Sunday, January 18, 2026

RENUNGAN: BELAJAR KERJA KERAS DARI NENEK SAYA

Aku ingin meriwayatkan sebuah cerita kecil tentang mbah Siti Rukoyah, nenek kami dari jalur bapak. Beliau lahir di Batokan, Ngantru, Tulungagung, Jawa Timur. Beliau anak ke tiga dari tiga bersaudara.

Dulu, sewaktu pak Gufron ayah saya sakit lama berkepanjangan dan operasi lalu mengharuskan menginap berminggu-minggu di Karangmenjangan, Surabaya.

Mbah Siti pernah suatu ketika datang ke rumah saya, seingatku di rumah hanya ada aku dan mas Galih, karena mbak Onik mondok, Idot adik terkecil kami diajak ibu untuk jaga bapak di Karangmenjangan.

Di rumah aku dan mas Galih dibaturi Yuk Mah (neneknya Basuki) yang berasal dari Branggahan, Ngadiluwih, Kediri selama ditinggal oleh ibu dan adik terkecil kami merawat bapak yang sakit di Surabaya.

Mbah Siti nenek saya tersebut datang ke rumah untuk membersihkan kebonan belakang. Nyapu-nyapu halaman, membakar sampah dan memberesken segala hal yang tidak rapi sampai akhirnya bersih kinclong.

Yang paling teringat jelas di memoriku adalah saat aku kebelet pup dan ingin eek ke WC di belakang rumah kami, mbah Siti sedang ngoseki alias menyapu bersih WC, membersihkan pakai sapu lidi semua lumut yg membandel di lantai dan tembok WC.

Begitulah naluri seorang ibu, anaknya yang sudah bukan anak kecil lagi, bahkan sudah mulai menua dan sakit-sakitan, tetaplah dianggap sebagai anak kecil dengan bentuh kasih sayangnya “ngrumat ngramut” rumah anaknya, agar cucu-cucunya nyaman dengan semua itu.

Setelah ayah saya sembuh dan sedikit bisa beraktifitas, justru kemudian mbah Siti Rukoyah lah yang jatuh sakit terkena serangan liver (empedunya membengkak besar), lalu dipanggil kehadirat Allah SWT lebih dahulu.

Alfatihah untuk Mbah Siti yang pernah membersihkan kebonan seluas itu seorang diri di usianya yang senja, pesan pentingnya: obah gerak itu seharusnya memang gak pandang usia, tidak kenal lelah.