Tuesday, December 1, 2020

OPINI: SEBERAPA PENTING LEARNING BY DOING BAGI MAHASISWA?

Setiap mahasiswa yang bercita-cita terjun bekerja dan menekuni dunia manufaktur harusnya tidak asing dengan berbagai langkah strategi efisiensi produksi. Seringkali hal ini menjadi topik hangat dalam perbincangan di komunitas yang menekuni bidang ini. Bisa dikatakan seorang engineer tanpa wawasan strategi efisiensi produksi ibarat seorang pedagang yang tidak punya barang untuk dijual alias omong kosong. Wawasan mendalam tentang ilmu realita di dunia kerja industri manufaktur seperti ini harus diperoleh.

Ilustrasi gambar: 4 siklus Learning by Doing

Dalam praktiknya di dunia kerja industri manufaktur, strategi efisiensi produksi dapat ditempuh dengan berbagai banyak cara. Ada yang namanya Lean, Six Sigma, Toyota Manufacturing System, Kaizen, dan lain sebagainya. Salah satu cara paling terkenal dan sangat digaungkan di kalangan penekun bidang ini adalah TPM System. Ya, Sistem Total Productivity Maintenance. Cara ini sangat umum digunakan oleh industri manufaktur dalam mencapai produktifitas secara optimum.

Secara teori Sistem TPM ini dapat dijadikan sebagai cara sistematis untuk menekan bahkan menghindari kerugian alias ketidakefisienan pada tiga isu penting proses manufaktur. Isu tersebut antara lain dalam bentuk target yaitu zero breakdowns (nol kerusakan), zero defect (nol cacat produk) dan zero accident (nol kecelakaan). Lalu apakah mahasiswa teknik khususnya mesin dan indsutri sudah cukup dikenalkan dengan sistem TPM ini oleh kurikulum pendidikannya?

Sebagai contoh secara umum misal sistem pendidikan dan kurikulum yang berlaku di Sekolah Menengah Kejuruan yang ada di Indonesia adalah mengedepankan praktik langsung pada lapangan, untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan yang lebih sesuai dengan kondisi nyata dunia kerja bagi para siswa. Ini adalah contoh yang dapat kita ambil dari sebuah penerapan learning by doing. Lalu bagaimana dengan bangku kuliah (perguruan tinggi) yang seharusnya lebih dalam lagi fokus pada bidang keahliannya?

Penjelasan di beberapa paragraf di atas adalah kasus betapa pentingnya learning by doing. Apa sih pengertian learning by doing? Secara singkat adalah jika merujuk kepada arti secarah harafiah, learning by doing memiliki arti belajar sambil melakukan serta mempelajari sesuatu bukan hanya lewat teori, melainkan langsung mempraktikannya. Bagaimana caranya? Tentu banyak sekali cara yang ditempuh misalnya berupa simulasi penerapa fondasi sistem TPM yaitu 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) dalam workshop lingkungan kampus. Mahasiswa berperan langsung melakukan dan memonitoringnya.

Untuk mahasiswa dengan jurusan atau kompetensi teknik mesin, mereka akan diarahkan untuk melakukan praktek kerja lapangan di workshop atau in the job training di perusahaan manufaktur selama beberapa waktu. Hal ini tentu dilakukan agar memberikan pengalaman nyata dan edukasi yang lebih sesuai dengan kondisi dunia kerja. Ini kritikal poinnya, sejauh mana dunia pendidikan khususnya kampus benar-benar serius menerapkan dan memonitoring metode pembelajaran kerja praktik mahasiswanya selama ini? Penulis pikir sangat penting sekali menerapkan realita keilmuan di dunia kerja ke dalam praktik pembelajaran mahasiswa di kampus.

Saya pribadi merasakan dengan sepenuh hati bahwa sepanjang belajar di bangku kuliah, sangat minim sekali materi tentang realita di dunia manufaktur seperti ini diajarkan, misalnya tentang Sistem TPM ini dengan segala materi rinci di dalamnya, mulai dari fondasi dan 8 pilarnya beserta turunan alat-alatnya. Padahal mayoritas industri sektor manufaktur menerapkannya dan pemahaman yang baik tentang materi ini sangat dibutuhkan jika kemudian mahasiswa hendak bercita-cita terjun ke industri manufaktur. 

Bangku kuliah teknik memang mengajarkan banyak wawasan yang muara akhirnya adalah peningkatan dan penguatan daya analisis, misalkan belajar problem solving dengan soal-soal calculus, elemen hingga, wawasan proses manufaktur dan seterusnya. Dari mata kuliah dasar hingga spesifik sesuai bidang  jurusan tersebut memang penting dan wajib terus diberikan. Tapi sebaiknya lembaga pendidikan mulai berbenah bahwa wawasan yang terimplementasi nyata di dunia kerja adalah hal wajib yang harus diberikan. Tentunya agar lebih mengena dengan cara learning by doing!

Friday, November 6, 2020

MANUFAKTUR: MENGENAL PROSES COATING SEBAGAI PROSES FINISHING DALAM PERCETAKAN

Kali ini kita akan membahas teknik finishing dalam dunia percetakan yaitu Coating. Coating merupakan suatu proses pelapisan yang diterapkan pada suatu benda, dalam hal percetakan pada umumnya berupa media kertas. Tujuan dari coating sendiri adalah untuk dapat meningkatkan sifat permukaan dari benda yang dilapisi. Sifat permukaan tersebut diharapkan dapat melindungi hasil cetakan terhadap sidik jari, goresan, noda, juga dampak-dampak kelembaban udara dan suhu udara.

Contoh Hasil Akhir Proses Coating (UV)

Hasil Coating akan terlihat optimal bila diaplikasikan pada kertas coated (berlapis) karena permukaannya tak keras dan tidak mudah menyerap air. Pada umumnya setiap jenis coating dapat menimbulkan efek glossy (mengkilap), satin (tidak mengkilap) dan doff (redup)

Terdapat beberapa jenis coating, antara lain:

1. Varnish

Varnish adalah coating berupa cairan yang dituangkan pada permukaan kertas lewat tempat penintaan secara inline (langsung pada mesin cetak ) ataupun offline. Varnish memiliki beberapa efek diantaranya gloss dan doff. Varnish cenderung menimbulkan kertas menjadi kuning

2. Laminating

Laminating merupakan proses pelapisan permukaan hasil cetak menggunakan lapisan plastik yang transparan melalui mesin laminating. Efek dari laminating adalah efek glossy dan doft. Fungsi dan kelebihan laminating adalah untuk melindungi hasil cetak terhadap goresan, dan anti air, juga hasil cetak menjadi lebih awet dan membuat hasil cetak menjadi lebih indah

3. Aqueos Coating (Water Based)

Aqueos coating adalah lapisan coating yang bersifat water based dan mudah kering, yang bertujuan melapisi permukaan agar tidak mudah tergores. Jenis coating ini juga lebih ramah lingkungan disbanding dengan jenis coating lainnya. Aquros Coating sebaiknya diaplikasikan pada kertas yang tidak terlalu tipis agar tidak melengkung saat basah dan tidak berubah warna menjadi kuning untuk jangka waktu yang lama.

4. UV Coating

UV Coating merupakan cairan bening yang dapat bereaksi langsung dengan sinar ultra violet, UV Coating juga dapat memberi efek glossy, doff dan satin. Karena UV coating bereaksi dengan sinar UV bukan dengan panas, proses aplikasi tersebut tidak mengeluarkan solvent ke udara.

Sunday, September 27, 2020

OPINI: INDONESIA DALAM PUSARAN COVID-19

Sudah lebih dari delapan bulan sejak ditetapkannya Covid-19 sebagai pandemi oleh WHO, sampai hari ini belum ada tanda signifikan menurunnya kasus di Indonesia. Dari situasi itu bahkan beberapa minggu lalu Presiden Joko Widodo secara khusus memerintahkan Luhut Binsar Panjaitan selaku menteri koordinator untuk melakukan percepatan pecegahan dan penanganan Covid-19. Target waktu yang diberikan kepada Luhut pun sangat singkat hanya sekitar 2 minggu saja. Kita semua wajib dukung percepatan penanganan ini.

Ilustrasi: Bermasker Untuk Cegah Covid-19
Sumber: Google

Sementara itu di lain sisi Menteri Kesehatan Indonesia dr. Terawan pun digadang-gadang oleh netizen sebagai menteri yang gagal menangani kasus ini meskipun ironisnya Presiden Jokowi tak kunjung mengambil sikap terhadap posisinya. Banyak warganet akhirnya berasumsi liar itu semua terjadi karena dr. Terawan yang berlatar belakang militer menjadikannya sulit disudahkan oleh Jokowi. Singkat cerita Jokowi dianggap tersandera oleh “militer”. Ini merupakan penyakit lama pemerintahan Indonesia peninggalan jaman Orde Baru.

Faktanya memang kita dalam pusaran Covid-19 yang sangat mengkhawatirkan, data statistik rilisan website resmi Satgas Covid-19 Nasional menyatakan per hari ini tanggal 27 September 2020 Indonesia masih berkutat di angka kasus sebanyak 271 ribu dengan jumlah angka kematian sebanyak 10 ribuan dan jumlah sembuh dinyatakan sebanyak 199 ribu. Tentu ini angka yang sangat mengkhawatirkan terlepas dari kontroversial di dalam valid tidaknya pengambilan data tersebut.

Ditambah realita terkini yang paling hangat dan sengaja diblowing-up oleh banyak kalangan adalah di saat semua unsur pemerintah dan masyarakat sedang berjibaku menghentikan laju penyebaran Covid-19, justru Jokowi menyatakan Pilkada tetap akan digelar sesuai rencana dengan protokol pencegahan Covid-19 secara ketat. Ini tentu memancing dua ormas keagamaan paling berpengaruh di negeri ini yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Reaksi keras disampaikan secara resmi oleh kedua ormas tersebut tapi pemerintah sepertinya bergeming. Mudah-mudahan masih tetap baik-baik saja, meski banyak diketahui jika dua ormas tersebut sudah bersuara itu adalah tanda negeri ini tidak baik-baik saja.

Dari rentetan problem demi problem dan kegagapan dalam rangka pencegahan dan penanganan Covid-19 tersebut terjadilah apa yang oleh penulis disebut sebagai paralelogram gaya pemikiran di tengah masyarakat. Maksud dari paralelogram di sini adalah betapa banyaknya asumsi liar yang bersifat bebas sembarang di tengah masyarakat luas yang sulit dikendalikan. Akibatnya tentu adalah terjadinya pertentangan opini di tengah masyarakat. Sebagai contoh riilnya akan coba dijelaskan penulis pada paragraf berikut ini.

WHO sebagai lembaga resmi dunia yang membidangi kesehatan menyebutkan bahwa cara terbaik menangani penyebaran Covid-19 adalah setidaknya dengan 3 cara yaitu: Bermasker, cuci tangan, jaga jarak. Ketiganya dianggap sebagai cara paling efektif sampai sejauh ini dan mungkin sampai vaksinnya benar-benar ditemukan. WHO yang dihuni oleh banyak intelektual (alim) di bidang kesehatan tentu tidak sekedar omong kosong belaka saat mengatakan bahwa ketiga cara itulah yang paling rasional untuk mencegah laju penularan Covid-19.

Akan tetapi tidak semua kelompok di negeri ini mampu menelaah dan memahami anjuran baik tersebut. Masyarakat dibuat bingung oleh adanya paralogram gaya pemikiran yang disebutkan oleh penulis tadi. Dalam kajian penulis setidaknya terdapat dua kelompok jenis panutan umat yang terpecah pemikirannya dalam menyikapi Covid-19 ini. Ada yang hati-hati sekali dan ada pula yang justru bersikukuh protokol kesehatan adalah omong kosong, begitu kira-kira dalam frustasinya.

Misalnya yaitu ada sekelompok alim (orang berilmu) seperti sebut saja KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dan juga menantunya yaitu Gus Ulil Abshar Abdalla yang sangat pro terhadap himbauan WHO ini tentang pencegahan Covid-19. Bahkan secara spesifik Gus Ulil mengampanyekan agar “jangan sowan kyai dulu, mari ikhtiar cegah Covid-19”. Begitu ajakannya kepada umat/netizen/warganet melalui akun media sosialnya. Pemikiran seperti ini oleh penulis disebut sebagai ijtihad-ikhtiar centris.

Di lain sisi ada banyak pula ulama’ yang oleh penulis tidak bisa disebutkan satu persatu yang justru sebaliknya, memilih pandangan lain yang berbeda. Oleh penulis disebut sebagai ijtihad-tawakal centris. Singkatnya lebih banyak pasrah. Kelompok ini misalnya bersikukuh bahwa tidak selayaknya proses ibadah sebagai kebutuhan dasar hidup manusia/hamba dihambat dengan protokol-protokol pencegahan pandemi yang menyulitkan seperti himbauan WHO itu.

Seperti halnya di kampung-kampung dan pelosok pedesaan, kegiatan ritual peribadatan tetap berlangsung seperti biasa dan sangat ramai sekali misalnya pengajian-pengajian rutin dan seterusnya dengan mengabaikan protokol ketat pencegahan Covid-19. Seringnya berdalih bahwa takdir baik rezeki, kesehatan, kematian, sudah diatur oleh Allah SWT sehingga tak seharusnya Covid-19 menghambat ritual peribadatan. Ironis memang, tapi ini realita yang harus disampaikan agar semuanya menjadi terbelalak.

Dalam ilmu fisika kita semua mengenal bahwa setiap adanya dua atau lebih garis gaya yang berbeda arah (paralelgoram) tetap akan menghasilkan apa yang disebut dengan resultan (hasil) dari gaya-gaya yang berbeda gerak dan arah tersebut. Jadi meskipun di tengah masyarakat terdapat banyak sekali pandangan bebas sembarang, penulis tetap meyakini bahwa pada akhirnya nanti akan ada resultan atau konklusi dari semua itu. Setidaknya jika kita semua masih bersedia berpikir dan merenungi setiap kejadian.

Terakhir, kita semua tidak tahu sampai kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Jadi sebagai warga biasa yang tidak memiliki daya apapun selain menyuarakan opini, penulis tetap mengajak kepada seluruh pembaca untuk mematuhi dengan benar prosedur pencegahan Covid-19 dengan seraya terus memohon doa dan ampunan kepada pemilik segala rencana yaitu Allah SWT. Semoga pandemi segera berakhir dan kita bisa menjalani hidup penuh kebahagiaan di masa mendatang. Aamiin. Wallahualam bisshowab.

Pagi cerah dengan langit indah
Malang, 27 September 2020
Robi Cahyadi

Saturday, September 19, 2020

CURHAT: ANAKKU HYPERACTIVE?

Apakah anakku Hyperactive?

Malika Val Elail, Puteri Kecilku

Jujur saja tentunya sangat senang memilki anak yang sehat dan aktif begerak dan tidak pernah berhenti bermain. Saya meyakini bahwa tingkat aktif yang tinggi merupakan wujud dari kecerdasan. Anak sehat dan cerdas otaknya selalu terstimulus untuk melakukan banyak gerakan, begitu kata para ahli di berbagai artikel yang saya baca. Bayi yang banyak gerak justru memungkinkan dia untuk cepat tanggap terhadap lingkungan sekitarnya.

Tapi di satu sisi lainnya saya khawatir, takut, dan cemas karena banyaknya gerakan tersebut sangat berpotensi mengakibatkan cedera jika si kecil jatuh dan tersungkur saat bermain. Beberapa kali kepalanya sempat kejedot, saya melihat sendiri betapa ibunya menjadi panik dan kemudian ikut menangis saat si kecil jejeritan menahan sakitnya terbentur.

Saya berusaha mencari tahu dan konsultasi dengan berbagai orang, juga tentunya bu bidan yang mestinya beliaulah orang yang ahli dalam perbayian. Semuanya berkata dan memberi referensi bahwa anak yang aktif itu justru anugrah yang harus disyukuri. Jika bayi banyak diam dan murung justru itu tanda bahwa anak tidak bahagia. Begitu kira-kira. Jadi sejauh ini masih merasa lega dengan berbagai penjelasan tentang positifnya bayi aktif ini.

Mengawasinya selama 24 jam secara ekstra adalah tugas ibunya sehari-hari setelah pulang mengajar dari sekolah. Saya tentu disibukkan dengan aktifitas bekerja untuk memberinya jaminan belanja bulanan sehingga tidak banyak waktu yang saya curahkan untuk si kecil. Jika hari libur tentu saya berusaha untuk membantu meringankan beban istri saya dengan momong si kecil, saya berikan kesempatan kepada istri untuk hangout dengan teman-temannya, seringnya dia memilih basket sebagai hobinya sejai kecil.

Harus diakui, momong bayi itu tidak semudah dan semenyenangkan yang banyak orang bayangkan. Jika kebetulan yang dimomong itu aktifnya naudzubillah seperti ini ya bisa-bisa tipes ayahnya kambuh lagi. Di tengah situasi yang serba campur aduk itu saya tetap berusaha melembutkan hati agar bisa menerima kenyataan bahwa ini semua adalah kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT. Semoga si kecil terus tumbuh sehat, aktif dan tentu lembut hatinya. Aamiin.

Malang, 19 September 2020
Ayahnya Val

Keterangan foto: Si kecil girang saat dimasukkan ke mesin cuci sama bapaknya, mumpung ibunya sedang basket

Monday, September 7, 2020

SUDUT PANDANG: MENYOAL IMIGRAN DI JERMAN

Saya membaca-baca berita DW Indonesia, salah satu portal paling terkenal di Jerman. Ada satu berita yang mengulas bagaimana saat ini pemerintah Jerman sedang galau. Apa yang digalaukan? Otoritas pemerintah di Jerman sana terpecah menjadi dua kubu dalam menyikapi gelombang arus imigran yang masuk ke Jerman. Ada persoalan serius yang menghambat akan tetapi ada juga hikmah kebaikan yang hadir dari kasus imigran ini.

Ilustrasi: Bendera Jerman dan Turki terpampang jejer di jalanan Kota Berlin
Sumber: google

Satu kubu mengatakan bahwa hadirnya imigran adalah berkah karena di tengah-tengah banyaknya jumlah imigran tersebut diyakini ada banyak tenaga terampil yang bisa diberdayakan untuk menggerakkan ekonomi, sosial budaya dan muaranya adalah kekuatan Jerman. Sebagai contoh saja, bagaimana Timnas sepakbola Jerman sukses berprestasi di kancah internasional berkat hadirnya para pemain keturunan imigran, Ozil dari Turki dan Boateng dari Ghana misalnya. Atau misalnya tumbuhnya sektor manufaktur otomotif karena marketnya semakin luas berkat hadirnya imigran.

Kubu yang lain menyebutkan sebaliknya, bahwa hadirnya imigran di Jerman hanya akan menghabiskan anggaran pemerintah dan ini tentu akan berdampak buruk pada roda ekonomi makro di negara tersebut.  Menurut CNN tercatat pada Juli 2020 ini pemerintah Jerman menggelontorkan anggaran senilai 3 milyar euro untuk menstimulus dan memberi tunjangan kepada imigran yang mayoritas berasal dari Timur Tengah tersebut. Selain itu ada sisa masalah misalnya kriminalitas yang tinggi dan ekonomi yang stagnan di perbatasan dan wilayah yang dihuni oleh banyak imigran, seperti kawasan Jerman Timur.

Dua kubu ini saling "baku hantam" perang pengaruh dan pendapat di meja senat (sekelas legislatif/DPR kalau di Indonesia). Jerman memang sejak 2009 membuka deras kran untuk imigran yang masuk ke negara mereka. Meski begitu sampai detik ini Jerman terus tumbuh berkembang dalam harmonis keragaman. Keanekaragaman sosial budaya mereka kemudian menjadi kaya dan meningkat drastis dari sisi varian. Tercatat pula tetap terjadi pertumbuhan ekonomi, di 2019 kemarin angkanya 0.6 % meski ini tercatat sebagai pertumbuhan paling lambat dalam sejarah ekonomi Jerman.

Saya kemudian membayangkan jika itu terjadi di Indonesia, apakah mungkin terjadi? Akan menjadi sebuah petaka pastinya karena memang negeri ini tidak cukup terbuka pada kelompok lain. Boro-boro membuka kran atau ruang untuk imigran, untuk sekedar menampung dalam waktu sementara pengungsi Rohingya saja misalnya terjadi kegaduhan sangat luar biasa di elit politik dan juga masyarakat. Ini semua tentu karena ketidaksiapan negeri ini mengakomodirnya jika benar-benar  sampai terjadi.

Begitu juga dengan sentimen keras mayoritas penduduk negeri ini yang paranoid sekali terhadap hadirnya kelompok liyan, misalnya dalam menyikapi hadirnya tenaga kerja asing, contohnya dari China yang baru-baru ini memanas di daerah Sulawesi Utara atau daerah lainnya di Indonesia. Kelompok demi kelompok mengaku mengatasnamakan nasionalisme kemudian mentah-mentah menolak semua skema itu. Dalam kasus terdekat adalah menyoal RUU Omnibus Law yang dianggap berpotensi menjadi masalah baru di Indonesia khususnya bagi kelas pekerja.

Kemudian kita semua akhirnya bisa menyimpulkan, memang kita ini tidak setara jika dibandingkan Jerman dalam segalanya dan banyak hal apapun. Utamanya cara berpikir yang terbuka dan sekuler yang menurut hemat penulis sebenarnya bisa dijadikan aset berharga di masa mendatang. Memang kenyataannya masih sulit mengembangkan cara pandang tersebut di masyarakat negeri yang dari dulu hingga sekarang masih berstatus berkembang ini.