Tuesday, November 30, 2021

OPINI: CARA MEMANGGIL ORANG TUA

Ilustrasi Mom & Dad
Source: google.com

Pada era modern ini panggilan untuk orang tua sangat beragam. Ini tentu dipengaruhi oleh banyak hal antara lain adat istiadat suatu daerah, budaya keluarga, strata sosial, pengaruh urbanisasi dan lain sebagainya.

Anak-anak Betawi mungkin terbiasa dengan panggilan nyak-babeh ke orang tua mereka. Anak-anak suku Sunda mungkin lebih banyak yang pakai istilah abah-ambu. Anak-anak suku Batak umumnya lebih jamak memakai istilah amang-mamak atau barangkali ada yang lainnya?

Saat saya masih kecil dulu, saya diajarkan secara alamiah bahwa cara memanggil untuk kedua orang tua adalah bapak dan ibu. Karena kebetulan saya orang Jawa jadinya lebih banyak menyebutnya hanya dengan pak atau buk saja.

Sebagai contohnya dalam penggunaan komunikasi sehari-hari misalnya, “pak njaluk sangune” yang berarti “pak minta uang sakunya”. Atau “buk, wis wayah mbayar SPP” yang berarti “bu sudah waktunya bayar SPP”.

Di tengah pergaulan saya dengan teman sebaya di kampung halaman, panggilan pak dan buk terkategori lumayan jamak. Tetapi ada lagi yang lebih jamak dipakai oleh teman-teman masa kecil saya, misalnya memanggil orang tua dengan panggilan pak (berasal dari kata bapak) dan mak (berasal dari kata emak).

Ada juga teman masa kecil di kampung halaman yang kebetulan dari kalangan agak agamis dan lebih dekat tradisi pesantren, memanggil orang tuanya dengan panggilan bah (dari kata abah) dan umi. Tapi jumlahnya minoritas tidak sejamak yang menggunakan panggilan pak dan mak.

Hari ini, sepertinya panggilan pak dan mak atau pak dan buk sudah cukup jarang kita dengar pada generasi anak kita dalam memanggil kita. Ya memang kitanya sendiri yang terbawa arus dengan penggunaan istilah lainnya yang mungkin terdengar lebih modern sehingga mengajarkannya ke anak kita pun demikian.

Anak-anak kita dan banyak dari anak-anak di generasi saat ini sudah banyak sekali yang menggunakan panggilan ayah-bunda untuk yang cenderung memilih sensasi nasionalis, abi-umi atau abah-umi untuk yang ingin memperlihatkan sisi islami, dan barangkali papi-mami, papa-mama, daddy-mama untuk menampakkan sisi strata sosial yang tinggi.

Saya pribadi sebagai orang tua yang saat ini sedang memiliki anak kecil, tak pernah mengajarkan anak memanggil saya dengan panggilan aneh-aneh. Saya selalu mengupayakan untuk menuntun anak mengeja bapak atau paling banter ayah. Sementara istri saya lebih nyaman jika anaknya memanggil dia mama.

Yang pasti tiap generasi ke generasi memiliki perbedaan cara penyebutan atau panggilan terhadap orang tua mereka. Saya sendiri ingat saat kecil, bapak saya memanggil orang tuanya (yang artinya kakek nenek saya) dengan sebutan pak-mak. Sementara ibu saya memanggil orang tuanya dengan panggilan pak-mbok.

Tidak hanya soal cara memanggil terhadap orang tua yang berbeda antar generasi satu dengan lainnya. Ada banyak perbedaan yang seharusnya diakui dan tidak dipaksakan untuk bisa selalu sama. Yang artinya kita tidak bisa lagi memaksa anak kita harus menjadi seperti kita atau sebaliknya orang tua kita meminta kita harus persis seperti mereka. Sudah ndak usum lagi yang demikian ini.

Ngomong-ngomong, bagaimana kalian memanggil orang tuamu? Dan bagaimana kalian dipanggil anak-anakmu?

Monday, November 29, 2021

INDUSTRI: MENGENAL CHOIOKI DALAM PABRIK JEPANG

Dalam gemba (shopfloor) alias pabrik, budaya Jepang sangat menekankan pentingnya 5S. Tentu kita sudah tidak asing dengan budaya 5S ini karena sering kali kita dengar dan lakukan dalam pekerjaan operasional sehari-hari di pabrik.


Ada satu hal lagi istilah yang sangat familiar bagi saya dan pertama kali saya mengenalnya saat bekerja untuk NSK Bearings Indonesia, sebuah korporasi komponen otomotif asal Jepang. Istilah yang saya maksud adalah CHOIOKI.


Apakah yang dimaksud CHOIOKI? Menurut penjelasan traineer saya dulu, yang dimaksud choioki adalah segala hal utamanya produk yang tanpa identitas. Lebih detailnya adalah adanya barang khususnya produk yang berada di suatu tempat tapi tanpa identitas yang jelas.


Contoh kondisi choioki:
Ada parts yang tidak memiliki identitas yang jelas dan tergeletak di lantai pabrik begitu saja


Kenapa choikoi menjadi sangat penting untuk diperhatikan dan cukup menjadi concern bagi manajemen perusahaan Jepang dalam mengelola operasional di pabrik? Karena faktanya choikoi ini menjadi salah satu sebab hadirnya berbagai masalah utamanya masalah yang berkaitan dengan kualitas produk.


Semua dari kita paham bahwa manajemen Jepang sangat komitmen dalam hal kepuasan pelanggan, hal ini hanya bisa didapat dengan menghasilkan produk yang berkualitas. Lalu bagaimana contoh choioki di gemba? Berikut ini beberapa contoh yang bisa kita ambil.


1. Di sebuah pabrik sepatu, ditemukan adanya sol setengah jadi yang tergeletak dilantai tanpa ada identitas yang jelas.

2. Di sebuah pabrik handphone, ada sebuah IC power yang jatuh di lantai dan tidak ada yang peduli terhadapnya, kemudian kondisi ini pun juga tanpa identitas yang jelas.

3. Di sebuah pabrik bearing, ada satu outer ring yang tergeletak di bawah conveyor proses assembling yang kondisinya terbiarkan tanpa identitas.


Itu hanya beberapa contoh choioki yang bisa kita temui atau bayangkan di gemba (shopfloor). Mungkin ada banyak sekali hal lain yang bisa kita temui dan jadikan contoh. Lalu apa sih bahaya choikoi ini? Bahaya choikoi antara lain  adalah sebagai berikut:


1. Dapat menjadikan sebab awal mix product antara yang OK dengan yang Not OK

2. Menjadikan lingkungan pabrik terkesan tidak rapi, 5S yang buruk

3. Menurunkan kepuasan pelanggan akibat kondisi 5S yang buruk


Bagaimana cara kita mengendalikan choikoi ini? Pastikan aktifitas 5S di shopfloor berjalan dengan baik dan dikontrol secara ketat secara periodik untuk menjaganya dalam kondisi konsisten. Mari kita hindari choioki dalam pabrik kita. Salam improvement!

Friday, October 29, 2021

INDUSTRI: MENGENAL MIERUKA (VISUALISASI) PADA PABRIK

Kontrol visual adalah teknik manajemen bisnis yang digunakan di banyak tempat di mana informasi dikomunikasikan dengan menggunakan sinyal visual, bukan teks atau instruksi tertulis lainnya. Desain sengaja memungkinkan pengenalan cepat dari informasi yang dikomunikasikan, untuk meningkatkan efisiensi dan kejelasan.

Sinyal ini bisa dalam berbagai bentuk, mulai dari pakaian berwarna berbeda untuk tim yang berbeda, hingga ukuran fokus pada ukuran masalah dan bukan ukuran aktivitas, hingga kotak kanban, patuha dan heijunka dan banyak contoh beragam lainnya. Dalam The Toyota Way, itu juga dikenal sebagai mieruka.

Picture: source google

Metode kontrol visual bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas suatu proses dengan membuat langkah-langkah dalam proses itu lebih terlihat. Teori di balik kontrol visual adalah bahwa jika sesuatu terlihat jelas atau terlihat jelas, mudah diingat dan disimpan di garis depan pikiran. Aspek lain dari kontrol visual adalah bahwa setiap orang diberi isyarat visual yang sama dan kemungkinan besar memiliki sudut pandang yang sama.

Ada banyak teknik berbeda yang digunakan untuk menerapkan kontrol visual di tempat kerja. Beberapa perusahaan menggunakan kontrol visual sebagai alat organisasi untuk bahan. Papan penyimpanan yang diberi label dengan jelas memungkinkan karyawan mengetahui dengan tepat di mana letak alat dan alat apa yang hilang dari papan pajangan.

Contoh sederhana lain dari kontrol visual yang umum adalah memiliki pengingat yang dipasang di dinding bilik sehingga tetap terlihat jelas. Tanda dan sinyal visual mengkomunikasikan informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang efektif. Keputusan ini mungkin berorientasi pada keselamatan atau mereka mungkin mengingatkan tentang langkah apa yang harus diambil untuk menyelesaikan masalah.

Sebagian besar perusahaan menggunakan kontrol visual dalam satu atau lain derajat, banyak dari mereka bahkan tidak menyadari bahwa kontrol visual yang mereka buat memiliki nama dan fungsi di tempat kerja. Apakah dikenali dengan nama "kontrol visual" atau tidak, faktanya mengganti teks atau angka dengan grafik membuat sekumpulan informasi lebih mudah dipahami hanya dengan pandangan sekilas, menjadikannya cara yang lebih efisien untuk mengkomunikasikan pesan. Ini juga biasa digunakan untuk komunikasi tim internal.

Kontrol visual dirancang untuk membuat kontrol dan manajemen perusahaan sesederhana mungkin. Ini berarti membuat masalah, kelainan, atau penyimpangan dari standar terlihat oleh semua orang. Ketika penyimpangan ini terlihat dan terlihat oleh semua orang, tindakan korektif dapat diambil untuk segera memperbaiki masalah ini.

Kontrol visual dimaksudkan untuk menampilkan status operasi atau kemajuan dari operasi yang diberikan dalam format yang mudah dilihat dan juga untuk memberikan instruksi dan menyampaikan informasi. Sistem kontrol visual harus memiliki komponen tindakan yang terkait dengannya jika prosedur yang direpresentasikan secara visual tidak diikuti dalam proses produksi yang sebenarnya. Oleh karena itu, kontrol visual juga harus memiliki komponen di mana umpan balik langsung diberikan kepada pekerja.

Ada dua kelompok dan tujuh jenis aplikasi dalam kontrol visual. Menampilkan grup dan grup kontrol.

1. Grup tampilan visual menghubungkan informasi dan data kepada karyawan di area tersebut. Misalnya, grafik yang menunjukkan pendapatan bulanan perusahaan atau grafik yang menggambarkan jenis masalah kualitas tertentu yang harus diperhatikan oleh anggota kelompok. Skala besar, (biasanya 2 x 4 meter) contoh ini dikenal sebagai papan komunikasi. Papan komunikasi cukup besar untuk memuat beberapa tampilan dan memungkinkan tim orang untuk melihat sekaligus. Ini mendukung pengambilan keputusan tim dan mempromosikan "visi bersama".

2. Sebuah kelompok kontrol visual dimaksudkan untuk benar-benar mengontrol atau memandu tindakan anggota kelompok. Contoh pengendalian yang mudah terlihat di masyarakat: rambu berhenti, rambu parkir untuk orang cacat, rambu dilarang merokok, dll.

Sunday, September 19, 2021

TEBU, KOMODITAS YANG MEMPERKAYA RAKYAT JAWA TIMUR?

Ilustrasi: Buruh Penebas Tebu

Jika mendengar tanaman tebu apa yang terlintas di benak anda? Tentu kita akan langsung terbayang segelas es tebu yang rasanya manis dan sanggup melegakan tenggorokan yang haus di bawah teriknya panas siang hari. Atau jangan-jangan kita terbayang betapa lahan tebu terkesan menyeramkan karena sering dijadikan latar pada berita kriminal baik pembunuhan atau pemerkosaan.

Sejarah mencatat tanaman tebu mulai dikenal luas di Indonesia berkat hadirnya kolonialisme Belanda. Indonesia yang kalah itu masih berstatus sebagai Hindia Belanda di awal tahun 1800-an mulai menerapkan tanam paksa khususnya di Jawa yang diprakarsai oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), sebuah holding company yang sangat super kaya saat itu.

Sistem tanam paksa di Jawa menjadikan masyarakat Jawa yang saat itu lebih mengenal padi sebagai tanaman yang biasa ditanam, menjadi sedikit perlahan bergeser sebagian menanam tebu. Diakui atau tidak memang tebu yang habitat aslinya berasal dari Papua New Guinea ini ternyata sangat cocok ditanam di dataran rendah Jawa. VOC tentu melihat ini sebagai sebuah peluang besar dalam memproduksi gula yang oleh bangsa Eropa kebetulan sangat dibutuhkan.

Harga gula yang relatif baik saat itu membuat VOC sangat berambisi mengubah banyak lahan produktif untuk ditanami tebu dan membangun puluhan pabrik gula di nusantara. Baru setelah tahun 1859 terjadi pembangunan besar-besaran pabrik dalam mengolah hasil tebu terealisasi. Infrastruktur dibangun sangat canggih di jaman itu, rel kereta hingga ke pelosok lahan tebu terkoneksi dengan baik sampai ke pabrik-pabrik.

Dewasa ini ternyata tebu tetap menjadi salah satu andalan PTPN (PT. Perkebunan Nusantara) dalam menghasilkan keuntungan bisnis. Tercatat menurut rilis resmi PTPN X selaku salah satu anak perusahaan PTPN yang membidangi bisnis pengolahan produk olahan tebu, bahwa produksi gula kristal hasil dari tanaman tebu di tahun 2020 ternyata mampu menembus angka produksi 350 ton gula kristal yang berasal dari 4 juta ton tebu, dengan hasil keuntungan mencapai 100 milyar rupiah per tahun.

Bicara tanaman tebu tentu kita tidak bisa mengesampingkan peran Jawa Timur sebagai lumbung tebu dan produksi gula kristal nasional. Data resmi PTPN menyebutkan untuk saat ini provinsi dengan kepemilikan lahan tebu paling luas di Indonesia adalah Jawa Timur dengan mencapai 65% dari seluruh lahan tebu yang ada di Indonesia atau setara dengan 200 ribu hektar lahan. Ini tentu aset yang sangat berharga untuk Indonesia dalam memenuhi kebutuhan gula kristal nasional.

Dalam ruang lingkup PTPN X saja ada setidaknya sembilan pabrik gula aktif di Jawa Timur, mulai dari PG Krembung di Sidoarjo di sebelah utara hingga ke ujung selatan di Tulungagung yaitu PG Mojopanggung. Belum lagi PG milik PTPN XI yang jumlahnya juga mencapai sembilan pabrik yang tersebar di sekitar Malang hingga PG Semboro di Jember, timur jauh Jawa Timur. Ini merupakan aset nasional yang harus dikelola dengan baik untuk generasi mendatang.

Bicara Kediri sebagai lumbung tebu di Jawa Timur tentu tidak lepas dari keberadaan Kediri sebagai kabupaten dengan peringkat nomor dua kepemilikan luas lahan tebu di Jawa Timur, setelah Malang tentunya. Saat ini tercatat Kediri memiliki serapan produksi gula kristal dari tanaman tebu sebesar 150 ribu ton atau setara 13% produksi tebu di Jawa Timur. Ini yang membuat kita tidak heran jika berkunjung ke pelosok Kediri betapa banyak ditemukan ribuan hektar lahan tebu.

Sebagai anak daerah yang lahir dari orang tua yang terkena imbas positif keberadaan lahan tebu, tentu penulis pribadi sangat bersyukur pernah berada di tengah keluarga yang di awal 90-an cukup kaya raya berkat tanaman tebu. Kebetulan dulu orang tua penulis selain sebagai petani tebu juga merupakan tengkulak tebu yang memiliki kontrak tahunan sebagai vendor di PTPN X yaitu PG Ngadirejo, Kras, Kediri. Meski hari ini sudah tidak lagi menikmati keberadaan positif tanaman tebu tapi setidaknya bagi penulis pengalaman hidup yang manis ini layak disyukuri.

Di wilayah Kediri sendiri tempat lahir penulis yaitu Kecamatan Kras, tercatat di data PTPN X menduduki peringkat tiga kecamatan dengan lahan tebu teluas di Kediri setelah Kecamatan Wates disusul Kecamatan Kandat. Kecamatan Kras saat ini memiliki luas lahan tebu sebesar 1800-an hektar dengan total produksi gula kristal dari serapannya sebesar 211 ribu ton per tahun. Ini angka yang tentu tidak sedikit jika kita konversikan ke dalam uang.

Anggap saja jika harga gula kristal saat ini per kilogram adalah 18 ribu rupiah, maka dengan produksi 211 ribu ton gula yang dihasilkan oleh Kecamatan Kras saja berarti sama dengan rupiah 3.798.000.000.000 alias 3 triliun lebih. Bayangkan perputaran uang sebesar itu untuk sebuah siklus bisnis dan ekonomi di tengah masyarakat, tentu bukan nilai yang kecil. Mestinya ada proses stream yang bisa dipelajari, dipertahankan, dan ditingkatan oleh insinyur ahli pertanian untuk mencapai produksi tebu lebih baik.

Belum lagi produksi gula rumahan atau gilingan tebu untuk menghasilkan gula merah skala kecil, di Desa Karangtalun tempat lahir penulis saat ini tercatat ada gilingan tebu tradisional aktif sebanyak 4 buah. Ini tentu mampu menggerakkan perekonomian desa yang lagi-lagi menurut pendapat penulis harus dipertahankan eksistensinya. Mengingat saat masa kecil penulis dulu tercatat lebih dari 10 buah keberadaan gilingan tebu tradisional termasuk salah satunya adalah milik kakek penulis sendiri yang akhirnya tutup karena gagal mempertahankan eksistensi.

Penulis mengamati betapa problematika petani tebu saat ini adalah soal regenerasi SDM, yang sebenarnya ini adalah problem turunan nasional. Yaitu enggannya anak muda berkecimpung di dalam sektor pertanian karena dianggap tidak menjanjikan faedah finansial di masa mendatang. Tidak cukup banyak anak muda saat ini yang bersedia meniti karir sebagai petani tebu, padahal jelas sekali potensi positif yang sudah disebutkan oleh penulis di paragraf-paragraf awal.

Dari pada bersusah payah menanam tebu yang pengelolaannya sulit dan panennya per 10 bulan atau bahkan setahun sekali, menjadi karyawan swasta atau syukur-syukur bisa menjadi PNS tentu adalah gol utama anak muda saat ini, tidak terkecuali di tanah kelahiran penulis. Adapun jika saat ini masih ada sedikit anak muda yang menekuni bertani tebu, tidak lain karena terpaksa dan tidak ada pilihan, bukan karena benar-benar ingin menyelamatkan komoditas paling membanggakan di wilayah Kediri atau lebih luas lagi Jawa Timur bahkan nasional ini.

Terakhir yang ingin disampaikan penulis adalah bahwa seiring bertambanya tahun, tercatat di data resmi PTPN bahwa produksi tebu PTPN X secara linier terus menurun. Dari tahun 2016 yang mampu memproduksi tebu sebanyak 5,9 juta ton per tahun, menurun landai hingga tahun 2020 hanya mampu memproduksi tebu sebanyak 3.8 juta ton per tahun dan ini akan diprediksi semakin menurun di tahun-tahun mendatang. Miris sekali kan?

Lagi-lagi tren ini juga merupakan turunan dari tren problem nasional di mana produksi hasil pertanian apapun itu mulai dari tembakau, padi, jagung dan lain-lain secara gradual linier menurun tahun demi tahun. Maka jika kemudian impor dilakukan oleh pemerintah demi mencukupi demand dari masyarakat kita sendiri ya ndak usah kaget-kaget amat. Fakta menariknya semakin hari kita memang tidak lagi menjadi negara agraris (pertanian) kok, kita sedang bertransformasi ke negara industri. Lihat saja 10-20 tahun mendatang apa profesi yang paling diinginkan oleh anak-anak kita (mohon yang ini dicatat sungguh-sungguh).

Mengingat ini bukan karya ilmiah, penulis tidak cukup waktu untuk menganalisa dengan baik secara sungguh-sungguh apakah tren ini memang berjalan karena dampak semakin tumbuhnya penduduk (ledakan populasi) yang otomatis membuat minimnya lahan bercocok tanam, atau karena SDM yang semakin hari memang tidak cukup komitmen terhadap keberadaan sektor pertanian nasional. Lihat saja di sekeliling kita, kampus mana yang fakultas pertaniannya terbaik dan ke mana saja kiprah karir lulusannya? Betul bukan?

Semoga menjadi renungan, salam hangat dari Malang.

Robi Cahyadi
Menulis aktif untuk berdongeng ke anak cucu
Malang, 19 September 2021

Saturday, September 11, 2021

INDUSRTY: MENGENAL A3 REPORT

MENGENAL A3 REPORT

Dalam aktivitas continuous improvement (Kaizen), ada berbagai bentuk jenis model report/laporan. Di banyak perusahaan Jepang, umumnya jenis A3 report dijadikan sebagai standar dalam pelaporan aktivitas Kaizen karena dianggap sederhana tapi padat dan langsung ke poin substansi. (FYI; orang Jepang anti bertele-tele). A3 report ini mula-mula dikenalkan tentunya oleh TPS (Toyota Production System).

Di bawah ini ada sebuah contoh A3 report (yang sudah saya modifikasi ulang) dari yang dulu pernah saya pelajari dan gunakan saat masih bekerja untuk NSK Bearings. Tidak ada acuan baku bagaimana A3 report disusun, prinsipnya harus dapat menjelaskan hal inti dari aktivitas Kaizen. Yang terpenting ada 3 unsur pokok yaitu: Kondisi sebelum improvement - Kondisi sesudah improvement - Efesiensi yang dihasilkan.

Ilustrasi: A3 Kaizen Report

Jika ingin lebih lengkap dengan mendetailkannya menggunakan penjabaran konsep rinci siklus PDCA atau DMAIC, ditambah grafik, data-data, dan foto-foto yang menjelaskan kondisi after-before di dalam Kaizen A3 report tentu akan semakin lebih baik. Kembali ke selera saja, kalau saya pribadi kebetulan menyukai yang sederhana, padat, dan langsung menuju substansinya.

Di contoh yang saya berikan ini memiliki keuntungan yang sangat baik dari sisi penyampaian substansi laporan. Dibaca berurutan dari poin-1 sampai poin-4 dan biasanya saat melaporkan dalam presentasi hanya butuh short time (flash presentation) kurang dari 10 menit. Orang Jepang sangat menyukai laporan yang langsung ke kesimpulan, untuk proses detailnya biasanya mereka gak terlalu ingin kepo kejauhan.

Jika kalian bekerja untuk sebuah perusahaan Jepang, tentu sudah tidak asing lagi dengan A3 Report. Jika kebetuan anda tidak bekerja di perusahaan Jepang dan ingin mencoba mengenalkannya dengan menggunakannya pada project report kalian, tentu ini juga sangat menarik. Ingin belajar lebih dalam soal A3 Report? Boleh kok japri dan kita diskusi bareng soal ini. Selamat bermalam minggu bruh!

Malang, 11 Sept 21
Ditemani hujan syahdu di balkon Villa Mewah Kalianyar