Sunday, July 17, 2022

OPINI: BERANI BERBEDA DENGAN GENERASI TUA

Source: Google Picture

Sudah menjadi hal lumrah saat generasi tua tidak puas dengan kinerja generasi muda. Dari zaman ke zaman hal ini terjadi, di mana sering sekali generasi tua merasa ragu akan kemampuan suksesornya yaitu generasi muda. Di sektor apapun sangat mungkin terjadi, misalnya di dunia politik, sosial, organisasi, kantor dan lain sebagainya.

Jika engkau adalah generasi muda yang saat ini sedang diragukan oleh seniormu, jangan pernah membantahnya dengan kata-kata karena itu akan menjadi sia-sia. Generasi baby boomers alias seniormu saat ini rata-rata mentalitasnya adalah otoriterian ala order baru. Sanggahlah dengan bukti nyata bahwa di tanganmu ternyata semua bisa berjalan baik-baik saja.

Tapi jika engkau kebetulan merupakan generasi tua, jangan merasa diri bahwa role model leadershipmu lah yang terbaik. Jangan juga merasa generasi muda saat ini cenderung lembek tidak semilitan dirimu. Jangan-jangan ini hanya soal perspektif semata? Engkau merasa paling ingin dihormati? Karena pada umumnya demikian yang sering terjadi.

Setiap era punya tantangannya sendiri, tidak bisa mengasumsikan bahwa cara yang sama bisa dilakukan untuk menyelesaikan problem di waktu yang berbeda. Mungkin ada benarnya bahwa generasi muda saat ini relatif lebih lembek seperti istilah baratnya Gen Strawberry. Tapi bisa jadi lembek di sini berarti flexible dan agile dalam menatap era digitalisasi yang penuh tantangan.

Apa yang ingin saya katakan? Tidak bisa kita sebagai manusia kaku dan rigid pada setiap potensi generasi. Generasi tua dengan segala pengalamannya tentu tetap butuh sokongan dari kreatifitas generasi muda. Generasi muda dengan segala kelincahannya juga harus menyadari bahwa dari generasi tua banyak ilmu yang bisa diminta, khususnya soal ketahanan alias militansi misalnya.

Salam,
Generasi setengah-setengah

Sunday, June 26, 2022

OPINI: GRATIFIKASI GURU DI MUSIM RAPORAN ANAK SEKOLAH

Tulisan ini berangkat dari ide liar untuk mengkaji secara singkat bagaimana sulitnya menjadi orang tua. Setelah dua insan orang dewasa memutuskan untuk membangun rumah tangga, tentu orientasi selanjutnya adalah memiliki anak dan seterusnya. Pada umumnya karena trend seperti itulah kenapa disebut sebagai rumah tangga. Artinya memang perlahan naik anak tangganya satu demi satu.

Jika langkah di tangga pertama dalam berumah tangga adalah menikah, banyak dari suami istri yang memutuskan tangga ke dua adalah memiliki anak. Selanjutnya tangga ke tiga barangkali memiliki rumah beserta isinya, dan tangga ke empat adalah menyekolahkan anak hingga jenjang tertinggi, disusul tangga ke lima menikahkan anak alias mantu dan seterusnya, seterusnya, seterusnya sampai anak tangga terakhir yaitu kematian.

Mungkin tidak semua orang akan memilih dan memiliki urutan anak tangga yang sama, sangat mungkin berbeda-beda antar satu rumah tangga dengan rumah tangga lainnya. Melalui tulisan di status facebook ini penulis ingin mengajak pembaca menyelami gagasan penulis dalam anak tangga ke empat seperti yang dijelaskan pada paragraf ke dua tulisan ini, yaitu menyoal menyekolahkan anak.

Ilustrasi Seorang Guru
Sumber: Google Picture

Hari-hari ini merupakan awal musim liburan sekolah di semester genap tahun ajaran 2021/2022. Semester gasalnya tentu adalah Juli-Desember tahun lalu, benarkah? Mohon dibantu untuk mengoreksinya jika tidak tepat. Menjelang musim liburan ini tentu para wali murid tidak mungkin melewatkan yang namanya raporan anak-anaknya. Karena tahun ajaran di semester genap adalah akhir dari setiap tahapan dalam kelas belajar.

Maka untuk orang tua murid pastinya lebih antusias dengan akhir semester genap ini jika dibanding dengan semester ganjil. Di akhir semester genap ada yang namanya kenaikan kelas, pengambilan jurusan barangkali yang berada di kelas 2 SMA atau sekarang penentuan jurusan sudah sedari kelas 1? Bahkan juga adanya kelulusan yang disertai bagaimana tegang dan sibuknya mencari jenjang sekolah baru atau kampus baru bagi lulusan sekolah menengah atas.

Mengingat situasi semester genap se-hectic itu maka di minggu-minggu ini menjadi hari yang cukup menguras energi bagi para orang tua murid. Di berbagai kesempatan penulis mendapati cerita-cerita tentang bagaimana ada orang tua yang sedang dalam situasi sibuk mencarikan sekolah lanjutan untuk anaknya, sedang sibuk menerima rapor dan mengevaluasi hasil belajar anak-anaknya.

Yang membuat tertarik penulis menuangkan gagasannya dalam status facebook ini tentu tidak lain tidak bukan adalah dipicu karena ternyata di tahun 2020-an ini masih ada dan barangkali banyak juga praktik gratifikasi ke guru oleh orang tua murid. Penulis memilih kata gratifikasi karena sesuai definisinya yaitu pemberian (dalam arti luas). Bisa pemberian uang, barang, cindera mata dan lain sebagainya atas dasar berterima kasih.

Tentu sepintas jika diperhatikan hal ini sangatlah bagus. Ada sebuah simbiosis yang dikemas dalam hubungan sosial alias habblumminannas antara wali murid dan guru. Sepertinya ada tradisi di mana orang tua murid berterima kasih kepada guru setelah satu tahun ajaran sekolah membantu anak-anaknya berjibaku dengan ulangan harian, ujian middle semester, ujian semester gasal dan akhirnya selesai di genap dan lulus atau naik kelas misalnya.

Tapi apakah tradisi gratifikasi oleh wali murid ke guru di year end of education period ini bisa diglorifikasi (dimuliakultuskan) untuk jangka panjang dan seterusnya? Penulis pikir tidak bisa dan tidak perlu sampai pada titik terglorifikasi. Bukan penulis anti terhadap habblumminannas antara wali murid dengan guru, bukan. Tapi penulis lebih menitikberatkan pada efek samping jangka panjang kegiatan gratifikasi ini.

Memuliakan guru-guru yang telah mendidik anak-anak tentu adalah sebuah keharusan, dan sudah semestinya dicontohkan oleh wali murid pada anak-anaknya. Tapi caranya bukan dengan gratifikasi. Ada cara lain yang bisa ditempuh dan menurut hemat penulis jauh lebih soft effect. Efeknya ndak senegatif jika dibanding memberikan gratifikasi dalam bentuk benda duniawi. Gratifikasi dalam bentuk ini tidak lain hanya akan menjadi media tumbuh bersemainya budaya korupsi di kemudian hari.

Penulis kira hal yang perlu dilakukan oleh orang tua dalam mengajarkan memuliakan guru kepada anak-anaknya adalah dengan cara memastikan anak-anaknya taat dan hormat pada gurunya dalam arti sebenarnya. Wali murid harus sepenuhnya bertanggung jawab atas pendidikan di luar sekolah anak-anaknya, karena bagaimana pun karakter dominan akan terbentuk di rumah bukan di sekolahan. Ini yang harus disepakati bersama.

Dalam alquran dijelaskan di surat ke 31 yaitu surat Al-Luqman tentang bagaimana seoarng Luqmanul Hakim mendidik anak-anaknya. Luqman al Hakim dikisahkan merupakan seorang tukang kayu berhidung mancung (seperti kisah pinokio barangkali ya) yang memiliki wawasan islam dan kebijaksanaan tinggi dalam mendidik anak. Seperti apakah yang Luqman al Hakim contohkan dalam mendidik anak?

Pertama, Luqman al Hakim meminta agar anak-anaknya tidak menyembah selain hanya kepada Allah SWT (pendidikan tauhid alias keimanan). Ke dua, mendidik anak-anaknya untuk menjauhi yang munkar dan agar senantias menjadi orang sabar. Ke tiga, mendidik anak-anaknya untuk tidak berbuat angkuh dan sombong. Ke empat mengajarkan anak-anaknya untuk selalu berbakti pada orang tua dan guru-gurunya. Ajaran ke empat ini lah yang seharusnya menjadi tanggung jawab wali murid untuk memastikan anak-anaknya santun dan hormat kepada gurunya.

Apakah ini mudah? Tentu tidak. Penulis masih beranggapan bahwa strategi parenting (pola asuh) yang tepat bagi wali murid terhadap anak-anaknya merupakan salah satu hal yang tidak sederhana. Butuh tirakat tingkat tinggi di level ini, tidak cukup hanya dengan mengikuti teori parenting education di seminar atau webinar yang banyak kita temui di era sekarang ini. Tapi barangkali diperlukan usaha langit sebagai ikhtiar untuk lembutnya attitude anak-anak.

Terakhir, penulis ingin menyampaikan bahwa selain menjadi benih dan media penyemaian korupsi di masa mendatang, gratifikasi yang diglorifikasi di akhir semester genap tahun ajaran sekolah seperti ini tidak lah cukup fair bagi kebanyakan masyarakat kelas menangah ke bawah. Bagi yang kebetulan orang tua murid memiliki penghasilan baik, mungkin dengan mudahnya memberikan cindera mata untuk guru anak-anaknya. Sementara bagi orang tua yang untuk bayar SPP secara rutin saja sulit, lalu mau bagaimana? Rusak kompleks lah tatanan pendidikan kita.

Salam hangat dari Malang,
Minggu, 26 Juni 2022
Robi Cahyadi

Wednesday, June 1, 2022

OPINI: JAMAAH FACEBOOK VS TWITTER

Sebuah Opini: Jamaah Lucu Twitter vs Jamaah Sumbu Pendek

Picture: Facebook and Twitter

Anak twitter dan sebagian juga tiktok itu kan memang lucu-lucu banget dan dalam hidupnya gak ada istilah sedih-sedihnya ya? Mereka yang lama main twitter pasti paham banget bagaimana dunia nyata yang keras dan 'kadang gak asik' ini hanya bisa mereka lupakan dengan guyonan di dunia maya bernama twitter.

Di momen idul fitri ini anak-anak twitter ramai bercanda tentang bagaimana anak-anak kecil yang dapat THR atau angpau lalu oleh ibunya dibujuk untuk disimpan dan dari sini lah pertama kali anak kecil mengenal investasi bodong. Safir Senduk perancang keuangan adalah tokoh publik jamaah twitter yang mula-mula ngepost soal ini.

Saya memahami betul bagaimana karakter 'asik' anak-anak twitter yang serba nyeleneh dan memang dari awal meraka tidak menjadikan serius aktivitas dunia maya itu. Mereka hanya menghibur diri satu sama lain akan penatnya keseharian dan just kidding semata sebenarnya. Mereka jamaah medsos tersantai yang pernah ada dan eksis sampai hari ini.

Tetapi lucunya, guyonan ala khas anak twitter semacam itu disikapi secara serius oleh sebagian kelompok atau golongan yang pola pikirnya rigid, kaku, keras, tidak santai, dan sulit mencandai kehidupan. Guyonan soal THR anak yang disimpan ibunya itu diartikan sebagai hal yang berbahaya bagi pembangunan karakter bangsa. Wadaw.

Kelompok yang ndak bisa santai ini membalikkan tujuan awal bercandaan tersebut untuk kemudian dinilai dan diasumsikan sebagai pola terselubung bagaimana anak-anak untuk diajarkan melawan orang tuanya, khususnya framing tentang seorang ibu yang dituduh jahat karena nilep uang THR anak-anaknya di hari lebaran ini.

Sungguh golongan yang ndak santai ini ternyata cukup banyak dan merajalela di medsos juga, sampai-sampai ada beberapa komentar bernada kritik yang dilancarkan oleh orang-orang yang menyatakan dirinya setengah ustadz (barangkali) mengecam perilaku candaan jamaah twitteriyah yang sebenarnya lucu-lucu ini. Terlalu.

Saya cukup lama menjadi bagian aktif dari jamaah twitteriyah dari tahun 2010-an dan tahu betul memang karakter 'santuy' anak twitter ya begitu itu. Mereka mayoritas adalah anak-anak muda atau setidaknya kalau pun usianya tua tapi tetap berjiwa muda yang tidak kolot lagi kaku. Apalagi gampang mbledos.

Mereka cenderung santai dan saya haqulyakin bahwa tidak ada niatan mereka untuk benar-benar sedang terstruktur, sistematis, terselubung ingin mempromosikan kejahatan seorang ibu terhadap anak-anaknya. Yang menafsirkan begitu saja yang saya kira agak lebay (berlebihan).

Dari sepenggal kisah ini saya mengajak untuk "yuk yang santai jadi orang", jangan sembarang kalir diartikan secara serius lah. Hidup kok gitu amat, takut dan waspada sebuah becandaan akan mengotori iman di dada? Akan menjadikan anak-anak melawan ibunya? Saya kira kok ya ndak perlu gitu-gitu amat untuk terlihat ngislami!

Wallahu'alam bhissowab...

Saturday, May 7, 2022

MEMORI: LEBARAN IDUL FITRI DI TANAH LAHIR

Memoar Lebaran Idul Fitri Masa Kecil

Sebantar lagi bulan ramadan di tahun ini akan meninggalkan kita semua dan jika masih diberi kesehatan dan umur panjang kita akan segera sampai pada bulan syawal. Bulan syawal dalam budaya keislaman di Indonesia lebih akrab di kenal sebagai lebaran idul fitri. Semua orang mungkin bersuka cita dengan sampainya diri mereka pada 1 syawal karena akan ada banyak senyum di mana-mana.

Masyarakat urban yang pada umumnya adalah para perantau di seluruh kota-kota besar di Indonesia bersiap diri untuk pulang kampung ke tanah kelahiran. Budaya mudik sudah menjadi semacam ritual wajib di setiap tahunnya di Indonesia ini, bahkan jika merujuk pada literatur yang ada ternyata budaya mudik lebaran ini sudah ada dari zaman Majapahit dan mulai marak di zaman Mataram Islam.

Dalam catatan para sejarawan disebutkan dahulu kala saat Majapahit menguasai berluas-luas wilayah nusantara ini, banyak para pejabatnya dari Jawa yang ditugaskan untuk mengemban jabatan tertentu di suatu wiayah yang jauh di luar Jawa. Saat momen tertentu para pejabat ini pulang ke Jawa untuk memberikan annual report ke pada raja serta tak lupa dijadikan momen untuk mengunjungi sanak keluarga di tanah lahirnya.

Begitu pun saat era Majapahit sudah runtuh dan tergantikan oleh era kekuasaan Mataram Islam, para pejabat-pejabat Jawa yang ditugaskan di berbagai belahan Nusantara pun secara spesifik memanfaatkan hari raya idul fitri sebagai momen untuk pulang kampung dan bersuka cita. Sehebat apapun dan setingginya jabatan di luar daerah, tetap saja pulang kampung untuk tujuan bersilaturahmi adalah sebuah cita-cita semua perantau. Bagaimanapun setidaknya ada kesempatan untuk pamer pencapaian atau keberhasilan barangkali, eh.

Begitulah mula-mula sejarah tradisi mudik di Indonesia ini yang bahkan hingga kini di zaman modern ternyata masih terus dilanggengkan. Meski begitu beberapa kali pasca kemerdekaan, otoritas pemerintah pernah membatasi mobilitas warga utamanya di hari mudik seperti ini. Sebagai contohnya saat momen sulit di awal kemerdekaan yang menuntut warga untuk dalam posisi siaga akan agresi militer Belanda, pemerintah pernah melarang mudik.

Kemudian di era tahun 65-an saat menegang suasana yang oleh sejarah disebut sebagai pemberintokan PKI saat itu, juga tercatat pemerintah pernah membatasi warganya untuk bermobilitas dalam rangka mudik lebaran. Hingga setelah orde baru mendapuk kekuasaan negeri ini berangsur ekonomi tumbuh pesat di perkotaan yang menyebabkan tradisi mudik makin menggila karena banyaknya kaum urban di perkotaan.

Di dekade 2000-an saat ini mudik masih tetap menjadi ritual wajib bagi perantau di kota-kota besar. Jika kita melihat berita baik di layar televisi atau media online lainnya, lihat lah betapa berita bertajuk mudik lebaran akan selalu menghiasi hari-hari menjelang dan pasca hari H lebaran ini. Jakarta sebagai barometer ekonomi nasional tentu memegang kendali arus utama terjadinya mudik lebaran.

Suasana Lebaran Idul Fitri 1443H di kampung halaman

Bicara lebaran penulis mengingat masa-masa kecil dulu saat di kampung halaman, lebaran sebagai hari raya benar-benar dirasakan oleh penulis sebagai momen terbahagia di setiap sepanjang tahun. Ada baju, celana, sandal baru dan tentu uang saku yang dinantikan oleh penulis di kala kecil dulu saat momen lebaran idul fitri. Pun tak lepas juga tradisi saling bersilaturahmi dari rumah ke rumah, menjadi memoar yang sangat sulit dilupakan.

Penulis memiliki kenangan yang sangat bahagia di waktu kecil dulu saat di mana momen lebaran dijadikan sebagai sarana untuk memenuhi sunah nabi yaitu bersilaturahmi dengan sanak kerabat dan keluarga. Kebetulan penulis terlahir dari orang tua generasi baby boomers yang memiliki jumlah saudara berlimpah. Kakek penulis dari jalur ayah saja memiliki saudara sebanyak 6 orang yang terdiri dari Mbah Naim, Mbah Karno, Mbah Sakri, Mbah Abu Sairi, Mbah Kusmik, Mbah Sripatun. Tentu dengan total keturunanya menjadi jumlah yang besar.

Belum lagi ayah penulis sendiri memiliki saudara kandung yang cukup banyak, dari jalur ibu juga sama halnya sangat banyak sekali dulurnya-dulurnya. Sehingga boleh dikatakan bahwa penulis lahir dari keluarga yang sugih dulur (kaya akan sanak keluarga). Jika merujuk pada jumlah dulur yang ada tercatat selama masa kecil penulis, untuk bisa bersilaturahmi secara 'kemput' alias lengkap dibutuhkan sedikitnya waktu 5 hari untuk alokasi berkunjung dari rumah ke rumah.

Rute anjang sana anjang sini yang ditempuh oleh penulis saat kecil dulu tentu adalah dimulai dari kerabat terdekat sekitar kampung. Pasca sholat idul fitri di masjid dekat rumah dan melihat remaja masjid merayakannya dengan nyumet merconan, umumnya penulis melanjutkannya dengan silaturahmi ke mbah-mbah dan tetangga di seperempat dusun (3 RT) di mana tempat lahir penulis. Waktu yang dibutuhkan tentu dari pagi hari hingga siang menjelang matahari tegak lurus.

Suasana Anjang Sana-Sini Bersilaturahmi Setelah Sholat Id

Kemudian sore atau malam harinya berlanjut ke kerabat beda dusun, ke guru ngaji, dan seterusnya hingga malam hari. Setelah seharian muter untuk bersilaturahmi tentu malam hari menjadi waktu yang pas untuk mengistirahatkan badan dan bersiap melanjutkan agenda di hari kedua dan seterusnya. Lebaran benar-benar menjadi momen untuk mengikuti tradisi baik dalam nilai islami yaitu menjalin ukhuwah islamiyah dengan bersilaturahmi.

Doktrin dalam islam cukup kuat bahwa silaturahmi itu memperpanjang usia, memperbanyak rezeki, dan merekatkan ikatan batin. Nilai-nilai kebaikan seperti ini yang seharusnya terus dilanggengkan dan diwariskan ke anak-anak generasi selanjutnya. Tapi apakah mungkin di zaman yang serba digital ini tetap menggunakan cara lama dengan bersilaturahmi door to door? Padahal generasi saat ini dan nanti akan semakin dimudahkan dengan adanya sarana komunikasi yang serba canggih terdigitalisasi?

Pertanyaan di atas patut diseriusi jika kita masih peduli dengan tradisi anjang sana anjang sini di lebaran idul fitri seperti yang penulis kisahkan. Penulis pikir media komunikasi yang canggih itu hanya sekadar membantu saja untuk lebih memudahkan dalam berkomunkasi, dan tentunya tetap saja tidak mampu menggantikan tardisi door to door yang penuh dengan kehangatan itu. Lebaran idul fitri di setiap tahunnya akan tetap menjadi momen yang ditunggu siapapun di Indonesia.

Selamat mudik dan merayakan idul fitri bersama dengan keluarga tercinta di kampung halaman masing-masing. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan baik jasmani, rohani dan ekonominya untuk kemudian bisa berjumpa lagi dengan ramadan dan lebaran tahun depan. Tentu dengan harapan lainnya yaitu semakin menjadi manusia yang lebih baik. Amin.

Salam hangat,
Malang, 30 April 2022

Saturday, April 9, 2022

MEMORI: LANGGAR MASA KECIL

ADA APA DENGAN LANGGAR


Mendengar kata langgar tentu sebagai orang Jawa akan langsung paham bahwa yang dimaksud langgar adalah mushola. Di sebagian besar wilayah Jawa memang mushola biasa disebut dengan langgar, utamanya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk mayoritas Jawa Barat lebih akrab menyebutnya dengan surau atau mushola itu sendiri.

Langgar bagi saya pribadi memiliki sebuah kenangan manis yang sulit terlupakan. Dulu sekitar awal 2000-an sedari masih SD hingga menjelang SMA sebagai anak kampung tentu menjadikan langgar sebagai homebase di saat bulan ramadhan seperti ini. Kebetulan tidak jauh dari rumah saya ada sebuah langgar kecil yang berdiri di atas tanah mbah buyut dari ayah saya.

Saya tidak tahu persis kapan langgar di dekat rumah mbah buyut saya ini dibangun, tidak ada riwayat yang menjelaskan kapan tepatnya langgar sederhana itu dibangun. Yang pasti saat saya lahir langgar ini sudah ada dan berdiri sebagai sarana ibadah warga sekitar dusun kami, kurang lebih mewadahi sekitar dua rukun tetangga yang berisikan sekitar 50 kepala keluarga saja.

Dulu jaman presiden Gus Dur, tentu kita semua generasi 90-an sangat ingat betapa nikmatnya bulan ramadhan. Sekolah diliburkan sebulan penuh demi fokusnya anak remaja belajar islam melaui pondok romadlon kala itu. Aktifitas belajar umum di sekolah yang libur membuat sehari-hari diisi dengan kegiatan yang bernarasi rohani islam.

Ada buku kecil kegiatan pondok romadhlon dari sekolahan. Yang berisikan beberapa hal semisal timeline tadarusan, tarawihan, tausiyah, dan sebagainya. Hal itu tentu membuat masa kecil saat itu terasa sangat indah sekali, menyenangkan. Pagi selepas sahur biasanya kami bermain bola di jalanan depan rumah kemudian tidur dan bangun lagi untuk tadarusan di langgar.

Selain tadarusan, saat bulan puasa di pagi hari tidak jarang saya juga ikut andil menyemarakkan suasana ramadhan dengan membuat merconan. Menggulung kertas diktat bekas untuk dijadikan pilinan slongsong merconan. Sangat seru sekali tentunya karena selain mengandung unsur bahaya juga mengandung potensi dimarahain ayah ibu.

Sore hari sesekali waktu saya habiskan untuk melihat TV acara resep masakan di Indosiar, kemudian tidak jarang membantu ibu memasak di dapur untuk persiapan buka puasa. Selepas tarawih sudah barang tentu saya dan teman-teman kecil waktu itu nderes/ngaji alquran di langgar hingga menjelang tengah malam. Ada keseruan di sana karena kadangkala banyak takjil yang disediakan.

Menjelang tengah malam, selama hampir pasti sebulan penuh di bulan ramadhan itu saya pasti tidak tidur di rumah. Langgar sudah menjadi tempat yang paling pas untuk tidur dan bercanda tawa dengan teman-teman. Di jam menjelang sahur biasanya jam 2 dini hari kami sudah bersiap dengan alat ronda dan membangunkan sahur orang-orang.

Ada jerigen besar sebagai alternatif bedug portabel, ada kentongan, ada angklung, bahkan ada ecrek2 yang dibuat dari bekas tutup botol yang dipaku ke kayu balok. Suara orkestra kami saat itu tentu sangat khas, mungkin sangat indah untuk ukuran anak-anak kecil waktu itu. Meskipun ketika dewasa saat ini merasa suara tersebut tidaklah indah-indah amat alias justru mbrebegi.

Kami biasa berjalan cukup lumayan jauh ke dusun sebelah, bahkan pernah suatu ketika hingga menyebrang ke lintas desa yang lain. Saat ketemu remaja masjid atau langgar lain yang juga melakukan hal yang sama, menjadi semakin lebih bersemarak. Kami di Kediri bagian selatan menyebutnya dengan istilah “ronda”. Sangat memorable sekali nuansa ramadhan waktu itu.

Saat ini sesudah dewasa dan menginjak bahtera berkeluarga, tidak lagi merasakan nuansa keseruan itu ada. Langgar yang dulu menjadi homebase kini hanya menjadi sebuah sarana ibadah semata, sholat tarawih dan selesai. Terakhir kali saya melihat, saat ini anak-anak kecil atau remaja sepertinya sudah tidak lagi menjadikan langgar sebagai homebase saat ramadhan.

Saya melihat beberapa tahun lalu, “ronda” sudah beralih menjadi ajang kampanye jor-joran suara soundsystem dengan diangkut mobil bak atau pickup. Berputar mengelilingi lintas desa bahkan antar kecamatan. Setelah lebih dari 10 tahun “keluar” dari desa tercinta, perubahan zaman itu terlihat sangat nyata. Langgar hanyalah langgar, tidak ada ramai gelak tawa dan didik anak-anak remaja di sana. Benarkah demikian adanya? Entah.

Malang, 9 April 2022
Ramadhan malam ke 7

Foto: Papan di langgar masa kecil saya, saat ini