Thursday, February 21, 2019

Kuliner: Tahu Sumedang

Tahu Sumedang

“Ketika leluhur orang Tionghoa datang ke Indonesia, mereka bukan membawa agama sebagaimana orang Arab atau orang Barat. Tetapi, mereka membawa makanan yang lambat laun menjadi makanan rakyat Indonesia jelata.”

Penggalan kalimat di paragraf pembuka di atas disampaikan oleh Kwee Kek Beng dalam prasarannya berjudul ‘Sumbangsih Apakah yang Dapat Diberikan oleh Warganegara Indonesia Keturunan Asing kepada Pembinaan Kebudayaan Nasional Indonesia?'.

Kalimat tersebut lantas diperkuat oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Hoakiau di Indonesia. Walaupun bangsa Barat ke Indonesia membawa keju dan mentega, kepopulerannya tak bisa menandingi makanan Tionghoa nan murah seperti tahu, takwah, kecap, bakmi, teh, taoco, sayur asin dan sebagainya.

Tahu Sumedang adalah salah satu warisan orang tionghoa untuk negeri ini, sangat lezat dan kaya gizi. Apalagi disajikan di tempatnya langsung Kota Sumedang? Betul bukan? Ayo cintai kuliner jajanan nusantara. Lestarikan dan dukung tahu sebagai kudapan istimewa keluarga Indonesia.

Jika kalian tidak bisa ke Sumedang langsung untuk merasakan betawa nikmat gurihnya tahu Sumedang, mungkin bisa mencoba membelinya di pedagang asongan pinggir jalan sebagai pelipur nafsu tersebut. Setahu penulis sudah sangat banyak sekali ditemukan pedagang yang dengan rombongnya bertuliskan tahu Sumedang asli. Terlepas asli atau bukan minimal hampir menyerupai, nikmat!

Resensi Buku: The Terong Gosong

The Terong Gosong


Apakah itu? Sebuah oseng-oseng terong dengan sambal pedas di atas cobeknya? Bisa jadi itulah yang ada di benak kalian. Benar dan sah saja jika demikian. Tapi Terong Gosong di sini lebih dari sekedar itu, bahkan ada tambahan kata the di depannya. Tentu itu mengisyaratkan akan kerennya hal ini. Apakah sebenernya gerangan?

The Terong Gosong adalah sebuah buku humor karya Gus Yahya Cholil Staquf, isinya mengulas seputar dunia pesantren. Seputar santri, kyai, dan canda tawa kesehariannya. FYI saja, Gus Cholil Yahya Staquf adalah mantan juru bicara era presiden Gus Dur, beliau juga merupakan kerabat dekat Yai Mustofa Bisri alias Gus Mus yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah.

Saya dapatkan buku ini lumayan susah payah, cetakan pertama pada 2011 lalu langsung habis diserbu santri seluruh Indonesia, saya tidak kebagian. Untungnya masih ada toko buku online dari Semarang yang masih punya stoknya. Pada 2015 lalu saya akhirnya menebus dan bisa memilikinya. Alhamdulillah.

Pada prinsipnya buku ini berisikan rangkaian cerita-cerita yang dihimpun dari dunia pesantren, isinya tidak berat, bahasanya sangat renyah dan mudah dicerna oleh awam sekalipun. Dari buku ini kita bisa belajar menertawakan diri sendiri yang penuh kehinaan ini, sekaligus bisa pula belajar tertawa secara serius. Anda bisa ketawa secara serius? Sulit bukan?

Ya minimal dengan membacanya dapat menjadi pelipur lara sekaligus dapat menjadi oase yang sangat segar di tengah tandusnya etika para politisi dan juga para pendukungnya. Juga bisa menjadi pengobat sakit hati atas etika para generasi muda bangsa yang bejat dan kurang ajar terhadap gurunya baru-baru ini.

Sejak lahir saya telah berafiliasi dengan organisasi Islam Nahdlatul Ulama, tradisi kami sangat kuat mengajarkan pentingnya untuk tidak "spaneng" dalam menyikapi apapun. Salah satunya dengan mendengar atau membaca cerita-cerita yang dituturkan kyai kami. Seperti halnya membaca buku ini, yang dituturkan oleh Yai Staquf. 

Saturday, January 12, 2019

Sekelumit Catatan; Hadapi MUSNIK VII

Masih segar dalam ingatan kita bersama tentang bagaimana tiga tahun yang lalu kepengurusan PUK (Pelaksana Unit Kerja) FSPMI PT. NSK dipilih dan terbentuk pada MUSNIK VI (ke enam) di Bandung. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat bukan? Kita semua terhenyak dalam kondisi menua tanpa sadar, semakin meringkih dari segi kekuatan baik fisik ataupun kemampuan mengingat dan daya nalar. Masih semangat kah hari ini? Relatif tentu. Pada umumnya semangat itu tetap ada selama harga Vanessa Angela masih bisa menurun. Eh, maaf penulis bercanda.

Mari kita sedikit me-refresh (mengingatkan kembali) sekelumit tentang apa itu serikat pekerja. Meskipun jujur saja dalam pandangan penulis hal fundamental seperti ini tak selayaknya dibahas ulang, apalagi untuk seorang anggota dari sebuah organisasi serikat pekerja yang sudah puluhan tahun malang melintang menunjukkan eksistensinya baik di lingkungan perusahaan sendiri atau di lingkungan kawasan industri. Penulis pikir akan mubah (sia-sia) jika terlalu panjang membahasnya, tapi di satu sisi juga penting mengingatnya kembali sebagai refleksi, maka ringkas saja.

UUD Republik Indonesia tahun 1945 pasal 28E ayat (3) UU nomor 21 tahun 2000 adalah dasar utama sekaligus payung hukum terkuat tentang serikat pekerja. Penulis meyakini semua warga negara yang baik (baik operator atau supervisor sekalipun) tentu seyogyanya akan memahami dan mendukung keberadaan serikat pekerja di dalam hubungan industrial ataupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat sendiri. Peran serikat pekerja dalam membantu menyejahterakan anggotanya tentu sudah tidak perlu diragukan lagi. Adakah yang masih ingin menyanggah? Penulis pikir hanya manusia dungu (maaf) yang akan nekat menyanggah fakta tersebut.

Tanggal 1 Mei 1886 di Kota Chicago, Amerika Serikat terjadi demonstrasi besar-besaran dari para kaum buruh yang ditindas kaum kapitalis. Di hari bersejarah itulah konvensi ILO (Internationally Labour Organization) tahun 1889 di Kota Perancis menyatakan bahwa tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai hari buruh internasional. Tak terkecuali buruh di Indonesia, setiap tanggal tersebut selalu dijadikan sebagai wadah untuk memperingati sekaligus menyuarakan suara-suara jeritan kaum buruh. Dalam hal ini alhamdulillah PUK FSPMI PT. NSK cukup komitmen aktif mengikuti dan menjadi agenda wajib di setiap tahunnya.

Kembali ke paragraf pertama tulisan ini menyoal MUSNIK. Bagi mereka yang masih awam atau mereka yang sebenernya sudah faham akan tetapi kebetulan menderita pikun (lupa ingatan) marilah penulis ajak untuk sedikit mengingat kembali apakah yang di maksud dengan MUSNIK. MUSNIK adalah sebuah akronim (kependekan kata) dari Musyawarah Unit Kerja. Adapun MUSNIK itu sendiri adalah sebagai rapat tertinggi organsiasi serikat pekerja di level PUK (Pelaksana Unit Kerja). Salah satu tujuan MUSNIK yang terpenting tidak lain tidak bukan adalah memilih kepengurusan yang baru, disamping membahas banyak hal seputar revisi (perubahan) peraturan organisasi, dan lain-lain tentunya.

Kurang dari tiga bulan ke depan dari tulisan ini mulai dituangkan melalui keyboard oleh penulis, PUK FSPMI PT. NSK akan menjalankan sebuah agenda besar yaitu rapat tertinggi organsiasi, MUSNIK VII (ke tujuh). Adapun susunan kepanitiaan sudah terbentuk secara rapi di awal bulan Januari ini. Mulai dari siapa-siapa yang akan menjadi bagian dari OC (organizer committee), PPS (panitia pemungutan suara), SC (steering committee). Penulis mengira hanya PPS saja yang tidak memiliki istilah sekeren OC atau SC, tapi penulis yakin meski istilahnya tidak kebarat-baratan alias tidak keminggris tapi PPS lah yang pada MUSNIK VII nanti akan dibuat menjadi unsur kepanitiaan paling pusing.

Kenapa paling pusing? Tentu karena masa depan perusahaan dan masa yang akan datang sangat sulit diprediksi. Menjaring dan memilih pucuk tertinggi dari pimpinan organisasi serikat pekerja bukanlah hal remeh temeh. Masa depan perusahaan tentu juga merupakan masa depan organisasi serikat pekerja, pun sebaliknya. Keduanya saling berkorelasi dan bersimbiosis (saling bergantung satu sama lain). Di tahun-tahun penuh spekulasi bisnis seperti ini kita semua tidak pernah tahu direksi perusahaan ini akan membawa ke arah mana gaya dan ritme bisnisnya. Kita ketahui bersama dunia bisnis saat ini sedang dihadapkan pada apa yang banyak orang sebut dengan istilah Revolusi Industri 4.0.

Apakah itu Revolusi Industri 4.0? Singkat cerita adalah perubahan besar-besaran tentang model bisnis industri yang saat ini masih bergantung pada man power (tenaga manusia) menjadi lebih bergantung pada robotic, automation, supercomputer dan sejenisnya. Mari kita ambil contoh dalam dunia bisnis di luar sana. Misalkan saja seperti yang kita ketahui dulu penjaga gate (pintu) jalan toll adalah manusia, pekerja. Kini? Mata kita terbelalak saat PT. Jasa Marga harus mereduksi (mengurangi) sebagian banyak karyawannya karena ternyata peran pekerja di sini sudah tergantikan oleh apa yang disebut dengan sistem E-Toll (elektronik tol). Hanya dengan menempelkan E-Monay (duit elektronik) makjlebbb pintu tol membuka dengan sendirinya. Keren ya? Ya! Memang!

Contoh di dalam bisnis perusahaan kita (PT. NSK) pun sebenernya juga sudah ada, saat bagaimana dulu man power (tenaga manusia) masih dipakai sebagai tenaga ahli visual cek produk di bagian assembly (perakitan) misalnya, kini perlahan tapi pasti teknologi mutakhir berupa sensor kamera sudah diterapkan untuk mengganti melakukan visual cek produk kita terlepas apakah ini sudah optimum atau belum. Ekspansi serupa di berbagai bidang tahapan proses produksi tentu tidak menutup kemungkinan akan dilakukan, intinya mana yang paling efesien adalah itu yang akan diterapkan oleh seorang pelaku bisnis. Penulis pikir ini logika yang sangat sederhana, karena memang seperti itu prinsip tunggal yang dipegang oleh pelaku bisnis. Produksi sebanyak mungkin dan laku keras dengan biaya semurah mungkin. Clear ndak usah dibantah!

Mari kita kembali ke soal MUSNIK VII di atas tadi. Bagaimana kira-kira tantangan ke depan yang sudah disajikan oleh penulis? Sudah berkesan mengerikan atau belum? Apakah perlu penulis sajikan gambaran yang lebih membuat pembaca semakin bergairah? Di lain kesempatan mungkin bisa penulis jelaskan secara rinci, tidak untuk saat ini. Melalui tulisan singkat ini penulis hanya ingin mengajak anda, saudara, kawan-kawan, pembaca yang budiman semuanya lah pokok untuk merenungi kalimat di paragraf setelah ini.

Dalam rangka menghadapi Revolusi Industri 4.0 mendatang tidak ada pilihan lain yang bisa dilakukan oleh pelaku bisnis, serikat pekerja, pekerja, selain bahu-membahu secara bersama-sama bersinergi menyatukan kesepakatan bahwa bisnis harus tetap berjalan dan pekerja sebagai aset utama perusahaan tetap harus sejahtera. Caranya bagaimana? Secara teoritis dan umum yaitu dengan terus membangun komunikasi efektif antara pelaku bisnis - serikat pekerja - pekerja. Pelaku bisnis harus memikirkan model bisnis yang terbaik tanpa melupakan kesejahteraan pekerjanya, sedangkan serikat pekerja harus komitmen juga mendorong anggotanya untuk terus belajar dan tanggap terhadap perubahan. Semuanya bertanggung jawab merespon perubahan global ini. Begitu kata begawan ekonomi Asia, Yasoyuki Sawadawa dalam keterangannya di koran digital Jakarta Post, 2019.

Melalui tulisan ini juga dalam rangka memanaskan gairah MUSNIK VII sekaligus dalam rangka untuk mengetuk hati juga pikiran semua pembaca, penulis mengajak marilah bersama-sama sukseskan MUSNIK VII yang tinggal beberapa bulan ke depan. Baca berulang-ulang jika masih saja tulisan ini sulit dipahami apa inti sari yang ingin disampaikan penulis. Jika sudah membaca berulang kali akan tetapi masih belum mencapai titik paham tentang intisari dari tulisan ini, mungkin sudah saatnya saudara mengulang-ulang kalimat istighfar saja. Barangkali memang sudah saatnya mati (hatinya). Atau siapa tahu dengan perbanyak istighfar hati dan pikiran saudara menjadi jernih dan kemudian bergegas memberikan sumbangsihnya untuk kelangsungan organisasi serikat pekerja, yang secara tidak langsung itu juga akan membantu iklim bisnis perusahaan ini tetap berjalan sesuai cita-cita. Sejahtera!

Waallahu alam bisshowab (semua kebenaran kembali kepada-Nya).


Bekasi, 12 Januari 2019
Robi Cahyadi
Buruh sekaligus penggiat literasi 


Friday, December 28, 2018

Revolusi Industri 4.0; Persiapan dan Kebutuhan

Para pakar meramalkan bahwa di tahun 2020, dunia akan memasuki era Industri 4.0. Di era tersebut, akan banyak bermunculan robot canggih, superkomputer, kendaraan otonom, 3D printing, serta pengoptimasian fungsi otak manusia dengan editing genetik dan perkembangan neuroteknologi.
Mungkin terlihat canggih dan membuat takjub, akan tetapi bukan berarti tidak ada kerugian yang ditimbulkan oleh revolusi industri tersebut. Mengutip dari hasil Forum Internasional tahunan yang bertemakan “Mastering the Fourth Industrial Revolution” pada 2016 lalu, Revolusi Industri 4.0 ini akan menyebabkan disrupsi atau gangguan bukan hanya di bidang bisnis saja, namun juga pada pasar tenaga kerja.

Hal ini berarti akan ada banyak jenis pekerjaan yang hilang dan tergantikan oleh fungsi robot atau artificial intelligence. Para tenaga kerja manusia pun tidak menutup kemungkinan akan menghadapi jenis pekerjaan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, sehingga revolusi ini mau tak mau menuntut kita untuk terus mengembangkan skill yang sekiranya dapat bermanfaat serta mumpuni di masa depan. Lantas, apa saja skill yang dibutuhkan untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0? Berikut jawabannya!

1. Complex problem solving
Complex problem solving disini merupakan kemampuan penyeleasaian masalah kompleks dengan dimulai dari melakukan identifikasi, menentukan elemen utama masalah, melihat berbagai kemungkinan sebagai solusi, melakukan aksi/tindakan untuk menyelesaikan masalah, serta mencari pelajaran untuk dipelajari dalam rangka penyelesaian masalah.

2. Critical thinking
Critical thinking atau kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir masuk akal, kognitif dan membentuk strategi yang akan meningkatkan kemungkinan hasil yang diharapkan. Berpikir kritis juga bisa disebut berpikir dengan tujuan yang jelas, beralasan, dan berorientasi pada sasaran.

3. Creativity
Creativity atau kreatifitas adalah kemampuan dan kemamuan untuk terus berinovasi, menemukan sesuatu yang unik serta bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Creativity disini dapat juga diartikan mengembangkan sesuatu hal yang sudah ada sehingga dapat menjadi lebih baik.

4. People management
People management adalah kemampuan untuk mengatur, memimpin dan memanfaatkan sumber daya manusia secara tepat sasaran dan efektif.

5. Coordinating with other
Kemampuan untuk kerjasama tim ataupun bekerja dengan orang lain yang berasal dari luar tim.

6. Emotion intelligence
Emotion intelligence atau kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengatur, menilai, menerima, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.

7. Judgment and decision making
Judgement and decision making adalah kemampuan untuk menarik kesimpulan atas situasi yang dihadapi serta kemampuan untuk mengambil keputusan dalam kondisi apapun, termasuk saat sedang berada di bawah tekanan.

8. Service orientation
Service orientation adalah keinginan untuk membantu dan melayani orang lain sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dengan memiliki service orientation, kita akan selalu berusaha memberikan yang terbaik pada pelanggan tanpa mengharapkan penghargaan semata.

9. Negotiation
Kemampuan berbicara, bernegosiasi, dan meyakinkan orang dalam aspek pekerjaan. Tidak semua orang secara alamiah memiliki kemampuan untuk mengadakan kesepakatan yang berbuah hasil yang diharapkan, namun hal ini dapat dikuasai dengan banyak latihan dan pembiasaan diri.

10. Cognitive flexibility
Cognitive flexibility atau fleksibilitas kognitif adalah kemampuan untuk menyusun secara spontan suatu pengetahuan, dalam banyak cara, dalam memberi respon penyesuaikan diri untuk secara radikal merubah tuntutan situasional. 

Nah, itu dia sepuluh kemampuan yang dibutuhkan di Revolusi Industri 4.0, pastikan Sobat Teknologi sekalian menyiapkan segalanya dari sekarang! (nks)

Sumber: Future of Jobs Reports, World Economic Forum.

Friday, December 21, 2018

Pemesinan; Fungsi Inverter Pada Industri

Inverter adalah Rangkaian elektronika daya yang digunakan untuk mengkonversikan tegangan searah (DC) ke suatu tegangan bolak-balik (AC). Ada beberapa topologi inverter yang ada sekarang ini, dari yang hanya menghasilkan tegangan keluaran kotak bolak-balik (push-pull inverter) sampai yang sudah bisa menghasilkan tegangan sinus murni (tanpa harmonisa). Inverter satu fasa, tiga fasa sampai dengan multifasa dan ada juga yang namanya inverter multilevel (kapasitor split, diode clamped dan susunan kaskade).

Ada beberapa cara teknik kendali yang digunakan agar inverter mampu menghasilkan sinyal sinusoidal, yang paling sederhana adalah dengan cara mengatur keterlambatan sudut penyalaan inverter di tiap lengannya.

Cara yang paling umum digunakan adalah dengan modulasi lebar pulsa (PWM). Sinyal kontrol penyaklaran di dapat dengan cara membandingkan sinyal referensi (sinusoidal) dengan sinyal carrier (digunakan sinyal segitiga). Dengan cara ini  frekuensi dan tegangan fundamental mempunyai frekuensi yang sama dengan sinyal referensi sinusoidal.

Dalam industri, Inverter merupakan alat atau komponen yang cukup banyak digunakan karena fungsinya untuk mengubah listrik DC menjadi AC. Meskipun secara umum kita menggunakan tegangan AC untuk tegangan masukan/input dari Inverter tersebut.

Inverter digunakan untuk mengatur kecepatan motor-motor listrik/servo motor atau bisa disebut converter drive. Hanya saja kalau untuk servo lebih dikenal dengan istilah servo drive. Dengan menggunakan inverter, motor listrik menjadi variable speed. Kecepatannya bisa diubah-ubah atau disetting sesuai dengan kebutuhan.

Inverter seringkali disebut sebagai Variabel Speed Drive (VSD) atau Variable Frequency Drive (VFD).

Pada dunia otomatisasi industri, inverter sangat penting dan banyak digunakan. Aplikasi ini biasanya terpasang untuk proses linear (parameter yang bisa diubah-ubah). Linear nya seperti grafik sinus, atau untuk sistem axis (servo) yang membutuhkan putaran/aplikasi yang presisi.

Prinsip kerja inverter adalah mengubah input motor (listrik AC) menjadi DC dan kemudian dijadikan AC lagi dengan frekuensi yang dikehendaki sehingga motor dapat dikontrol sesuai dengan kecepatan yang diinginkan.

Fungsi Inverter adalah untuk merubah kecepatan motor AC dengan cara merubah Frekuensi Outputnya:
f = frekuensi (Hz)
p = jumlah kutub

Jika sebelumnya banyak menggunakan sistem mekanik, kemudian beralih ke motor slip maka saat ini banyak menggunakan semikonduktor. Tidak seperti softstarter yang mengolah level tegangan, inverter menggunakan frekuensi tegangan keluaran untuk mengatur speed motor pada kondisi ideal (tanpa slip).

Merubah kecepatan motor dengan Inverter akan membuat:
• Torsi lebih besar
• Presisi kecepatan dan torsi yang tinggi
• Kontrol beban menjadi dinamis untuk berbagai aplikasi motor
• Dapat berkombinasi dengan PLC (Programmable Logic Control) untuk fungsi otomasi dan regulasi
• Menghemat energi
• Menambah kemampuan monitoring
• Hubungan manusia dengan mesin (interface ) lebih baik
• Sebagai pengaman dari motor, mesin (beban) bahkan proses produksi itu sendiri, dll.

Semakin besar daya motor maka semakin besar pula torsi yang dihasilkan dan makin kuat motor menggerakkan beban, torsi dapat ditambah dengan menggunakan gear box (cara mekanis) dan Inverter (cara elektronik).

Dinamika gerakan rendah (tidak memungkinkan gerakan beban yg kompleks), motor sering overload (motor rusak atau thermal overload relay trip). Hentakan mekanis (Mesin/beban rusak, perlu perawatan intensif). Lonjakan arus (Motor rusak atau Breaker Trip). Presisi dalam proses menjadi hilang dan proteksi tidak terjamin.

n = 120f/p
dimana : n = putaran per menit

Proses di industri seringkali memerlukan tenaga penggerak dari motor listrik yang perlu diatur kecepatan putarnya untuk menghasilkan torsi dan tenaga/daya yang diinginkan.
Torsi adalah gaya putar yang dihasilkan oleh motor listrik untuk memutar beban.

Kelebihan Torsi (over torque) terjadi jika torsi beban lebih besar dari Torsi nominal, pada 80% aplikasi terjadi pada saat kecepatan rendah atau saat start awal.

Maka dapat disimpulkan, peranan inverter dalam proses suatu industri cukup penting. Karena dalam  proses di industri seringkali memerlukan tenaga penggerak dari motor listrik yang perlu diatur kecepatan putarnya untuk menghasilkan torsi dan tenaga/daya yang diinginkan.