Sunday, August 4, 2024

RELIGI: FENOMENA JILBAB DI KALANGAN PELAJAR

Oleh: Robi Cahyadi

Tulisan singkat ini penulis dedikasikan untuk diri sendiri yang sedang resah dan berkecamuk dalam pikiran tentang fenomena masifnya pengenaan jilbab di kalangan pelajar. Tidak ada tendensi apapun dalam tulisan ini selain otokritik atas pemahaman penulis terkait jilbab di kalangan pelajar dewasa ini.

Dalam konsistensi pemahaman penulis, jilbab adalah uniform yang seharusnya tidak wajib dikenakan oleh pelajar level sekolah dasar, menengah pertama hingga menengah atas. Penulis tidak mengharapkan sanggahan atas pemahaman ini karena hemat penulis ini adalah fundamental dalam kaidah kemerdekaan berpikir.

Penulis mencoba flashback sekitar lima belas tahun lalu di era sekolah menengah penulis. Di waktu itu penulis mengalami dengan sendiri bahwa secara faktual penggunaan jilbab di kalangan pelajar adalah minoritas. Mayoritasnya pelajar di era itu tidak mengenalan jilbab. Barangkali hanya pelajar Madrasah Tsanawiyah atau Aliyah yang mengenakannya karena tuntutan regulasinya.

Akan tetapi untuk pelajar sekolah negeri atau pun swasta yang sekolahnya tidak terafiliasi pada Depag (Departemen Agama) dan Islam tidak diatur tentang pengenaan jilbab. Pelajar waktu itu bebas memilih uniform yang ia kenakan tentunya tetap dengan requirements yang sekolah tetapkan.

Dewasa ini, saat penulis amati dengan seksama ternyata budaya lima belas tahun yang lalu itu sudah bergeser. Culture saat ini adalah manjadikan jilbab sebagai uniform normal di semua jenjang sekolah. Bahkan jika boleh claim, saat ini justru sebaliknya yaitu yang berjilbab menjadi mayoritas dan yang non jilbab menjadi minoritas.

Apakah ini pertanda baik? Dari mana justifikasi bahwa ini adalah pertanda baik? Dua pertanyaan dasar ini akan sangat sulit dijawab seketika karena memerlukan perdebatan argumen dan perselisihan pemahaman yang tentunya tidak mudah diadili siapa yang berada dalam posisi benar.

Pada faktanya, hari ini sudah berbeda dengan lima belas atau bahkan dua puluh tahun lalu. Yang ingin penulis tekankan adalah bahwa perubahan culture dalam masyarakat itu nyata adanya dan kita dituntut untuk agile atas kondisi itu. Penulis lebih memilih kata agile dibanding adaptif, karena adaptif lebih permisif dibanding agile.

Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang membuat fenomena perubahan culture ini terjadi di tengah masyarakat? Tentu tidak lain tidak bukan adalah pemahaman atau firkah (pemikiran) akan suatu value dalam kehidupan beragama. Barangkali masyarakat atau umat saat ini semakin sadar bahwa jilbab adalah kewajiban? Ini pun menurut penulis sangat debatable.

Kembali ke soal sejarah perubahan budaya dalam uniform pelajar. Kita coba runut ke belakang lebih jauh. Kita mahfum di era pra-kemerdekaan yaitu eranya Kartini, bagaimana uniform pelajar pribumi waktu itu? Pakai kebaya yang dibarengi masih memperlihatkan kemolekan tubuh waktu itu barangkali sudah sangat sopan dan penuh value. Betul?

Kemudian setelah era post-kemerdekaan yaitu era orde lama dan order baru, jika kita amati foto-foto orang tua khususnya ibu kita (barangkali) saat jadi pelajar. Mereka mayoritas mengenakan uniform rok pendek dan tanpa jilbab. Sekali lagi, sampai berakhirnya orde baru style-nya masih demikian dan ini menjadi uniform mayoritas.

Pergeseran mulai merangkak terjadi di era reformasi, setelah tumbangnya rezim orde baru. Berbagai arus informasi yang keluar masuk di negeri ini menjadikan masyarakat kita kaya akan firkah (pemikiran atau pandangan). Salah satunya yang giat menginfiltrasi umat adalah pandangan agamawan bahwa jilbab adalah suatu kewajiban.

Di titik inilah mula dari perubuhan culture yang penulis jelaskan di awal-awal tulisan ini. Kekuatan giringan pandangan ini lah yang menjadikan pelajar hari ini baik di sekolah negeri atau swasta yang tidak terafiliasi pada islam sekalipun ikut terbawa arus deras yang penulis sebut sebagai “fenomena perubahan”. Ya, hari ini jilbab dipakai hampir di segala jenjang sekolah.

Bahkan tidak sedikit juga pelajar yang sebenarnya non-muslim dan tidak ingin mengenakan jilbab atau pelajar islam sekalipun yang ekspektasinya adalah merdeka dalam pemilihan uniform, menjadi terpaksa mengikuti gerakan perubahan culture yang dikomandoi oleh mayoritas. Yaitu berjilbab di sekolah dan akan tetapi menanggalkannya saat di kehidupan luar sekolah.

Sekali lagi, seperti yang penulis jelaskan di awal bahwa ini adalah otokritik atas pemikiran penulisan pribadi. Bahwa ternyata the power of majority movement itu benar nyata adanya. Yang minoritas seringnya akan kalah terseret arus oleh yang mayoritas. Terlepas itu hanya trend dan masifnya pengenaan jilbab oleh pelajar di semua jenjang sekolah tidak selalu linier dengan kebaikan akhlaknya.

Apakah pernah diukur secara kuantitatif dan kualitatif untuk obyektif menyimpulkan bahwa kalimat terakhir tepat di paragraf atas barusan terbukti? Boleh untuk direnungkan. Yang pasti, penulis tidak cukup mampu berlogika dan bernalar jika ada sekolah negeri milik pemerintah yang tidak terafiliasi pada ajaran agama tertentu, yang seharusnya netral dari pewajiban berjilbab lantas membuat regulasi mewajibkan. Semoga tidak ada yang demikian.

Waallahualam bhissowab.

Malang, 25 Juni 2024

Tuesday, June 11, 2024

MANUFACTURING: LEARN ABOUT HOW AVOID MISTAKES

Tips to reduce the likelihood of making mistakes at work

Here are some tips you can use to reduce the chances of making more errors at work:

1. Give your work full attention at optimal times. Depending on your personal energy levels, structure your day so you're working on your highest-priority tasks when you feel most energized. Another strategy is to work on these projects during the time in your day when others are least likely to disturb you.

2. ⁠Double-check all communications and presentations. The more you get in the habit of checking for errors before clicking the "Send" button in chat or email, or printing documents for others to read in a meeting, the more assurance you can have that your communications are error-free.

3. ⁠Create checklists. A checklist can help you avoid making mistakes, especially for more repetitive tasks. Once you have a process in place, follow the specific steps on your list each time you complete that task.

4. ⁠Review your work. Each time you're done with a task or process, especially high-priority work, review it for mistakes. If possible, take a break from the project before reviewing it for the final time so you can more successfully identify errors later.

5. ⁠Take breaks. Take a break from work every 90 minutes to two hours to increase the likelihood of error-free work. Try to take a break away from your workspace to fully disengage from your responsibilities.

6. ⁠Eliminate distractions. When you're working on high-priority tasks, put your phone away, close your email and unnecessary browsers and put any work-related messenger apps on "do not disturb" mode. Keep a pen and notepad available to write down any unrelated thoughts to help you stay on task.

7. ⁠Ask questions. When you start a new job or begin a new project, ask questions so you can fully understand your role. Learning more about your duties and the steps you're planning to take can help you eliminate the possibility of making errors.

8. ⁠Create a detailed schedule. To ensure you meet deadlines, use a calendar that outlines everything you plan to do in a day, week and month. You can even schedule your hours so you spend the right amount of time on each task.

Sunday, May 5, 2024

RELIGI: MENYOAL KERAMAIAN ANAK DI MASJID

Anak adalah salah satu anugerah yang sangat spesial bagi para orang tua, is it right? Tentu sudah sangat benar sekali jika setiap orang tua punya himmah (gegayuh atau cita-cita), menginginkan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan mengenal Tuhannya.

Bahkan dalam sebuah hadist nabi juga dijelaskan bahwa salah satu dari ke tiga amal jariyah, yaitu amal yang pahalanya tidak akan terputus sepanjang waktu adalah anak-anak yang sholeh sholehah. Do you understand well with this rule?

Lalu sebagian kecil dari pada banyak upaya yang dilakukan orang tua dalam berharap kesholeh-sholehahan anak-anaknya adalah mengajaknya dalam ritual peribadatan. Sederhananya diajak dan dikenalkan beribadah sholat di masjid atau langgar (mushola).

Tapi sayang seribu sayang, niat baik para orang tua tersebut tidak selalu selaras dengan pemikiran atau harapan orang tua yang lainnya. Saat anak-anak yang belum aqil baligh tersebut kemudian bercanda dan banyak tingkah saat ritual ibadah berlangsung, di sini letak persoalannya.

Tidak sedikit orang tua lain justru terganggu dengan adanya anak-anak yang riang gembira bercengkerama secara naluriah fitrah bersama teman seusianya. Mereka yang ingin mendapatkan kekhusyukan dalam beribadah tentu akan sangat murka hatinya, tidak jarang sampai harus mengeluarkan umpatab dan hardik kepada anak-anak kecil itu.

Lalu bagaimana islam yang ajarannya diwakili oleh para alim ulama’ saat ini memandang dan menjawab persoalan ini? Bukan alim ulama’ jika tidak bisa memberikan solusi atas persoalan sederhana ini. Mari kita renungkan bagaimana persoalan ini mendapatkan solusinya.

Jika merujuk pada sejarah yang ada, anak kecil di masjid sudah lazim sejak zaman Rasulullah SAW. Perilaku anak pada zaman itu juga tidak berbeda jauh dengan zaman ini, sama-sama suka bermain. Tidak ada kondisi dan penjelasan khusus bahwa anak-anak di zaman nabi lebih pendiam dan anteng. Namun, bagaimanakah baginda Nabi Muhammad SAW menyikapi mereka di masjid?

Terkait hal ini, Abu Qatadah RA menuturkan, “Aku melihat Rasulullah SAW mengimami shalat sambil menggendong cucunya, Umamah binti Abi al-‘Ash di pundaknya. Bila beliau akan sujud, maka anak tersebut diturunkannya” (HR Bukhari dan Muslim).

Berangkat dari satu hadist ini para ulama’ kita menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW pun ternyata membawa anak kecil ke masjid. Namun, beliau bertanggung jawab dan tidak lepas tangan. Beliau pegangi cucunya, bahkan beliau gendong agar tidak mengganggu jamaah yang lainnya. Ini!

Pun begitu dalam riwayat yang lain, Syaddad RA mengisahkan, di suatu shalat Isya, Rasulullah SAW datang sambil membawa cucu beliau, Hasan atau Husain. Beliau maju ke pengimaman dan meletakkan cucunya lalu bertakbiratul ihram. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali. Karena penasaran, Syaddad RA mengangkat kepalanya untuk mencari tahu.

Ternyata sang cucu naik ke pundak Rasul SAW saat beliau sujud. Syaddad RA pun kembali bersujud. Seusai shalat, jamaah bertanya, "Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud lama sekali. Hingga kami mengira ada kejadian buruk atau ada wahyu yang turun padamu".

Rasulullah SAW menjawab, “Bukan itu yang terjadi, tapi tadi cucuku (antara Hasan atau Husain) menjadikan punggungku sebagai tunggangan. Aku tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas” (HR Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Hakim).

Walhasil, kesimpulannya adalah bagi orang tua yang membawa serta anaknya ke masjid harus bertanggung jawab atas tingkah polah mereka. Bertugas untuk mengondisikan dan memberikan pengertian kepada anak. Namun, proses pendidikan itu harus dilakukan dengan penuh kelembutan dan kesabaran hati.

Dengan demikian, diharapkan anak-anak tidak kapok untuk berangkat ke masjid atau majelis taklim. Pada waktu yang sama, keberadaan mereka juga tidak membuat jamaah lainnya terganggu kekhusyukannya dalam beribadah.

Segamblang itu masih sulit dipahami kah? Jika sulit, tidak lain tidak bukan barangkali sujudmu kurang lama sehingga menyebabkan kebaikan hatimu tidak turun ke isi kepalamu (logikamu). Semoga tulisan ini menjadi sebab dibukakannya pemahaman yang luas sehingga mengarifkan hati kita semua para orang tua. Aamiin.

Wallahualam bhissowab.

Malang, 9 April 2024
Robi Cahyadi

FAMILY: BABAK AWAL USIA PERNIKAHANKU

Tidak terasa pernikahan kami sudah lebih dari lima tahun lamanya. Katakanlah usia hidup kami mampu menembus 70 tahun, artinya usia pernikahan kami baru setara sekitar 18 menit babak pertama sebuah pertandingan sepak bola full time.

Artinya masih sangat jauh untuk menuntaskan peluit panjang babak kedua berakhir yaitu di menit 90. Belum lagi jika masih harus dapat injury time yang dewasa ini dalam pertandingan sepakbola seringnya melebihi 5 menit per babak. Atau jika ternyata berlanjut ke babak adu pinalti, akan semakin panjang jalan menuju kemenangan itu.

Lima tahun lebih menuju ulang tahun ke enam pernikahan yang tentunya penuh drama dan lika-liku. Mulai dari bagaimana memahami apa yang seringkali dia inginkan atau pun dia memahami keinginan saya untuk tidak mengajak bicara sedikit pun saat saya baru sampai rumah dari bepergian.

Perjalanan masih akan sangat panjang, mustahil dengan komitmen yang kecil sebuah pernikahan dapat langgeng sampai ke duanya dijemput ajal. Pernikahan memang butuh komitmen yang sangat luar biasa, tidak boleh kita meremehkan perihal ini.

Pernikahan adalah ibadah yang barangkali menjadi ibadah terpanjang dalam hidup manusia khususnya penganut islam. Dijelaskan dalam islam bahwa “barang siapa menikah maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah kepada Allah swt pada separuh yang kedua”.

Dalam bahtera pernikahan pasti selalu ada masalah dalam rumah tangga bahkan seringnya yang bersifat unpredictable dan itu membutuhkan manajemen konflik yang berkesinambungan. Jika berhasil menghadapinya dengan baik maka itulah ibadah. Itulah esensi kenapa pernikahan dikatakan sebagai ibadah terlama.

Tindak tanduk dalam rumah tangga mengandung dua konsekuensi logis yaitu pahala dan dosa. Sebut saja istri dengan riang menyiapkan makanan tapi suami enggan menyantapnya, jika istri kecewa itu tentu akan menjadi kutukan bagi suami. Pun begitu jika suami ingin dibuatkan segelas kopi tapi istri ngersula tidak ikhlas, Allah SWT niscaya murka.

Semoga kami diberikan kekuatan lahir dan batin untuk terus berkomitmen, untuk selalu siap mitigasi dan mengelola konflik di dalam ikatan pernikahan ini. Semoga keberkahan-keberkahan dan ridhlo Allah SWT senantiasa menyertai. Aamiin. 🤲🏽

Saturday, March 9, 2024

RELIGI: MENATA HATI MENYAMBUT RAMADHAN

Ramadhan merupakan salah satu momentum untuk mengeliminasi keruwetan dalam hidup kita. Keruwetan yang dimaksud di antaranya adalah kesumpekan hati, kecupetan pikiran, bahkan hingga sempitnya rezeki yang sangat kita nantikan terpecahkan hari demi hari.

Ramadhan sebentar lagi datang dan menemani hari-hari kita dalam kurun waktu sebulan mendatang, apa yang harus dipersiapkan dalam rangka menyambut bulan suci ini? Sirup, kurma, jajanan, atau stok bahan makanan kah?

Bukan, bukan itu yang harus dipersiapkan. Badokan dan cekekan semacam itu hanya kebutuhan printilan saja di bulan ramadhan yang mulia nanti. Persiapan terpenting adalah hati dan keseriusan dalam menatap bulan suci itu sendiri.

Kenapa hati harus dipersiapkan? Ini berkaitan erat dengan niat, segala ibadah seyogyanya dilandasi niat dan niat itu adanya di dalam hati sanubari. Dari niat yang tulus dalam hati berharap lahirlah keseriusan dalam beribadah di bulan suci nanti.

Itulah kenapa mbah-mbah kita dulu mengajarkan ritual bernama “tidur” sehari menjelang ramadhan. Membersihkan mushola atau langgar yang akan dijadikan sentra pencarian maghfirah, menabuh bedug sepanjang hari dengan niat tulus dan bahagia menyambut ramadhan.

Apakah budaya “tidur” menabuh bedug dengan pukulan rancak yang indah didengar khas islam mataram ini sudah punah di tengah gempuran masyarakat yang semakin modern dan cinta duniawi? Entahlah. Patut kita simak nasih selanjutnya.

Yang pasti banyak di antara kita yang hanya melewatkan kemuliaan-kemuliaan bulan ramadhan begitu saja tanpa mendapatkan benefitnya. Senang dan riuh dengan segala romantisasi bulan ramadhan, tapi sebenarnya hati dan pikiran kosong tidak terisi kebaikan apapun.

Padahal kita tahu, bulan ramadhan dikenal dalam islam sebagai bulan penuh maghfirah (ampunan Allah SWT). Jika kita para pendosa ini menyeriusi datangnya bulan ramadhan dengan niat, bukankah semakin besar peluang mendapatkan maghfirah yang endingnya adalah kelancaran hidup kita?

Wallahualam bhissowab…

Malang, 9 Maret 2024
Bapaknya Val