Friday, May 1, 2020

SEJARAH ISLAM; HIKMAH KISAH NABI YUNUS AS

Salah satu utusan Allah di bumi, Nabi Yunus AS pernah ditelan ke dalam perut ikan paus. Kisah Nabi Yunus ini pun diabadikan oleh Allah SWT dalam Quran surat Yunus dan surat Al Anbiyaa.

Ada banyak hikmah yang bisa diperoleh dari kisah Nabi Yunus. Terlebih, kisah Nabi Yunus untuk anak banyak mengajarkan tentang kesabaran dan keimanan. Seperti apa kisah Nabi Yunus singkat?

Kala itu Nabi Yunus tengah diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan wahyu di suatu daerah. Nabi Yunus diminta mengajak para penduduk di kota itu beriman dan meninggalkan berhala.

Namun, para penduduk kota itu menolak ajakan Nabi Yunus dan malah memilih untuk menyembah berhala serta sesat dalam kekafiran. Bahkan, mereka mengolok-olok Nabi Yunus.

Nabi Yunus pun marah kepada kaumnya karena tidak mau menerima petunjuk dari Allah. Maka, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Yunus untuk disampaikan bahwa Allah akan memberikan azab kepada mereka.

Ilsutrasi: Nabi Yunus AS di dalam perut ikan Nun
Setelah menyampaikan wahyu itu, Nabi Yunus bergegas pergi dari daerah tersebut. Mengetahui kepergian Nabi Yunus, kaumnya pun meyakini bahwa Nabi Yunus merupakan utusan Allah. Mereka pun bertaubat dan menyesali perbuatan.

Melihat hal itu, Allah menghilangkan azab dari mereka dan memberikan kesenangan. Hal itu Allah firmankan dalam Quran surat Yunus ayat 98 yang berbunyi;

فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ اٰمَنَتْ فَنَفَعَهَآ اِيْمَانُهَآ اِلَّا قَوْمَ يُوْنُسَۗ لَمَّآ اٰمَنُوْا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنٰهُمْ اِلٰى حِيْنٍ

Artinya: Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu.

Namun, Nabi Yunus tetap meninggalkan kampung tersebut karena marah terhadap kaumnya. Padahal Allah SWT belum mengizinkannya untuk pergi.

Kisah Nabi Yunus dimulai ketika pergi ke tepi laut dan menaiki kapal. Sayang, cuaca saat itu tidak bersahabat sehingga membuat kapal oleng sehingga hampir membuat semua di atas kapal tenggelam.

Maka, atas keputusan bersama semua barang yang berat dibuang ke laut untuk meringankan kapal. Namun, masih dibutuhkan satu orang yang dibuang ke laut maka dibuat lah undian dan ternyata undian jatuh kepada Nabi Yunus.

Semua orang tak menginginkan Nabi Yunus untuk dibuang ke laut. Maka diulangnya lagi undian tetapi hasilnya tetap sama sehingga Nabi Yunus pun melempar dirinya ke laut.

Pada saat yang bersamaan, Allah SWT mengirimkan ikan paus untuk menelan dirinya tanpa merobek daging atau mematahkan tulangnya. Di dalam perut ikan paus Nabi Yunus berdoa memohon ampun kepada Allah.

Kisah Nabi Yunus ini difirmankan oleh Allah SWT dalam Quran surat Al Anbiya ayat 87. Allah mengabulkan doa Nabi Yunus yang saat itu berada di dalam perut paus karena perasaan marah.

وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ

Artinya: Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, “Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Nah, kisah nabi Yunus di atas semoga bisa menjadi pembelajaran untuk kita agar bisa lebih bersabar menghadapi ujian.

Sumber: nu.online

Saturday, April 25, 2020

MECHANICAL; MENGENAL IKLIM KERJA

A. Pengertian Iklim Kerja

Iklim Kerja adalah gambaran terhadap kualitas, suasana dan karakter yang tampak pada norma dan nilai, hubungan interpersonal, suasana belajar-mengajar, struktur organisasi, ikatan positif dengan lembaga dan lingkungan fisik yang terdapat di lembaga tempat pegawai bertugas.

Suatu Iklim kerja dapat diukur melalui dimensi safety (rasa aman), teaching and learning (kegiatan belajar mengajar), interpersonal relationships (hubungan dengan orang lain), dan institutional environment (lingkungan kerja).
Pengertian Iklim Kerja Menurut Para Ahli

Wirawan (2007:122)
Menurut Wirawan, Iklim kerja adalah pesrsepsi anggota organisasi (secara individual dan kelompok) dan mereka yang secara tetap berhubungan dengan organisasi (misalnya pemasok, konsumen, konsultan, dan kontraktor) mengenai apa yang ada atau yang terjadi di lingkungan internal organisasi secara rutin, yang mempengaruhi sikap dan perilaku organisasi dan kinerja anggota organisasi yang kemudian menemukan kinerja organisasi.

Davis dan Newstrom (2001:25)
Menurut Davis dan Newstrom, Iklim Kerja adalah kepribadian sebuah organisasi yang membedakan dengan organisasi lainnya yang mengarah pada persepsi masing-masing anggota dalam memandang organisasi.

Robbins (2007:716)
Menurut Robbins, Iklim Kerja adalah istilah yang dipakai untuk memuat rangkaian variable perilaku yang mengacu pada nilai, kepercayaan, dan prinsip pokok yang berperan sebagai suatu dasar bagi system manajemen organisasi.

Miller (1997:128)
Menurut Miller, Iklim Kerja adalah nilai semangat yang mendasar dalam cara mengelola hubungan dan mengorganisasikannya.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi PER.13/MEN/X/2011
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi PER.13/MEN/X/2011, Iklim Kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan gerakan udara dan panas radiasi akibat dari tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai akibat dari pekerjaannya.

Subaris, dkk ( 2008)
Menurut Subaris, dkk, Iklim kerja adalah suatu kombinasi dari suhu kerja, kelembaban udara, kecepatan gerakan udara dan suhu radiasi pada suatu tempat kerja. Cuaca kerja yang tidak nyaman, tidak sesuai dengan syarat yang ditentukan dapat menurunkan kapasitas kerja yang berakibat menurunnya efisiensi dan produktivitas kerja.

Ilustrasi: Iklim Kerja di Sebuah Industri
B. Dimensi Iklim Kerja

Menurut Steve Kelneer, terdapat 6 (enam) dimensi iklim kerja diantaranya yaitu:

1. Flexibility conformity
Fleksibilitas dan comfomity adalah kondisi organisasi yang untuk memberikan keleluasan bertindak bagi karyawan serta melakukan penyesuaian diri terhadap tugas yang diberikan. Hal tersebut berkaitan dengan aturan yang ditetapkan organisasi, kebijakan dan prosedur yang ada. Penerimaan terhadap ide baru merupakan nilai pendukung di dalam mengembangkan iklim organisasi yang kondusif demi tercapainya tujuan organisasi.

2. Resposibility
Hal ini berkaitan dengan perasaan karyawan mengenai pelaksanaan tugas organisasi yang diemban dengan rasa tanggung jawab atas hasil yang dicapai, karena mereka terlibat di dalam proses yang sedang berjalan.

3. Standards
Hal ini berkaitan dengan perasaan karyawan mengenai kondisi organisasi dimana manajemen memberikan perhatian kepada pelaksanaan tugas dengan baik, tujuan yang telah ditentukan serta toleransi terhadap kesalahan atau hal yang kurang sesuai atau kurang baik.

4. Reward
Hal ini berkaitan dengan perasaan karyawan mengenai penghargaan dan pengakuan atas pekerjaan yang baik.

5. Clarity
Hal ini berkaitan dengan perasaan pegawai bahwa mereka mengetahui apa yang diharapkan dari mereka berkaitan dengan pekerjaan, peranan dan tujuan organisasi.

6. Tema Commitmen
Hal ini berkaitan dengan perasaan karyawan mengenai perasaan bangga mereka memiliki organisasi dan kesediaan untuk berusaha lebih saat dibutuhkan.

Sedangkan menurut model Pines, Iklim kerja suatu organisasi bisa diukur melalui 4 (empat) dimensi, diantaranya yaitu:

1. Dimensi Psikologikal
Dimensi ini meliputi variabel seperti beban kerja, kurang otonomi, kurang pemenuhan sendiri (self-fulfilment clershif) dan kurang inovasi.

2. Dimensi Struktural
Dimensi ini meliputi variabel seperti fisik, bunyi dan tingkat keserasian antara keperluan kerja dan struktur fisik.

3. Dimensi Sosial
Dimensi ini meliputi aspek interaksi dengan klien (dari segi kuantitas dan ciri-ciri permasalahannya), rekan sejawat (tingkat dukungan dan kerja sama) dan penyelia (dukungan dan imbalan).

4. Dimensi Birokratik
Dimensi ini meliputi Undang-undang dan peraturan-peraturan konflik peranan dan kekaburan peranan.

C. Pengaruh Iklim Kerja Terhadap Tenaga Kerja

Menurut Gesang (2011), terdapat 6 (enam) pengaruh iklim kerja yang tidak sesuai terhadap tenaga kerja, diantaranya seperti:
  1. Gangguan perilaku dan performa kerja, seperti terjadinya kelelahan, sering melakukan istirahat curian dan lain-lain.
  2. Dehidrasi, yaitu suatu kondisi kehilangan cairan tubuh yang berlebihan yang disebabkan baik oleh penggantian cairan yang tidak cukup maupun karena gangguan kesehatan.
  3. Heat rash, yaitu keadaan seperti biang keringat atau keringat buntat, gatal kulit akibat kondisi kulit terus basah.
  4. Heat cramps, yaitu kejang otot tubuh (tangan dan kaki) akibat keluarnya keringat yang menyebabkan hilangnya garam natrium dari tubuh yang kemungkinan besar disebabkan karena minum terlalu banyak dengan sedikit garam natrium.
  5. Heat syncope, yaitu keadaan yang disebabkan karena aliran darah ke otak tidak cukup karena sebagian besar aliran darah di bawah ke permukaan kulit atau perifer yang disebabkan pemaparan suhu tinggi.
  6. Heat exhaustion, yaitu keadaan yang terjadi jika tubuh kehilangan terlalu banyak cairan dan/atau kehilangan garam, dengan gejala mulut kering, sangat haus, lemah dan sangat lelah.
Demikian penjelasan tentang iklim kerja. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa pada postingan selanjutnya.

Sumber: pelajaran.co.id

Saturday, March 21, 2020

MECHANICAL; MENGENAL AQL DALAM PROSES QC

AQL (Acceptance Quality Level) secara sederhana dapat diartikan Tingkat Penerimaan Kualitas. AQL dalam ilmu statistik dimodelkan dalam sebuah tabel, dimana ada dua buah tabel yang biasa digunakan yakni tabel sample size (tabel berisi jumlah sampling yang diambil untuk setiap range lot/batch), dan satu tabel lagi untuk tabel AQL itu sendiri. 

Asal mula penggunaan AQL tabel adalah oleh pihak militer pada perang dunia I, dimana tabel ini dipergunakan untuk mengetes hasil produksi peluru senapan yang akan digunakan pada perang. Tidaklah mungkin untuk mengecek satu persatu peluru apakah bisa berfungsi dengan baik atau tidak, karena itu kemudian dibuatlah satu tabel statistik yang bisa digunakan untuk memutuskan apakah satu lot/batch produksi peluru itu baik (berfungi dengan baik) atau tidak. Dimana tiap jumlah produk dalam satu lot yang diinspeksi diambil sampel sesuai dengan tabel di atas. 

Kemudian untuk menentukan apakah produk itu dianggap baik "PASS" dalam sebuah inspeksi digunakan kriteria seperti pada tabel di bawahnya. Dimana kriteria inspeksi tergantung pada jenis produk yang akan di inspeksi.

Akan saya coba jelaskan secara sederhana penggunaan AQL tabel ini dalam proses produk inspeksi. Semisal, saya akan menginspek pabrik permen, jumlah kursi yang akan saya inspek adalah 300 buah dalam satu lot. Level inspeksi yang akan dipakai adalah Level II, dengan AQL levelnya adalah 1.5 Mjr (Major) dan 4.0 (minor). Major dan minor adalah bobot defek (cacat) produk yang ditemukan. Maka sesuai dengan tabel di bawah ini yang sudah saya beri tanda kotak. Maka jumlah sampel yang kita ambil pada inspeksi ini adalah bernilai H.



Untuk mengetahui berapa nilai H tersebut kita lihat tabel dibawahnya dan telah saya beri juga tanda lingkaran untuk mempermudah.


Terlihat pada tabel diatas jumlah sampel kursi yang diambil berjumlah 50 pc. Sedangkan untuk mengetahui bobot AQL nya tarik garis lurus dari jumlah sampelnya dan potongkan dengan bobot yang telah ditentukan sebelumnya yakni 1.5 Major dan 4.0 minor. Maka nilai yang kita dapat adalah, untuk inspeksi 500 permen dengan menggunakan inspeksi Level II, dan AQL 1.5 Mjr/4.0 mnr, maka didapat nilai Accept 2, dan Reject 5.

Nilai Accept 2 dan Reject 5 ini adalah bobot defect yang tidak boleh dilewati/melebihi oleh bobot defect yang kita temukan dalam inspeksi. Apabila ditemukan bobot defect inspeksi melebih nilai AQL ini maka hasil inspeksinya adalah FAIL. Nilai Accept dan Reject ini bisa diartikan sederhana adalah, Accept adalah banyaknya defek Major dan Reject adalah banyaknya defek minor.

Pada contoh di atas apabila setelah inspeksi kita temukan defect Major sebanyak 2 dan defect minor sebanyak 3, maka hasil inspeksi adalah PASS (lolos). Namun bila ditemukan defect Major 6 dan defect minor 4 maka hasil inspeksi adalah FAIL (gagal).

Sumber: http://seputarqc.blogspot.com/

Sunday, March 8, 2020

Refleksi; Hari Perempuan Internasional

Dai Nippon

Begitu kira-kira rakyat negeri ini dulu menyebutnya, saat mula-mula hadir ke negeri gemah ripah loh jinawi ini mereka menyatakan diri sebagai saudara timur jauh, berjanji hadirnya ke embrio negeri ini adalah untuk kemudian membebaskan rakyat negeri ini dari cengkraman penjajahan Belanda. Manis.

Tapi dalam kenyataan perjalanannya tidak demikian, di bawah kendali Dai Nippon republik ini semakin tersudut, rakyat semakin ditindas, bukan main-main jeritan rintih rakyat kala itu. Sungguh memilukan, petinggi bangsa ini tak cukup mampu dan sanggup membendung kebengisan fasisme Dai Nippon kala itu. Histeris.

Ilustrasi; Jugun Ianfu zaman Jepang
Anak-anak gadis para bangsawan Jawa, Sunda, Minang, bahkan hingga Flores dijanjikan diberikan pendidkan tinggi di Singapura, ratusan bahkan mungkin ribuan perawan-perawan molek bangsa ini dikirim ke Singapura oleh Dai Nippon, janjinya adalah pendidikan dan akan dikaryakan untuk republik. Maklum kala itu emansipasi wanita sedang bergelora dan hasrat wanita untuk mendapatkan pendidikan sedang tinggi-tingginya.

Bahkan saking takutnya agar tidak diminta paksa oleh pemerintahan Dai Nippon kala itu, banyak orang tua gadis-gadis republik ini yang merelakan melepas status gadis anaknya untuk dinikahkan dengan pria macam manapun. Dai Nippon kala itu memang mensyaratkan berupa status gadis jika ingin menjadi bagian dari mereka yang akan diberangkatkan ke SIngapura konon untuk memperoleh pendidikan tersebut. Jadi jika statusnya menikah, amanlah dia.

Kemudian faktanya tak seperti yang dijanjikan, perawan-perawan anak bangsawan ini di negeri seberang sana hanya dijadikan alat pemuas birahi tentara Dai Nippon, bahkan banyak yang dijual ke Kuching, Malaysia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya di mana tentara Dai Nippon berada dalam operasi perang pasifik raya kala itu. Gadis-gadis molek ini disebut sebagai Jugun Ianfu, intinya fasilitas sex gratis bagi tentara Dai Nippon.

Sedikit disuntik bius, ditelentangkan di kamar jorok, telanjang dan digilir beberapa kali tentara Dai Nippon dalam satu malam. Kejam bukan? Bahkan sampai suatu saat akhirnya tibalah negeri ini merdeka, banyak diantara mereka yang tidak bersedia kembali ke asalnya masing-masing karena betapa malu dan beratnya menanggung pilu yang mendalam ini.

Melalui sepenggal kisah pilu ini dan bertepatan dengan hari internasional wanita (International Woman's Day) saya mengajak putri-putri bangsa saat ini, generasi millenial-wati saat ini untuk ingat betapa menyedihkannya masa lampau nenek moyang kalian, belajarlah dari masa lampau yang kelam, jangan pernah lacurkan diri kalian ke dalam kehinaan.

Bangkit dan cerdaslah, wanita ditakdirkan menjadi pionir pendidikan dalam babak awal pendidikan di rumah tangga. Setidaknya begini bunyi dalam sabda Nabi Muhammad SAW; “Perempuan adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak suaminya, dan ia akan ditanya tentang mereka.” (HR Bukhari dan Muslim). Selamat hari perempuan.

Wallahua'lam bisshowab~

Malang, 8 Maret 2020

Wednesday, March 4, 2020

Mechanical: Mengenal Lean Manufacturing

Lean manufacturing is a methodology that focuses on minimizing waste within manufacturing systems while simultaneously maximizing productivity. Also known as lean production, or just lean, the integrated sociotechnical approach is based on the Toyota Production System and is still used by that company, as well as myriad others, including Caterpillar Inc. and Nike. Lean manufacturing is based on a number of specific principles, such as Kaizen, or continuous improvement.

Lean Manufacturing
Lean manufacturing was introduced to the Western world via the 1990 publication of The Machine That Changed the World, which was based on a five-year, $5 million MIT study of the future of the automobile that detailed Toyota's lean production system. Since that time, the lean principles have profoundly influenced manufacturing concepts throughout the world, as well as industries outside of manufacturing, including healthcare, software development and service industries.

The benefits of lean include reduced lead times, reduced operating costs and improved product quality, to name just a few.

Five principles of lean manufacturing

A widely referenced book, Lean Thinking: Banish Waste and Create Wealth in Your Corporation, which was published in 1996, laid out five principles of lean, which many in the field reference as core principles. They are value, the value stream, flow, pull and perfection. These are now used as the basis for lean implementation.

1. Identify value from the customer's perspective.Value is created by the producer, but it is defined by the customer. In other words, companies need to understand the value the customer places on their products and services, which, in turn, can help them determine how much money the customer is willing to pay.

The company must strive to eliminate waste and cost from its business processes so that the customer's optimal price can be achieved at the highest profit to the company.

2. Map the value stream.This principle involves recording and analyzing the flow of information or materials required to produce a specific product or service with the intent of identifying waste and methods of improvement. The value stream encompasses the product's entire lifecycle, from raw materials through to disposal.

Companies must examine each stage of the cycle for waste -- or muda in Japanese. Anything that does not add value must be eliminated. Lean thinking recommends supply chain alignment as part of this effort.

3. Create flow.Eliminate functional barriers and identify ways to improve lead time to ensure the processes are smooth from the time an order is received through to delivery. Flow is critical to the elimination of waste. Lean manufacturing relies on preventing interruptions in the production process and enabling a harmonized and integrated set of processes in which activities move in a constant stream.

4. Establish a pull system.

This means you only start new work when there is demand for it. Lean manufacturing uses a pull system instead of a push system.

With a push system, used by manufacturing resource planning (MRP) systems, inventory needs are determined in advance and the product is manufactured to meet that forecast. However, forecasts are typically inaccurate, which can result in swings between too much inventory and not enough, as well as subsequent disrupted schedules and poor customer service.

In contrast to MRP, lean manufacturing is based on a pull system in which nothing is bought or made until there is demand. Pull relies on flexibility and communication.

5. Pursue perfection with continual process improvement, or kaizen.Lean manufacturing rests on the concept of continually striving for perfection, which entails targeting the root causes of quality issues and ferreting out and eliminating waste across the value stream.

The eight wastes of lean production

The Toyota Production System laid out seven wastes, or processes and resources, that don't add value for the customer. These seven wastes are: 
  1. unnecessary transportation; 
  2. excess inventory; 
  3. unnecessary motion of people, equipment or machinery; 
  4. waiting, whether it is people waiting or idle equipment; 
  5. over-production of a product; 
  6. over-processing or putting more time into a product than a customer needs, such as designs that require high-tech machinery for unnecessary features; and 
  7. defects, which require effort and cost for corrections. 
Although not originally included in the Toyota Production system, many lean practitioners point to an eighth waste: 

Waste of unused talent and ingenuity. 

Seven lean manufacturing tools and concepts

Lean manufacturing requires a relentless pursuit of reducing waste. Waste is anything that customers do not believe adds value and for which they are not willing to pay. This requires continuous improvement, which lies at the heart of lean manufacturing.

Other important concepts and processes lean relies on include:

  1. Heijunka: production leveling or smoothing that seeks to produce a continuous flow of production, releasing work to the plant at the required rate and avoiding interruptions. 
  2. Kanban: a signal -- either physical, such as tag or empty bin, or electronically sent through a system -- used to streamline processes and create just-in-time delivery. 
  3. Jidoka: A method of providing machines and humans with the ability to detect an abnormality and stop work until it can be corrected. 
  4. Andon: A visual aid, such as a flashing light, that alerts workers to a problem. 
  5. Poka-yoke: A mechanism that safeguards against human error, such as an indicator light that turns on if a necessary step was missed, a sign given when a bolt was tightened the correct number of times or a system that blocks a next step until all the previous steps are completed. 
  6. 5S: A set of practices for organizing workspaces to create efficient, effective and safe areas for workers and which prevent wasted effort and time. 5S emphasizes organization and cleanliness. 
  7. Cycle time: How long it takes to produce a part or complete a process