Monday, November 25, 2019

RENUNGAN; MINDSET UMUM MASYARAKAT DESA


Tidak jarang masyarakat di kampung di desa-desa lebih memilih menyewakan atau bahkan menjual ladangnya demi menyekolahkan anak-anaknya hingga level tertinggi. Atau sering juga kita temui beberapa kasus orang tua menjual ladangnya untuk membayar bidikan agar anaknya diterima di Universitas ternama, bisa menjadi tentara, polisi, atau PNS misalnya. Atau bahkan untuk sekedar bisa menerbangkan anak-anaknya ke Korea atau Jepang sebagai expatriat Indonesia (baca: TKI)!

Fenomena ini umum terjadi di masyarakat Indonesia khususnya Jawa yang dihuni jutaan manusia dan menjadi wilayah dengan tingkat kompetisi hidup paling menegangkan. Itulah jawaban sederhana kenapa orang Jawa menyebar di seluruh penjuru pelosok negeri. Ekosistem telah membawa kepada situasi di mana benar-benar menjadi kelas pekerja adalah gol bagi masyarakat Indonesia. Orang tua lebih bangga melihat anaknya menjadi seseorang dengan menyandang status pekerja. Martabatnya seolah berada di sini.

Ini fakta dan paradigma yang sangat sulit diubah, bagi masyarakat menengah ke bawah yang dipenuhi keraguan akan masa depan akan memilih jalan tersebut sebagai golnya dalam kehidupan. Harapannya tentu di kemudian hari saat sudah berada di level sukses sebagai pekerja, maka akan ada upaya untuk kembali membeli ladang yang telah terjualnya. Orang tua diam dalam cemas, berharap dalam doa anaknya akan mampu berbuat demikian. Tapi memang tidak banyak yang bersedia mengungkapkan secara terang.

Memang betul pendidikan adalah salah satu upaya untuk mentas dari zona kemiskinan. Itu adalah formula yang sangat umum dan dilegitimasi oleh para sarjana dan ilmuwan. Dengan pendidikan diharapkan manusia dapat berkompetisi di tengah lapangan besar bernama peperangan memperjuangkan status duniawi. Manusia berlomba-lomba untuk berhasil lepas dan memenangkan pertarungan itu. Tidak jarang banyak yang putus asa berguguran di tengah jalan.

Berabad-abad yang lalu saat ekosistemnya belum demikian, manusia cukup bertarung dengan alam. Pergi ke hutan mencari buruan atau bercocok tanam ke ladang untuk memenuhi kebutuhan hidup terdasar yaitu makan. Lain dulu lain sekarang, siap atau tidak memang demikian ini keadaan manusia zaman sekarang. Tidak ada yang salah dan tidak perlu menyalahkan siapapun, jika ingin bertahan di ekosistem sudah sepatutnya mengupayakannya. Jika tidak bersedia berkompetisi di ekosistem, mungkin sudah saatnya pindah ke lain ekosistem, yaitu alam akhirat.

Semoga menjadi renungan bagi yang membaca dan menjadi pelecut semangat di kemudian hari, bahwa seyoganya ikhtiar dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih baik dan pasrah pada hasil adalah tugas kita sebagai manusia sekaligus hamba-Nya. Wallahua’lam bishowab.

Robi Cahyadi

Tuesday, November 12, 2019

MAULID NABI; SEBUAH PERENUNGAN PERJUANGAN IMPROVEMENT RASULULLAH


Hari kelahiran nabi Muhammad SAW atau orang lebih sering menyebutnya dengan istilah maulid nabi, merupakan fenomena yang sangat sakral bagi sebagian besar mayoritas umat islam di muka bumi ini. Ada semacam rasa iman dan kegembiraan saat datang hari lahir nabi Muhammad SAW ini. Semata-mata sebagian besar umat islam tersebut gembira dan memperingatinya karena kecintaannya pada nabi Muhammad SAW.

Terlepas dari pro dan kontra dalam bentuk perbedaan pendapat di kalangan ulama juga umat islam sendiri terkait boleh tidak memperingati hari lahir nabi Muhammad SAW, melalui tulisan singkat ini saya mengajak pembaca untuk merenungi betapa dahsyat dan nikmatnya karunia Allah SWT di muka bumi ini atas lahirnya sang kekasih yaitu nabi Muhammad SAW selaku rijalul islah (pembawa perubahan) untuk membawa manusia dari zaman kegelapan menunu zaman yang terang benderang dan umat terbaik ini (khoiru ummah).

Para ulama di kalangan umat islam berselisih pendapat tentang kapan hari tepatnya nabi Muhammad SAW lahir, tetapi mayoritas dalam banyak kitab tarikh (sejarah) menyepakati bahwa nabi lahir pada tanggal 12 bulan maulud bertepatan dengan hari senin tahun Gajah. Disebut tahun gajah karena konon pada saat itu Abrahah raja Yaman vassal kerajaan katolik Ethiopia dengan armada pasukannya yang menaiki Gajah sedang dalam misi penyerangan ke kota Makkah.

Nabi Muhammad SAW lahir dari rahim seorang wanita yang berasal dari kalangan terpandang bani Quraisy yaitu Siti Aminah. Ayahnya bernama Abdullah yang kala itu wafat saat nabi masih berada di dalam kandungan, ayahanda nabi tercatat wafat karena harus pergi berperang membela kaum Quraisy melawan ekspansi Abrahah. Sepanjang di kandungan hingga lahirnya nabi tercatat tidak pernah menyusahkan dan bahkan mayortias ulama sepakat berpendapat bahwa nabi lahir dalam keadaan telah suci.

Terlalu panjang jika penulis membahas sejarah demi sejarah perjalanan nabi Muhammad SAW dari lahir hingga sepanjang hidupnya. Teramat banyak mukjizat dan keistimewaan yang diberikan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW. Dari rentetan biografi nabi tersebut penulis ingin menggarisbawahi dan menitikberatkan pada bagaimana nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT di muka bumi ini dapat mengubah kaum Quraisy atau lebih luas lagi yaitu mengubah dunia hanya dalam kurun waktu 23 tahun saja.

Banyak ilmuwan dan akademisi baik dari kalangan islam sendiri atau barat bahkan menominasikan nabi Muhammad SAW sebagai manusia paling progresif revolusioner dalam mengubah peta kehidupan sosial, ilmu, politik, akidah manusia di muka bumi ini. Nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah mula-mula dari Allah SWT adalah untuk mengajarkan akhlakul karim (good attitude) kepada manusia. Karena perilaku yang baik itulah awal mula sebab manusia bisa menjadi beradab dan kemudian endingnyadunia dipenuhi cahaya gilang gemintang.

Semangat yang dilakukan nabi Muhammad SAW dalam mengajarkan kebaikan demi kebaikan kepada umat manusia dalam kurun waktu 23 tahun masa kenabian tersebut adalah apa yang kini disebut sebagai semangat perbaikan terus menerus dan berkelanjutan, sarjana barat dan Jepang menyebutnya sebagai Continuos Improvement atau Kaizen. Dalam istilah alquran hal ini disebut dengan kaidah fastabikul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Nabi Muhammad adalah role model terbaik bagi umat islam dan seluruh manusia di muka bumi ini yang mengimaninya.

Sebagai umat yang mencintainya tentu sudah sepatutnya kita berbangga hati dan penuh suka cita menyambut hari lahir nabi Muhammad SAW. Tidak sampai sebatas itu kita tentu harus mengupayakan diri agar senantiasa bisa meneladani semangat nabi Muhammad SAW dalam menuju perbaikan dan kebaikan. Kita tidak boleh menyerah dan tertunduk diam pada keadaan, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk terus melakukan peningkatan kualitas diri baik dari segi ruhaniah ataupun jasmaniah. Sedapat mungkin agar seimbang dalam melalukan upaya menuju umat islam yang unggul dari ke dua sisi, dunia dan akhirat.

Apa yang bisa dilakukan dalam kaitannya meneladani sejarah nabi Muhammad SAW di era moderen ini? Yang pasti adalah menjalankan perintah kebaikan yang telah disampaikan oleh beliau baik dari yang terwahyukan di dalam alquran atau yang disabdakan dalam kumpulan hadist-hadistnya. Di samping semua itu tentu kita juga harus berkomitmen menanamkan semangat gigih kemandirian dalam setiap usaha menuju kondisi lebih baik, atau sarjana barat menyebutnya sebagai autonomous adapun ilmuwan Jepang mengatakannya dengan istilah Jishu Hozen.

Terakhir, penulis mengajak pembaca untuk sekali lagi bangga, penuh suka cita, merenungi dan mensyukuri betapa hadir dan lahirnya nabi Muhammad SAW di muka bumi ini telah terbukti mampu mengubah dunia dan segala isinya yang dahulu kala sangat pekat gelap gulita penuh kebodohan menjadi terang benderang penuh cahaya ilmu dan peradaban. Muaranya adalah berhasil menjadi masyarakat muslim terbaik (khoiru ummah) di muka bumi ini.

Tidak berhenti di situ saja, tentu sebagai umatnya haruslah kita terus menjaga agar cahaya terang yang dibawa oleh nabi tersebut dapat tetap menyala benderang hingga datangnya hari kiamat nanti dengan berupaya menjadikan diri kita sebagai manusia yang berakhlakul karim (good attitude) dan selalu mengupayakan perbaikan dalam fastabikhul khoirot (continous improvement) di setiap langkah kehidupan kita. Semoga bisa konsisten mengupayakannya. Aamiin.

Wallahu’alam bisshowab.

Robi Cahyadi
Aktif menulis dan menyuarakan kebaikan di www.robicahyadi28.blogspot.com

Sunday, November 3, 2019

Mechanical: Evaluasi Job Pekerjaan Operator G1, Perlukah?

Operator G1 Proses Sebagai
Leader of Autonomous Maintenance
G1 proses merupakan bagian paling vital dalam proses produksi bearing secara utuh, dari hasil G1 proseslah dimensi akhir dari produk yaitu bearing dihasilkan. Tingkat presisi tertinggi dalam measuring atau pengukuran dimensi terluar berada di proses ini. G1 berarti First Grinding yang memproses penggerindaan dimensi terluar dari bearing, yaitu outside diameter dan width sideface. Proses ini sangat mempengaruhi kualitas di proses selanjutnya, baik penggerindaan bore ataupun raceway hingga berpengaruh pada kualitas noise dari sebuah bearing.

Tulisan ini berangkat dari analisis penulis atas apa yang terjadi di G1 proses selama ini. Khususnya berkenaan dengan job deskripsi operator G1 yang menurut penulis sudah menyalahi prosedur yang dikehendaki oleh perusahaan. Atau jika tidak ingin dikatakan menyalahi prosedur setidaknya ada perumusan masalah yang dapat direview. Kenapa bisa begitu? Mari kita bedah sedikit agar tercipta sebuah paradigma baru yang harapannya lebih baik dan obyektif.

Begini penjelasan ringkasnya. Hari ini perusahaan sangat komitmen dan sedang dalam keinginan kuat menerapkan salah satu metode dalam TQM (Total Quality Maintenance) yaitu berupa SPT (Stop Panggil Tunggu). Metode SPT ini adalah sebuah metode di mana saat operator menemukan kondisi abnormal dalam proses atau produk haruslah stop pekerjaan dan melapor ke atasan, tentu bertujuan akhir agar tidak terjadi abnormal produk lolos ke next process ataupun abnormal proses yang tidak teridentifikasi lebih dini. Muara dari penerapan SPT adalah kepuasan pelanggan (Customer Satisfy).

Lalu bagaimana yang terjadi di G1 proses khususnya job deskripsi operator? G1 proses boleh dikatakan belum sepenuhnya bisa menerapkan metode SPT tersebut. Hal ini lebih disebabkan oleh biasnya ranah atau tanggung jawab operator G1 itu sendiri sejauh apa. Jika di section atau bagian proses yang lain operator hanya bertugas inti sebagai quality man dan cenderung hanya fokus pada inspection dan penanganan abnormal produk, maka tidak demikian di G1 proses. Diakui atau tidak ada perbedaan yang sangat mendasar dalam ruang kerja operator di G1 proses.

Operator G1 bahkan bisa dalam waktu bersamaan menjalankan dobel pekerjaan sekaligus, pertama sebagai quality man yang fokus pada inspection serta penanganan produk, kedua sebagai orang yang selama ini juga melakukan adjust atau troubleshooting ringan pada mesin saat terjadi abnormal produk. Bahkan lebih jauh dari itu semua, untuk pekerjaan yang sifatnya high-skills seperti change over dan setting, dari awal proses hingga sampai produk dijudgement/dinyatakan OK dan layak running pun operator G1 sangat terampil dan sudah melakukannya sehari-hari.

Titik bias yang ingin disampaikan oleh penulis adalah terletak pada sejauh mana sebenarnya ranah atau tanggung jawab operator G1 itu dalam bekerja? Apakah seharusnya hanya di level quality man atau lebih dari itu? Jika selama ini untuk level operator saja sudah sejauh itu job deskripsinya, tidak berlebihan jika kemudian kita mengatakan bahwa semua operator G1 itu pada dasarnya standar dua dalam tanggung jawab pekerjaan, operator sekaligus setter juga. Keren sekali bukan?

Jika semua operator G1 benar-benar kaku tanpa mengenal fleksibilitas dalam bekerja, dan setiap menemukan abnormal baik produk ataupun proses tidak bersedia adjust atau troubleshooting ringan dan lalu menerapkan SPT secara total frontal, agar kemudian setter atau leadernya yang mengambil tindakan, bukankah akan auto-ambyar dan tidak ada output produksi yang maksimal dari G1 proses? Lalu artinya apa bisa kita sebut operator G1 selama ini tidak menjalankan SPT dengan baik? Silakan simpulkan sendiri. Akan terasa rumit bukan?

Jadi sekali lagi penulis ingin memberikan wawasan dan paradigma baru kepada seluruh pembaca, sudah tepatkah job deskripsi untuk operator di G1 proses selama ini? Adakah yang bisa diperbaiki atau minimal diperjelas dalam kasus yang disajikan ini? Atau setidaknya bisakah dibuat sebuah sistem yang lebih baik lagi? Penulis pikir tidak ada yang tidak mungkin, celah perbaikan itu selalu dan akan tetap ada.

Bisa diibaratkan dalam salah satu pilar TPM (Total Productive Maintenance) yang selama ini diterapkan di perusahaan yaitu Autonomous Maintenance (Jishu Hozen), operator G1-lah role model sesungguhnya. Dedengkot sesungguhnya. Bukan sekedar peka dan peduli terhadap kondisi-kondisi kecil setiap abnormal, tapi sekaligus sebagai eksekutor troubleshooting terdepan saat menemukan kondisi abnormal tersebut. Begitulah realitanya. Lalu, mana apresiasinya?

Saturday, October 26, 2019

MECHANICAL: MENGENAL TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM)

A. Pengertian Total Productive Maintenance 

(TPM) – Total Productive Maintenance atau disingkat dengan TPM adalah suatu sistem yang digunakan untuk memelihara dan meningkatkan kualitas produksi melalui perawatan perlengkapan dan peralatan kerja seperti Mesin, Equipment dan alat-alat kerja. Fokus utama Total Productive Maintanance atau TPM ini adalah untuk memastikan semua perlengkapan dan peralatan Produksi beroperasi dalam kondisi terbaik sehingga menghindari terjadinya kerusakan ataupun keterlambatan dalam proses produksi.

Total Productive Maintenance (TPM) merupakan konsep inovatif Jepang yang berawal dari penerapan Preventive Maintanance pada tahun 1951. Konsep Preventive Maintenance ini sendiri merupakan konsep yang diadopsi dari Amerika Serikat. Nippondenso yang merupakan pemasok Toyota adalah perusahaan pertama yang memperkenalkan konsep TPM pada tahun 1960 dengan slogan “Productivity Maintenance with total Employee Participation”. Seiichi Nakajima yang saat itu menjabat sebagai Vice Chairman JIOPM (Japan Institute of Plant Maintenance) kemudian dikenal sebagai bapak TPM.

8 PILAR TPM

B. 8 Pilar TPM (Eight Pillar of TPM) diantaranya adalah;
  1. Autonomous Maintenance /Jishu Hozen (Perawatan Otonomus) 
  2. Planned Maintenance (Perawatan Terencana) 
  3. Quality Maintenance 
  4. Focused Improvement / Kobetsu Kaizen 
  5. Early Equipment Management 
  6. Training dan Education 
  7. Safety, Health and Environment 
  8. TPM in Administration 
C. Tujuan Penerapan Total Productive Maintenance (TPM)

Tujuan daripada TPM (Total Productive Maintenance) adalah untuk meningkatkan produktivitas pada perlengkapan dan peralatan produksi dengan Investasi perawatan yang seperlunya sehingga mencegah terjadi 6 kerugian besar (Six Big Losses) yaitu:

1. Breakdown
Kerugian akibat Rusaknya Mesin (Peralatan dan Perlengkapan Kerja)

2. Setup and Adjustments
Kerugian yang diakibatkan perlunya Persiapan ulang peralatan dan perlengkapan kerja

3. Small Stops
Kerugian akibat terjadinya gangguan yang menyebabkan mesin tidak dapat beroperasi secara optimal

4. Slow Running
Kerugian yang terjadi karena mesin berjalan lambat tidak sesuai dengan kecepatan yang diinginkan.

5. Startup Defect
Kerugian yang diakibatkan terjadi cacat produk saat Startup (saat awal mesin beroperasi)

6. Production Defect
Kerugian yang terjadi karena banyaknya produk yang cacat dalam proses produksi.

Selain keenam kerugian yang disebutkan diatas, keuntungan lain penerapan Total Productive Maintenance (TPM) adalah dapat menghindari terjadinya kecelakaan kerja dan menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi karyawannya.

D. Tahapan penerapan Total Productive Maintenance (TPM)

Tahapan-tahapan yang diperlukan untuk menerapkan TPM dalam sebuah perusahaan diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Melakukan Evaluasi awal terhadap tingkat TPM saat ini.
  2. Memperkenal konsep TPM dan mempromosikannya.
  3. Membentuk Komite TPM.
  4. Menetapkan Kebijakan, Tujuan dan sasaran TPM.
  5. Merumuskan Master Plan untuk pengembangan TPM.
  6. Menyelenggarakan pelatihan (training) terhadap semua karyawan dan pihak yang berkepentingan (stakeholder) terutama yang berkaitan dengan 8 pilar TPM.
  7. Menerapkan proses-proses persiapan.
  8. Menjalankan semua program dan kebijakan TPM guna untuk mencapai Tujuan dan Sasaran TPM yang telah ditetapkan.
Manajemen Perusahaan memegang peranan yang sangat penting dalam menerapkan Konsep TPM dalam perusahaannya. Tanpa dukungan dan Komitmen yang kuat dari Manajemen dan juga kerjasama semua karyawan perusahaan, Tujuan dan Sasaran program TPM ini akan sulit tercapai.

E. Pengukuran Keberhasilan TPM

Dalam mengevaluasi dan mengukur sejauh mana keberhasilan penerapan TPM (Total Productive Maintanance), alat pengukuran utama yang digunakan adalah “Overall Equipment Effectiveness” atau disingkat dengan “OEE”. Secara Matematis, rumus Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah sebagai berikut :

OEE = Availability x Performance Rate x Quality 

Keterangan :

Availability = Kesiapan ataupun kesediaan Mesin dalam beroperasi

Performance = Jumlah unit produk yang dihasilkan oleh mesin dalam waktu yang tersedia

Quality = Perbandingan jumlah unit yang baik dengan jumlah unit yang diproduksi

F. Persaamaan dan Perbedaaan TPM dan TQM

Pada dasarnya, Program TPM dan TQM memiliki banyak kemiripan jika dilihat dari pemberdayaan sumber daya manusia dan segi dokumentasinya.

Berikut ini beberapa persamaan TPM dan TQM :
  1. Kedua-duanya memerlukan komitmen dan dukungan penuh dari Top Manajemen
  2. Perlu memberdayakan seluruh sumber daya manusia mulai dari level terendah sampai level tertinggi
  3. Penerapannya memerlukan jangka waktu yang panjang (satu tahun atau lebih) untuk dapat melihat hasilnya
  4. Merubah Mind-set atau pemikiran Karyawan terhadap Tanggung Jawab pekerjaannya (Job Responsibilities)
Sedangkan Perbedaan TPM dan TQM diantaranya adalah sebagai berikut:

Kategori Objek
  1. TQM: Kualitas (Output dan Efek/Akibat)
  2. TPM: Equipment/Peralatan (Input dan Penyebab)
Kategori Pencapaian Tujuan
  1. TQM: Manajemen yang sistematik, lebih berorientasi pada perangkat lunak perusahaan
  2. TPM: Partisipasi Karyawan, lebih berorientasi pada perangkat keras perusahaan
Kategori Target
  1. TQM: Kualitas dalam bentuk PPM
  2. TPM: Eliminasi Kerugian dan Pemborosan

MECHANICAL: MENGENAL 5S (5R)

5S/5R
Semangat pagi great people!

Mari kembali kita mereview salah satu pilar penting dalam menunjang proses produksi di industri manufaktur atau industri lainnya yang setara. Salah satu fondasi dalam pilar TPM (Total Productive Maintenance) yang sangat familiar dan kita semua sering dengar adalah 5S/5R. Apa sajakah itu?

5S/5R tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

1. Seiri/Ringkas
Prinsipnya adalah semua orang yang terlibat dalam proses produksi harus berupaya menyortir apa yang dianggap tidak penting dan menggunakan perlengkapan kerja yang paling efektif. Kata kuncinya adalah sortir yang tidak perlu.

2. Seiton/Rapi
Prinsip dasarnya adalah semua orang yang terlibat dalam proses produksi harus memiliki kepedulian untuk membuat lingkungan kerjanya rapi, tertata dengan baik, terkoordinasi dengan baik. Kata kuncinya adalah set in order atau menyusun segala hal secara berurutan.

3. Seisou/Resik
Yang dimaksud di sini adalah semua orang yang terlibat dalam proses produksi harus memiliki kepekaan untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan kerjanya. Kata kuncinya adalah bersih.

4. Seiketsu/Rawat
Semua orang yang terlibat dalam proses produksi harus senantiasa merawat kondisi yang sudah baik dari penerapan ke tiga poin di atasnya, kata kuncinya adalah penstandaran, semua hal yang sudah baik harus dijaga dan dibuat standarnya.

5. Shitsuke/Rajin
Terakhir yang harus dilakukan dalam menjaga ke lima hal ini tentu adalah rajin, semua orang harus menjaga dan kontinyu melakukan semua aktifitas kebaikan ini. Kata kuncinya adalah sustain atau berkelanjutan.

Demikian sedikit ulasan ulang dan singkat tentang 5S/5R. Dalam dunia industri motivasi tulisan mungkin ini juga bagian dari salah satunya, yaitu Shitsuke (Rajin). Ya minimal rajin nulis buat kontinyu saling mengingatkan dan mencegah laju kepikunan pada diri penulis.

Semoga menjadi hari yang menyenangkan. Ganbatte Kudasai!

Robi Cahyadi
Mechancial Engineer