersama, sudah sejauh apa diri kita bersungguh-sungguh memberikan performa terbaik sebagai masyarakat bagian dari bangsa yang besar ini.

Penulis melihat bahwa generasi milenial merupakan agen perubahan yang memiliki tanggung jawab paling besar melanjutkan perjuangan kemerdekaan Indonesia dan juga wajib bersikeras mempertahankannya. Cara mengisi kemerdekaan bagi generasi milenial menurut hemat penulis yaitu belajar dengan sungguh-sungguh, secara simbolik dengan mengikuti upacara secara khidmat (jika ada), menciptakan kondisi masyarakat baik offline atau online yang aman dan saling toleransi, meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun bangsa Indonesia ke depan, dan melakukan banyak hal positif lainnya.

Apakah itu semua adalah hal yang sulit dilakukan? Tentu saja iya. Ada banyak ujian serta hambatan dalam diri generasi milenial saat ini untuk mewujudkan tindakan positif yang tersebut di paragraf di atas barusan. Apalagi kita semua tahu hari ini terdapat sebuah ujian besar yang sedang dihadapi oleh bangsa ini dan juga seluruh dunia yaitu wabah pandemi Covid-19. Diakui atau tidak pandemi ini cukup mengganggu proses generasi milenial dalam mengisi kemerdekaan, belajar tidak lagi sesuka sebelum era pandemi, saat ini media daring dijadikan sebagai sarana untuk belajar dan kenyataannya tidak semua anak didik bisa mengikuti pembelajaran daring secara baik dan lancar. Banyak yang terkendala kemiskinan, dan lain sebagainya. Ini merupakan tantangan tersendiri yang harus disikapi dengan bijak oleh semua orang.

Jika biasanya secara simbolis masyarakat dan anak muda generasi milenial belajar memperingati dan merenungi kemerdakaan dengan cara lomba 17-Agustusan (balap karung, panjat pinang, dll.) seperti lumrahnya tradisi masyarakat kita tahun demi tahun, hari ini pemerintah pusat dan banyak diikuti pemerintah daerah memerintahkan untuk meniadakan ritual tahunan ini mengingat pandemi Covid-19 masih terus menghantui dan mengintai kita semua. Meskipun begitu penulis mengajak agar kita semua tetap merasa bahwa esok hari adalah hari bersejarah dan paling penting bagi bangsa ini, khidmat peringatan hari kemerdekaan tidak boleh berkurang sedikit pun. Harus tetap ada perenungan bahwa hari ini dan seterusnya kita semua wajib mengisi kemerdekaan dengan nilai positif.

Melalui sepenggal tulisan ini, penulis mengajak seluruh pembaca utamanya generasi milenial untuk membaca dalam hati secara lantang dan khidmat puisi era pra-kemerdekaan karya Chairil Anwar yang berjudul Aku, berikut ini:

Aku

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Chairil Anwar, 1943

Terakhir, melalui penutup sepenggal puisi penuh makna perjuangan tersebut penulis berharap kepada semua orang utamanya generasi milenial yang membaca tulisan ini untuk tidak pernah patah semangat dan usah bosan dalam mengisi kemerdekaan ini dengan nilai dan perilaku positif, belajar secara sungguh-sungguh dan menguasi segala bidang keilmuan dan teknologi adalah solusi nyata untuk membuat bangsa Indonesia ke depan lebih baik . Pekik "Aku mau hidup seribu tahun lagi" dari Chairil Anwar tersebut dapat kita semua maknai bahwa perjuangan para pendahulu kita tidaklah boleh terhenti, kita sebagai generasi muda harus terus berupaya membawa bangsa ini menuju kemerdekaan yang hakiki. Selamat merenungi, DIRGAHAYU INDONESIA!



Robi Cahyadi
Malang, 16 Agustus 2020



Thursday, August 13, 2020

RENUNGAN: KEMISKINAN ITU NYATA DI SEKITAR KITA

Potret Kemiskinan Indonesia
Potret Kemiskinan di Indonesia

Seorang ayah di Garut, Jawa Barat, melakukan hal nekad: dia mencuri telepon seluler milik majikannya, beberapa waktu lalu. Lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani itu mengambil ponsel majikannya karena terpaksa. “Anak saya sudah lebih dari sepekan tak bisa sekolah dengan cara online. Kami tak punya ponsel”, ujar si ayah setelah dia tertangkap oleh putra si majikan yang melacak keberadaan ponsel itu lewat bantuan aplikasi. 

Si putra majikan tak jadi marah meski dia sudah menemukan ponsel curian dan pelakunya. Setelah berhari-hari melacak lokasi ponsel yang hilang itu, dia menemukan sebuah titik di peta, dan dengan hati-hati menelusuri jejak yang ditampilkan oleh aplikasi itu. 

Dia terkejut karena yang ditemukannya adalah sebuah gubuk kecil dengan tiga orang anak di dalamnya sedang belajar di atas tikar lusuh. Rumah itu hanya bersekat anyaman jerami, dengan ditopang kayu-kayu lapuk dan semen alakadarnya. Biliknya begitu sempit untuk dihuni lima kepala, dan ancaman bocor dari segala sisi jika musim hujan tiba. Dia melihat benda yang sedang dicarinya: sebuah ponsel di tangan seorang anak yang sedang belajar menggunakan gawai itu. Si putra majikan terenyuh. Dia sedih. 

Si putra majikan memanggil si lelaki yang mencuri ponsel dan memintanya menghadap ayahnya, sang majikan. Dia sebetulnya hanya sesekali saja bekerja di rumah majikan itu, semacam tenaga serabutan dan bukan pekerja tetap. Pada suatu hari saat ada kesempatan masuk ke rumah majikan, dia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Ada dua ponsel di meja itu, dan sebuah laptop. Lelaki buruh tani itu hanya mengambil satu ponsel saja, dan lalu menghilang.

Di hadapan sang majikan, lelaki buruh tani itu menangis meminta maaf, dan mengatakan dia melakukannya dengan terpaksa karena tak tahu lagi bagaimana harus mencari uang untuk membeli ponsel buat putrinya. Bahkan untuk makan sehari-hari saja keluarganya megap-megap. Anaknya duduk di bangku kelas satu madrasah tsanawiyah (MTs), dan sejak wabah corona menyebar, seperti juga anak-anak di seluruh negeri, sekolahnya menerapkan sistem belajar online dari rumah. Dia takut anaknya tertinggal dan tak bisa mengikuti pelajaran sekolah dan terkucil dari proses pendidikan. 

Sang majikan tak jadi marah. Dia memaafkan lelaki buruh tani itu dan lalu mencabut laporan kehilangan ponsel ke polisi sehingga kasus hukumnya tak berlanjut. Para tetangga mengatakan lelaki buruh tani itu memang hidup dalam keadaan terbatas setiap harinya. Bahkan listrik saja mereka tak punya. “Untuk ngecas ponsel, si anak harus pinjam listrik ke rumah tetangga”, kata seorang warga. 

Kisah ini viral di media sosial dan media arus utama pekan lalu. Para penegak hukum seperti jaksa dan polisi menjenguk si lelaki buruh tani, dan mereka membawa sembako juga ponsel, sambil menasihati untuk tidak mengulang perbuatan yang melanggar hukum. Apapun alasannya, mencuri adalah tindakan yang salah.

Saya ingat kisah khalifah Umar bin Khattab, tak menghukum seorang pekerja yang mencuri kuda akibat si pekerja kelaparan, dan meminta majikan si pekerja membayar kuda curian itu dua kali lipat karena kesalahannya membiarkan si buruh kesulitan makan. Atau cerita separuh legenda Hakim Bao dari China yang pernah menghukum satu dusun akibat membiarkan seorang warga kelaparan sehingga si warga itu harus mencuri makanan untuk bertahan hidup. 

Saya yakin si lelaki buruh tani itu tak sendiri, ada banyak orang senasib dengannya: keluarga miskin yang tak mampu membeli gawai atau laptop, sementara di tengah wabah corona saat ini anak-anak mereka harus bersekolah secara daring. Saya kira akan sangat membantu jika ada lembaga sosial mengumpulkan ponsel atau laptop bekas dari sekujur negeri dan membaginya untuk anak-anak yang membutuhkan di tengah situasi sulit saat ini. Pemerintah kabarnya sedang berpikir untuk memberikan bantuan pulsa gratis bagi keperluan pendidikan anak-anak di masa pandemi, dan kita berharap program itu bisa segera terwujud. 

Si lelaki buruh tani yang mencuri ponsel itu hidup di Garut, Jawa Barat, masih Indonesia dan rasanya dia dan banyak orang seperti dia berada tak begitu jauh dari kita.

Sumber: Tulisan Nezar Patria

Monday, August 3, 2020

SUDUT PANDANG: INDONESIA DALAM MELIHAT COVID-19

Stakeholder (pihak yang berkepentingan) di negara maju seperti US, Germany, Jepang, China, India dan lainnya sedang berlomba ketat untuk temukan vaksin Covid-19, Indonesia juga tidak ingin kalah, uji coba vaksin pun dilakukan dengan membeli vaksi dari China. Konon kabarnya uji coba di Indonesia sudah memasuki fase 3 dan jika sukses tahun 2021 sudah dapat memproduksi massal, ini tentu kabar yang sound good, terdengar baik.

Akan tetapi kita semua tahu di sisi lain sementara ini masyarakat masih banyak yang berdebat dan mendebatkan hal yang seharusnya tidak perlu, masyarakat masih sibuk berkutat mencari pembenaran bahwa apakah Covid-19 itu nyata atau hanya sekedar konspirasi elit global. Ini sungguh energi besar yang sia-sia terbuang begitu saja, apalagi banyak anak muda publik figur yang menyuarakannya.

Sampai kapan kemudian warga bangsa ini hidup di bawah kegelapan? Kita ini sering merasa sebagai bangsa timur yang menjunjung tinggi peradaban dan kultur, padahal salah satu kultur yang sebenarnya sedang kita langgengkan adalah budaya mencari atribusi (penghargaan) di mata orang lain. Disadari atau tidak begitulah realita yang terjadi saat ini.

Quotes Gus Dur, credit: NU Online
Tidak jarang orang-orang yang bukan ahlinya terus-terusan berbicara ngalor ngidul soal perihal yang sebenarnya mereka tidak tahu sama sekali. Politisi bicara dunia medis, aparat keamanan dan ketertiban bicara konsep agama dalam penanganan Covid-19, pemusik bicara sains dan teori-teori konspirasi, dan seterusnya. Terus begitu sampai pernyataan yang sesungguhnya bias terulang-ulang sehingga kemudian menjadi biasa. Gus Mus (Kyai Mustofa Bisri) pernah mengingatkan berkali-kali, “bicaralah sesuai porsi kemampuan saudara.”

Masyarakat pun juga demikian gegabah dan dengan mudahnya menerima mentah semua serapah yang disampaikan oleh orang-orang yang tidak ahli tersebut. Bahkan sering kali dijadikan kutipan untuk kemudian dipamerkan kepada orang lain dalam kerangka hubungan sosial. Dengan gawai pintarnya melalui jempol dan jemarinya sangat mudah masyarakat kita mengakses informasi yang salah kaprah. Grup WA keluarga kadang isinya banyak berupa repost broadcast informasi yang sebenarnya sampah dibanding informasi yang obyektif dan bisa dipertanggungjawabkan.

Nafsu angkara murka adalah penyebab semua ini bisa terjadi. Manusia selalu haus atribusi, ingin dipandang, butuh perhatian, ingin diikuti oleh orang lain, ingin dikagumi dan seterusnya. Itulah watak dasar manusia yang berasal dari sisi gelap sanubari alam kejahatan. Setan tak benar-benar hanya berwujud api seperti kiasan selama ini, seringkali malah berwujud manusia dalam berbagai sifat sikapnya yang hina.

Dalam rangka menyikapi Covid-19 penulis mengajak semua pembaca agar benar-benar berupaya obyektif dalam melihat persoalan. Menempatkan diri dan pikiran di tengah-tengah (seimbang) adalah sebuah keharusan. Perbanyak referensi membaca sehingga menjadi input positif ke otak adalah salah satu cara paling mudah digunakan. Banyak lembaga kredibel yang dapat dirujuk sebagai pedoman untuk menempatkan sikap terbaik kita dalam menyikapi Covid-19.

Terakhir, semoga kita semua selalu berusaha menjaga diri dari terkena wabah ini dengan melakukan yang sudah umum disarankan, yaitu menjaga jarak dengan orang lain, menggunakan masker sebagai pelindung diri, cuci tangan sesering mungkin, paparkan badan ke sinar matahari pagi dan penuhi badan dengan asupan makanan bergizi. Juga sehatkan mental dengan meditasi religi sesuai cara masing-masing. Semoga Covid-19 segera berlalu dan menyisakan cerita saja. Yok bisa yok!

Mojosari
Penghujung Juli 2020

Wednesday, July 22, 2020

IMAJINASI: JIKA SAYA MENDAPATKAN UANG SATU MILYAR

"Seandainya saya memenangkan undian uang 1 milyar maka apa yang akan saya lakukan?"

Itulah sebuah pertanyaan yang diberikan saat saya mendapatkan panggilan tes kerja di salah satu perusahaan besar di Jawa Timur. Apa jawaban saya dalam sebuah esai yang mensyaratkan minimal 1000 huruf?

Uang Bukanlah Segalanya, Teman Yang Baik Juga Rezeki 

Pada dasarnya saya orang yang tidak mudah begitu saja percaya pada sebuah undian, apalagi jika ini merupakan undian yang bernilai sangat besar dan terlihat seperti tidak masuk akal. Hal yang akan saya lakukan jika mendapati situasi ini adalah sebagai berikut:

Pertama, saya akan menanyakan pihak pemberi undian untuk mengkonfirmasi apakah ini benar atau hanya modus penipuan. Karena saat ini banyak sekali modus penipuan yang bermotif seperti ini. Sudah banyak di media online bukti laporan pihak-pihak yang dirugikan dengan penipuan bermodus seperti ini. Maka hati-hati dan waspada adalah suatu keharusan.

Kedua, jika hasil konfirmasi ini tekesan mencurigakan dan tidak benar maka saya akan laporkan pemberi undian ke pihak berwajib agar dicari kebenarannya dan jika ini merupakan modus penipuan agar pelaku tindak kejahatan seperti ini dapat diringkus, akan tetapi jika ini ternyata benar maka saya akan tetap meminta pendampingan orang terdekat saya untuk memproses atau mengambil dan menerima undian ini dengan tetap melibatkan pihak berwajib untuk mendampingi agar keamanan saya tetap terjamin.

Ketiga, dengan uang sebanyak itu sebagai rasa syukur saya akan menyisihkan 2.5 % dari total yang saya terima untuk saya sumbangkan ke pihak yang membutuhkan misalnya fakir miskin, yatim piatu, atau tempat beribadah. Ini bagian dari keimanan saya terhadap agama yang saya anut karena mengajarkan dan mengatur demikian terhadap pemeluknya. Lembaga yang akan saya jadikan rujukan untuk menerima sumbangan ini tentunya juga Lembaga yang sah dan resmi baik dari institusi pemerintah atau lembaga sosial keagamaan. Di samping itu juga saya akan menyisihkan untuk saya sumbangkan ke lingkungan RT tempat saya tinggal untuk keperluan membangun jalan perumahan yang saat ini kondisinya rusak parah.

Keempat, saya akan memprioritaskan uang tersebut untuk keperluan membayar semua hutang saya pribadi dan juga hutang keluarga. Secara pribadi saya masih menanggung beberapa cicilan (hutang), begitu juga dengan keluarga besar saya yang masih memiliki beberapa cicilan (hutang). Bagi saya ini penting karena untuk meringankan beban pikiran dan menyehatkan roda ekonomi keluarga.

Kelima, saya pribadi masih memiliki cita-cita antara lain melanjutkan studi S2, saya akan mengalokasikan uang tersebut untuk kebutuhan menempuh studi S2 sesuai jurusan yang saya inginkan. Saya yakin pendidikan merupakan investasi terbaik untuk kehidupan masa depan yang lebih baik pula. Saya juga akan menambah beberapa ketrampilan dengan mengikuti sertifikasi pelatihan misalnya pelatihan AK3 Umum, pelatihan Six Sigma, pelatihan Bahasa Inggris, dan pelatihan lainnya yang menunjang karir saya di pekerjaan.

Keenam, saya akan mengajak keluarga saya untuk ibadah umroh. Di samping itu merupakan anjuran agama yang saya anut, itu juga bagian dari refreshing (rekreasi) untuk mendapatkan semangat baru dalam hidup dan motivasi untuk lebih tekun dalam bekerja dan beribadah.

Terakhir, sisa uang yang ada akan saya alokasikan untuk investasi dalam bentuk harta aktif dan harta pasif. Harta aktif misalnya akan saya belikan mobil untuk keperluan mobilitas keluarga, kemudian harta pasif misalnya tanah atau rumah yang saya meyakini tahun demi tahun nilai harta pasif ini akan terus bertambah. Ini penting sebagai investasi jangka panjang nantinya

Demikianlah kira-kira tindakan yang akan saya lakukan jika mendapati undian senilai 1 milyar rupiah. Meskipun ini hanya sebuah permisalan setidaknya ini dapat menjadi cara yang baik untuk merangsang ide menulis yang tersimpan di dalam pikiran.

Penulis: Robi Cahyadi

Tuesday, July 7, 2020

SANG FUHRER; MANAJEMEN LEADERSHIP ADOLF HITLER

Sepenggal Kisah Sang Fuhrer

Adolf Hitler and His Nazi Generals
Sepanjang saya sakit dan pasca dirawat banyak waktu yang terhabiskan untuk membaca literatur yang mengulas tentang perang dunia dua dan utamanya menyoal tentara Nazi yang begitu bersemangat dan ambisius ingin menguasai daratan Eropa di bawah kepemimpinan Sang Fuhrer, Adolf Hitler. Secara umum dunia memang mengecam keputusan Nazi yang membuat langkah perang terhadap dunia dan menjadi kejadian yang paling mengerikan dan merugikan dunia di abad 19 tersebut. Bayangkan saja, sejarah mencatat sebelum pecah perang dunia dua tidak ada satupun kejadian yang semengerikan itu. Ribuan nyawa melayang dan peradaban Eropa runtuh sejadi-jadinya.

Ada pertanyaan yang paling mendasar bagi kita semua tentunya, bagaimana bisa seorang Adolf Hitler seorang mantan veteran perang dunia satu yang lahir dari pedalaman Austria tersebut meyakinkan dan membuat semua orang setia pada perintahnya? Apa rahasianya? Kenapa jenderal-jenderal Nazi yang begitu cerdas dan jenius itu bisa menjadi loyalis setia terhadap Adolf Hitler? Apa menariknya Si Fuhrer ini sampai-sampai mereka semua begitu takut padanya dan berjuang mati-matian untuknya? Bahkan Gobbels si menteri propaganda Nazi yang sangat terkenal dengan pidato propagandanya itu rela mati bunuh diri bersama keluarganya dan menemani Hitler saat-saat terakhir di fuhrerbunker-nya?

Joseph Gobbels, Heinrich Himmler, Erwin Rommels, Martin Bormann, Karl Donitz, dan banyak jenderal hebat lainnya semua pasang badan demi Hitler, apa yang bisa membuatnya demikian? Ini sangat menarik diulas oleh para sejarawan dan menjadi topik paling hangat sepanjang beberapa dekade setelah perang dunia dua berakhir. Semua orang bahkan sampai hari ini masih bingung kenapa semua itu bisa terjadi, apa rahasia sebenarnya. Beberapa teori mengemuka dan dengan metodologi ilmiahnya bersaing ingin meyakinkan publik tentang rahasia apa yang membuat Hitler bisa sedemikian ditakuti dan diikuti.

Salah satu teori yang paling diyakini oleh sejarawan adalah itu semua terjadi dikarenakan Hitler memiliki apa yang pemimpin besar lain di dunia ini tidak memiliki. Apakah gerangan? Manajeman adu domba. Ya, itulah yang tidak banyak orang sadari tentang apa yang menjadi khas dan strategi Sang Fuhrer dalam memimpin Nazi Jerman dan mengendalikan semua orang jenius di sampingnya. Dia memiliki apa yang oleh ilmuwan disebut sebagai manajemen adu domba. Peoples manajemen yang sangat berhasil di jamannya. Menarik bukan?

Hitler tidak pernah benar-benar menyayangi satu orang pun jenderalnya, saat dia mengatakan kepada Bormann bahwa Bormann adalah yang paling dibanggakan dan dikaguminya karena sanggup membuatkan Hitler sebuah Eagle Nest sebagai benteng perlindungan, di satu sisi dia juga menyalahkan Bormann di hadapan jenderal yang lain. Dan tak jarang membuatnya malu di depan umum dan sering menarik ulur apa yang pernah dikatakannya. Manajemen adu domba berulang seperti ini yang kemudian membuat seluruh jenderal-jenderal jeniusnya terus bersaing dan menunjukkan kinerja serta citra terbaiknya di hadapan Sang Fuhrer. Mereka bekerja maksimal dan loyal terhadap pemimpinnya, tak satu pun dari mereka yang berpikir untuk membelot dari setiap perintah dan rencananya. Semua saling berkompetisi untuk menjadi yang terbaik di hadapan Hitler. Jenius.

Dari sepenggal kisah ini kita semua bisa belajar sisi positif Hitler sebagai pemimpin Nazi Jerman yang sangat terkenal itu. Dia punya strategi bahwa tidak semua bawahannya harus disayang atau sebaliknya dibenci, tarik ulur tentang apa yang dia katakan kepada loyalisnya adalah kunci agar mereka bekerja berkompetisi maksimal padanya. Apakah gaya leadership seperti ini bisa diterapkan di dunia moderen saat ini? Di dunia organisasi dan kerja hari ini misalnya? Tentu saja bisa dan sangat mungkin diterapkan. Tergantung keberanian dan siapa pemainnya. Apakah anda sebagai pemimpin tertarik memakai gaya Adolf Hitler dalam mengelola manajemen people di lingkungan anda? Jika tidak, anda patut sesekali bereksperimen mencobanya. Semoga berhasil.

Salam,
RC28~
Malang, 7 Juli 2020

Saturday, June 13, 2020

MECHANICAL: WHAT IS LEAN MANUFACTURING?

Lean Manufacturing Tools to Jumpstart Your Efforts


Lean manufacturing tools are methods to help create a Lean environment and achieve goals around:
  • Reduced waste
  • Improved efficiency
  • Increased customer value
Lean Manufacturing Tools
The following list covers our top ten (of many) Lean manufacturing tools.
  • PDCA problem solving cycle
  • PDCA stands for Plan, Do, Check, Act and offers a visual way to represent a typical problem-solving cycle. It covers:
  • Planning for a specific goal
  • Doing the work required by that plan
  • Checking the results of the work
  • Acting to fix any unsatisfactory results
  • Like many Lean manufacturing tools, PDCA focuses on identifying and solving problems quickly.
It also helps everyone involved see the impact of their role on the end product delivered to customers.

The Five Whys

The Five Whys is another one of several Lean manufacturing tools used to identify the root cause of a problem. Quite simply, it requires participants to continually ask “why?” questions (typically five or fewer times) to peel back the layers. This questioning allows teams to diagnose problems without any statistical analysis and often identifies multiple root causes and the relationships between them.

Continuous flow (aka one piece flow)

Continuous Flow is a Lean manufacturing tool that calls on teams to manufacture smaller batches. That’s because smaller batches can go through the production system faster and because having smaller batches allows teams to regularly examine the output to make any necessary improvements for the next batch, thereby eliminating waste.

Cellular manufacturing

Cellular manufacturing supports continuous flow by calling on teams to arrange workstations based on the parts they produce in order to minimize travel time for those parts and allow for rapid feedback across stations about any issues. Together, these two Lean manufacturing tools also enable teams to produce smaller, more efficient batches. Organizations typically achieve cellular manufacturing by arranging workstations in a “U” formation.

Five S

Five S is another of the Lean manufacturing tools focused on workstations. Specifically, it dictates how teams should organize materials and keep workstations “cLean” to maximize efficiency. The five S are:

  • Sort (remove any unnecessary materials)
  • Set in order (arrange materials so they are easy to find and access)
  • Shine (cLean the workspace regularly)
  • Standardize (make the previous three Ss a standard routine)
  • Sustain (institute regular audits)
Total Productive Maintenance (TPM)

Total productive maintenance is a Lean manufacturing tool that emphasizes operational efficiency for equipment and safety for workers. Building on the Five S approach, TPM asks workers to help maintain their equipment to avoid accidents, breakdowns, defects and delays.

Part of TPM is the Overall Equipment Effectiveness (OEE) metric, which measures the percentage of working time that is actually productive. OEE is based on scores for availability, performance speed and output quality. Multiplying these three numbers gives the OEE metric, with an 85% best-in-class for organizations using Lean manufacturing tools, a 60% average for organizations using Lean manufacturing tools, and a 40% average for organizations not embracing any Lean manufacturing tools.

Takt time

Takt time is one of the Lean manufacturing tools focused on customer value. It measures the average rate at which teams must manufacture products to meet demand.

To calculate takt time, divide the working time available for production (in hours, days, weeks) by the units required to meet customer demand. Using this Lean manufacturing tool, if a team works 40 hours a week and the company expects customers to buy 80 units a week, the takt time is 0.5 (40 / 80). This means the team must produce one unit in half an hour to meet customer demand.

Standardized work

Standardized work and takt time are two Lean manufacturing tools that work together. Specifically, standardized work helps teams achieve their takt time by creating and documenting a set, repeatable process for how teams should function. For example, it documents the steps teams should take, the materials they need, and the time required for each step.

Mistake proofing

Mistake proofing focuses on detecting mistakes as they occur (either automatically through technology or manually through inspection) and notifying workers accordingly. Like all Lean manufacturing tools, it helps eliminate waste and increase efficiency, this time by surfacing errors as they occur to prevent defective parts from moving further down the process.

Leveling the workload

Leveling the workload calls for teams to manufacture products consistently despite inconsistencies in customer demand. That means even though customers might buy 100 units one week and 60 units the next week, teams should maintain a consistent output over a set period of time (e.g. a week or a month). This consistency helps teams remain efficient since they do not need to switch setups to manufacture different products in unpredictable patterns.

Embracing Lean Manufacturing Tools

Embracing Lean manufacturing tools like those outlined above can go a long way toward helping your team increase efficiency and reduce costs. Most importantly, these Lean manufacturing tools can help you deliver a higher quality product to customers in a faster and more predictable way – a win for both your operations and your customers.