Tuesday, April 23, 2019

Pemesinan: Mengenal Sensor Jarak (Proximity Sensor)

Pada Pembahasan kali ini saya akan menjelaskan tentang Proximity Sensor. Penjelasan meliputi pengertian, kemampuan serta prinsip kerja dari proximity sensor. Untuk lebih jelasnya silahkan baca pembahasan dibawah ini.
A. Pengertian Proximity Sensor
Proximity sensor merupakan sensor yang digunakan untuk mendeteksi suatu obyek benda berdasarkan jarak benda tersebut terhadap sensor. Proximity sensor ini akan mendeteksi obyek benda dengan jarak yang cukup dekat berkisar 1 mm sampai beberapa centimeter dari sensor. Sensor ini sering diimplementasikan pada industry pabrik, perkantoran, dunia robot, dan lain-lain.
Berdasarkan penggunaanya, sensor proximity merupakan sensor yang mampu mendeteksi keberadaan suatu obyek logam maupun non logam tanpa menggunakan kontak fisik.
Proximity Sensor
B. Jenis-Jenis Proximity Sensor
Sensor proximity ini memiliki 3 jenis sensor sesuai dengan kebutuhan sebagai berikut:

• Proximity Inductive.
Jenis sensor ini digunakan untuk mendeteksi adanya sebuah logam. Sensor ini akan bekerja apabila terdapat suatu tegangan sumber, dan isolator pada sensor akan membangkitkan sebuah medan magnet dengan frekuensi tinggi. Dengan proses ini, apabila terdapat sebuah bahan logam yang terdeteksi oleh permukaan sensor maka medan magnet yang di hasilkan akan berubah dan perubahan ini yang akan membuat sensor memberikan sinyal.
• Proximity Capacitive.
Sensor ini sedikit berbeda dengan sensor inductive, sensor ini tidak hanya dapat mendeteksi benda logam saja tetapi juga bisa mendeteksi benda non logam dengan mengukur perbedaan kapasitansi medan listrik pada kapasitor. Penggunaan sensor ini biasanya digunakan pada bagian belakang mobil untuk memudahkan mengatur posisi parker sebuah kendaraan.
• Proximity Optic Sensor.
Sensor proximity optik ini mendeteksi keberadaan suatu obyek dengan cahaya biasnya atau pantulan cayaha (refleksi) yaitu infra red. Bila terdapat benda dengan jarak yang cukup dekat dengan sensor, maka cahaya yang terdapat pada sensor akan memantul kembali pada penerima(receptor) sehingga penerima akan menangkap sinyal tersebut sebagai tanda bahwa ada obyek yang melewati sensor. Salah satu implementasi sensor proximity optik ini yang paling dekat dengan keseharian kita adalah pada penggunaan touch screen pada ponsel.
C. Cara Kerja Proximity Sensor
Seperti apa yang sudah dijelaskan diatas, sensor ini bekerja berdasarkan jarak obyek terhadap sensor. Ketika ada suatu obyek logam maupun non logam mendekat pada sensor dengan jarak yang cukup dekat maka sensor akan mendeteksi obyek dan menangkap sinyal sebagai tanda bahwa ada obyek yang melewati sensor.
Demikian penjelasan singkat tentang proximity sensor atau sensor jarak,, mohon maaf jika ada kesalahan dalam penjelasan dan semoga ini dapat memberikan manfaat.

Friday, April 5, 2019

Hikmah: Latihan Kesabaran

Latihan Kesabaran; Sebuah Tulisan Menarik Dari Puthut EA


Seorang kiai yang sangat terkenal, memiliki seorang putri yang jelita. Banyak santri ingin melamarnya. Tapi belum ada yang pas di hati sang kiai.

Ada seorang santri yang agak mbejujak dari pesantren sebelah. Dia terpikat sama sang putri, tapi menyadari kalau dari jalur keturunan dan tingkat kealiman, bakal tak masuk ke kriteria sang kiai. Karena ketertarikannya yang kuat pada sang putri, dia memutuskan menjual barang dagangan apapun di rumah sang kiai. Dari mulai air galon, gas, sayur-mayur, beras, pokoknya semua jenis barang yang dibutuhkan keluarga tersebut. Dia membuat servis dengan cara mengantar langsung, sehingga punya potensi besar untuk melihat sang putri. Harganya pun dibikin semurah mungkin. Itu sebabnya, santri —yang supaya lebih mudah kisah ini saya paparkan, saya beri saja nama: Zul— langsung jadi langganan keluarga pak kiai.

Setiap hari, Zul selalu datang ke rumah pak kiai. Mengantar apa saja kebutuhan keluarga itu. Dari situ dia tahu hobi sang putri makan kol goreng. Zul yang awalnya tak suka kol tiba-tiba jadi penyuka kol goreng, sembari membayangkan nglethusi kol goreng bersama sang putri. Sebentar, supaya kisah ini lebih mudah lagi, saya kasih nama si putri dengan nama Esty. Tapi kok terkesan merujuk ke sosok tertentu ya. Saya ganti saja nama si putri dengan Niar.

Suatu saat, sang kiai mulai curiga. Kenapa Zul hanya mau menjual barang dagangannya ke rumahnya. Kiai kharismatik itu lalu menajamkan pengawasannya. Dan dia yakin, itu semua cuma persoalan asmara yang berkobar-kobar di dada Dinar, eh Zul.

Akhirnya, suatu sore, dipanggillah Zul menghadapnya. “Zul, aku ini pernah muda...”

Zul yang mengira dipanggil karena sang kiai sedang membutuhkan barang tertentu, langsung kaget.

“Aku tahu apa yang kamu lakukan setiap hari di sini. Kamu tidak murni jualan...”

Zul makin pucat.

“Begini saja, Zul. Kalau kamu bisa salat jamaah lima waktu setiap hari tanpa pernah terlambat, dan tidak absen selama 40 hari berturut-turut, kamu kujadikan menantuku.”

Mendengar itu, Zul langsung mencium tangan pak kiai. “Siap, Pak Kiai!”

Sepuluh hari pertama, benar-benar hari yang berat buat Zul. Tapi setiap kali dia malas, dia pun membayangkan bisa klethus-klethusan kol goreng bersama Niar, semangat santri mbeling itu pun terpompa.

Setelah lewat 10 hari, dia mulai merasakan kelezatan aktivitas itu. Damai. Tenang. Hatinya mulai lapang. 

Ketika lewat hari ke-20, dia mulai melupakan sang kiai. Sesekali saja dia ingat Niar dan kol goreng.

Ketika lewat hari ke-30, Zul sudah merasakan kenikmatan tiada tara. Kekhusyukan yang dalam. Ketenangan hati yang nyaris tiada tepi. Dia sudah benar-benar melupakan soal Niar, pak kiai, apalagi kol goreng.

Pada hari ke-40, saat Zul usai menunaikan salat Isya berjamaah, sang kiai sudah menunggunya di masjid. Dia pun mengajak bicara Zul. “Nak, kamu sudah lulus...”

Zul tersenyum. 

“Ayo Nak, kita ke rumah.”

“Acara apa, Pak Kiai?”

“Lho, aku nikahkan kamu dengan anakku.”

“Kenapa begitu?”

“Kamu sudah lulus selama 40 hari salat berjamaah di masjid, tanpa bolong dan tepat waktu.”

“Maaf, Pak Kiai. Saya tidak bisa. Saya tidak mau semua ibadah saya itu diganjar dengan dunia. Maaf...” Zul pun melangkah pergi.

Pak kiai segera menggamit lengan Zul. “Kalau begitu begini, Nak. Saya yang ingin memiliki menantu sepertimu. Lupakanlah soal ganjaran itu.”

Setelah terjadi beberapa dialog tambahan, akhirya Zul pun mau dinikahkan dengan Niar.

Kisah di atas tentu saja saya dengar dari Gus Baha’. Tentu saya tambahi. Kisah yang dituturkan Gus Baha’ itu berlatar belakang di Arab Saudi. Tapi kisah itu sangat terkenal, terutama untuk menjelaskan soal ini...

Bahwa tidak benar kalau laku ibadah mesti dimulai dari rasa ikhlas. Awalnya mungkin ingin dipuji orang, masih ada ujub, ada tujuan-tujuan tertentu. Tapi setelah dilakukan berulang kali, amal baik itu bisa menggiring ke arah kesejatian. Keikhlasan bukan turun begitu saja dari langit, tapi perlu latihan.

Jadi tidak perlu menghakimi niat orang. Sebab niatnya lurus atau tidak, tetap saja itu akan menuju ke kebaikan. Akan beriringan berjalan menuju ke cahaya kemuliaan. Ketidakbaikan yang mengiringi kebaikan, akan berguguran di jalan. Kalau dilakukan dengan telaten.

Note:
Foto ilustrasi ini hanya untuk pemanis saja.

Monday, March 11, 2019

One Day Trip: Curug Cibeureum TNGGP

TNGGP; Maret 2019

"Alam Mengajarkan Kita Tentang Kesabaran, Ikhlas, dan Kesungguhan"


Keputusan gue mengunjungi Curug Cibeureum yang terletak di Cibodas kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango kali ini terhitung kurang tepat. Pasalnya disamping sedang musim penghujan ternyata pihak pengelola TNGGP memang sengaja menutup jalur pendakian tepat di persimpangan jalur ke Curug Cibeureum di Cibodas dan ke arah air panas. Artinya bahwa kunjungan ini tidak terlalu tersengaja, mengingat kesengajaan atau rencana awal gue adalah hendak ngetrip menuju air panas untuk berendam dan tentu menikmati syahdu hangatnya kopi di sana.

Baik, mari mulai gue ajak kalian para pembaca menikmati tulisan ringkas dan sederhana ini. Gue coba sajikan sebuah tulisan tentang jalan-jalan yang sedikit berbeda dari umumnya. Gue tidak akan banyak menyajikan foto dokumentasi dan lebih banyak bercerita secara tulisan. Tujuan gue tidak lain mengajak kalian berimajinasi, membayangkan betapa Curug Cibeurem ini memang layak dikunjungi. Aksesnya sangat mendukung dan dekat dengan ibu kota Jakarta, itulah alasan kenapa tempat ini begitu terjangkau.

Pagi hari selepas subuh gue berangkat dari Tambun, Bekasi menggunakan motor laki gue New Megapro keluaran 2011. Motor ini sudah tercatat banyak sekali mengunjungi daerah-daerah di Jawa Barat mulai dari Pandeglang di ujung barat hingga terjauh Garut di ujung timur selatan. Secara gue dulu suka touring dengan sepeda motor, akhir-akhir ini saja memang sudah tidak lagi rutin dikarenakan sesuatu hal yang sulit dipahami dan dijelaskan. Pernikahan. Tentu hal ini membuat sedikit banyak berpengaruh pada aktifitas berpetualang gue. Tapi tenang, semua bisa dikendalikan dengan baik.

Tepat jam 05.00 WIB motor gue besut gasnya menuju tujuan melalui jalur Tambun berlanjut ke arah Setu, lalu Cileungsi, Kelapanunggal, hingga sampailah di Citeureup sekitar jam 06.00 WIB. Yah termasuk kategori jalan pelan sebenernya jika satu setengah jam dari Tambun baru sampai di Citeureup, Bogor. Gue tidak menyempatkan istirahat karena bagi gue semakin siang sampai lokasi akan semakin malas untuk mendaki menuju Curug Cibeureum. Dari Citeureup Bogor gue gas lagi lurus ke arah Sentul, sampai di Sentul ambil jalur Ranibow Hills yang berkelok aduhai it menuju gunung geulis dan sampailah di jalur Gadog Puncak jam 07.00 WIB.

Tepat pukul 08.00 WIB gue akhirnya sampai juga di parkiran bawah kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Cibodas Cianjur. Gue putuskan parkir di tempat parkir paling dekat sendirid dengan pos retribusi memasuki kawasan TNGGP. Langsung tanpa basa-basi gue beli tiket masuk area kawasan TNGGP dan kemudian gue memilih untuk istirahat meluruskan kaki dan punggung yang mungkin saja bengkok dalam arti yang tidak sebenernya alias pegel-pegel lah intinya. Di gerbang masuk atau pos pertama jalur pendakian Gunung Gede Pangrango melalui Cibodas ini terdapat kantin yang sangat nyaman. Gue pesen nasi goreng sekaligus kopi hitam untuk energi awal menuju tujuan.

Setelah istirahat sekitar satu jam gue rasa cukup lalu dengan bekal sederhana gue akhirnya tepat jam 09.00 WIB jalan mendaki menuju lokasi yang tidak terlalu tersengaja ini, Curug Cibeureum. Jalur pendakian Gunung Gede Pangrango melalui Cibodas ini sangat nyaman memang, setiap pengunjung dimanjakan dengan mudahnya menaiki melalui tangga yang tersusun rapi hingga Kandang Badak (kalau tidak salah). Jadi sudah bukan suatu alasan lagi jika malas untuk mendaki ke sini. Hanya saja memang kondisi hutan hujan tropis yang sangat lebat itu yang selama ini menjadi tantangan tersendiri. Ini berkaitan dengan suasana yang mistis dan tentu dinginnya hawa sekitaran TNGGP, sudah banyak sekali korban jiwa akibat hipotermia (kedinginan) akibat pengaruh cuaca ekstrim di sini.

Sekitar satu setengah jam perjalanan akhirnya jam 10.30 WIB gue sampai juga di Curug Cibeureum. Sepanjang jalan alhamdulillah dalam situasi yang nyaman tidak sedikit pun halangan gue dapati. Bahkan dalam bahasa yang hiperbolik mungkin bisa saja gue lari trail di jalur ini sebenernya. Sesampainya di Curug Cibeureum gue istirahat, makan cokelat bekal energi gue sambil memasak air hangat untuk ngopi sembari menghisap tembakau produknya LA Bold. Nikmat memang. Setengah jam bersantai di pondokan untuk aklimatisasi (penyesuaian suhu tubuh) akhirnya berani juga untuk mencoba dinginnya air Curug Cibeurem. Yap, gue hanya berkolor dan nyemplung di sana. Brrrrrr. Dingin sejadi-jadinya lah pokok. Mantappp!

Setelah ambil sedikit foto lalu mentas dari Curug dan tentu menghangatkan diri dengan pop mi rasa ayam bawang adalah pilihan paling tepat. Nyussss. Segerrr. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Gue harus turun nih takut kesorean jika berlama-lama di sini. BTW justru yang bikin gue heran adalah semakin sore bukannya sepi tapi malah semakin ramai pengunjung. Memang keren nih TNGGP. Sepanjang jalan turun gue tidak terbesar-gesa dan lebih memilih untuk jalan sesantai mungkin. Banyak waktu yang gue habiskan di jembatan dekat telaga biru itu untuk berfoto ria mencari spot yang paling ideal untuk kemudian bisa dishare ke media sosial. Memang jembatan sepanjang kurang lebih 150 meter di kaki menunu Gunung Gede Pangrango ini sangat ikonik. Menawan dengan nuansa kabut hutan lebatnya.

Tidak terasa tepat jam 13.30 WIB sampai di telaga biru pas turun ini hujan datang sangat tiba-tiba tanpa permisi seperti kamu dulu yang tiba-tiba meninggalkanku. Eh. Gue akhrinya neduh sebentar di pos telaga biru karena memang konyolnya gue adalah sengaja tidak prepare jas hujan. Whaaaa! Modyarrrrrr hujan semakin lebat. Kalau gue kejebak di sini alamat ini semakin sore pastinya saat pulang ke Bekasi nantinya. Akhirnya nekat menerjang hujan adalah keputusan paling tepat, untung saja jaket yang gue gunakan waterproof. Wqwq! Sorry brooo aman! Gasss lanjut turun hingga akhirnya jam 14.00 WIB sampailah di pos retribusi tiket TNGGP. Hujan semakin deras kembali teh hangat gue pesan untuk membantu menghangatkan tubuh, biar gak dingin seperti sikapmu itu. Hmmm.

Istirahat satu jam sembari menunggu hujan reda sekaligus nyempetin sholat ashar dulu. Setelah selesai semuanya (hujan dan sholat) akhirnya gue putuskan untuk menuju parkiran motor dan berencana langsung gas pol rem blong ke Bekasi. Sialnya sepanjang jalan dari Cimacan Cianjur hingga Bekasi diguyur hujan deras sedang lebat gerimis bergantian tanpa henti. Sungguh sebenernya adalah perjalanan berpetualang yang sangat menyiksa diri. Harus diakui perjalanan yang seperti ini sangat tidak disarankan bagi pemula atau bahkan mungkin bagi yang pengalaman pun tidak disarankan karena sangat rentan kecapean di perjalanan dan membahayakan diri. FYI ini gue catat sebagai perjalanan touring yang tidak akan gue ulangi di kemudian hari.

Taraaaaam! Tepat jam 19.00 WIB gue memasuki kawasan Setu wilayah Kabupaten Bekasi. Jam 19.30 WIB gue mendarat di Tambun dan tergeletak lesu di kamar gue setelah mandi dan makan malam. Yap! Sebenernya one day travelling seperti ini bisa saja dilakukan jika menggunakan kendaraan pribadi misalnya mobil sehingga tidak terlalu menguras energi. Curug Cibeureum yang terletak di TNGGP realtif dekat dan sangat terjangkau oleh warga di sekitaran DKI Jakarta. Tentu dengan hari libur yang sehari saja bisa dipakai untuk mengurangi penatnya pekerjaan dengan mengunjunginya. Suatu pilihan jalan-jalan murah meriah yang sangat menyegerkan (pikiran dan tubuh). Selanjutnya gue sudah merencanakan mengunjungi Situ Gunung di Sukabumi dan tentu tidak akan menggunakan motor melainkan kereta api saja. Pasti menarik dan seru.

Oke cukup sekian saja dulu tulisan ini, semoga dapat membayangkan betapa lelah dan capeknya gue saat ngetrip kali ini. Hikmah dari tulisan ini adalah: "Jika lo bukan orang yang strong lahir batin jangan coba-coba one day trip apalagi ke gunung". Bahaya! Ketagihan! Mending lo tidur saja dan membayangkan betapa Curug Cibeureum di Cibodas Cianjur itu sangat indah. Mamam tuh bayangan! Wqwq.

Friday, February 22, 2019

Sebuah Perbandingan; Jatim : Jateng


Perbandingan Jatim-Jateng


Mari kita bandingkan kesamaan atau kemiripan kota-kota di dua provinsi berikut ini, yaitu antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Terdapat satu pola yang dapat dianggap sama atau menyerupai.

Ibukota?

Jawa Tengah beribu kota di Semarang
Sebagai ibu kota provinsi tentu universitas terbesar tingkat provinsinya berada di sini, sebut saja Undip (Univ. Diponegoro).
Jawa Timur beribu kota di Surabaya
Sebagai ibu kota provinsi tentu juga sama bahwa universitas terbesar tingkat provinsinya berada di sini, sebut saja Unair (Univ. Airlangga).

Bagaimana dengan kota besar nomor duanya di dua provinsi tersebut?

Kota terbesar ke dua di Jawa Tengah setelah Semarang adalah Solo, universitas terbesar ke dua pun berada di sini sebut saja Univ. Sebelas Maret.
Adapaun kota terbesar di Jawa Timur setelah Surabaya adalah Malang, universitas terbesar ke dua pun berada di sini sebut saja Univ. Brawijaya.
Lalu kota terbesar ke tiga?
Di Jawa Tengah bisa kita tunjuk Purwokerto, keberadaan Univ. Jendral Soedirman sebagai universitas terbesar ke tiga di Jawa Tengah adalah buktinya.
Di Jawa Timur tentu adalah Jember, dengan keberadaan Univ. Jember (Unej) sebagai universitas pilihan ke tiga di Jawa Timur.

Secara posisi?

Jika kita asumsikan Surabaya dan Semarang adalah kota pesisir pantai utara, maka sangat benar memang begitu adanya keberadaan dua kota tersebut.
Lalu Malang dan Solo berada di tengah, alias ke selatan dari arah ibu kota provinsi masing-masing sekitar 2-3 jam tempuh perjalanan darat. Sama persis bukan?
Bagaimana dengan Jember dan Purwokerto?
Ke duanya sama-sama berada di ujung provinsi masing-masing, jika Jember berada di ujung timur maka Purwokerto di ujung barat dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam dari ibu kota provinsinya masing-masing. Serupa juga ya?

Apakah ini kebetulan semata? Tentu tidak. Ini adalah bagian dari manajemen tata kota sebuah provinsi atau daerah. Siapa yang mencanangkan master plannya? Ya tentu Belanda sejak zaman kolonial dulu. Benarkah begitu? Baca saja sejarah berulang-ulang sampai paham.

Lalu apa yang membedakannya?

Yang membedakan adalah PSIS Semarang tidak sehebat Persebaya Surabaya sedangkan Persis Solo juga tak seberprestasi Arema Malang. Untuk Persid Jember dan Persibas Banyumas kebetulan sama, sama-sama nir-sponsor sehingga tidak terdengar namanya bahkan prestasinya.
:)

Thursday, February 21, 2019

Mekanikal: Prinsip Kerja Motor Listrik 3 Fasa

Pengertian Motor listrik 3 fasa adalah motor yang bekerja dengan memanfaatkan perbedaan fasa pada sumber untuk menimbulkan gaya putar pada bagian rotornya. Perbedaan fasa pada motor 3 phase didapat langsung dari sumber. Hal tersebut yang menjadi pembeda antara motor 1 fasa dengan motor 3 fasa.

Secara umum, motor 3 fasa memiliki dua bagian pokok, yakni stator dan rotor. Bagian tersebut dipisahkan oleh celah udara yang sempit atau yang biasa disebut dengan air gap. Jarak antara stator dan rotor yang terpisah oleh air gap sekitar 0,4 milimeter sampai 4 milimeter.
Terdapat dua tipe motor 3 fasa jika dilihat dari lilitan pada rotornya, yakni rotor belitan (wound rotor) dan rotor sangkar tupai (squirrel-cage rotor). Motor 3 fasa rotor belitan (wound rotor) adalah tipe motor induksi yang lilitan rotor dan statornya terbuat dari bahan yang sama.


  • Konstruksi motor terbilang sangat kuat dan sederhana harga
  • Motor relatif murah dengan ketahanan tinggi
  • Effesiensi relatif tinggi pada saat keadaan normal
  • Biaya pemeliharaan relatif rendah
  • Kecepatan sulit dikontrol
  • Arus start besar, yakni 5 sampai 7 kali dari arus nominal
  • Power faktor yang rendah pada beban ringan

Sedangkan motor 3 fasa rotor sangkar tupai (squirrel-cage rotor) adalah tipe motor induksi yang konstruksi rotornya tersusun dari beberapa batangan logam yang dimasukkan melewati slot-slot yang ada pada rotor motor, kemudian pada setiap bagiannya disatukan oleh cincin. Akibat dari penyatuan tersebut, terjadi hubungan singkat antara batangan logam dengan batangan logam yang lainnya.
Prinsip Kerja
Prinsip kerja dari motor listrik 3 fasa ini sebenarnya sangat sederhana. Bila sumber tegangan 3 fase dialirkan pada kumparan stator, maka akan timbul medan putar dengan kecepatan tertentu. Besarnya kecepatan tersebut dapat diukur menggunakan sebuah rumus Ns = 120 f/P. Dimana Ns adalah kecepatan putar, f adalah frekwensi sumber, dan P adalah kutub motor.



Perlu diketahui bahwa medan putar stator akan memotong batang konduktor yang ada pada rotor, sehingga pada batang konduktor dari rotor akan muncul GGL induksi. GGL akan menghasilkan arus (I) serta gaya (F) pada rotor. Agar GGL induksi timbul, diperlukan perbedaan antara kecepatan medan putar yang ada pada stator (ns) dengan kecepatan berputar yang ada pada rotor (nr).

Perbedaan kecepatan antara stator dan rotor disebut slip (s) yang dapat dinyatakan dengan rumus s= (ns – nr) / ns. Apabila nr = ns, maka GGL induksi tidak akan timbul, dan arus tidak akan mengalir pada batang konduktor (rotor), dengan demikian tidak dihasilkan kopel. Berdasarkan cara kerja tersebut, motor 3 fasa juga dapat disebut sebagai motor tak serempak atau motor asinkron.

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan dari motor listrik 3 fasa:
Kelebihan
  • Konstruksi motor terbilang sangat kuat dan sederhana
  • Harga motor relatif murah dengan ketahanan tinggi
  • Effesiensi relatif tinggi pada saat keadaan normal
  • Biaya pemeliharaan relatif rendah
Kekurangan

  • Kecepatan sulit dikontrol
  • Arus start besar, yakni 5 sampai 7 kali dari arus nominal
  • Power faktor yang rendah pada beban ringan