Monday, July 22, 2013

Alasan Kita Bermadzhab

Nahdatul Ulama Logo

Inilah alasan kita bermadzhab, renungin ya.

Pertanyaan:

Kenapa kebanyakan umat Islam dalam beribadah memakai madzhab Imam Syafi'i, Maliki, Hanafi atau Hambali, bukankah yang benar adalah yang mengikuti Al Qur’an dan Sunnah (Hadits)? Kenapa tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?

Jawab:

Sebuah pertanyaan yang menarik, mengapa kita harus bermadzhab?
Mengapa kita tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?Kalimat "Mengapa kita tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?" seakan-akan menghakimi bahwa orang yang bermadzhab itu tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah.

Penggunaan kalimat "Mengapa kita tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah saja?" tersebut telah menyebabkan sebagian orang memandang remeh ijtihad dan keilmuan para
ulama, terutama ulama terdahulu yang sangat dikenal kesalehan dan keluasan ilmunya. 

Dengan menggunakan kalimat "Mengapa kita tidak kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah saja?" sekelompok orang sebenarnya sedang berusaha mengajak pendengar dan pembaca tulisannya untuk mengikuti cara berpikirnya, metodenya dalam memahami AlQur’an dan Sunnah, serta menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar, karena ia telah berpegang kepada AlQur’an dan Sunnah, bukan fatwa atau pendapat para ulama.

Hal semacam ini tentunya sangat berbahaya. Sebenarnya sungguh aneh jika seseorang menyatakan agar kita tidak bermadzhab dan seharusnya kembali kepada AlQur’an dan Sunnah. Mengapa aneh, coba perhatikan, apakah dengan mengikuti suatu madzhab berarti tidak mengikuti AlQur’an dan Sunnah? Madzhab mana yang tidak kembali kepada AlQur’an dan Sunnah? Justru para pemuka madzhab tersebut adalah orang-orang yang sangat paham tentang AlQur’an dan Sunnah. 

Coba dicek, hasil ijtihad yang mana dalam suatu madzhab, yang tidak kembali kepada AlQur’an dan Al Hadits? Ternyata semua hasil ijtihad keempat madzhab yang populer di dalam Islam semuanya bersumber kepada AlQur’an dan Hadits. Artinya dengan bermadzhab kita justru sedang kembali kepada AlQur’an dan Hadits dengan cara yang benar, yaitu mengikuti ulama yang dikenal keluasan ilmu dan kesalehannya. Akhir-akhir ini memang muncul sekelompok orang yang sangat fanatik dengan golongannya dan secara sistematis berupaya mengajak umat Islam meninggalkan madzhab.

Mereka seringkali berkata, "Kembalilah kepada Alquran dan Sunnah". Ajakan ini sepintas tampak benar, akan tetapi sangat berbahaya, karena secara tidak langsung mereka menggunakan kalimat (propaganda) di atas untuk menjauhkan umat dari meyakini pendapat para ulama terdahulu yang telah mumpuni. Mereka memaksakan agar kita semua hanya mengikuti pendapat gurunya. Kemudian perhatikan lebih cermat lagi, apakah mereka yang menyatakan kembali kepada AlQur’an dan Sunnah benar-benar langsung kembali kepada AlQur’an dan Sunnah? Tidak bukan, mereka ternyata menyampaikan pendapat guru-gurunya. Artinya, mereka sendiri sedang membuat madzhab baru sesuai pemikiran guru-gurunya.

Coba bayangkan, andai saja setiap orang kembali kepada AlQur’an dan Sunnah secara langsung, tanpa bertanya kepada pakarnya, apa yang akan terjadi? Yang terjadi adalah setiap orang akan menafsirkan AlQur’an dan Sunnah menurut akalnya sendiri, jalan pikirnya sendiri, sehingga akan sangat berbahaya.

Oleh karena itu, kita harus bermadzhab, agar kita tidak salah memahami AlQur’an dan Sunnah. Kita sadar, tingkat keilmuan para pakar yang ada di masa ini tidak dapat disamakan dengan para ulama terdahulu, begitu pula tingkat ibadah dan kesalehan mereka.

Friday, July 19, 2013

Mbah Kholil, Orang Arab, dan Macan Tutul

Alkisah, seseorang berkebangsaan Arab berkunjung ke Pesantren Kedemangan, Bangkalan, Jawa Timur. Masyarakat Madura menyebutnya habib. Kala itu, Syaikhona KH Muhammad Kholil sedang memimpin jamaah sembahyang maghrib bersama para santrinya.
Mbah Kolil Bangkalan, Madura
Usai menunaikan shalat, Mbah Kholil pun menemui para tamunya, termasuk orang Arab ini. Dalam pembicaraan, tamu barunya ini menyampaikan sebuah teguran, “Tuan, bacaan al-Fatihah Antum (Anda) kurang fasih.” Rupanya, sebagai orang Arab, ia merasa berwenang mengoreksi bacaan shalat Mbah Kholil.

Setelah berbasa-basi sejenak, Mbah Kholil mempersilakan tamu Arab itu mengambil wudhu untuk melaksanakan sembahyang maghrib. “Silakan ambil wudhu di sana,” ucapnya sambil menunjuk arah tempat wudhu di sebelah masjid.

Baru saja selesai wudhu, si orang Arab tiba-tiba dikejutkan dengan munculnya seekor macan tutul. Dengan bahasa Arab yang fasih, ia berteriak dengan maksud mengusir si macan. Kefasihan bahasa Arabnya tak memberi pengaruh apa-apa. Binatang buas itu justru kian mendekat.

Mendengar keributan di area tempat wudhu, Mbah Kholil datang menghampiri. Mbah Kholil paham, macan tutul itu lah sumber kegaduhan. Kiai keramat ini pun melontarkan sepatah dua patah kata kepada macan. Meski tak sefasih tamu Arabnya, anehnya, sang macan langsung bergegas pergi.

Orang Arab itu akhirnya mafhum, kiai penghafal al-Qur’an yang menguasai qiraat sab’ah (tujuh cara membaca al-Qur’an) ini sedang memberi pelajaran berharga untuk dirinya. Nilai ungkapan seseorang bukan terletak sebatas pada kefasihan kata-kata, melainkan sejauh mana penghayatan atas maknanya.

Hikmah: Hasan Al Basri Bertoleransi

Kekaguman para sahabat dan murid-muridnya tak menggetarkan pribadi Hasan al-Bashri untuk tetap hidup penuh kesederhanaan. Di rumah susun yang tidak terlalu besar ia tinggal bersama istri tercinta. Di bagian atas adalah tempat tinggal seorang Nasrani. Kehidupan berumah tangga dan bertetangga mengalir tenang dan harmonis meski diliputi kekurangan menurut ukuran duniawi.
Toleransi Beragama

Di dalam kamar Hasan al-Bashri selalu terlihat ember kecil penampung tetesan air dari atap kamarnya. Istrinya memang sengaja memasangnya atas permintaan Hasan al-Bashri agar tetesan tak meluber. Hasan al-Bashri rutin mengganti ember itu tiap kali penuh dan sesekali mengelap sisa percikan yang sempat membasahi ubin. Hasan al-Bashri tak pernah berniat memperbaiki atap itu. “Kita tak boleh mengusik tetangga,” dalihnya.



Jika dirunut, atap kamar Hasan al-Bashri tak lain merupakan ubin kamar mandi seorang Nasrani, tetangganya. Karena ada kerusakan, air kencing dan kotoran merembes ke dalam kamar Sang Imam tanpa mengikuti saluran yang tersedia.



Tetangga Nasrani itu tak bereaksi apa-apa tentang kejadian ini karena Hasan al-Bashri sendiri belum pernah mengabarinya. Hingga suatu ketika si tetangga menjenguk Hasan al-Bashri yang tengah sakit dan menyaksikan sendiri cairan najis kamar mandinya menimpa ruangan Hasan Al-Bashri.



“Imam, sejak kapan engkau bersabar dengan semua ini,” tetangga Nasrani tampak menyesal.
Hasan al-Bashri hanya terdiam memandang, sambil melempar senyum pendek.
Merasa tak ada jawaban tetangga Nasrani pun setengah mendesak. “Tolong katakan dengan jujur, wahai Imam. Ini demi melegakan hati kami.”



Dengan suara berat Hasan al-Bashri pun menimpali, “Dua puluh tahun yang lalu.”
“Lantas mengapa engkau tidak memberitahuku?”
“Memuliakan tetangga adalah hal yang wajib. Nabi kami mengajaran, ‘Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangga’. Anda adalah tetangga saya,” tukasnya lirih.
Tetangga Nasrani itu seketika mengucapkan dua kalimat syahadat.

Friday, June 14, 2013

Sumur Bor Di Kala SD

KarangTalun, sekitar pertengahan kelas 4 SD. waktu itu hariku berjalan seperti biasa, pagi berangkat sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu. itu semua karena orang tuaku sibuk mengurus sawahya yang sedang tanam tebu triton, tebu paling familier dikalanagn petani tebu saat itu di kediri nun jauh disana. jarak antara sekolah SD-ku dengan rumahku tak sampai satu kilometer, itu sebabnya aku seringkali memilih untuk jalan kaki ketimbang menaiki sepeda wim cycle-ku yang dibelikan bapak saat aku kelas 2 SD. kalau gak salah dulu belinya di toko milik warga keturunan di dekat pasar kras, namanya ernik. ngomong-ngomng aku dulu waktu SD imut banget loh?

Sesampainya di sekolah aku cuma duduk-duduk di kantin sembari makan pentol (cilok) buatan bu wakinah, yah, dia adalah satu-satunya pengusaha pentol (cilok) di desaku waktu itu. suaminya bernama pak effendi biasa dipanggil pak pendi yang berprofesi sebagi tukang kebun di sekoalahku itu. tak lama kemudian satu persatu temanku datang, ada didin, zidni, dino, nurkalim, zainuri, agus, dan tentunya ada beberapa teman cewek yang pada waktu itu aku nilai sebagai yang tercantik di sekolahku, dia datang dengan pakain rapi setrikaan dan penuh keharuman, maklum anak orang kaya sedesaku, bapaknya pengusaha gilingan tebu, sawahnya pun seampar-ampar diseluruh sudut balongan (sawah luas). namanya Sri Utami.

Dia cewek yang datang paling awal pada saat itu karena dapat giliran piket nyapuin pelataran kelas. aku dan teman-temanku yang duduk di kantin cuma bisa senyum-senyu kecil menggoda dia berharap dia menyapa balik. tapi apadaya dia si cewek canik itu cuma nylonong begitu saja. tak apalah toh di kelas nanti juga ketemu. syukur-syukur bisa duduk deketan dia. *ngarep*

Setelah gak lama dari itu bel masuk berbunyi, dipukul oleh pak seto ardi guru agama isalamku, teng-teng-teng.. aku dan teman-temanku bergegas bayar pentol yang telah kumakan di kantin tadi, harga satu piring waktu itu cuma 500 perak murah banget kan? ya iyalah orang jaman Suharto. : ) hehe. sesampainya di kelas semua ambil posisi. aku adalahmurid pertama yang mengambil tempat duduk paling strategis, dibaris kedua sampingan dengan anak juragan gilingan tebu tadi yang kuceritakan diatas, beuhhh. hatiku cuma bisa bilang hore dan yes!!! lalu pelajaran pertama diisi oleh bu titik, pelajarannya adalah matematika. dulu disebtunya MM. singkatan matematika maksudnya mah. hehe.

Belum juga ngasih materi belajar, tiba-tiba bu guruku tadi, bu titik mengumumkan kabar bahagia yang tak disangka-sangka. penantian panjang semua murid SD pada waktu itu. yah, ada rapat guru-guru di SDN Kras 1, yang secara otomatis menyebabkan kerugian dipihak guru dan keuntungan dipihak murid-murid. kegiatan belajar mengajar dipause (dihentikan). stop! dan, diganti oleh kegiatan belajar diluar ruangan alias bebas bermain hehehe semua kompak pada teriak, hore…….! tak terkecuali si cewek cantik tadi, Sri Utami. senyum sumringahnya membuat kegembiraanku lengkap sudah, sebagai anak kecil kelas 4 SD cuma bisa seneng doang saat yang tercantik di kelasnya ikut senang.

Opsi pun banyak, teman-temanku saling usul ayuk kita bermain ini itu, zaiuri usul main Blaksodor, didin usil main kelereng, zidni dan dino karena saking ktut bukunya memilih belajar di depan kelas sebagai bentuk modus agar deketan sama cewek-cewek (dalam batinku berkata begitu). akhirnya temenku yang paling tua karena tiak naik kelas dua kali berturut-turut pun iktu usul, namanya mohamad toif. putera kedua pak ginah yang rumahnya masih satu RT denganku. denga nada sok seniornya dia mengusulkan agar anak-anak cowok mengikutinya bermain ke sumur bor di belakang sekolah. untuk sekedar mandi dan bermaik air. hampir seluruh anak cowok ikut dengannya, kecuali zidni dan dino yang memang pada saat itu sedang menjadi murid paling rajin belajar.

Akhirnya kami pun bergegas, melewati samping gedung sekolahan SD ku, kami berjalan kira-kira sekitar 500 meter ke belakang, ke dekat sawah-sawah diman sumur bor itu berada. tarammmmm…. sumur bor yang notabene sebagai sistem irigasi sawah-sawah warga pun sudah dekat di mata kami, murid-murid badung kelas 4 SDN Karang Talun 2. hehe. penjaga sumur bor itu pak kusnan, begitulah dia biasa dipanggil, perutnya agak menonjol kedepan, kami suka mengatakannya sebagai om jin. (habis perutnya buncit kayak om jin di sineteron jin dan jun dulu). eh, usut punya usut ternyata pak kusnan ini teman sekolah bapakku dulu waktu nyantri di pondok darussalam Pare Kediri sana. kata bapak pak kusnan ini suka makan banyak sekali,mungkin itulah penyebab perutnya buncit, kataku dalam angan.

Temanku si Toif pun dengan tanpa ragu meminta ijin pada penjaga sumur bor itu, dengan bahasa jawanya dia bertanya, “makdhe aku karo konco-konco arep adus ning sumur bor oleh ora?“. pak kusnan dengan nada interogasi langsung nanya balik ke temanku tadi, “lha emang podo ra melebu sekolah ki nyapo? bolos yo?”. pertanyaan yang langsung menjustifikasi. hehe. maklum orang tua. singkat cerita si toif dengan kemampuan negoisasinya akhirnay kami pun mendapat ijin mandi di kolam-kolam sumur bor itu. tentu dengan syarat-syarat yang ditentukan oleh si penjaga sumur bor tadi. yang salah satunya, jangan lama-lama mandi dan bermainnya karena sekitar pukul 10 siang mesin diesel sumur bor itu akan dimatikan, begitu alasan pak kusnan. meski aku dan teman-temanku tahu itu hanyalah bualan semata karena gak ada irigasi di daerahku yang cuma sebentar, minimal sampai bedug dzuhur.

Setelah itu, satu persatu baju merah putih (seragam SD) kami lepas, tinggal celana dalam saja yang membalut tubuh kami murid-murid SD kelas 4 yang polos, kecil dan lugu ini. mandi di sumur bor terasa begitu menyenangkan, kami saling sirat-siratan (lempar-lemparan air). hingga tentunya dalamaku basah, tak apalah toh semua juga begitu. hehe, parahnya lagi si agus sampai delep-delepan (saling menenggelamkan di air) dengan si didin. seingatku didin sampai nangis. wkwkw semuanya ketawa terbahak-bahak karena didin mengancam akan melaporkan agus pada bapaknya yang sudah haji itu. aku pun tak luput dari menikmati terowongan bawah jembatan, meluncur diatas air bermandi bersama kecebong dan air.

Berlama-lama mandi dan bermain di air, kami semua pun merasa puas dan tentu terkuras tenaga. dingin pun menggelayuti aku dan temanku yang pada akhirnya kami memilih untuk menyudahi mandi bareng itu. kami beranjak dari sumur bor itu dan mulai memakai pakaian kebesaran kami murid SD. : )
Tarammmm…

Tak ada yang bawa jam tangan satu pun diantara kami, maklum anak desa jarang yang pakai begituan saat SD. waduh!!! celaka!!! celetukku. Ini jam berapa? tanyaku pada teman-teman, mereka semua cuma bengong gak satu pun menjawabnya, sungguh seperti murid bodoh semua, (emang nyantanya begitu) hehe. kami semua pun sadar kalau tadi pas bu titik memberi pengumuman kalau guru-guru yang rapat hanya sampai pukul sepuluhan, selanjutnya dilajut pelajaran lagi. teng-tong…

Aku dan temanku-temanku langsung tunggang langgang seperti dikejar babi milik dokter/pak pur di desa sebelah (mojosari). ciat-ciat kami pun menerjang galengan, sawah-sawah, hingga ada salah satu temanku yang bernama nurkalim terperosok ke kubangan yang baru saj digaru. jbrattttaass jburrr!!! apesnya dia bukan apes kami! semua sudah mementingkan untuk sendiri-sendiri agar segera sampai di sekolahan. kekompakan kami diawal tadi lunutur seketika. yah, kecil-kecil sudah egois.

Sampainya di depan gedung sekolahan, bu warsiani guru bahasa indonesia sudah walang kerik (kacak pinggang) menanti kami. benar apa yang kami cemaskan. jam sudah stengah sebelas yang artinya kai telat masuk kelas karena pelajatan sudah dimulai lagi. hanya Zidni dan Dino murid cowok yang tidak kena semprot sekaligus jeweran pedas dari guru yang dikenal paling garang dan sadis ini. uhuk-uhuk. aku sendiri pun sudah ketakutan setengah mati. pimpinan kami yaitu si toif adalah murid pertama yang mendapat paket marahan itu, dilanjut semuanya satu persatu disuruh berbaris untuk mendapat jatahnya maing-masing. tak terkecuali aku.

Seluruh isi kelas 4 bahkan yang kelas 5 an 6 pun ikut menyoraki kami, mencemooh, mensukurin kami si berandal badung cilik dari SDN karang talun 2. tak apalah, ini semua adalah proses belajar mengajar di luar yang sesungguhnya, yang kata bu titik tadi diawal. inilah yang benar-benar belajar. Belajar membentuk mental kuat dan militan serta tahan banting. jrenggggg...


Monday, April 15, 2013

Tokoh: Sir Issac Newton

(Sir Issac newton)

 Sir Issac Newton adalah ahli fisika, matematika, astronomi, kimia dan ahli filsafat yang lahir di Inggris. Buku yang ditulis dan dipublikasikan pada tahun 1687, Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica, dikatakan sebagai buku yang paling berpengaruh dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Karyanya ini menjelaskan tentang hukum gravitasi dan tiga asas (hukum) pergerakan, yang mengubah pandangan orang terhadap hukum fisika alam selama tiga abad kedepan dan menjadi dasar dari ilmu pengetahuan modern.

Pada tahun 1670 sampai 1672, Newton memberikan pelajaran tentang optik. Dan selama masa ini, dia sendiri menyelidiki refraksi cahaya (refraksi: perubahan arah dari suatu gelombang akibat perubahan kecepatan) dan memberikan demostrasi bahwa sebuah prisma dapat memecah cahaya putih menjadi berbagai macam spektrum warna dan sebuah lensa pada prisma yang kedua, dapat membentuk spektrum warna tersebut menjadi satu cahaya putih kembali.

 Isaac Newton menyadari bahwa matematika adalah cara untuk menjelaskan hukum-hukum alam seperti gravitasi, dan membuat beberapa rumus untuk menghitung 'pergerakan benda' dan 'gravitasi bumi'. Gravitasi adalah kekuatan yang membuat suatu benda selalu bergerak jatuh ke bawah. Dengan tiga prinsip dasar dari hukum pergerakan, Newton dapat menjelaskan dan membuktikan bahwa planet beredar mengelilingi matahari dalam orbit yang berbentuk oval dan tidak bulat penuh. Kemudian Newton menggunakan tiga prinsip dasar pergerakan yang sekarang di kenal sebagai Hukum Newton untuk menjelaskan bagaimana benda bergerak.

 Ayah Isaac Newton meninggal tiga bulan setelah Newton lahir, dan dimasa kecilnya, Newton tinggal bersama neneknya. Newton kemudian bersekolah di sekolah desa dan kemudian pindah ke sekoah yang lebih baik di Grantham, dimana disana dia menjadi murid dengan peringkat atas. Saat ini banyak kisah yang menceritakan bahwa Newton mendapatkan rumus tentang teori gravitasi dan sebuah apel yang jatuh dari pohon. Di kisahkan bahwa suatu hari Newton duduk dan belajar di bawah pohon apel dan saat itu sebuah apel jatuh dari pohon tersebut. Dengan mengamati apel yang jatuh, Newton mengambil kesimpulan bahwa ada sesuatu kekuatan yang menarik apel tersebut jatuh kebawah, dan kekuatan itu yang kita kenal sekarang dengan nama gravitasi.