Saturday, April 9, 2022

MEMORI: LANGGAR MASA KECIL

ADA APA DENGAN LANGGAR


Mendengar kata langgar tentu sebagai orang Jawa akan langsung paham bahwa yang dimaksud langgar adalah mushola. Di sebagian besar wilayah Jawa memang mushola biasa disebut dengan langgar, utamanya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk mayoritas Jawa Barat lebih akrab menyebutnya dengan surau atau mushola itu sendiri.

Langgar bagi saya pribadi memiliki sebuah kenangan manis yang sulit terlupakan. Dulu sekitar awal 2000-an sedari masih SD hingga menjelang SMA sebagai anak kampung tentu menjadikan langgar sebagai homebase di saat bulan ramadhan seperti ini. Kebetulan tidak jauh dari rumah saya ada sebuah langgar kecil yang berdiri di atas tanah mbah buyut dari ayah saya.

Saya tidak tahu persis kapan langgar di dekat rumah mbah buyut saya ini dibangun, tidak ada riwayat yang menjelaskan kapan tepatnya langgar sederhana itu dibangun. Yang pasti saat saya lahir langgar ini sudah ada dan berdiri sebagai sarana ibadah warga sekitar dusun kami, kurang lebih mewadahi sekitar dua rukun tetangga yang berisikan sekitar 50 kepala keluarga saja.

Dulu jaman presiden Gus Dur, tentu kita semua generasi 90-an sangat ingat betapa nikmatnya bulan ramadhan. Sekolah diliburkan sebulan penuh demi fokusnya anak remaja belajar islam melaui pondok romadlon kala itu. Aktifitas belajar umum di sekolah yang libur membuat sehari-hari diisi dengan kegiatan yang bernarasi rohani islam.

Ada buku kecil kegiatan pondok romadhlon dari sekolahan. Yang berisikan beberapa hal semisal timeline tadarusan, tarawihan, tausiyah, dan sebagainya. Hal itu tentu membuat masa kecil saat itu terasa sangat indah sekali, menyenangkan. Pagi selepas sahur biasanya kami bermain bola di jalanan depan rumah kemudian tidur dan bangun lagi untuk tadarusan di langgar.

Selain tadarusan, saat bulan puasa di pagi hari tidak jarang saya juga ikut andil menyemarakkan suasana ramadhan dengan membuat merconan. Menggulung kertas diktat bekas untuk dijadikan pilinan slongsong merconan. Sangat seru sekali tentunya karena selain mengandung unsur bahaya juga mengandung potensi dimarahain ayah ibu.

Sore hari sesekali waktu saya habiskan untuk melihat TV acara resep masakan di Indosiar, kemudian tidak jarang membantu ibu memasak di dapur untuk persiapan buka puasa. Selepas tarawih sudah barang tentu saya dan teman-teman kecil waktu itu nderes/ngaji alquran di langgar hingga menjelang tengah malam. Ada keseruan di sana karena kadangkala banyak takjil yang disediakan.

Menjelang tengah malam, selama hampir pasti sebulan penuh di bulan ramadhan itu saya pasti tidak tidur di rumah. Langgar sudah menjadi tempat yang paling pas untuk tidur dan bercanda tawa dengan teman-teman. Di jam menjelang sahur biasanya jam 2 dini hari kami sudah bersiap dengan alat ronda dan membangunkan sahur orang-orang.

Ada jerigen besar sebagai alternatif bedug portabel, ada kentongan, ada angklung, bahkan ada ecrek2 yang dibuat dari bekas tutup botol yang dipaku ke kayu balok. Suara orkestra kami saat itu tentu sangat khas, mungkin sangat indah untuk ukuran anak-anak kecil waktu itu. Meskipun ketika dewasa saat ini merasa suara tersebut tidaklah indah-indah amat alias justru mbrebegi.

Kami biasa berjalan cukup lumayan jauh ke dusun sebelah, bahkan pernah suatu ketika hingga menyebrang ke lintas desa yang lain. Saat ketemu remaja masjid atau langgar lain yang juga melakukan hal yang sama, menjadi semakin lebih bersemarak. Kami di Kediri bagian selatan menyebutnya dengan istilah “ronda”. Sangat memorable sekali nuansa ramadhan waktu itu.

Saat ini sesudah dewasa dan menginjak bahtera berkeluarga, tidak lagi merasakan nuansa keseruan itu ada. Langgar yang dulu menjadi homebase kini hanya menjadi sebuah sarana ibadah semata, sholat tarawih dan selesai. Terakhir kali saya melihat, saat ini anak-anak kecil atau remaja sepertinya sudah tidak lagi menjadikan langgar sebagai homebase saat ramadhan.

Saya melihat beberapa tahun lalu, “ronda” sudah beralih menjadi ajang kampanye jor-joran suara soundsystem dengan diangkut mobil bak atau pickup. Berputar mengelilingi lintas desa bahkan antar kecamatan. Setelah lebih dari 10 tahun “keluar” dari desa tercinta, perubahan zaman itu terlihat sangat nyata. Langgar hanyalah langgar, tidak ada ramai gelak tawa dan didik anak-anak remaja di sana. Benarkah demikian adanya? Entah.

Malang, 9 April 2022
Ramadhan malam ke 7

Foto: Papan di langgar masa kecil saya, saat ini

Saturday, March 26, 2022

JOURNEY: BANYUWANGI GERBANG TIMUR JAWA (Parts 1)

Hari libur kali ini saya memutuskan untuk berkunjung ke sebuah kota kecil di ujung timur Jawa, yaitu Banyuwangi. Sebuah gerbang Jawa dari sisi timur, berseberangan dengan pulau Bali. Ada apa saja dan ngapain aja di Banyuwangi selama dua hari? Tentu akan menjadi cerita yang menarik untuk dituliskan dalam sebuah coretan sederhana, mari kita simak ulasannya.

Di hari libur minggu terakhir bulan februari, saya mengatakan kepada istri untuk membuat suatu agenda liburan kecil. Istriku bertanya, ke mana kira-kira? Awalnya saya bilang bagaimana jika kita ke pantai Balekambang di Malang Selatan? Istri tidak tertarik karena menurutnya di sana pantainya kotor tidak cukup bersih. Lalu tiba-tiba di benak kepala muncul sebuah ide, bagaimana kalau ke Banyuwangi?

Sontak, istri menjawab dengan sangat bergairah. Yeyyyy! Oke kita ke Banyuwangi. Lalu sepakatlah kami berdua untuk vaction ke sana. Saya langsung meminta istri untuk hunting tiket kereta api dari Lawang menuju Banyuwangi, alhamdulillah tiket KA Sri Tanjung relasi Malang-Banyuwangi sudah habis terjual. Lalu opsinya adalah kami harus membeli tiket KA lain, dan menemukanlah KA Probowangi relasi Surabaya-Banyuwangi, kami memilih naik dari stasiun Bangil.

Sabtu pagi tanggal 26 Februari, KA Probowangi yang kami pesan sedianya berangkat dari Bangil sekitar jam 6.30, kami dari rumah di Lawang sudah bersiap semenjak jam 5 pagi untuk berangkat menuju stasiun Bangil yang kurang lebih ditempuh dengan sepeda motor sekitar 45 menitan. Tepat jam 6 pagi saya dan istri serta anak tersayang kami yaitu Malika Val Elail sudah sampai di Stasiun Bangil, tapi ada daya kami gagal berangkat dengan kereta api karena ada miss persepsi yaitu adanya kewajiban rapid antigen sementara saya belum vaksin. Yaaaah!

Lalu bagaimana? Saya tidak kurang akal, saya memutuskan naik bis saja dari depan stasiun Bangil menuju Probolinggo. Ini benar-benar akan menjadi hari yang melelahkan dan menjadi sebuah backpakeran yang mungkin asik dan terkenang. Kami akhirnya naik bis PO AKAS sekitar jam 07.00 pagi dari Bangil menuju Probolinggo, sampai di Probolinggo jam 09.00 kami oper bis lagi menuju Jember dan sampai di sana sekitar jam 12.00, dari Jember saya masih harus oper bis ke Banyuwangi dan sampai di Banyuwangi tepatnya di Rogojampi jam 16.00.

Saya memutuskan turun di Rogojampi di dekat Politeknik Negeri Banywangi karena penginapan yang kami pesan kebetulan dekat dari jalan raya utama Jember-Banyuwangi ini. Kami menginap di sebuah hotel yang terafiliasi dengan RedDoorz yaitu Fortuna Inn Banywangi. Hotelnya cukup nyaman, harga per malam hanya 250 ribuan saja sudah dapat sarapan pagi untuk 2 orang. Kami akan menginap 2 malam di sini, tentu menjadi sebuah pengalaman menarik nantinya.

Btw kenapa kami memutuskan menginap di daerah Rogojampi? Pertama sekali tentu karena kami suah berencana untuk menuju destinasi yang sedang viral di Banyuwangi yaitu Hutan Benculuk itu. Jika kami mengambik penginapan di kota tentu akan menjadi sangat jauh jaraknya dari Benculuk. Lalu bagaimana kami ke sana? Kami memutuskan untuk menyewa sepeda motor dengan harga sewa 70 ribu per hari, yaitu sepeda motor Honda Scoopy yang lucu itu.

Pagi hari Minggu 27 Februari kami berencana akan meluncur menuju Benculuk, sebuah hutan milik perhutani yang dikenal dengan sebutan Djawatan itu. Tapi di malam minggu yang cuacanya bagus itu tentu sangat sayang jika dilewatkan hanya dengan tiduran di hotel saja, kami memilih untuk berjalan-jalan malam menikmati nyamannya kota Banyuwangi, tujuannya adalah alun-alun dan taman Blambangan. Tempat hiburan masyarakat kota Banyuwangi yang sangat lega dan murah itu.

Di taman Blambangan, kami tidak banyak menghabiskan waktu karena si kecil kami terihat sudah mengantuk dan capek. Jam 21.00 kami memutuskan untuk kembali ke penginapan dan bersitirahat untuk esok harinya bersiap menuju destinasi utama kami yaitu Hutan Djawatan Benculuk. Selama di penginapan, tentu kami hanya bisa tidur pulas karena memang badan sudah cukup lelah selama perjalanan dengan bis sepanjang hari dan jalan-jalan di taman Blambangan.

Taraaaaaam, pagi hari kami bangun jam 5.00 untuk mandi, sarapan dan bersiap untuk On The Wuzzz. Perjalanan dari penginapan ke Benculuk dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 30 menit saja melalui jalur utama Rogojampi-Genteng. Kami sampai di gerbang Hutan Djawatan Benculuk jam 08.00 dan di jam tersebut masih relatif sepi pengunjung, kami menikmati segarnya hutan kecil itu dan tak lupa menyewa ATV untuk menambah keseruan vacation kami.

Taraaaaammmmmmm. Hutan Djawatan Benculuk...

My Vacation: Hutan Djawatan Benculuk

Selain ke Benculuk, kami juga menyempatkan berkunjung ke pantai Watu Dodol di utara pelabuhan Ketapang, bagaimana keseruannya? Mungkin akan saya lanjutkan tulisan ini di saat hati sedang mood dan kesempatan menulis terbuka luas. Yang pasti, menjadi pengalaman yang menarik sekaligus sulit terlupakan perjalanan rekreasi ke Banyuwangi ini. Sampai jumpa di tulisan lanjutannya...

Monday, February 28, 2022

JOURNEY: IJEN KE IJEN

Seperti yang mungkin sudah kalian ketahui bahwa saya bukanlah orang yang nyaman memanfaatkan waktu libur hanya duduk santai di rumah. Saya menggemari berpetualang, jalan-jalan pergi ke suatu tempat baru yang belum pernah saya kunjungi merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri.

Hari sabtu kemarin lusa saya memutuskan solo touring menggunakan sepeda motor ke arah Jawa bagian timur. Si dum-dum (sebutan motor saya, Honda CRF 150L) saya ajak berpetualang sejauh yang memungkinkan di hari itu. Ide berkeliaran mulai dari ingin ke pantai Papuma yang terkenal di Jember itu hingga ke Savana Bekol di Baluran yang ikonik itu.

Setelah merenung sebentar selepas sholat subuh, akhirnya pilihan jatuh ke Ijen Geopark, dan seperti judulnya Journey: Ijen ke Ijen saya ke sana berpetualang sendirian alias ijen dalam bahasa jawa. Saya mengawali perjalan dari Malang jam 9 pagi hari Sabtu, si dum dum dalam posisi peak perform untuk diajak berlari di atas aspal berkelok sepanjang jalan.

Maqbaroh Habib Sholeh Tanggul, Jember

Pukul 9 pagi saya berangkat, saya seorang nahdiyin yang tentu saja gemar dekat dengan ulama. Saya memutuskan untuk tidak langsung menuju Geopark Ijen di Bondowoso tujuan awal saya. Si dum dum saya geber menuju arah Pasuruan Kota dan berlanjut ke Probolinggo Kota. Sampai di Probolinggo, saya ambil jalur ke selatan arah Lumajang.

Tujuannya ke mana? Saya ingin berziarah ke makam Habib Sholeh Tanggul di Jember. Habib Sholeh Tanggul merupakan ulama dan juga seorang habaib (dzuriyah Rasul Kanjeng Nabi Muhammad SAW), beliau lahir dari Tarim Hadramaut dan berdakwah sampai akhir hayatnya di Tanggul, Jember. Saya ingin takdzim dengan ulama dan juga berharap barokah kewaliannya.

Sampai di Tanggul, Jember sekitar jam 11.30 bertepatan dengan jam sholat dzuhur, saya pun ikut berjamaah dzuhur di masjid komplek makam Habib Sholeh ini. Selepas sholat dzuhur saya tahlil singkat dan berdoa bermunajat di makbaroh Habib Sholeh, salah satu doa yang saya panjatkan ke Gusti Allah adalah semoga badan ini selalu diparingi sehat, digangsarkan rezekinya, dan diluaskan ilmunya.

Kantor Bupati Jember, Jawa Timur

Jam 13.00 saya memutuskan untuk melanjutkan perjalan ke arah kota Jember, hanya butuh waktu satu jam dari Tanggul menuju alun-alun Jember. Jam 14.00 saya sudah sampai di depan kantor bupati di sisi alun-alun Jember. Saya istirahat dengan membei kopi seduh sachet di pedangan asongan, sembari mengistirahatkan si dum-dum juga agar siap saat diajak berlanjut ke arah Ijen Geopark, di ujung timur Bondowoso alias barat persis Banyuwangi.

Setelah setengah jam istirahat dan merasa cukup, saya berlanjut menggeber dum-dum ke arah kota Bondowoso, jalurnya tentu melalui Kalisat-Jelbuk ke utara dan seterusnya sampai tembus Bondowoso kota. Yang paling diperhatikan saat sampai di kota Bondowoso adalah jangan sampai salah jalur menuju arak-arak atau dalam artian salah arah balik lagi ke barat (Probolinggo via Besuki). Saya mengikuti petunjuk menuju Ijen Geopark.

Sampai di wilayah pertigaan Garduatak, Tapen, display besar sudah terlihat dan jam menunjukkan 15.30 waktunya sholat ashar dan mengisi perut yang lapar. Display besar itu berutuliskan Wellcome to Ijen Geopark, wah tentu sangat senang sekali sudah dekat pikiran saya. Padahal ternyata masih sangat jauh butuh waktu sekitar satu setengah jam lagi menuju bascamp Paltuding, di bawah track menuju Ijen Crater Acid Lake (danau asam kawah Ijen) yang melegenda itu.

Tugu Selamat Datang Ijen Geopark di Kluncing, Bondowoso

Setelah ashar dan makan, saya berlanjut menuju arah Wonosari lalu Kluncing, sampai di Kluncing jam 17.00 sudah lumayan gelap menjelang magrib, di jam seperti ini suasana hati pasti akan berbeda karena mendadak hari akan menjadi gelap, apalagi sepanjang jalur Kluncing-Sempol-sampi ke Paltuding itu dipenuhi jurang kanan kiri dan hutan hujan tropis yang sangat lebat sekali. Mistisnya dapat lah pokoknya, seru.

Tepat jam 18.00 saat adzan magrib berkumandang, si dum-dum dan penunggangnya ini sudah memasuki kawasan Paltuding, basecamp pendakian Ijen Crater. Hati lega dan sangat senang bisa sampai di sini, dum-dum saya parkir di depan rest area, saya memilih istirahat di warung Mbak Karti, di warung ini segala kebutuhan makanan ada. Tempa nyaman, bisa istirahat di belakang warung yang telah disediakan bale untuk rebahan bagi para traveller low budget seperti saya ini.

Saya pesan kopi khas Bondowoso, Arabica Lanang. Sebuah kopi yang dihasilkan dari kebun kopi wilayah ini, dan konon katanya mampu memperkuat kejantanan wong lanang. Hari menjadi gelap, gerimis kabut turun menyelimuti Paltuding yang elok ini. Saya bercengrakam di depan api unggun yang dibuat oleh suami Mbak Karti si pemilik warung, bicara ngalor ngidul soal keindahan dan sejarah Paltuding itu sediri. Menarik.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, badan saya sudah letih dan butuh istirahat. Saya tidur di bale yang telah saya cerit di paragraf atas. Alarm saya set jam 02.00 dini hari karena jam 03.00 saya dan pendaki/pengunjung yang lain harus ready untuk menuju Ijen Crater. Saat saya bangun, saya nitip tiket karcis masuk ke suami mbak Karti, harga tiket jika online sebenarnya hanya Rp. 7500 saja, tapi karena saya offline dan nitip harganya menjadi Rp. 12.500 saja.

Jam 03.00 saya mendaki ke kawah Ijen, pegunungan Ijen ini. Saya termasuk kategori kloter awal sesaat setelah gerbang pendakian dibuka. Gelap gulita tracknya menjadikan saya teringat masa lalu saat summit di beberapa gunung di Jawa Barat dan Tengah. Masa lalu yang akan sulit terulang jika mengingat usia semakin bertambah dan raga akan menuju tidak muda lagi. Saya hanya butuh waktu 1,5 jam untuk bisa sampai di bibir kawah Ijen. Saya seorang diri dan hanya ditemani penambang belerang yang hebat itu.

Saya berharap bisa mendapatkan foto blue fire fenomena alam yang eksotis itu, tapi apa daya gerimis menjadikan blue fire padam tidak terlihat. Sangat kecewa di titik ini, bisa melihat blue fire adalah sebuah kebahagiaan seorang pendaki yang ke Ijen sebenarnya. Tapi tidak mengapa, tujuannya adalah selamat sampai pulang kembali ke rumah. Demikian batin saya menenangkan kekecewaan ini. Saya bercengkrama dengan para penambang belerang kawah Ijen yang dikenal sebagi manusia-manusia kuat ini.

Aktivitas Penambangan Manual Belerang di Kawah Ijen, Banyuwangi

Setelah puas mengabadikan momen di bibir kawah danau kawah Ijen, saya kembali naik ke bibir kawah. Tujuan selanjutnya tentu adalah ke spot foto paling ikonik di Ijen yaitu akar kering atau sebenarnya lebih tepat jika disebut sebagai pohon kering. Ijen ke Ijen adalah sebuah cerita pendek yang dihasilkan dari sebuah perjalanan solo touring dengan dum-dum. Cerita selanjutnya akan rilis beberapa hari ke depan jika waktu sudah memungkinkan. Ijen ke Ijen sekian dulu, sampai jumpa lagi.

Danau Asam Kawah Ijen yang Cantik Jelita, Banyuwangi


Bersambung...

Robi Cahyadi
Paltuding, 13 Februari 2022

Sunday, January 9, 2022

HISTORY: SEBUAH KENANGAN MASA KECIL

Foto: Saya, Adik, Ayah, Paman, dan Nenek. Kediri awal 90-an

Jika merujuk pada besarnya tubuh saya, foto lama ini besar kemungkinan dijepret kisaran tahun 1994-1995, tidak ingat persisnya di tahun berapa. Di foto ini saya berkaos hijau sedang tesenyum bahagia dipangku pak lik Muhaimin, adik kedua dari almarhum bapak saya.

Bapak saya sendiri sedang memangku adik saya, Fatkhan Ali Firdaus di sebelah kanan pada foto ini. Ada pun perempuan paruh baya di samping kami dengan emoji tertawa ini adalah nenek saya alias ibunya bapak dan pak lik saya. Beliau adalah almarhumah mbah Siti Rukayah wanita cantik dan 
tangguh dari Batokan, Tulungagung.

Melihat latar belakang kami berfoto, ini jelas terlihat berada di bale tengah rumah induk kakek nenek saya, rumah masa kecilnya bapak saya dan ke sembilan saudara-saudaranya. Saudara bapak saya totalnya sembilan dan kebetulan bapak adalah anak mbarep (pertama).

Saudara bapak saya diantaranya adalah pak lik Muhaimin yang kembar dengan bulik Mukarromah. Kemudian disusul bulik Yayuk, bulik Indasah, pak lik Roekan, pak lik Saifudin, pak lik Budairi, bu lik Nurimamah, dan yang paling kecil pak lik Ulil Khudlori. Kesemuanya menetap dan tinggal di Kediri.

Tumbuh di tengah keluarga besar yang memiliki banyak pak lik dan bulik baik dari sisi bapak atau pun ibu tentu menjadikan masa kecil saya terasa dipenuhi kasih sayang berlimpah. Banyak yang momong dan pada akhirnya memberikan sumbangan karakter pada diri saya saat ini.

Saat ini saya “mencelat” lumayan jauh dari keluarga induk orang tua saya alias punjer asal usul. Saya hidup dan berkeluarga di Malang sementara mayoritas keluarga besar berada di Kediri. Di libur tahun baru seperti ini tentu ada rasa rindu pada keluarga, tapi sayangnya suasana tidak mendukung untuk hari ini bersilaturahim.

Semoga semua dulur-dulurku dan kita semua ini senantiasa diberikan sehat, panjang usia, berlimpah rezeki yang barokah sehingga suatu saat bisa berkumpul dalam kebahagiaan. Jauh hanyalah soal jarak tempuh, dengan doa mampu menembus jarak unlimited langit shaft-pitu, langit layer ke tujuhnya Allah SWT. Insyaallah.

Monday, December 20, 2021

OPINI: OBSTACLE Y-GENERATION

Jika orang yang lahir di rentang tahun 1946-1964 disebut sebagai generasi baby boomer, maka untuk yang lahir pada rentang 1965-1980 disebut sebagai generasi X. Kemudian siapa generasi Y? Tentunya mereka yang lahir di rentang tahun 1981-1995, ini yang sering disebut sebagai generasi millennial. Adik-adiknya yang lahir setelah 1996 disebut sebagai generasi Z yang saat ini jumlahnya sedang mendominasi ruang pendidikan.

Ilustrasi: Generasi Z
Source: google

Obstacle yang sering ditemui oleh generasi millennial dalam dunia kerja adalah mencari titik temu antara dirinya dengan generasi sebelumnya yaitu generasi baby boomer dan mungkin sebagian generasi X. Generasi Y atau millennial sudah lebih mengenal digitalisasi atau komputerisasi saat di ruang pendidikan sementara kakak-kakaknya tersebut mungkin tidak semuanya berwawasan digital atau komputerisasi.

Ini menjadikan tantangan tersendiri bagi generasi millennial dalam mentransformasikan era lama industri 3.0 (teknologi otomasi berbasis komputer) menuju era baru industri 4.0 (segalanya berbasis digital dan internet/cloud computing) karena bagaimana pun pasti masih banyak karyawan yang saat ini bekerja dan kebetulan usianya sudah mendekati 50-an atau dalam kata lain mereka generasi X tadi.

Jika mereka para generasi X atau sebagian generasi baby boomer (barangkali masih ada yang bekerja ya, tapi seharusnya baby boomer sudah pensiun sih) bersedia mengikuti perkembangan teknologi digital tentu hal ini bagus, tapi problemnya cukup banyak yang justru denial pada transformasi ini. Sebagai contoh sederhana begini, dulu perizinan cuti karyawan melalui form kertas secara manual dan kemudian diubah melalui online berbasis web dan mobile. Untuk sekedar sosialisasi dan sampai bisa terimplementasi saja butuh effort yang tidak biasa.

Dari realita ini tentu ada skill lain yang harus juga dikuasi oleh generasi millennial selain wawasan dan kemampuan teknis pada ruang digitalisasi, apakah itu? Tentu komunikasi yang baik. Untuk menuju era industri 4.0 butuh pendekatan komunikasi persuasif kepada generasi X. Karena sebaik dan secanggih apapun sistem itu diciptakan, jika cara menjelaskannya rumit apalagi agresif dan kemudian justru sulit diterima generasi X sehingga ending-nya tidak terimplementasi dengan baik, saya kira buat apa?

Mungkin ada contoh-contoh lainnya? Boleh di-sharing-kan