Sunday, September 19, 2021

TEBU, KOMODITAS YANG MEMPERKAYA RAKYAT JAWA TIMUR?

Ilustrasi: Buruh Penebas Tebu

Jika mendengar tanaman tebu apa yang terlintas di benak anda? Tentu kita akan langsung terbayang segelas es tebu yang rasanya manis dan sanggup melegakan tenggorokan yang haus di bawah teriknya panas siang hari. Atau jangan-jangan kita terbayang betapa lahan tebu terkesan menyeramkan karena sering dijadikan latar pada berita kriminal baik pembunuhan atau pemerkosaan.

Sejarah mencatat tanaman tebu mulai dikenal luas di Indonesia berkat hadirnya kolonialisme Belanda. Indonesia yang kalah itu masih berstatus sebagai Hindia Belanda di awal tahun 1800-an mulai menerapkan tanam paksa khususnya di Jawa yang diprakarsai oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), sebuah holding company yang sangat super kaya saat itu.

Sistem tanam paksa di Jawa menjadikan masyarakat Jawa yang saat itu lebih mengenal padi sebagai tanaman yang biasa ditanam, menjadi sedikit perlahan bergeser sebagian menanam tebu. Diakui atau tidak memang tebu yang habitat aslinya berasal dari Papua New Guinea ini ternyata sangat cocok ditanam di dataran rendah Jawa. VOC tentu melihat ini sebagai sebuah peluang besar dalam memproduksi gula yang oleh bangsa Eropa kebetulan sangat dibutuhkan.

Harga gula yang relatif baik saat itu membuat VOC sangat berambisi mengubah banyak lahan produktif untuk ditanami tebu dan membangun puluhan pabrik gula di nusantara. Baru setelah tahun 1859 terjadi pembangunan besar-besaran pabrik dalam mengolah hasil tebu terealisasi. Infrastruktur dibangun sangat canggih di jaman itu, rel kereta hingga ke pelosok lahan tebu terkoneksi dengan baik sampai ke pabrik-pabrik.

Dewasa ini ternyata tebu tetap menjadi salah satu andalan PTPN (PT. Perkebunan Nusantara) dalam menghasilkan keuntungan bisnis. Tercatat menurut rilis resmi PTPN X selaku salah satu anak perusahaan PTPN yang membidangi bisnis pengolahan produk olahan tebu, bahwa produksi gula kristal hasil dari tanaman tebu di tahun 2020 ternyata mampu menembus angka produksi 350 ton gula kristal yang berasal dari 4 juta ton tebu, dengan hasil keuntungan mencapai 100 milyar rupiah per tahun.

Bicara tanaman tebu tentu kita tidak bisa mengesampingkan peran Jawa Timur sebagai lumbung tebu dan produksi gula kristal nasional. Data resmi PTPN menyebutkan untuk saat ini provinsi dengan kepemilikan lahan tebu paling luas di Indonesia adalah Jawa Timur dengan mencapai 65% dari seluruh lahan tebu yang ada di Indonesia atau setara dengan 200 ribu hektar lahan. Ini tentu aset yang sangat berharga untuk Indonesia dalam memenuhi kebutuhan gula kristal nasional.

Dalam ruang lingkup PTPN X saja ada setidaknya sembilan pabrik gula aktif di Jawa Timur, mulai dari PG Krembung di Sidoarjo di sebelah utara hingga ke ujung selatan di Tulungagung yaitu PG Mojopanggung. Belum lagi PG milik PTPN XI yang jumlahnya juga mencapai sembilan pabrik yang tersebar di sekitar Malang hingga PG Semboro di Jember, timur jauh Jawa Timur. Ini merupakan aset nasional yang harus dikelola dengan baik untuk generasi mendatang.

Bicara Kediri sebagai lumbung tebu di Jawa Timur tentu tidak lepas dari keberadaan Kediri sebagai kabupaten dengan peringkat nomor dua kepemilikan luas lahan tebu di Jawa Timur, setelah Malang tentunya. Saat ini tercatat Kediri memiliki serapan produksi gula kristal dari tanaman tebu sebesar 150 ribu ton atau setara 13% produksi tebu di Jawa Timur. Ini yang membuat kita tidak heran jika berkunjung ke pelosok Kediri betapa banyak ditemukan ribuan hektar lahan tebu.

Sebagai anak daerah yang lahir dari orang tua yang terkena imbas positif keberadaan lahan tebu, tentu penulis pribadi sangat bersyukur pernah berada di tengah keluarga yang di awal 90-an cukup kaya raya berkat tanaman tebu. Kebetulan dulu orang tua penulis selain sebagai petani tebu juga merupakan tengkulak tebu yang memiliki kontrak tahunan sebagai vendor di PTPN X yaitu PG Ngadirejo, Kras, Kediri. Meski hari ini sudah tidak lagi menikmati keberadaan positif tanaman tebu tapi setidaknya bagi penulis pengalaman hidup yang manis ini layak disyukuri.

Di wilayah Kediri sendiri tempat lahir penulis yaitu Kecamatan Kras, tercatat di data PTPN X menduduki peringkat tiga kecamatan dengan lahan tebu teluas di Kediri setelah Kecamatan Wates disusul Kecamatan Kandat. Kecamatan Kras saat ini memiliki luas lahan tebu sebesar 1800-an hektar dengan total produksi gula kristal dari serapannya sebesar 211 ribu ton per tahun. Ini angka yang tentu tidak sedikit jika kita konversikan ke dalam uang.

Anggap saja jika harga gula kristal saat ini per kilogram adalah 18 ribu rupiah, maka dengan produksi 211 ribu ton gula yang dihasilkan oleh Kecamatan Kras saja berarti sama dengan rupiah 3.798.000.000.000 alias 3 triliun lebih. Bayangkan perputaran uang sebesar itu untuk sebuah siklus bisnis dan ekonomi di tengah masyarakat, tentu bukan nilai yang kecil. Mestinya ada proses stream yang bisa dipelajari, dipertahankan, dan ditingkatan oleh insinyur ahli pertanian untuk mencapai produksi tebu lebih baik.

Belum lagi produksi gula rumahan atau gilingan tebu untuk menghasilkan gula merah skala kecil, di Desa Karangtalun tempat lahir penulis saat ini tercatat ada gilingan tebu tradisional aktif sebanyak 4 buah. Ini tentu mampu menggerakkan perekonomian desa yang lagi-lagi menurut pendapat penulis harus dipertahankan eksistensinya. Mengingat saat masa kecil penulis dulu tercatat lebih dari 10 buah keberadaan gilingan tebu tradisional termasuk salah satunya adalah milik kakek penulis sendiri yang akhirnya tutup karena gagal mempertahankan eksistensi.

Penulis mengamati betapa problematika petani tebu saat ini adalah soal regenerasi SDM, yang sebenarnya ini adalah problem turunan nasional. Yaitu enggannya anak muda berkecimpung di dalam sektor pertanian karena dianggap tidak menjanjikan faedah finansial di masa mendatang. Tidak cukup banyak anak muda saat ini yang bersedia meniti karir sebagai petani tebu, padahal jelas sekali potensi positif yang sudah disebutkan oleh penulis di paragraf-paragraf awal.

Dari pada bersusah payah menanam tebu yang pengelolaannya sulit dan panennya per 10 bulan atau bahkan setahun sekali, menjadi karyawan swasta atau syukur-syukur bisa menjadi PNS tentu adalah gol utama anak muda saat ini, tidak terkecuali di tanah kelahiran penulis. Adapun jika saat ini masih ada sedikit anak muda yang menekuni bertani tebu, tidak lain karena terpaksa dan tidak ada pilihan, bukan karena benar-benar ingin menyelamatkan komoditas paling membanggakan di wilayah Kediri atau lebih luas lagi Jawa Timur bahkan nasional ini.

Terakhir yang ingin disampaikan penulis adalah bahwa seiring bertambanya tahun, tercatat di data resmi PTPN bahwa produksi tebu PTPN X secara linier terus menurun. Dari tahun 2016 yang mampu memproduksi tebu sebanyak 5,9 juta ton per tahun, menurun landai hingga tahun 2020 hanya mampu memproduksi tebu sebanyak 3.8 juta ton per tahun dan ini akan diprediksi semakin menurun di tahun-tahun mendatang. Miris sekali kan?

Lagi-lagi tren ini juga merupakan turunan dari tren problem nasional di mana produksi hasil pertanian apapun itu mulai dari tembakau, padi, jagung dan lain-lain secara gradual linier menurun tahun demi tahun. Maka jika kemudian impor dilakukan oleh pemerintah demi mencukupi demand dari masyarakat kita sendiri ya ndak usah kaget-kaget amat. Fakta menariknya semakin hari kita memang tidak lagi menjadi negara agraris (pertanian) kok, kita sedang bertransformasi ke negara industri. Lihat saja 10-20 tahun mendatang apa profesi yang paling diinginkan oleh anak-anak kita (mohon yang ini dicatat sungguh-sungguh).

Mengingat ini bukan karya ilmiah, penulis tidak cukup waktu untuk menganalisa dengan baik secara sungguh-sungguh apakah tren ini memang berjalan karena dampak semakin tumbuhnya penduduk (ledakan populasi) yang otomatis membuat minimnya lahan bercocok tanam, atau karena SDM yang semakin hari memang tidak cukup komitmen terhadap keberadaan sektor pertanian nasional. Lihat saja di sekeliling kita, kampus mana yang fakultas pertaniannya terbaik dan ke mana saja kiprah karir lulusannya? Betul bukan?

Semoga menjadi renungan, salam hangat dari Malang.

Robi Cahyadi
Menulis aktif untuk berdongeng ke anak cucu
Malang, 19 September 2021

Saturday, September 11, 2021

INDUSRTY: MENGENAL A3 REPORT

MENGENAL A3 REPORT

Dalam aktivitas continuous improvement (Kaizen), ada berbagai bentuk jenis model report/laporan. Di banyak perusahaan Jepang, umumnya jenis A3 report dijadikan sebagai standar dalam pelaporan aktivitas Kaizen karena dianggap sederhana tapi padat dan langsung ke poin substansi. (FYI; orang Jepang anti bertele-tele). A3 report ini mula-mula dikenalkan tentunya oleh TPS (Toyota Production System).

Di bawah ini ada sebuah contoh A3 report (yang sudah saya modifikasi ulang) dari yang dulu pernah saya pelajari dan gunakan saat masih bekerja untuk NSK Bearings. Tidak ada acuan baku bagaimana A3 report disusun, prinsipnya harus dapat menjelaskan hal inti dari aktivitas Kaizen. Yang terpenting ada 3 unsur pokok yaitu: Kondisi sebelum improvement - Kondisi sesudah improvement - Efesiensi yang dihasilkan.

Ilustrasi: A3 Kaizen Report

Jika ingin lebih lengkap dengan mendetailkannya menggunakan penjabaran konsep rinci siklus PDCA atau DMAIC, ditambah grafik, data-data, dan foto-foto yang menjelaskan kondisi after-before di dalam Kaizen A3 report tentu akan semakin lebih baik. Kembali ke selera saja, kalau saya pribadi kebetulan menyukai yang sederhana, padat, dan langsung menuju substansinya.

Di contoh yang saya berikan ini memiliki keuntungan yang sangat baik dari sisi penyampaian substansi laporan. Dibaca berurutan dari poin-1 sampai poin-4 dan biasanya saat melaporkan dalam presentasi hanya butuh short time (flash presentation) kurang dari 10 menit. Orang Jepang sangat menyukai laporan yang langsung ke kesimpulan, untuk proses detailnya biasanya mereka gak terlalu ingin kepo kejauhan.

Jika kalian bekerja untuk sebuah perusahaan Jepang, tentu sudah tidak asing lagi dengan A3 Report. Jika kebetuan anda tidak bekerja di perusahaan Jepang dan ingin mencoba mengenalkannya dengan menggunakannya pada project report kalian, tentu ini juga sangat menarik. Ingin belajar lebih dalam soal A3 Report? Boleh kok japri dan kita diskusi bareng soal ini. Selamat bermalam minggu bruh!

Malang, 11 Sept 21
Ditemani hujan syahdu di balkon Villa Mewah Kalianyar

Saturday, August 28, 2021

INDUSTRY: MENGENAL KAKOTORA SEBAGAI CARA PENINGKATAN QUALITY

Dulu saat saya masih bekerja untuk NSK Bearings Manufacturing Indonesia, pernah diajarkan salah satu metode budaya kerja Jepang untuk meningkatkan kualitas produk. Budaya tersebut dikenal dengan istilah 'kakotora', yang berasal dari gabungan dua kata yang dipersingkat. Kata pertama adalah kako yang berarti masa lalu, kemudian tora dari serapan trouble atau masalah. Sehingga dalam istilah industri kemudian kakotora dikenal sebagai masalah, trouble, kegagalan yang terjadi di masa lalu.


Dalam bahasa inggris mungkin dikenal dengan istilah lesson learned, atau kita akrab mengenalnya dengan one point lesson. Satu titik pembelajaran. Kakotora dalam penerapannya adalah menggunakan metode pengumpulan database setiap kejadian masalah atau trouble yang mengakibatkan kegagalan produk atau cacat produk (defect). Hasil dari pengumpulan data ini bisa berupa beberapa hal antara lain; waktu kejadian, jenis produk, dari mesin mana produk di proses, jenis trouble, jenis deffect, jenis penanganan.


Kakotra; Lesson Learned
Source: Google


Kemudian database ini dikumpulkan untuk menjadi album rujukan di kemudian hari, sebaiknya ini tersosialisasi dengan baik di kalangan terkait agar menjadi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan skill operator dalam menghasilkan settingan mesin yang baik sehingga mesin benar-benar dalam kondisi perform dan hanya menghasilkan produk OK saja tanpa ada deffect atau NG produk. Dalam penerapannya, kakotora umumnya dikontrol dan dimonitoring oleh bagian QA sebagai penjamin kualitas.


Apakah sulit menerapkan kakotora? Sebenarnya tidak cukup sulit, sama seperti halnya metode-metode lainnya dalam peningkatan kualitas produk, yang dibutuhkan dalam penerapan kakotora adalah keajegan atau konsistensi dari seluruh pihak terkait. Ada metodenya, ada sistemnya, ada penanggung jawab pelaksana, kontrol, dan monitoringnya. Terdapat sebuah pepatah yang mengatakan begini, "experience is the best teacher, and the worst experiences teach the best lessons”


Peribahasa di atas menekankan pentingnya pengalaman. Dapat dikatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, baik itu pengalaman baik maupun yang buruk. Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari pengalaman, dan dari pengalaman itu dapat kita belajar. Begitu halnya dengan pengalaman trouble masa lalu yang sudah pernah dialami dan diketahui sumber masalahnya, operasi produksi bisa belajar darinya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama atau bahkan bisa meningkatkan (improve) kualitas dengan belajar dari kejadian trouble masa lalu.


Siapkah ber-kakotora di operasi produksi pabrik kita? Mari terus berimprovement untuk menjadi manusia yang lebih baik. Di lain kesempatan akan saya coba jelaskan lebih detail tentang bagaimana menerapkan kakotora sebagai cara meningkatkan kualitas produk di operasi produksi pabrik.

Wednesday, August 11, 2021

INDUSRTY: MENGENAL DANTOTSU LINE SECARA SEDERHANA

Apakah anda pernah mendengar sebelumnya apakah itu dantotsu line? Jika belum dan anda sedang menekuni bidang pekerjaan di sektor industri manufaktur mungkin sangat layak mengetahuinya. Dantosu line dalam budaya kerja pada Toyota Production System diartikan sebagai lini produksi yang terbaik, menjadi rujukan bagi lini produksi yang lain.

Bagaimana pengertian yang terbaik itu? Dantosu dalam terminologi bahasa Jepang diartikan sebagai unrivaled (tidak tertandingi), best of the best (terbaik dari yang terbaik), dan juga dapat diartikan sebagai perfect (sempurna). Sementara line merupakan bahasa Inggris jika kita terjemahkan bisa saja berarti garis atau pun dalam sektor industri manufaktur lebih tepat diartikan sebagai lini.

Jadi dantotsu line merupakan lini produksi dalam shop floor (lantai pabrik) yang terdiri dari satu atau beberapa equipments (peralatan/mesin) yang dijadikan sebagai proyek percontohan karena lini produksi dantotsu ini telah mencapai dan memenuhi pra-syarat tertentu. Pra-syarat di sini diartikan sebagai 3 hal pokok yang harus dicapai dalam proses produksi.

Source picture: Google.com

Ketiga syarat tersebut antara lain adalah sebagai berikut ini;

1. Lini produksi bebas dari deffect (cacat produk), ini berarti rangkaian equipments yang ada pada dantotsu line harus menghasilkan produk yang bebas dari cacat. Selalu 100% hanya menghasilkan produk OK. Tentu ini sangat sulit dicapai, maka peran total quality improvement menjadi sangat penting pada step ini.

2. Lini produksi bebas dari breakdown (kerusakan equipments), ini diartikan sebagai lini produksi dantotsu wajib bebas terhadap situasi kerusakan yang mendadak di tengah proses. Syarat untuk bisa mencapai ini adalah performa mesin harus berada di titik maksimal, untuk meraihnya pada umumnya para insinyur di manufaktur menggunakan metode Maintenance.

3. Lini produksi berada dalam posisi sempurna atas kondisi 5R-nya. Ringkas, rapi, resik, rawat, rajin adalah hal yang mutlak dicerminkan dari dantotsu line ini. Ini tentu sangat sulit dicapai mengingat kombinasi antara man power (tenaga manusia) dengan machines (mesin-mesin) adalah kombinasi yang sulit dikendalikan. Budaya 5R/5S sebagai fondasi lean manufacturing wajib diterapkan pada dantotsu line ini.

Keuntungan dari memiliki dantotsu line adalah terdapatnya lini produksi yang benar-benar dapat dijadikan rujukan untuk line yang lain bisa mencapai level standar yang ditentukan. Ini tentu juga termasuk salah satu bagian dari 5S itu sendiri yaitu standardize, ada rangkaian equipments yang diciptakan dan dikontrol secara ketat untuk menjadi ideal performa. Jika ada audit datang ke pabrik anda pun dantotsu line bisa menjadi obyek untuk di tampilkan. Sangat menguntungkan.

Apakah kita bisa mencapai level seperti ini? Tentu ini adalah tantangan yang sangat sulit bagi semua pelaku atau penekun bidang industri manufaktur khususnya orang-orang shop floor. Jika di pabrik anda belum memiliki dantotsu line untuk bisa dijadikan sebagai proyek percontohan bagi line lainnya, tentu menciptakan dantotsu line adalah sebuah langkah yang sangat bagus untuk memulai sebuah upaya menuju kebaikan dan perbaikan.

Jika kita mempelajari lebih dalam tentang dantotsu line tentu tidak hanya sebatas sejauh penjelasan di atas. Lebih luas lagi dan sangat mustahil penulis menuangkannya dalam summary sederhana seperti ini. Harapan penulis setidaknya ini dapat menjadi wawasan ringkas dan menjadi langkah awal untuk berani memulai menciptakan dantotsu line di pabrik para pembaca. Mari semangat berimprovement!

Robi Cahyadi
Production Group Head
PT. Aneka Tuna Indonesia

Friday, July 30, 2021

MANUFAKTUR: WAWASAN INDUSTRI, PENTING KAH?

Setiap orang yang bekerja dan menekuni dunia manufaktur pasti tidak asing dengan berbagai langkah strategi efisiensi produksi. Seringkali hal ini menjadi topik hangat dalam perbincangan di komunitas yang menekuni bidang ini. Bisa dikatakan seorang engineer tanpa wawasan strategi efisiensi produksi ibarat seorang pedagang yang tidak punya barang untuk dijual. Omong kosong.

Ilustrasi Pentingnya Wawasan Industri
Sumber: Google

Dalam praktiknya di industri manufaktur, strategi efisiensi produksi dapat ditempuh dengan berbagai banyak cara. Ada puluhan metode yang ditawarkan oleh para insinyur yang menekuni bidang rekayasa seperti ini. Salah satu cara paling terkenal dan sangat digaungkan di kalangan penekun bidang ini adalah TPM System. Ya, Sistem Total Productivity Maintenance. 

Secara teori Sistem TPM ini dapat dijadikan sebagai cara sistematis-metodik untuk menekan bahkan menghindari kerugian alias ketidakefisienan pada tiga isu penting proses manufaktur. Isu tersebut antara lain dalam bentuk capaian target baik kualitatif atau kuantitatif yaitu zero breakdowns (nol kerusakan), zero defect (nol cacat produk) dan zero accident (nol kecelakaan). 

Saya merasakan dengan sepenuh hati bahwa sepanjang belajar di bangku kuliah, sangat minim sekali materi tentang Sistem TPM ini diajarkan. Padahal mayoritas industri sektor manufaktur (apapun bidangnya) menerapkannya dan tentu pemahaman yang baik tentang ini sangat dibutuhkan jika para calon sarjana yang akan lulus ingin terjun ke industri manufaktur. 

Bangku kuliah banyak mengajarkan wawasan yang muara akhirnya adalah peningkatan daya analisis, misalkan belajar problem solving dengan soal-soal eksakta seperti calculus, kinematika dan dinamika, mekanika fluida dan seterusnya. Mata kuliah dasar hingga spesifik sesuai bidang memang penting dan wajib terus diberikan. Ini bermanfaat dalam membekali calon sarjana sebuah skill problem solving.

Tapi juga sebaiknya lembaga pendidikan mulai berbenah bahwa wawasan yang terimplementasi di dunia kerja harus segera diberikan dengan serius. Karena fakta hari ini yang saya rasakan sebagai seorang user lulusan sarja, saya merasakan kurangnya sekali wawasan fresh graduate pada dasar-dasar efisiensi produksi dalam proses manufaktur. Padahal jelas sekali ini sangat penting diketahui dan dikuasi.

TPM system pada perumpamaan di paragraf awal-awal di atas hanyalah sebatas contoh. Betapa ternyata sangat banyak sekali hal yang akan digunakan dan dibutuhkan oleh industri tetapi bangku kuliah kurang mengakomodirnya. Ini akan menjadi bom waktu yang akan sewaktu-waktu meledak jika dibiarkan. Ledakannya dalam wujud ketidaksiapan SDM dalam kebutuhan serapan profesi.

Merekrut dosen-dosen yang juga praktisi di industri manufaktur merupakan salah satu strategi approach dalam mengenalkan lebih dalam wawasan industri. Mengkombinasikan kuliah berbasis teori dan perbanyak praktik lapangan adalah juga merupakan sekian cara yang selama ini dilakukan. Ini tentu baik dan layak digiatkan lebih serius.

Penulis ingin memberikan penekanan bahwa seorang mahasiswa atau calon sarjana tidak bisa lagi hanya berharap dari kampus saja untuk mendapatkan infus wawasan industri. Calon sarjana harus benar-benar agresif belajar mandiri baik otodidak atau bermentor pada orang yang tepat. Jika tidak ingin ketinggalan kereta, sebaiknya datang ke stasiun lebih awal. Begitu kira-kira kiasannya.