Saturday, March 25, 2017

Sebuah Puisi: Bye-Bye Cinta

Bukan semata ketampanan
Bukan semata Kecantikan

Yang menyilaukan mata
Yang mampu membuat hati bergetar

Walaupun rupa terkadang menjanjikan keelokan
Meskipun paras membuat denyut nadi mengencang

Namun, ternyata senyum dan keramahan
Yang mampu lebih menjadikan hati luluh dan meleleh

Bagai lilin yang terbakar tak berbentuk, namun ia tetap lilin
Dapat kau jadikan penerang asal ada pematik sumbunya

Sumbu apakah itu wahai anak Adam dan Hawa?
Akhlak ooo akhlak, kau lebih mebuat rindu yg mematikan

Kau lebih membuat sejuk pagi bertebaran
Kau lebih membuat semilir hening malam berpanjangan
Kau lebih membuat "peace in love without exception".

#PuisiMalam

Sebuah Renungan: Moderat vs Konservatif

Sore ini jagat media sosial dikejutkan dengan sebuah berita insiden tabrak lari angkutan kota terhadap pengemudi ojek online di dekat TangCity, Cikokol, Tangerang yang terekam kamera. Selang beberapa saat setelah kejadian tabrak lari tersebut segerombolan pengemudi ojek online memberikan perlawanan balik dengan menyerang angkutan kota yang ada di sekitar sana, bentrokan kecil pun terjadi.

Berawal dari kasus tersebut mari kita semua pengguna media sosial introspeksi diri.Terlepas apa pun motifnya tentu kejadian itu sungguh sangat disayangkan. Di era digital ini tentu pemahaman akan pentingnya teknologi digital sangat dibutuhkan oleh semua elemen masyarakat. Sepuluh tahun terakhir ini kemajuan di bidang teknologi digital sangat pesat, masyarakat harus segera tanggap dan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada saat ini. Tidak bisa terus menerus diam dan pura-pura membuta dengan kemajuan teknologi digital ini.

Jika angkutan kota terbiasa dengan ngetem berlama-lama, macet juga di mana-mana, belum lagi tarif yang suka ngasal, bukankah wajar jika masyarakat pengguna jasa angkutan kota beralih ke ojek online yang kita tahu lebih efisien? Di sini lagi-lagi perkembangan teknologi digital tidak diimbangi dengan peningkatan wawasan dan pengetahuan pada masyarakat yang kurang melek teknologi. Efeknya seperti yang terjadi di atas, gesekan antar elemen masyarakat tidak bisa dihindarkan. Ini tentu menjadi tantangan yang tidak boleh dibiarkan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam hal ini.

Pada akhirnya, waktu terus berjalan tanpa ada yang mampu membendung. Dunia sudah sangat berkembang pesat menuju era digital. Para orang tua hendaknya segera tanggap dan peka pada lingkungan yang sedang dan akan terus terjadi, yaitu era digital. Membekali generasi sekarang (anak-anak) dengan wawasan teknologi digital tentu adalah solusi, yang pasti dengan pengawasan yang ketat. Siapkah masyarakat kita semua dengan segala kekomplekan ini? Ini menjadi pertanyaan yang cukup menarik untuk ditunggu jawabannya.

Alhasil, semoga kejadian insiden tabrak lari seperti kasus di TangCity atau pun kasus yang motifnya ditengarai serupa tidak terjadi lagi di tengah-tengah masyarakat kita. Kita berharap banyak pada generasi muda untuk selalu aktif mensyiarkan kemajuan era digital dan juga yang tidak kalah penting tentu adalah para orang tua kita semua mengawalnya dengan memberikan pembekalan etika.

Tambun Selatan, 8-3-2017
~RC~


Monday, February 13, 2017

Syair Doa Dzikrul Ghofilin

• Sajak Pertama | Susunan al-Habib Ahmad bin Umar Bin-Sumaith al-Hadhrami:


اَمِينْ يَااللهْ يَارَحْمنُ يَارَحِيمْ # اَنْتَ الْجَوَّادُ الْحَلِيمْ وَاَنْتَ نِعْمَ الْمُعِي



Aamiin Ya Allah duh Gusti kang melasi | Njenengan Maha Loma, aris, lan mitulungi
Aamiin Ya Allah Yang Maha Menyayangi | Engkau Maha Pemurah penolong bagi kami


سَأَلْتُكَ رَبِّي صِحَّةَ الْقَلْبِ وَالْجَسَدْ # وَعَافِيَةَ الْأَبْدَانِ وَالْأَهْلِ وَالْوَلَدْ



Duh Gusti kula nyuwun sehat manah lan raga | lan waras badan kula, putra, lan keluarga
Ya Allah aku pinta sehat jiwa dan raga | serta terjaga badan, sanak dan keluarga


وَطُوْلَ حَيَاةٍ فِى كَمَالِ اسْتِقَامَةٍ # وَحِفْظًا مِنَ الْإِعْجَابِ وَالْكِبْرِ وَالْحَسَدْ



Lan panjang umur kanti sempurna istiqamah | kareksa saking ujub, gumedhe, drengki manah
Kuharap panjang dan istiqamah umur ini | terjaga dari 'ujub, sombong dan dengki hati


وَرِزْقًا حَلَالًا وَاسِعًا غَيْرَ نَاقِصٍ # يَكُوْنُ لَنَا عَوْنًا عَلَى مَنْهَجِ الرَّشَدْ



Lan rizqi halal ingkang jembar tan kekirangan | kang mitulungi kula ing margi kaleresan
Kumohon rizqi halal, luas, tak kekurangan | sebagai penolongku berbuat kebaikan


وَحَقَّكَ عَرِّفْنِي وَوَفِّقْ إلَهِى لِلْــــ # ــقِيَامِ بِهِ فَضَلًا وَجُوْدًا مَعَ الْمَدَدْ



Duh Gusti nyuwun ngertos ating haq Panjenengan | sageta njumenengi kanthi anugrah Tuan
Ajarkanlah padaku hak-Mu duhai Tuhanku | agar bisa kupenuhi sebab anug’rah-Mu


وَعَرِّفْنِ حَقَّ الْمُصْطَفَى لِلْقِيَامِ بِهْ # عَلَى مَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ يَا صَمَدْ



Lan nyuwun ngertos dateng haqipun Kanjeng Nabi | sageta njumenengi ingkang tuan ridhoni
Dan ajarkanlah padaku hak Baginda Nabi | untuk menggapai cinta dan ridha dari Nabi


وَعَرِّفْنِ حَقَّ الْمُسْلِمِيْنَ بِأَسْرِهِ # عَلَيَّ وَوَفِّقْ لِلْقِيَامِ عَلَى الْأَبَدْ



Lan mugi paring ngertos haqipun tiyang Islam | sageta njumenengi kula dateng haq adam
Dan tunjukkanlah kepadaku hak umat Islam | tuntun langkahku 'tuk penuhi hak anak adam


بِجَاهِ النَّبِي صَلَّى الْإِلَهُ وَسَلَّمَا # عَلَيْهِ وَألٍ دَامَ وَالْحَمْدُ لِلْأَحَدْ



Selawat salam mugi katur dateng Jeng Nabi | keluarga sedaya, Puji Lillahi Robbi
Shalawat salam tetap tercurah bagi Nabi | dan keluarganya, bagi-Mu segala puji


• Sajak Kedua | Susunan KH Hamim Jazuli Kediri (Gus Miek):


يَاحَلِيمْ يَاحَنَّانْ يَامَلِكُ يَامُبِينْ # وَلاَ نَطْلُبُ شَيْئًا إِلَّا اَنْتَ يَامُعِينْ



Duh Gusti ingkang aris, asih, kang angratoni | naming nyuwun ing Tuan dzat ingkang mitulungi
Duhai Yang Mahabijak, Kasih, nan Maharaja | hanya mohon pada-Mu duhai penolong hamba


رَبَّنَا اسْتَقِمْ ذِكْرَنَا وَذِكْرَالْغَافِلِينْ # وَاجْمَعْنَا فِى الْأَبْرَارِخِيَارِكَ الْفَائِزِينْ



Duh nyuwun langgeng dzikir saha dzikrul ghofilin | mugia kita kempal tiyang sae faizin
S’moga Dzikrul Ghofilin kami terus bersambung | kumpulkan kami bersama orang yang beruntung


شَكَوْنَاكَ رَبَّنَا بَابَ ضُعْفِ نَفْسِنَا #  لِتَغْفِرَنَا غَفَّارُ وَلِتُحْسِنَنَا



Duh Gusti ngaturaken apese badhan kula | mugi paring ngapunten lan sae dateng kita
Gusti, aku bersimpuh dengan kelemahanku | hapuskan segala dosa dan sayangi aku


بِدَوَامِ الْمَعْرِفَةِ أَدِمْ لِقَاءَنَا # بِحَضْرَتِكَ إلَهَنَا يَا إلَهَنَا



Mugia kula langgeng ma’rifat dateng Tuan | tansah pinanggih kula dateng ngarsa Pangeran
Duh Gusti karuniakan ma'rifat padaku | kenikmatan berjumpa s'lalu di hadirat-Mu


سَأَلْنَاكَ الْإِسْتِقَامَةَ فِى تَذَكُّرِكْ # وَاسْتِقَامَتَنَا فِى تَشَكُّرِ نِعَمِكْ



Duh Gusti nyuwun langgeng emut ing Panjenengan | saha tansah nyukuri sedaya kenikmatan
Tuntun aku 'tuk mengingat-Mu sepanjang masa | dan selalu bersyukur atas nikmat yang ada


يَا كَرِيمْ يَاكَرِيمْ أَنْعِمْنَا بِنِعْمَتِكْ # يَاأَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ إِرْحَمْنَا بِرَحْمَتِكْ



Duh Gusti Dzat Kang Loma paring kenikmatan | duh Gusti ingkang Asih paringa kawelasan
Duhai Mahamulia curahkan kenikmatan | duhai Maha Pengasih curahkan kasih sayang


يَالَطِيْفُ يَاخَبِيرْ نَجِّنَا مِنَ الْمِحَنْ # يَاقَوِيُّ يَامَتِينْ أَنْجِنَا مِنَ الْإِحَنْ



Duh Gusti ingkang welas, kang kiyat, lan waspada | nyuwun wilujeng saking sedaya pancabaya
Duhai Yang Mahalembut, Maha Mengetahui | Mahakuat, singkirkan marabahaya kami


رَبَّنَا أَحْسِنْ لَنَا ظَاهِرًا وَ بَاطِنًا # مَعَ حُسْنِ الظَّنِّ بِحَضْرَتِكَ يَامَنَّانْ



Pangeran Panjenengan dandosi kula niki | lahir batin sarana manah sae kang suci
Duh Gusti perbaiki kami jiwa dan raga | serta prasangka baik di dalam hati hamba


يَاجَلِيْلُ بِجَلَالِكَ أَثْبِتِ الْإِيْمَانْ # رَبَّنَا خَيْرَ الْمُنْزِلِيْنَ أَنْزِلِ الْمِنَنْ



Duh Gusti Mahaagung nyuwun tetepe iman | dateng kula sadaya paring kanugrahan
Duhai Yang Mahaagung, tetapkanlah imanku | duhai Maha Pemberi limpahkan anugerahmu


وَيَا عَلِيْمُ أَعْطِ لَنَا عِلْمًا مُعْمَلًا # وَلِرَعِيَّتِنَا عِلْمًا يُدْخِلُ الْجِنَانْ



Pangeran Mahapirsa nyuwun kula sedaya | ilmu lan amal kula dados mlebet suarga
Duhai Yang Mahatahu keadaan hamba-Nya | tuntun kami pada ilmu dan amalan surga


بِجُوْدِكَ يَاجَوَّادْ يَاوَاحِدُ يَاصَمَدْ # إِجْعَلْنَا مِنَ الْفَائِزِيْنَ فَوْزًا لِلْأَبَدْ



Pangeran Maha Loman, Suci, lan sineja | mugi kula sedaya dadosa tiyang beja
Dengan kemuliaan-Mu duhai Yang Mahaesa | jadikanlah kami kaum yang berbahagia


يَا سَمِيْعُ يَا بَصِيْرُ يَا وَاجِدُ يَا أَحَدْ # سَأَلْنَاكَ نِعْمَةً لَا تُحْصِى أَنْتَ الْمَعَادْ



Duh Gusti Mahamireng, Mirsani, lan Ngijeni | nyuwun kula ing nikmat ingkang tanpa ngitungi
Gusti Yang Maha Melihat, Mendengar dan Tunggal | limpahkan nikmat yang tak dapat dihitung akal


وَأَنْتَ صَاحِبُ كُنْ فَيَكُوْنْ إِذَا أَرَدْ # تَ شَيْــــــــــــــئًـا وُجُوْدَهُ أَنْتَ مُرِيْدُ الْمُرَادْ



Njenengan lamon kersa “Wujuda!” nuli ana | boten wonten halangan Njenengan lamon kersa
Engkau titahkan “Jadi!” maka jadilah ia | tak ada penghalang bagi-Mu Mahakuasa


يَا غَنِيُّ يَا حَمِيْدُ وَيَا رَزَّاقُ قَدْ # رَجَوْنَا سَلَامَتَنَا فِى الدَّارَيْنِ فَقَطْ



Duh Gusti Dzat kang sugih, pinuji, lan ngerizqini | nyuwun kula mung slamet dunia akherat sami
Duhai Yang Mahakaya, Maha Pemberi rizqi | s'lamatkan kami di dunia dan akhirat nanti


بِسْمِكَ الْعَظِيْمِ حَصِّلْ جَمِيْعَ مَا قَصَدْ # نَاهُ مِنْ ذِكْرِكَ وَالتَّشَكُّرِ فِي الْأَوْقَاتْ


Kelawan Asma Agung Tuan mugi hasil sedaya | seja sageda eling lan syukur sediakala
Dengan Nama Agung-Mu sampaikan tujuanku | 'tuk selalu ingat dan syukur sepanjang waktu


يَا عَلِيُّ يَا عَظِيْمُ يَا قَهَّارُ بِفَضْـــــــــــــ # ـــــــــلِكَ سَلَّمْتَنَا مِنَ الْأَهْوَالِ وَالْأَفَاتْ



Duh Gusti ingkang Luhur, Agung, Murbamesesa | nyuwun slamet kula sedaya saking pancabaya
Duhai Yang Mahatinggi, Agung lagi Perkasa | selamatkanlah kami dari duka nestapa


يَا سَلَامُ يَا سَلَامُ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتْ # يَا رَفِيْعُ ارْفَعْنَا عِنْدَكْ أَعْلَى الدَّرَجَاتْ



Duh Gusti ingkang paring sedaya hajat kula | mugi nginggahna kula ing drajat luhur mulya
Duhai Yang Mahadamai, Pemenuh kebutuhan | angkatlah kedudukan kami di sisi Tuan


يَا أَوَّلُ يَا أَخِيْرُ سَأَلْنَاكَ بِعَدْ # لِكَ رِضَاءً مَقْرُوْنًا بِحُسْنِ الْإِعْتِقَادْ



Duh Gusti Awal Akhir nyuwun kula sedaya | karidhan Tuan sarta baguse tekad kula
Duhai Awal dan Akhir kumohon keadilan | serta kerelaan dan kokohnya keyakinan


رَبِّ رَبَّ الْعِزَّةِ قِنَا مِنَ الْمُفْسِدَاتْ # سَلِّمْنَا مِنَ الْأَهْوَالِ وَمِنَ الْمُهْلِكَاتْ



Pangeran Mahaluhur mugi paring pangreksa | slamet saking sedaya pekewuh lan pengrisak
Yang Mulia, tolong kami dari kerusakan | selamatkan dari bencana dan kehancuran


لَقَدْ حَقَّ قَوْلُكَ الْمَكْتُوْبُ فِي فُرْقَانِكْ # مَنْ عَرَفَكَ بِجَدِّكَ لَفِي جَنَّتِكْ



Saestu leres dhawuh Tuan wonten ing Qur’an | sapa wonge ma’rifat mlebu suarga Tuan
Sungguh benar Firman-Mu dalam Kitab Pembeda | orang yang mengenal-Mu ialah ahli surga


اَلْقُرْأَنْ كَلَامُ اللهْ كَلَامُ اللهِ الْحَنَّانْ # وَ أَدْخِلْنَا بِذَلِكَ فَرَادِيْسَ الْجِنَانْ



Al-Qur’an Dhawuh Allah, Gusti kang Mahawelas | mugi dados lantaran mlebet suarga firdos
Al-Qur’an Firman-Mu Duh Gusti Yang Mahawelas | masukkan kami ini ke dalam surga Firdaus


يَا حَفِيْظُ يَا نَصِيْرْ يَا وَكِيْلُ يَا اَللهْ # بَارِكْ لَنَا وَلَهُمْ أَجْمَعِيْنَ يَا اَللهْ



Duh Gusti Dzat kang ngreksa, nulung lan kapercaya | mugi paringa berkah dateng kula sedaya
Duhai Maha Penjaga, Penolong, Terpercaya | curahkanlah berkah-Mu bagi kami semua


Makam Auliya' Tambak - Ngadi - Mojo - Kediri

Tuesday, January 17, 2017

Pujian Untuk Rasul Kami (Syair Isyfa'lana)

ﻳﺎﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻳﺎ ﻧﺒﻲ   ﻟﻚ ﺍﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻭﻫﺬﺍ ﻣﻄﻠﺒﯽ يانبي

Yâ Rosûlallâh, yâ nabî Lakasy-syafâ’ah wa hâdzâ mathlabî yâ nabî
Wahai Rosulullah, wahai Nabi, Engkaulah pemilik syafa’at, dan itulah tujuanku wahai Nabi

ﺃﻧﺖ ﺍﻟﻤﺮﺗﺠﯽ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺰﺣﺎﻡ   ﺇﺷﻔﻊ ﻟﻨﺎ ﻳﺎﺧﻴﺮ ﺍﻷﻧﺎﻡ

Antal murtajâ yaumaz-zihâm  Isyfa’ lanâ yâ khoirol anâm
Kau lah harapan kami di hari kebangkitan. Berikanlah syafa’at bagi kami wahai sebaik baik manusia

ﺇﺷﻔﻊ ﻟﻨﺎ  ﻳﺎ ﺣﺒﻴﺒﻨﺎ   ﻟﻚ ﺍﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻳﺎﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ يانبي

Isyfa’ lanâ.. yâ habîbanâ  Lakasy-syafâ’ah, yâ Rosûlallâh Yâ nabî
Berilah syafa’at bagi kami, wahai kekasih kami. Kau lah pemilik syafa’at, wahai Rosulullah, wahai Nabi.

لذنا ﺑﻚ ﻳﺎﺣﺒﻴﺐ   ﺃﻧﺖ ﻟﻠﺨﻠﻖ ياﻃﺒﻴﺐ

Ludznâ bika yâ habîbu Anta lil kholqi yâ thobîbu
Kami berlindung padamu wahai yang tercinta. Engkaulah harapan makhluk, wahai sang penawar.

ﺇﺷﻔﻊ ﻟﻨﺎ  ﻳﺎﺣﺒﻴﺒﻨﺎ   ﻟﻚ ﺍﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ يانبي

Isyfa’ lanâ.. yâ habîbanâ  Lakasy-syafâ’ah yâ Rosûlallâh yâ nabî
Berilah syafa’at bagi kami, wahai kekasih kami. Kau lah pemilik syafa’at, wahai Rosulullah, wahai Nabi.

Thursday, December 22, 2016

Tulisan Gus Dur Terkait Harlah, Natal, dan Maulid

Maulid, Harlah, dan Natal
Created by:


Penggunaan ketiga kata di atas dalam satu nafas, tentu banyak membuat orang marah. Seolah-olah penulis menyamakan ketiga peristiwa itu, karena bagi kebanyakan kaum Muslimin, satu dari yang lain sangat berbeda artinya. Harlah (hari lahir) digunakan  untuk menunjuk kepada saat kelahiran seseorang atau sebuah institusi. Dengan demikian, ia memiliki "arti biasa" yang tidak ada kaitannya dengan agama. Sementara bagi kaum Muslimin, kata Maulid selalu diartikan saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Dan kata Natal bagi kebanyakan orang, termasuk kaum Muslimin dan terlebih-lebih kaum Nasrani, memiliki arti khusus yaitu hari kelahiran Isa Al-Masih. Karena itulah, penyamaannya dalam satu nafas yang ditimbulkan oleh judul di atas, dianggap "bertentangan" dengan ajaran agama. Karena dalam pandangan mereka, istilah itu memang harus dibedakan satu dari yang lain. Penyampaiannya pun dapat memberikan kesan lain, dari yang dimaksudkan oleh orang yang mengucapkannya.

Kata Natal, yang menurut arti bahasanya adalah sama dengan kata harlah, hanya dipakai untuk Nabi Isa al-Masih belaka. Jadi ia mempunyai arti khusus, lain dari yang digunakan secara umum -seperti dalam bidang kedokteran, seperti perawatan pre-natal yang berarti "perawatan sebelum kelahiran"-. Yang dimaksud dalam peristilahan ‘Natal' adalah saat Isa Al-Masih dilahirkan ke dunia oleh "perawan suci" Maryam. Karena itulah ia memiliki arti tersendiri, yaitu saat kelahiran anak manusia bernama Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia. Karena kaum Nasrani mempercayai adanya dosa asal. Anak manusia yang bernama Yesus Kristus itu sebenarnya adalah anak Tuhan, yang menjelma dalam bentuk manusia, guna memungkinkan "penebusan dosa" tersebut. Karena itu penjelmaannya sebagai anak manusia itu disebut juga oknum, yang merupakan salah satu dari oknum roh suci dan oknum Bapa yang ada di surga.

Sedangkan Maulid adalah saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Pertama kali dirayakan kaum Muslimin atas perintah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dari Dinasti Mamalik yang berkebangsaan Kurdi itu. Dengan maksud untuk mengobarkan semangat kaum Muslimin, agar menang dalam perang Salib (crusade), maka ia memerintahkan membuat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad tersebut, enam abad setelah Rasulullah wafat. Peristiwa Maulid itu hingga kini masih dirayakan dalam berbagai bentuk, walaupun Dinasti Sa'ud melarangnya di Saudi Arabia. Karya-karya tertulis berbahasa Arab banyak ditulis dalam  puisi dan prosa untuk "menyambut kelahiran" itu.

Karenanya dua kata (Natal dan Maulid) yang mempunyai makna khusus tersebut, tidak dapat dipersamakan satu sama lain, apapun juga alasannya. Karena arti yang terkandung dalam tiap istilah itu masing-masing berbeda dari yang lain, siapapun tidak dapat membantah hal ini. Sebagai perkembangan "sejarah ilmu", dalam bahasa teori Hukum Islam (fiqh) kedua kata Maulid dan Natal adalah "kata yang lebih sempit maksudnya, dari apa yang diucapkan" (yuqlaqu al'am wa yuradu bihi al-khash). Hal ini disebabkan oleh perbedaan asal-usul istilah tersebut dalam sejarah perkembangan manusia yang sangat beragam itu. Bahkan tidak dapat dipungkiri, bahwa kata yang satu hanya khusus dipakai untuk orang-orang Kristiani, sedangkan yang satu lagi dipakai untuk orang-orang Islam.
******
Natal, dalam kitab suci al-Qur'an disebut sebagai "yauma wulida" (hari kelahiran, yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip: "kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)" (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada beliau atau kepada Nabi Daud. Sebaliknya, firman Allah dalam surat al-Maryam: "Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku" (al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu), jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa. Bahwa kemudian Nabi Isa "dijadikan" Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah suatu hal yang lain lagi, yang tidak mengurangi arti ucapan Yesus itu. Artinya, Natal memang diakui oleh kitab suci al-Qur'an, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga. Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud yang berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan. Jika penulis merayakan Natal adalah penghormatan untuk beliau dalam pengertian yang penulis yakini, sebagai Nabi Allah Swt.

Sedangkan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (Saladin the Saracen), penguasa dari wangsa Ayyub yang berkebangsaan Kurdi/ non-Arab itu, enam abad setelah Nabi Muhammad saw wafat, harus berperang melawan orang-orang Kristiani yang dipimpin Richard berhati singa (Richard the Lion Heart) dan Karel Agung (Charlemagne) dari Inggris dan Perancis  untuk mempertanggungjawabkan mahkota mereka kepada Paus, melancarkan perang Salib ke tanah suci. Untuk menyemangatkan tentara Islam yang melakukan peperangan itu, Saladin memerintahkan dilakukannya perayaan Maulid Nabi tiap-tiap tahun, di bulan kelahiran beliau. Bahwa kemudian peringatan itu berubah fungsinya, yang tidak lagi mengobarkan semangat peperangan kaum Muslimin, melainkan untuk mengobarkan semangat orang-orang Islam dalam perjuangan (tidak bersenjata) yang mereka lakukan, itu adalah perjalanan sejarah yang sama sekali tidak mempengaruhi asal-usul kesejarahannya.

Jadi jelas bagi kita, kedua peristiwa itu jelas mempunyai asal-usul, dasar tekstual agama dan jenis peristiwa yang sama sekali berbeda. Ini berarti, kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang disebut hari Natal. Mereka bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan oleh agama. Penulis menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersama kaum Kristiani merayakannnya bersama-sama. Dalam literaturfiqh, jika kita duduk bersama-sama dengan orang lain yang sedang melaksanakan peribadatan mereka, seorang Muslim diperkenankan turut serta duduk dengan mereka asalkan ia tidak turut dalam ritual kebaktian. Namun hal ini masih merupakan "ganjalan" bagi kaum muslimin pada umumnya, karena kekhawatiran mereka akan "dianggap" turut berkebaktian yang sama. Karena itulah, kaum Muslimin biasanya menunggu di sebuah ruangan, sedangkan ritual kebaktian dilaksanakan di ruang lain. Jika telah selesai, baru kaum Muslimin duduk bercampur dengan mereka untuk menghormati kelahiran Isa al-Masih.

Inilah "prosedur" yang ditempuh oleh para pejabat kita tanpa mengerti sebab musababnya. Karena jika tidak datang melakukan hal itu, dianggap "mengabaikan" aturan negara, sebuah masalah yang sama sekali berbeda dari asal-usulnya. Sementara dalam kenyataan, agama tidak mempersoalkan seorang pejabat datang atau tidak dalam sebuah perayaan keagamaan. Karena jabatan kenegaraan bukanlah jabatan agama, sehingga tidak ada keharusan apapun untuk melakukannya. Namun seorang pejabat, pada umumnya dianggap mewakili agama yang dipeluknya. Karenanya ia harus mendatangi upacara-upacara keagamaan yang bersifat ‘ritualistik', sehingga kalau tidak melakukan hal itu ia akan dianggap ‘mengecilkan' arti agama tersebut. Ini adalah sebuah proses sejarah yang wajar saja. Setiap negara berbeda dalam hal ini, seperti Presiden AS yang tidak dituntut untuk mendatangi peringatan maulid Nabi Saw.

Di Mesir umpamanya, Mufti kaum Muslimin -yang bukan pejabat pemerintahan- mengirimkan ucapan selamat Natal secara tertulis, kepada Paus Shanuda (Pausnya kaum Kristen Coptic di Mesir). Sedangkan kebalikannya terjadi di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, bukan pada hari Maulid Nabi saw. Padahal di Indonesia pejabat beragama Kristiani, kalau sampai tidak mengikuti peringatan Maulid Nabi saw akan dinilai tidak senang dengan Islam, dan ini tentu berakibat pada karier pemerintahannya. Apakah  ini merupakan sesuatu yang baik atau justru yang buruk, penulis tidak tahu. Kelanjutan sejarah kita sebagai bangsa, akan menunjukkan kepada generasi-generasi mendatang apakah arti moral maupun arti politis dari "kebiasaan" seperti itu.

Di sini menjadi jelas bagi kita, bahwa arti pepatah lain padang lain ilalang, memang nyata adanya. Semula sesuatu yang mempunyai arti keagamaan (seperti perayaan Natal), lama-kelamaan "dibudayakan" oleh masyarakat tempat ia berkembang. Sebaliknya, semula adalah sesuatu yang "dibudayakan" lalu menjadi berbeda fungsinya oleh perkembangan keadaan, seperti Maulid Nabi saw di Indonesia. Memang demikianlah perbedaan sejarah di sebuah negara atau di kalangan suatu bangsa. Sedangkan di negeri lain orang tidak pernah mempersoalkannya baik dari segi budaya maupun segi keyakinan agama. Karenanya, kita harus berhati-hati mengikuti perkembangan seperti itu. Ini adalah sebuah keindahan sejarah manusia, bukan?

Jerussalem, 20 Desember 2003